
Chaca dan Leona langsung menuju rumah sakit dimana Lana di bawa, keduanya sama sama menangis kala melihat orang yang melahirkan mereka tertabrak mobil tepat di mata mereka sendiri. Dan Cakra tentu saja dia juga shok, hanya percekcokan kecil berakhir seperti ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi Dad?" Tanya Chaca.
"Daddy hanya ingin menanyakan keberadaan kamu sayang, tapi seperti biasa Mama kamu malah membuat Daddy marah, maafkan Daddy." Ucap Cakra lemah.
"Kenapa Daddy ingin mencari Chaca?" Tanya Chaca lagi.
"Sayang. Maafkan Daddy." Ucap Cakra.
"Daddy ingin mengajak kamu kembali ke itali karena Cerry ingin bertemu dengan kamu. Daddy mohon sayang." Ucap Cakra membuat Chaca tersenyum getir.
"Cerry?" Gumam Chaca pelan.
"Sayang, Cerry sudah mulai sembuh, operasi nya berhasil. Dan ia ingin bertemu dengan kamu." Kata Cakra.
"Oh." Kata Chaca.
"Chaca mau kan ikut Daddy ke Itali lagi?" Tanya Cakra.
"Maaf Dad, Chaca sudah menikah. Dan Mama Chaca sedang sakit. Chaca tidak bisa kemana mana." Kata Chaca.
"Cha! Kamu masih perduli dengan Lana?" Ucap Cakra tak percaya.
"Kenapa? Dia mama kandung Chaca. Orang yang telah melahirkan Chaca." Kata Chaca.
"Tapi dia tidak pernah menganggap kamu ada sayang." Kata Cakra.
__ADS_1
"Itu hak Mama." Ucap Chaca datar.
...🥀🥀🥀...
Chaca pulang ke rumah mertua nya dengan langkah gontai, sungguh ia merasa sangat lelah hari ini, tidak hanya hati namun juga pikiran nya sangat lelah.
"Chaca kamu darimana jam segini baru pulang?" Tanya Jenar.
"Je." Chaca langsung memeluk tubuh Jenar dengan erat.
"Hey, ada apa hem?" Tanya Jenar.
"Gak ada apa apa, Gue lagi pengen nangis aja Je hiks hiks hiks." Kata Chaca sambil menangis.
Jenar pun akhirnya membawa Chaca untuk duduk di sofa. Jam sudah menunjukkan pkl.10 malam namun suami mereka belum ada yang pulang.
"Ternyata Aiden menginap di rumah mama kandung nya hiks hiks." Kata Chaca.
"Lah kan dari kemarin kak Dimas udah ngomong Cha." Kata Jenar seketika membuat Chaca langsung menatap nya.
"Dia ngomong ke kamu Je?" Tanya Chaca.
"Enggak sih hehehe dia ngomong sama Mama." Kata Jenar.
"Tapi kenapa dia gak ngomong ke gue Je? Apa gue bener bener istri nya?" Tanya Chaca.
"Sabar Cha, mungkin kak Dimas lupa." Kata Jenar.
__ADS_1
"Je gue capek hiks hiks." Chaca menangis di pelukan Jenar hingga membuat Jenar kebingungan sendiri.
"Sayang kenapa?" Tanya Arya yang baru saja tiba di rumah melihat Chaca dan Jenar berpelukan.
Jenar hanya mengedikkan bahunya dan sambil melihat Arya.
"Je, gue tidur sama lo ya malam ini hiks hiks." Kata Chaca.
"Eh sembarangan aja kalau ngomong." Ucap Arya tak terima.
"Arya lo tidur sama abang lo malam ini." Kata Chaca lalu ia segera menarik tangan Jenar menuju kamar nya.
"Chaca sialan. Heh buka gak pintu nya. Chaca!" Teriak Arya sambil mengetuk pintu kamar nya.
"Sayang, bukain pintu nya." Teriak nya lagi namun tidak ada tanggapan sama sekali.
Ceklek!
"Mas Arya, tidur di kamar kak Dimas aja ya malam ini. Hanya malam ini, kasian Chaca pliss." Ujar Jenar lembut sambil memberikan pakaian Arya.
"Sayang, tapi kan hari ini--" ucap Arya lesu.
"Tambah satu hari lagi gapapa Mas." Kata Jenar terkekeh membuat arya semakin memberengut kesal, pasalnya ia sudah libur satu minggu dan dia buru buru pulang karena ingin buka puasa, eh malah di kacaukan sama Chaca.
"Dasar kakak ipar gak ada akhlak lo Cha!" Seru Arya menatap ke arah Chaca yang tengah tiduran di ranjang nya.
"Udah sana ih. Kasian Chaca nya." Kata Jenar lalu ia kembali menutup pintu kamar nya.
__ADS_1
"Sial!" Kata Arya lalu ia segera ke kamar Dimas.