Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 77


__ADS_3

Satu bulan kemudian....


Saat ini sebuah ballrom hotel mewah sudah dipenuhi para tamu undangan dari berbagai kalangan. Karena hari ini adalah hari pernikahan Gibran dan Caca. Termasuk Mey, David, Tasya dan Alex pun hadir di sana bersama anak-anaknya. Dan tentu saja mereka menggunakan seragam keluarga.


Gibran terlihat bahagia dia atas pelaminan bersama sang istri. Lelaki itu terus mengembangkan senyuman bahagia, begitu pun dengan Caca.


"Foto bareng yuk selagi belum rame yang mau foto." Ajak Mey terlihat semangat.


"Yuk, dari tadi gw mw bilang gitu juga."


Mey dan Tasya pun bangkit, sedangkan para suami terlihat santai sambil menggendong buah hatinya.


"Ayok, sayang." Ajak Mey pada Laura. Lalu beralih pada sang suami yang masih duduk manis. "Mas, ayok."


"Ck, ganggu orang lagi santai aja kalian." Protes David yang bangun juga dari duduknya. Bisa berabe kalau Mey mengamuk di pesta.


"Sayang, ayok bangun juga. Kita foto semua." Ajak Tasya pada suaminya. Alex pun cuma bisa menurut tanpa mengeluarkan protesan. Dan mereka pun langsung naik ke pelaminan.


"Mau foto?" Tanya Gibran yang langsung di jawab anggukan oleh Mey dan Tasya. Lalu Gibran pun memberi kode pada fotografer.


"Yuk berdiri di posisi masing-masing." Titah sang fotografer.


Mey berdiri di sisi kanan, sedangkan Tasya di sisi lainnya bersama sang suami. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya. Dan jepretan demi jepretan pun berhasil di peroleh.


"Wow, selamat ya, Gib. Nanti malam belah duren dong. Kalau butuh pengetahuan soal ranjang. Langsung ke ahlinya aja, noh." Mey mengerlingkan matanya ke arah Tasya sambil menyalami Gibran. Si empu yang merasa sedang diomongin pun ikut mengerling.


"Dih, kenapa ke gw? Udah tutup masalah edukasi gituan sama gw. Biarin mereka cari sendiri. Lagian gw yakin dia udan latihan sebelumnya." Ketus Tasya.


"Jir, udah kayak apaan aja pake latihan dulu. Kagak gitu juga lah. Tar kita ikutin naluri aja, soalnya sama-sama belum berpengalaman." Ujar Gibran yang disambut tawa Mey dan Tasya. Sedangkan Caca cuma tersenyum malu.


"Ca, gw rasa sebentar lagi otak lo bakal ikut ngres deh. Percaya sama gw, apa lagi pas udah cobak gituan." Bisik Mey saat menyalami Caca.


"Ih, apaan sih, Mey. Jangan bikin grogi. Aku masih takut masalah gituan. Katanya sakit ya?" Balas Caca ikut berbisik karena takut di dengar oleh yang lain. Terutama suaminya.


Mey pun sedikit mendekatkan wajahnya dengan Caca. "Agak sakit, tapi lama-lama enak banget. Malah ketagihan terus."


"Duh... jadi takut."


"Gak usah takut, dijamin keenakan. Percaya sama gw, kalau gak enak mana mungkin ada Noah." Mey dan Caca pun tertawa kecil.

__ADS_1


"Eh, ngomong apaan sih? Kok gw gak di ajak?" Sambar Tasya ikut nimbrung.


"Kepo." Sahut Mey dan Caca bersamaan.


"Lah. Kompak amat? Selain kalian mirip, gw rasa otak kalian juga mirip. Cuma lo versi kalemnya, Ca." Ledek Tasya. Lagi-lagi Mey dan Caca pun tertawa renyah. Sedangkan para suami cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.


****


Sepulangnya ke rumah, Mey langsung merebahkan diri di atas kasur. Sedangkan David menidurkan Noah ke dalam box bayi.


"Mandi dulu, Mey. Biar seger, aku liat lemes banget."


Mey mengalihkan pandangan pada suaminya. "Kekenyangan, Mas. Hehehe."


"Kalau kenyang jangan tiduran, gak baik buat lambung."


"Mey gak mau mandi ah, mau ganti baju aja. Lagian yang nyium bau ketek Mey kan kamu, Mas." Mey kembali terkekeh geli.


"Terserah kamu aja, lagian bagiku kamu gak pernah bau. Wangi terus walau pun banjir keringatan."


"Eleh, bilang aja emang doyan. Udah ah, Mey mau ganti baju dulu, gerah pake yang ginian mah." Mey pun bangun dari posisinya dan bergegas menuju ruang ganti. Sedangkan David memilih duduk bersandar di atas ranjang.


Tidak perlu lama, Mey keluar dan sudah berganti pakaian santai. David yang melihat itu tersenyum tipis. "Kamu kalau gitu kayak masih anak sekolah aja, Mey. Gak tahu aja anak di rumah udah banyak."


"Hehe... kan lumayan beli satu dapat gratis dua."


"Dih... kalau beli baju mah enak beli satu gratis dua. Lah ini dapat suami terus di kasih bonus dia. Untung Tasya udah emak-emak jadi gak perlu aku urus lagi." Cerocos Mey merangkak naik ke atas ranjang. Kemudian berbaring dengan paha David sebagai bantal.


David memandangi wajah istrinya yang sudah tidak terhalang lagi dengan make up. "Cantik banget sih kamu, jadi pengen cium."


"Emang ya, kalau udah berduaan di kamar itu otaknya ngeres terus." Mey mendengus sebal dengan kemesuman suaminya.


"Gak papa, kan nambah pahala."


"Ck, itu mah mau kamu. Tapi kan, Mas. Mey tuh ngerasa cocok banget sama Caca. Kayak sefrekuensi gitu. Kayaknya Mey bakal jadiin Caca satu circle deh. Kira-kita Tasya mau gak ya?"


"Hm. Kamu gak pake bh ya?" Tanya David yang sebenarnya tidak terlalu mendengarkan perkataan sang istri karena dari tadi matanya terus tertuju pada dua gundukan milik sang istri yang tercetak jelas di balik kaosnya.


"Ih, jadi kamu gak dengerin Mey ngomong ya?" Kesal Mey.

__ADS_1


"Enggak, habis aku gak bisa fokus sama punya kamu. Nantangin dia."


"Ck, aku sengaja gak pake biar enak pas nyusuin Noah." Jelas Mey.


"Mey, aku juga mau nyusu dong."


"Enggak ah, udah tadi malam. Mey tuh capek, Mas." Tolak Mey.


"Bentar aja, Mey. Tuh, udah keras juga punya kamu." David sengaja menoel-noel ujung gunung kembar istrinya.


"Gimana gak bangun, kamu godain terus."


David tersenyum kuda. "Main bentar yuk."


"Enggak, Mey ngantuk."


"Satu aja."


"Kamu gak bisa dipercaya cuma main sekali." Mey pun merubah posisinya menjadi miring ke arah perut sang suami. Dan matanya malah gak sengaja liat sesuatu yang nimbul di balik celana suaminya.


"Mas, kok tegang banget sih?" Mey menyentuh benda itu dan sedikit mengusapnya. Sontak David pun mengerang kenikmatan.


"Dia butuh pelepasan, Mey." David merem melek karena Mey justru menyentuhnya lebih jauh.


"Enak ya, Mas?" Mey terkekeh sendiri melihat ekspresi suaminya yang keenakan karena tongkat bisbolnya di mainin.


"Iyahh... enak banget, Mey. Keluarin aja biar lebih enak."


Mey tertawa kecil dan langsung menurunkan resleting celana suaminya. Dan ia pun memberikan kepuasan pada suaminya tanpa harus ikutan berkeringat.


"Udah kan? Mey ngantuk tahu." Mey pun menyudahi aksinya karena sangat mengantuk. Lagian ia sudah berhasil memuaskan suaminya, buktinya tongkat itu sudah loyo lagi.


"Makasih, sayang. Kamu emang bisa aja muasin suami. Padahal cuma pake tangan sama mulut doang."


"Ck, kamunya aja yang gampang banget kepancing. Udah, Mey mau tidur. Jagain Noah ya?"


"Iya, sayang. Aku pasti jagain kok. Tapi jangan marah kalau aku nyuri-nyuri dikit." Jawab David malah cengengesan.


"Huh, emang susah kalau punya suami mesum kayak kamu, Mas. Untung aku cinta."

__ADS_1


"Sama, aku juga cinta sama Mommy. Love you, Mommy." David menyentil ujung gunung kembar istrinya dan langsung melesat pergi menuju kamar mandi.


"Mas! Jail banget sih?"


__ADS_2