
"Ambil darah saya saja Dok, saya sehat dan golongan darah saya sama dengan dia." Ucap Astrid seketika membuat semua orang menatap ke arah nya. Sedangkan Chaca sudah tidak bisa mendengar dan melihat dengan jelas karena pusing yang di landa.
"As--." Ucap Dimas menatap ke arah Astrid.
"It's okay Dimas, he's been taking care of my son all this time." Ucap Astrid sambil menatap ke ara Aiden. Astrid bisa melihat betapa sayang nya Aiden kepada Chaca.
"Aku tidak ingin membuat Aiden sedih terus." Kata Astrid.
"Suster, tolong antar nona ini." Ucap Dokter itu kepada suster lalu ia pun ikut keluar dari ruangan Chaca.
"Je ... " lirih Chaca begitu pelan.
"Iya Cha." Kata Jenar.
"Gue gak bisa buka mata, kepala gue berat banget Je." Ucap Chaca sangat pelan.
"Udah, kamu istirahat aja Cha. Ada Aku dan Mama disini, ada Aiden juga." Kata Jenar lalu Chaca hanya mengangguk dan kembali tertidur.
"Seperti nya harus ada yang kembali berpuasa setahun ini." Kata Jenar pelan sambil tersenyum kepada Tamara.
"Kalau Mama sih Je gak mau setahun, tapi dua atau tiga tahun." Kata Tamara.
"Gak kelamaan Mah?" Tanya Jenar.
__ADS_1
"Ah kelamaan yah? Baiklah 5 tahun deh." Lalu Tamara dan Jenar menahan tawa nya karena melihat wajah Dimas semakin memerah menahan marah.
...🌹🌹🌹...
"Terimakasih As." Ucap Dimas kepada Astrid karena Astrid telah memberikan darahnya kepada Chaca.
"Harusnya aku yang berterimakasih kepada nya Dim. Dia sudah memberikan kasih sayang yang begitu besar pada Aiden. Kasih sayang yang tak pernah bisa aku berikan kepadanya." Ucap astrid tersenyum.
Dimas hanya diam mengangguk kecil.
"Boleh aku masuk dan bicara dengan istri kamu?" Tanya Astrid.
"Masuk lah. Ada mama dan Jenar di sana." Kata Dimas.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Tamara datar.
"Mama gak boleh gitu ah." Kata Jenar tidak enak.
"Hemm saya ingin berbicara dengan Chaca boleh?" Tanya Astrid pelan. Saat ini Chaca sudah sadar dan sudah lebih baik berkat tranfusi darah dari Astrid.
"Mau a--" Ucap Tamara terhenti kala tangannya di cekal oleh Jenar.
"Boleh mbak. Silahkan, biar kami keluar sebentar." Jawab Jenar ramah.
__ADS_1
"Aiden mau disini apa mau ikut Tante?" tanya Jenar.
"Aiden mau nemenin Mami. Aiden gak mau ninggalin mami." Kata Aiden sambil terus tangannya menggenggam tangan Chaca. Bohong bila Astrid tidak cemburu akan hal itu namun sebisa mungkin Astrid membuang rasa itu jauh jauh.
"Gapapa mbak kalau Aiden disini?" Tanya Jenar pada Astrid.
"Ya gapapa lah, biar sekalian Aiden jagain Mami nya dari lampir." Kata Tamara lalu ia keluar begitu saja.
"Maafin Mama ya mbak, mbak tau sendiri bagaimana sifat Mama Tamara." Kata Jenar sungkan.
"Iya gapapa kok. Kamu istri nya Arya ya?" Tanya Astrid.
"Iya mbak, saya Jenar istrinya mas Arya." Astrid hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Jenar bisa melihat bahwa Astrid memang lah orang baik, jadi Jenar tidak khawatir meninggalkan Chaca dengan nya.
"Mama kok gitu sih mah sama mbak Astrid?" Tanya Jenar saat sudah di luar ruangan Chaca.
"Mama gak suka sama dia Je." Kata Tamara.
"Jenar tau Ma, tapi apa harus Mama memperlihatkan nya di depan Aiden. Kasian Aiden mah." Kata Jenar membuat Tamara terdiam.
"Mah, Jenar tau mbak Astrid sudah membuat kesalahan yang begitu besar tapi ada kalanya dia berubah Ma, Jenar yakin sekarang mbak Astrid udah berubah gak kaya dulu lagi. Buktinya Aiden mau menginap dengan nya beberapa hari ini kan." Kata Jenar.
"Mah, beri mbak Astrid kesempatan, biar bagaimana pun dia juga ibu kandung Aiden, Jenar yakin dia sudah berubah." Ucap Jenar lagi.
__ADS_1
Tamara terdiam mencerna setiap ucapan yang fi katakan oleh Jenar, dalam hati Tamara juga bida melihat dari mata Astrid bahwa dia tulus namun entah mengapa Tamara begitu sulit memaafkan mantan menantu nya itu.