
Taysa menggenggam erat test pack tanpa berniat melihatnya karena sangat gugup. Bukan hanya dirinya, Alex juga terus mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, menunggu Tasya keluar.
Ceklek!
Mata tajam Alex pun langsung tertuju pada sang istri. "Gimana hasilnya?"
Tasya menggeleng.
Alex menghela napas kecewa. "Ya udah, kita bisa cobak besok pagi. Mungkin malam memang gak efektif."
Tasya pun langsung tersenyum geli. "Aku belum lihat hasilnya, Kak."
"Sayang, aku kira kamu geleng-geleng karena negatif."
"Aku gugup. Kita liat sama-sama." Tasya pun mengangkat kepalan tangannya ke atas. Kemudian perlahan membukanya sambil menggigit ujung bibir.
"Oh God!" Pekik Alex saat melihat dua garis merah di sana. Sontak Tasya pun tertawa bahagia.
"Yes! Kita berhasil, sayang." Teriak Alex sangking senangnya. Bahkan lelaki itu langsung memeluk Tasya dengan erat.
"Ah... akhirnya King bakal punya adik."
"Ya, aku seneng banget, sayang. Besok kita ke rumah sakit buat mastiin. Ya ampun, aku beneran seneng banget, Sya."
Tasya tersenyum haru. Ia tidak pernah menyangka Alex akan sebahagia ini saat mendengar dirinya hamil.
Alex melerai pelukan mereka. "Mama sama Papa pasti bahagia dapat kabar ini. Besok habis dari rumah sakit kita mampir ke sana."
Tasya mengangguk. Dan Alex pun kembali memeluknya. Ia benar-benar bahagia saat ini.
"Kayaknya kamu seneng banget aku hamil? Yakin sanggup puasa beberapa bulan?"
Alex kembali melerai pelukannya. "Aku sanggup nahan kok. Asal baby sehat di sini, Mommynya juga gak kecapekan."
Alex mengelus perut rata istrinya dengan lembut. Tasya tersenyum bahagia, di sentuhnya pipi sang suami dengan lembut.
"Pegen cewek apa cowok?" Tanya Tasya.
"Apa aja, yang penting lahirnya dengan selamat dan tanpa cacat."
"Tapi aku pengennya cewek. Biar bisa didandanin."
Alex tertawa renyah. "Kita berdoa aja, mudah-mudahan cewek. Biar kamu gak kesepian."
Tasya menggigit ujung bibirnya. "Yang, aku kok tiba-tiba pengen makan martabak ya?"
"Kamu ngidam?"
"Mungkin. Tapi kenapa baru sekarang ya pas kita udah tahu dia hadir? Kemaren-kemaren biasa aja"
Alex tertawa renyah. "Kayaknya dia mau yakinin kita kalau dia memang udah hadir. Masih dalam perut aja udah minta diperhatiin."
__ADS_1
"Ck, aku maunya sekarang. Martabak pake topingnya yang tebel kayaknya enak banget deh. Duh... air liur aku sampe meleleh, sayang."
"Ya udah, aku keluar sebentar buat nyari martabak. Tunggu di sini."
Tasya mengangguk antusias. "Jangan lama ya? Gak tahan soalnya."
"Iya, sayang. Aku pergi dulu. Love you." Alex mengecup bibir istrinya.
"Love you too." Balas Tasya tersenyum manis. Alex pun ikut tersenyum dan langsung beranjak pergi.
Sepeninggalan Alex, Tasya langsung mengelus perutnya. "Makasih udah hadir, sayang. Kamu itu pelengkap kebahagian Mommy dan Daddy."
Setelah puas berbicara dengan sang jabang bayi, Tasya pun beralih pada box bayi King. Di mana anaknya itu tertidur pulas. Bahkan sejak dijemput tadi King masih terlelap. "Nyenyak banget sih? Kasian harus disapih secepat ini."
****
"Mas, udah aku capek." Keluh Mey dengan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Sudah hampir tiga jam David terus menggempurnya tanpa ampun.
"Masih pengen, Yang. Kangen banget sama kamu. Makin sempit aja punya kamu." David terlihat masih semangat menggempur istri mungilnya. Satu bulan berpisah rasanya seperti satu tahun. Dan ia merindukan momen seperti ini.
"Kalau gini aku gak bisa jalan besok, Mas. Kamu mah gak ingat waktu." Protes Mey menggigit ujung bibirnya karena terlalu menikmati sentuhan sang suami.
"Maklum, sebulan aku puasa." David meraih bibir istrinya dan mencecapnya dengan lembut. Setelah itu ia turun ke dua gunung kembar istrinya yang semakin besar. David terus menyusu seperti anak kecil.
"Mas... udah yuk, aku beneran capek. Besok malam lagi kan bisa." Rengek Mey yang sudah lelah dan ingin tidur.
"Ya udah, tunggu sebentar lagi. Nanggung soalnya."
"Kamu kan tahu dari dulu aku gak pernah puas sama kamu. Ahh... aku mau sampe."
Tubuh lelaki itu pun ambruk di sebelah Mey dengan napas ngos-ngosan setelah pelepasan yang kesekian kalinya.
Mey merintih pelan saat milik suaminya lepas dari sarangnya. Kemudian ia pun merubah posisinya menjadi miring. Dipeluknya sang suami yang terlihat kelelahan.
"Makasih, sayang. Aku puas banget." David mengecup kening istrinya begitu lembut.
"Sama-sama, Mas. Ayok tidur. Aku ngantuk banget. Good night."
"Good night, honey." David kembali menghadiahi kecupan mesra di bibir istrinya. Sebelum mereka benar-bener terlelap karena kelelahan.
Keesokan hari, Mey kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya. Mulai dari menyiapkan pakaian suami, masak dan sampai memandikan Noah.
"Sayang, aku kerja dulu. Jangan nakal di rumah. Nanti aku pulang kalau kangen." David mengecup kepala Mey yang sedang sibuk memakaikan Noah baju.
"Hati-hati di jalan, Mas. Perlu aku antar makan siang gak?"
"Boleh, sekalian kasih servis juga kalau bisa." David terkekeh sendiri. Kemudian beralih mencium Noah yang terlihat asik menggigit mainannya.
"Dih... kamu mah gak jauh-jauh dari sana."
"Daddy kerja dulu ya, buat jajan kamu nanti." Untuk yang kesekian kalinya David menciumi putranya. Membuat Noah kesenangan dan terus berteriak.
__ADS_1
"Seneng banget di ciumin Daddy, kangen ya sama Daddy?" Mey mengajak putranya bicara.
"Sini Daddy gendong sebentar, dari tadi gak sempat gendong." David mengangkat Noah ke udara. "Wah... kok berat banget sih anak Daddy?"
"Kan sekarang aku udah mam, Daddy." Sahut Mey seraya merapikan perlengkapan Noah yang berantakan.
"Hmm... udah ganteng, harum lagi. Gemesin tahu." David mencium perut Noah sampai anak itu berteriak karena geli.
"Mas, ini udah siang loh. Tar telat lagi ke kantornya, kayak gak tahu jalanan di kota aja. Sini Noah sama aku aja." Pinta Mey.
"Sebentar lagi, sayang. Aku kangen banget sama Noah. Pengen cium terus." Kali ini David malah duduk di ranjang dan mengajak Noah bermain. Mey yang melihat itu cuma bisa menggeleng.
"Kayaknya aku gak jadi ke kantor nih. Pengen main sama Noah."
Mey terkejut mendengarnya. "Mana bisa gitu, Mas. Nanti karyawan kamu pada nanyain gimana? Emang gak ada meeting hari ini?"
"Enggak, hari ini cuma mantau kerjaan aja. Jadi gak papa kalau bolos sehari. Hari ini aku mau habisin waktu bareng kalian. Terutama anak Daddy yang ganteng ini, pengen cubit-cubit."
Mey menggeleng pelan. "Kalau gitu ngapain kamu pake baju kantor, Mas? Nambah-nambah kerjaan Bibik aja."
"Gak papa, orang gaji Bibik gede kok."
"Ck, mentang-mentang bos. Udah ah, kalau kamu gak kerja. Mey ke kamar Laura dulu ya? Titip Noah, jangan sampe nangis."
"Iya Mommy cerewet."
Mey mendengus sebal dan langsung keluar dari kamar. Lalu melangkah pasti menuju kamar Laura.
"Hey," sapa Mey saat melihat Laura sudah duduk di atas pembaringan sambil makan buah potong. Dan ia pun duduk di sebelahnya.
"Mommy," anak itu tersenyum begitu manis. Wajah pucatnya pun sudah tidak terlihat lagi dan berganti dengan wajah ceria seperti biasanya.
"Udah makan kan?"
Laura mengangguk lagi. "Tadi suster yang suapin."
Mey menatap wajah Laura begitu dalam. Entah kenapa ia jadi mengingat Ingrid. Bagaimana cara mengatakan kebenaran pada anak itu? Syukur-syukur Laura tidak bertanya.
"Mommy, di mana Noah? Aura pengen main sama adek lagi."
Mey tersenyum lebar. "Tunggu sampai kamu sembuh dulu ya? Nanti main lagi deh sama adek Noah."
Lauar mengangguk antusias. Mey bernapas lega karena Laura tidak membahas Ingrid. Wanita itu pun membuka laci, kemudian mengambil sisir. "Sini biar Mommy rapikan rambut kamu dulu."
Mey mendudukkan Laura di pangkuannya, kemudian menyisir rambut panjang anak itu dengan hati-hati.
"Mommy, kenapa Mimi gak datang-datang? Apa Mimi gak sayang Aura lagi ya?"
Deg!
Baru saja Mey bernapas lega. Sekarang apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Lalu apa jawaban yang harus ia lontarkan sekarang?
__ADS_1