Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 62


__ADS_3

Tasya menggigit ujung bibirnya saat sepasang mata tajam terus mengarah padanya. Ya, di depannya saat ini sudah duduk seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah Papanya Alex, Effendi. Alex memang sengaja membawa Tasya langsung pada kedua orang tuanya. Hanya saja Bunda Aira tidak ikut bergabung karena ingin menghabiskan waktu bersama cucunya.


"Berapa usiamu?" Suara dingin lelaki itu berhasil membuat tubuh Tasya membeku. Alex yang memahami itu semakin mengeratkan genggaman tanganya di jemari Tasya.


"Se__sembilan belas, Om." Jawab Tasya gugup.


"Kerja atau kuliah? Siapa Ayahmu?"


"Kuliah, Om. Saya putri dari David Lander." Tasya melirik Alex sekilas.


"Jangan terlalu tegang. Rileks." Bisik Alex memberi kekuatan untuk kekasihnya.


"David Lander pemilik Angkasa Group?" Tanya Pak Effendi lagi.


Tasya pun mengangguk sebagai jawaban. Pak Effendi menghela napas berat. Kemudian melempar koran ke atas meja. Sontak Tasya maupun Alex memusatkan perhatian pada benda itu. Manik biru Taysa pun melebar saat melihat berita dalam surat kabar itu. Dengan gerak cepat ia mengambil benda itu dan menunjukkannya pada Alex.


"Apa ini?" Tanyanya dengan sorot mata tajam.


Alex mengambil koran itu dan menatapnya dengan seksama. Kemudian beralih menatap sang Papa. "Apa ini Pa?"


"Papa sudah menentukan tanggal pernikahanmu dengan Wilona. Semua media sudah menyebarkan kabar gembira ini." Jawab Pak Effendi tanpa beban. Ya, surat kabar itu berisi tentang rencana pernikahan Alex dengan Wilona.


Alex bangun dari posisinya karena tak terima dengan keputusan sepihak Papanya. Begitu pun dengan Tasya yang ikut bangkit.


"Papa tidak pernah membicarakan ini padaku, aku tidak setuju. Satu-satunya wanita yang akan aku nikahi adalah Tasya." Alex merangkul pundak Tasya.


"Semuanya sudah Papa atur, setuju atau tidak kamu akan tetap menikah dengan Wilona." Pak Effendi bangun dari posisinya. Menatap Alex dan Tasya bergantian.


"Aku tidak setuju, Pa. Apa Papa lupa pernikahan tak akan pernah terjadi jika sebelah pihak tak setuju? Bahkan aku seorang laki-laki, aku bisa memilih wanitaku sendiri." Tegas Alex melempar benda itu sembarangan.


"Pernikahan akan tetap berlangsung, atau anakmu tak akan pernah mendapat pengakuan keluarga ini."


"King tidak perlu mendapat pengakuan Papa, aku Ayahnya dan dia anakku. Jika Papa mengancamku seperti itu, maka aku bisa melakukan hal yang sama. Aku akan keluar dari rumah ini." Kecam Alex.


"Kak." Tasya yang kaget pun langsung menyentuh lengan kakasihnya. Alex menatap Tasya begitu dalam.


"Sudah aku katakan, kau satu-satunya wanita yang akan aku nikahi. Atau tidak sama sekali."


"Alex! Kau lupa pada janjimu untuk terus mendukung keputusan Papa?" Kesal Pak Effendi.


"Ya, jika itu mengenai perusahaan. Tapi tidak untuk kehidupan pribadiku." Sahut Alex dengan nada tegas.

__ADS_1


Tasya yang jengah mendengar pertengkaran anak dan ayah itu segera menarik Alex keluar dari ruangan itu. "Tunggu di sini."


Alex terkejut karena Tasya kembali ke ruangan itu dan mengunci pintu dari dalam. Bahkan lelaki itu menggedor pintu sambil terus memanggil Tasya.


Bukan hanya Alex, Pak Effendi pun kaget dengan apa yang Tasya lakukan. Wanita itu berjalan anggun mendekati Pak Effendi. "Silakan duduk, Tuan." Titahnya seakan ia pemilik ruangan. Namun lelaki paruh baya itu menuruti perintah Tasya. Seolah memberikan ruang pada Tasya.


"Apa keluhan Anda untuk saya, Tuan? Katakan saja jangan sungkan. Apa saya kurang cantik, kurang sopan atau kurang kaya?" Tasya pun ikut duduk di sofa. Matanya terus tertuju pada Pak Effendi.


Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. "Kau berani padaku?"


Tasya tertawa renyah. "Memang apa yang saya punya sampai berani pada Anda, Tuan besar Effendi? Saya hanya ingin tahu apa keluhan Anda terhadap saya sampai Anda menentang hubungan kami?"


Pak Effendi tersenyum miring seraya menyilangkan kakinya. "Aku mengenal Wilona sedari dia kecil, hanya dia kandidat yang cocok untuk putraku. Kami juga masih terikat keluarga, tentu saja itu lebih baik. Dia wanita terhormat, yang jelas asal usulnya. Juga bisa menjaga kehormantan sebagai seorang wanita."


Tasya bangun dari posisinya yang diiringi senyuman lebar. "Saya bertanya lain dan Anda menjawabnya lain. Tidak jadi masalah." Wanita itu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Kemudian kembali memusatkan perhatian pada Pak Effendi.


"Anda mengatakan jika Anda sudah mengenal kandidat calon menantu pilihan Anda dengan baik bukan?"


"Ya." Sahut Pak Effendi singkat.


"Okay, giliran saya yang akan memperkenalkan diri pada Anda. Saya, Tasya Stephanie Lander. Putri sulung dari Tuan David Lander, seorang pengusaha besar baik di kota ini maupun beberapa kota lain bahkan mancanegara. Saya lahir dari hubungan yang sah, dibesarkan dengan penuh kasih sayang, meski tanpa seorang Ibu. Jika Anda mengatakan Wilona wanita terhormat. Saya juga merasa demikian. Karena saya dididik menjadi wanita terhormat sejak kecil."


Pak Effendi tertawa renyah mendengar itu. "Wanita terhormat tak akan melahirkan seorang anak di luar nikah."


Pak Effendi menaikkan sebelah alisnya.


"Apa Anda pernah berpikir jika kehormatan saya hilang karena putramu? Apa Anda pernah bertanya bagaimana bayi gembul itu bisa hadir ke dunia ini? Apakah Anda pernah bertanya apa yang putra Anda katakan saat tahu aku hamil anaknya? Lalu bagaiamana dengan para wanita di luar sana yang sudah berusaha menutup dan menjaga diri dari sentuhan para lelaki, tetap tetap saja menjadi mangsa lelaki brengsek? Apakah mereka juga termasuk wanita tidak terhormat?"


"Pertanyaan apa itu?"


"Itu pertanyaan mudah, Anda hanya perlu menjawabnya." Tasya pun duduk kembali ke posisinya semula. Menunggu jawaban dari lelaki di hadapannya. Dan pertanyaan yang ia lontarkan membuat Pak Effendi bingung.


"Hah, lelaki terhormat seperti kalian hanya melihat kehormatan wanita hanya dari penampilannya saja. Bahkan kalian tak pernah tahu apa yang mereka lakukan di luar sana. Aku rasa Anda sendiri tak tahu seperti apa wanita yang Anda idamankan sebagai calon memantu itu." Tasya terdenyum getir.


"Mungkin benar aku bukan wanita terhormat karena pernah melahirkan anak di luar nikah. Anak yang hadir karena sebuah kecelakaan. Dan itu cucumu, Tuan. Sekarang aku tahu dari mana sifat pengecut putramu berasal. Ternyata itu diwariskan darimu." Timpal Tasya.


"Hey, kau bicara dengan orang tua, Nona. Jaga sopan santun Anda." Bentak Pak Effendi.


"Anda bicara dengan seorang wanita, Tuan. Jaga sikap Anda." Sahut Tasya tak kalah tegas. Sungguh keberanian yang luar biasa.


Pak Effendi terkejut melihat keberanian Tasya. "Apa tujuanmu mendekati putraku?"

__ADS_1


"I love him." Jawab Tasya dengan santai.


"Wah, jadi kau sengaja menjebak putraku melalui anak itu?" Tukas Pak Effendi yang berhasil mengundang tawa Tasya. Dan itu benar-benar membuat Pak Effendi semakin bingung.


Setelah puas tertawa, Tasya kembali memasang wajah serius. "Anda tahu? Apa yang Anda katakan itu sangat mirip dengan yang putra Anda katakan setahun yang lalu. Ternyata benar, darah itu lebih kental dari air. Kalian sangat mirip. Saya ungkap sedikit tentang masa lalu ya? Satu tahun yang lalu...." Tasya pun mulai menceritakan semua yang terjadi di masa lalu. Tidak ada niat dalam hatinya untuk menjelekkan Alex di depan sang Papa. Namun dirinya ingin meluruskan kesalah pahaman ini.


"Anda tahu? Saya sudah tak mengharapkan putra Anda lagi sejak saat itu. Tapi saat saya mulai menyerah, dia datang dengan keseriusan dan ketulusan. Sebagai wanita yang masih mencintainya, tentu saja saya luluh. Dan mulai saat itu, saya mulai berambisi. Saya akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Termasuk melawan Anda sekalipun Tuan besar." Pungkas Tasya seraya bangun dari posisinya. Kemudian beranjak keluar dari ruangan itu.


Pak Effendi tersenyum miring. "Baru kali ini seorang gadis berani melawanku. Baiklah, kita lihat sampai mana dia bisa bertahan?"


Tasya menghela napas berat setelah berhasil keluar dari ruangan itu. Kemudian disambut cemas oleh Alex.


"Sayang, apa Papa melakukan sesuatu padamu?" Panik Alex seraya memeriksa kondisi tubuh kekasihnya. Tasya yang melihat kekhawatiran itu pun tersenyum senang.


"Aku baik-baik saja, tapi mentalku hampir rusak saat berhadapan dengan Papamu. Dia sangat mengerikan." Jawab Tasya. Alex menarik Tasya dalam dekapannnya.


Ya, Alex dan Tasya sudah sepakat untuk mengubah panggilan mereka.


"Jangan lakukan itu lagi, Papa akan melakukan apa pun untuk menyingkirkan apa yang tak diinginkannya. Aku hampir mati memikirkanmu sejak tadi."


"Aku baik-baik aja, Kak. Buktinya kamu masih bisa liat aku kan?" Tasya memeluk lelaki itu dengan perasaan senang karena Alex mencemaskannya.


"Maafkan aku karena membawamu dalam situasi sulit." Ucap Alex dengan tulus yang kemudian memberikan kecupan hangat di pucuk kepala Tasya.


"Kita sudah sepakat untuk saling memperjuangkan hubungan ini kan? Jadi ini saatnya untukku berjuang. Besok kamu yang berjuang buat dapetin hati Daddy." Ujar Tasya.


"Ya, aku akan terus berjuang sampai kamu sah menjadi milikku."


"Terima kasih."


"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Sayang."


"Sama-sama calon suami."


Alex tersenyum senang mendengar itu.


"Tapi gimana sama Wilona? Kayaknya dia emang suka sama kamu. Kalian juga lengket banget kayak pranko." Imbuh Tasya mendongak dengan bibir yang mengerucut. Alex yang melihat itu tersenyum lebar.


"Dari kecil aku cuma anggap dia adik, gak lebih. Soal perasaanya, aku gak akan ambil pusing. Di luar sana banyak perempuan yang mau sama aku, cuma kamu yang beruntung karena aku lirik." Jawab Alex dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.


"Idih, geer banget sih. Udah ah, aku haus dari tadi nyerocos terus. Papa kamu bikin jantungan tahu gak?"

__ADS_1


Alex tertawa renyah. "Ayok, kita cari Mamah dulu. Kayaknya asik banget main sama cucunya."


Tasya mengangguk antusias. Kemudian mereka pun beranjak pergi dari sana. Melupakan sejenak masalah mereka.


__ADS_2