
Baik Mey maupun Tasya terperangah saat melihat Gibran hadir bersama seorang gadis manis. Bahkan keduanya saling menautkan tangan dengan mesra.
"Lo bawa siapa?" Tanya Mey antusias.
"Pacar gw dong, emang siapa lagi? Duduk, sayang." Tanpa meminta persetujuan pemilik rumah Gibran mengajak kekasih hatinya itu duduk. Dan itu tidak aneh lagi tentunya.
"Pacar? Seriusan? Jadi lo udah move on dari Tasya?" Seru Mey.
"Mey, rem dong pertanyaannya. Ada pacarnya loh di sini." Protes Tasya.
"Ck, gak papa. Gak ada yang perlu ditutupin. Lebih baik kita buka-bukaan aja ya kan cantik?"
Gadis berkulit coklat itu tersenyum ramah. Dan ia pun terlihat malu-malu.
"Wah, jungkir balik lo ya, Gib. Dari bule larinya ke indo asli. Suka gw, mirip gw gak sih dia?" Cerocos Mey. "Dapat dari mana?"
Gibran memutar bola matanya jengah. "Pertanyaan lo itu gak beretika, Mey. Ngeselin lo. Dari pada kalian penasaran, sekarang gw kenalin dia deh. Namanya Caca, pacar baru gw yang paling imut. Kita ketemu di kafe pas gw lagi buat tugas. Kebetulan dia jomblo dan gw juga jomblo, gw tertarik sama dia, dia juga sama. Kita kenal sebulan dan langsung pacaran. Bulan depan nikah. Udah gitu aja gak perlu banyak tanya. Kita datang ke sini buat kasih undangan." Jelas Gibran singkat dan padat seraya meletakkan kartu undangan di atas meja.
"Dih, sombong. Udah kayak presentasi aja lo. Btw manis juga pacar lo. Kenalin, gw Meylani. Panggil aja Mey. Gw...." belum selesai Mey bicara, Gibran lebih dulu memotongnya.
"Dia udah tahu, lo itu Emak tiri Tasya. Gw udah cerita semuanya sama dia. Termasuk kisah hidup kalian yang kayak benang kusut." Gibran tersenyum miring.
"Sialan lo, kayak hidup lo lempeng aja." Maki Mey.
Tasya dan Alex terlihat menyimak tanpa berniat ikut campur.
Gibran tertawa kencang. "Dasar emak-emak rempong, udah punya anak mulut lo masih aja lemes. Kasian Noah pasti malu punya Emak kayak elo." Ledek Gibran. Namun, tanpa di duga Caca memukul lengannya.
"Sayang, gak boleh gitu ah." Tegurnya dengan nada lembut. "Maaf ya, Mey. Gibran emang agak aneh."
"Huh, untung pacar lo minta maaf. Kalau enggak gw udah sumpahin lo." Kesal Mey.
"Bodo." Sahut Gibran beralih menatap King yang sedang bermain jari tangannya sendiri dalam gedongan Alex. Ia pun bangkit. "Kangen banget gw sama si gembul. Yuk Uncle gendong."
Alex pun membiarkan putranya di ambil alih oleh Gibran. "Wih... berat banget udah."
King tertawa kesenengan. Bahkan anak itu memainkan air liurnya dan berteriak riang.
"Kangen banget dia sama lo. Habis lo sibuk sendiri." Ujar Tasya seraya memeluk suaminya manja.
"Wah, kangen Uncle ya?" Gibran mengecup pipi tembem King dengan hati-hati.
Caca ikut menoel pipi King sangking gemasnya.
"Nanti udah nikah kita buat kayak gini juga ya? Gemes banget." Celetuk Gibran yang berhasil membuat Caca malu.
__ADS_1
"Ih... gak malu apa di dengar orang?"
"Dia mah gak tahu malu dari dulu pun, Ca. Sabar-sabar aja." Ledek Mey tanpa ragu. Sepertinya sifat asli dia mulai nongol lagi.
Caca cuma bisa tersenyum.
"Eh, Sya. Gak ada niat nambah gitu? Biar King buat gw aja."
"Enak aja. Lagian kalau nambah sepuluh pun gw gak bakal kasih King ke elo. Orang gw lahirinnya hampir mati. Enak aja lo mau ambil." Kesal Tasya.
"Ya udah gak papa, soalnya bulan depan gw juga mau produksi yang kayak King, iya kan sayang?" Gibran menyenggol kekasihnya.
"Ck, iya aja deh biar cepat, Ca. Turutin aja calon suami lo. Dia gak akan berhenti kalau lo diem aja." Sambar Mey.
"Nyamber aja lo, Mey."
Tidak lama dari itu David pun muncul bersama Noah dalam gendongannya. Anak itu terus merengek dan mengucek matanya. "Kayaknya Noah haus sama ngantuk, Mey."
Mey pun bangun dan langsung mengambil alih Noah. "Duh... anak Mommy udah puas mainnya ya? Bobok yuk." Mey mencium pipi putranya dan bergegas bangun. Sedangkan David ikut bergabung dengan para anak muda.
"Gw ke kamar dulu buat nidurin King. Lanjut aja ngobrolnya."
"Sip." Sahut Gibran. Mey pun langsung beranjak menuju kamarnya.
"Siapa yang mau nikah? Kamu, Gib?" Tanya David mengambil undangan di atas meja.
"Dih, gak tahu malu lo." Cibir Tasya.
"Boleh juga sih, tapi patungan." Sahut David yang disambut tawa oleh Tasya dan Alex.
"Setuju gw sama Daddy, kalau patungan kayaknya bisa tuh. Tapi honeymoonnya ke wahana aja deh, mayan buat nguji adrenalin juga tuh." Canda Tasya.
"Terus gw mp-nya di roller coaster gitu? Bukannya dapat enak malah ilang nyawa gw." Cetus Gibran. Sontak Tasya pun tertawa girang.
"Tenang aja, nanti saya kasih kok tiket bulan madu."
"Eh? Seriusan, Om?" Tanya Gibran begitu antusias.
"Beneran, tapi ke Anyer aja ya?"
"Lah... si Om mah sama aja kayak anaknya. Bisa aja candanya."
David tertawa renyah. "Terus ini calonnya?"
"Iya, Om. Cantik siapa dari pada Tasya?"
__ADS_1
"Cantik dia lah, soalnya selera kita sama. Yang hitam manis, tapi bikin nangih."
Gibran pun tertawa lucu. Sedangkan Tasya justru cemberut.
"Daddy bukanya bela anak malah bela orang lain. Lagian gini-gini juga pak Suami doyan. Iya kan sayang?"
"Iya, sayang." Jawab Alex.
"Kepaksa itu mah jawabnya." Ledek Gibran.
Sontak Tasya pun memelototi Alex. Dan dengan gerak cepat Alex mengecup bibir istrinya. "Gak perlu diraguin lagi, aku cuma mau kamu doang, Sya."
Tasya tersenyum malu. "Makin cinta deh."
"Liat, King. Orang tua kamu lagi pamer kemesraan. Kayaknya bentar lagi kamu bakal dibuatin adek tuh."
"Emang udah ada kali." Sahut Tasya dengan enteng.
"Eh? Lo hamil lagi, sya?" Kaget Gibran.
"Iya."
"Idih... gercep juga ya? Langsung topcer. Tapi kan King masih bocil banget."
"Gak jadi masalah, dia udah aku berhentiin nyusu. Alhamdulillah gak rewel sih." Jawab Tasya.
"Gila kalian, tiap malam gak libur kayaknya."
"Yoi, gw rasa lo juga gitu kalau udah nikah. Kalau bisa tiap malam olahraga, apa lagi pengantin baru. Tiap menit kayaknya." Ujar Tasya.
"Duh... jadi malu ada senior di sini." Gibran menatap David tidak enak.
David tersenyum geli. "Ya udah, kalau gitu saya nyusul Mey dulu. Lanjut aja ceritanya."
"Dad, Laura di mana?" Tanya Tasya.
"Ada di kamar atas." David pun langsung beranjak pergi.
"Aku belum jenguk dia. Sayang, aku ke atas dulu ya? Titip King, jangan sampe di bawa kabur sama Gibran." Pinta Tasya seraya bangun dari duduknya.
"Tega lo, Sya."
"Habis lo itu mencurigakan, hehe. Canda, Gib. Gw ke atas dulu. Santai aja di sini. Nanti Bibik buatin minum." Ujar Tasya. Gibran pun mengangguk dengan senyumannya yang khas. Kemudian Tasya pun mengikuti jejak sang Daddy.
"Lah... tinggal kita doang jadinya." Protes gibran.
__ADS_1
"Nikmati aja, bentar lagi mereka balik." Sahut Alex.