
Di kampus B, Tasya terlihat keluar dari kelasnya. Ia terkejut karena Gibran tiba-tiba muncul dan memberikan setangkai mawar padanya. Tasya mengerut bingung.
"Buat lo, gw akan selalu kasih setangkai mawar setiap kali kita ketemu. Anggap aja gw lagi menyemai cinta di hati lo. Gw yakin mawar ini perlahan tumbuh dan bermekaran diwaktu yang tepat. Masih ada waktu setengah jam buat ngobrol." Ujar lelaki itu tersenyum menawan.
Tasya tersenyum geli. Kemudian menerima bunga itu dan meciumnya dengan lembut. "Okay, di kantin aja kita ngobrol. Kebetulan gw udah lapar lagi. Gw yakin lo ngerti."
Lagi-lagi Gibran tersenyum manis. "Apa yang enggak buat lo, ayok." Tanpa ragu lagi Gibran mengamit tangan Tasya. Kemudian membawanya ke kantin.
"Mau makan apa?" Tanya Gibran sambil menarik kursi untuk Tasya. Mempersilakan wanita cantik itu duduk di sana.
"Thank you. Gw lagi kepengen gado-gado, tapi gak pedes. Minumnya air hangat aja ya?" Pinta Tasya tanpa rasa jaim.
"Okay, Sayang. Biar aku pesan dulu." Lelaki itu pun langsung beranjak menuju tempat pemesanan. Dan tidak lama ia kembali dan duduk di hadapan Tasya.
"Jadi gimana?" Tanya Gibran menatap Tasya lekat.
"Gimana apanya?" Tasya menatap lelaki itu bingung.
"Hubungan kita? Mau pendekatan dulu? Atau langsung pacaran sekalian kenalan lebih dekat?"
Tasya tersenyum tipis. "Kalau kita kenalan dulu gak papa kan? Gw masih belum ngenal lo lebih jauh." Jawab Tasya mengikuti kata hatinya.
"Gak jadi masalah, kita jalanin semuanya pelan-pelan. Gw gak akan maksa elo dan kalau bisa lo selalu jujur tentang perasaan lo sama gw. Mau lo suka atau enggak sama gw nantinya, lo harus tetap ngomong." Ujar Gibran masih memasang senyuman menawan.
"Gw juga tipe orang yang langsung ngomong, Gib. Gw gak suka nyembunyiin apa pun. Gw harap lo gak kaget lagi." Jujur Tasya.
Tidak lama makanan pun sampai.
"Makan aja dulu. Kita lanjut ngobrol kalau sempat." Ujar Gibran menarik minuman miliknya.
Tasya mengangguk dan tanpa banyak bicara lagi langsung melahapnya.
"Gw gak nyangka muka lo bule tapi makanan lo indo banget." Timpal Gibran merasa takjub dengan selera wanita cantik itu.
"Jangan lupa, almarhum Nyokap gw masih keturunan Indo. Lagian lidah sama perut gw udah berbaur sama yang namanya masakan khas Indo. Habis gak ada duanya kuliner Indo mah. Beberapa kali gw pulang ke negara Bokap, tetap aja makanan Indo number one." Celoteh Tasya.
"Hm. Senang gw, gak perlu susah nyari makan buat lo kalau kita udah nikah nanti."
Uhuk! Tasya tersedak saat mendengar perkataan Gibran. Lelaki itu begitu percaya diri. Tasya meneguk air minumnya perlahan. Melirik lelaki itu dengan perasaan gugup.
"Sorry, kecepetan ya gw bahas masalah nikah? Tapi gw serius, gw gak mau main-main lagi kali ini, Sya. Gw pengen serius sama lo. Dari dulu gw nunggu lo." Jujur Gibran yang berhasil membuat Tasya salah tingkah.
"Gib, biarin gw habisin makanana gw dulu." Pinta Tasya samakin canggung. Bahkan ia gemetar. Ini pertama kalinya seseorang menyatakan perasaan dengan gamblang padanya.
Gibran terkekeh geli saat dirinya menangkap kegugupan di wajah Tasya. "Santai aja kali, Sya. Lo lucu pas lagi merona gitu. Cantik banget."
Untuk yang kedua kalinya Tasya tersedak. Wanita itu meneguk air munum dengan tangan yang bergetar. Bukanya merasa bersalah, Gibran justru tertawa renyah.
"Baru kali ini gw ketemu cewek selucu lo, Sya. Ok, gw gak akan ganggu lo dulu. Lanjutin makannya."
__ADS_1
Tasya tersenyum kikuk dan melanjutkan makannya. Kali ini Gibran tidak berbohong, ia membiarkan Tasya makan dengan tenang.
Setelah Tasya selesai makan. Gibran kembali membuka pembicaraan. "Sya, malam tadi gw ke rumah lo buat ngasih hadiah kecil. Nyokap gw baru pulang dari Bangkok, kebetulan bawa hadiah lebih. Dan gw inget lo dan mampir ke rumah lo. Kebetulan gw habis dari rumah temen."
"Oh iya, hadiah itu ya? Makasih ya? Gw belum sempat lihat. Lo tahu sendiri pagi-pagi gw harus urus King." Ucap Tasya.
Alis Gibran terangkat sebelah. "King?"
"Anak gw, namanya King." Jelas Tasya mengerti arti kebingungan lelaki itu.
"Wah, keren juga namanya King. Raja huh?"
"Ya, dia bakal terus jadi raja di hati gw." Kata Tasya dengan senyuman lebar.
"Hm. Keren, gw pengen ketemu sama anak lo. Berapa sih umurnya?" Tanya Gibran penasaran.
"Masuk enam bulan, tapi dia udah pinter banget. Sekarang lagi belajar duduk. Em, minggu kayaknya lo bisa main ke rumah. Keluarga gw ngumpul semua kalau hari weekend. Lo bisa sekalian kenalan sama Bonyok gw."
"Seriusan hari minggu gw boleh main?" Tanya Gibran penuh harap.
"Iya, main aja gak papa kok. Daddy gw bakal izinin. Lo datangnya agak siangan aja biar bisa makan siang bareng. Itu kalo lo gak sibuk." Jawab Tasya memberikan peluang pada lelaki itu. Ia benar-benar sudah membukatkan tekad untuk membuka hatinya untuk lelaki dihadapannya.
"Yes! Gw gak sibuk kok. Minggu kan? Ah, gw seneng banget."
Tasya mengangguk dan tersenyum lebar. "Lo beneran gak merasa terganggu dengan anak gw? Lo harusnya tahu, kalo lo mau sama gw. Lo juga harus bisa nerima King sama seperti lo nerima gw dihati elo." Tasya memberikan tatapan serius.
Gibran menghela napas dalam, meraih tangan Tasya dengan lembut. "Gw cinta lo dengan sepenuh hati, Sya. Gw bakal terima apa pun yang ada dalam diri lo. Termasuk anak lo. Gw bakal anggap dia kayak anak gw sendiri. Nyokap gw juga udah gak sabar pengen punya cucu, pas banget kan kalau gw nikah sama lo Nyokap langsung punya cucu. Sekalian nunggu cucu kedua."
"Gw gak main-main sama ucapan gw, Sya." Imbuh Gibran serius.
Tasya menunduk sejenak. Kemudian menatap netra kelam lelaki itu dengan seksama. "Gw bingung harus ngomong apa, Gib?"
"Lo gak perlu bingung, lo tinggal bilang aja lo mau nikah sama gw. Beres kan?"
Tasya menepuk tangan Gibran saat mendengar itu. "Lo kira nikah itu cuma main-main apa? Yang sehari dua hari terus besoknya bisa bubaran. Banyak yang harus kita pertimbangkan, Gib."
"Mungkin itu elo, gw udah pertimbangin semuanya. Tinggal nunggu keputusan elo aja, mau atau enggak jadi istri dan calon Ibu anak-anak gw." Ujar Gibran penuh keseriusan.
"Terus orang tua lo gak lo pikirin? Gimana kalau mereka gak mau nerima status gw saat ini. Gw udah punya anak, Gib." Tasya menghela napas berat.
"Nyokap gw udah tahu soal lo."
"Hah?" Kaget Tasya dengan mata melotot.
"Ya, Nyokap gw tahu dan dukung gw. Bahkan Nyokap nyuruh bawa lo ke rumah secepatnya."
Tasya tertawa getir mendengar itu. "Gab, umur kita masih muda loh. Lo yakin mau nikah sama gw? Lo masih banyak kesempatan buat dapet yang lebih baik."
"Hm, gw udah nyari itu sejak lama. Dan yang terbaik itu ada di hadapan gw saat ini. Karena sejak dulu cuma elo yang ada di hati gw, Sya."
__ADS_1
Tasya mendorong tubuhnya ke belakang, tetapi tatapannya masih tertuju pada Gibran. Ia bingung harus ngomong apa lagi. Perkataan lelaki itu mematahkan semua kata-kata yang tersimpan dikapalanya.
Gibran melihat arloji di tangannya. "Okay, kita bicara lagi lain waktu. Kelas lo bakal mulai lima menit lagi, sebaiknya kita langsung pergi dari sini."
Tasya mengangguk pasrah. Lalu mereka pun beranjak pergi dari sana.
****
Keesokan hari, Mey sudah terlihat rapi dengan stelan kasualnya. Noah juga sudah tampan dengan stelan baju santai dan sebuah kupluk rajut yang menutupi rambut pirangnya. Bayi itu terus menghisap jarinya sambil menatap Sang Mommy yang masih sibuk merapikan rambut di depan cermin. Saat ini bayi mungil itu sudah tergolek di dalam stroller.
"Mommy sudah siap, ayok berangkat." Mey menyambar tas kecilnya dan langsung membawa Noah keluar dari kamar. Hari ini ia akan berkunjung ke kafe sebentar.
Sesampainya di lantai dasar, Mey berpapasan dengan Tasya yang baru keluar dari kamar bersama King di gendongannya. "Mau ke mana? Gak bilang kalau mau keluar." Tanya Tasya menatap penampilan Mamudnya. Meski sudah memiliki anak satu, wanita yang satu itu masih terlihat seperti gadis belia.
"Kafe, gw udah janji sama Buk Neny. Lo ikut gak? Gw gak tahu kalo lo free juga hari ini." Jawab Mey yang kemudian mencium bibir pink King. Bayi gembul itu tertawa kegirangan.
"Boleh deh, tadi dosennya dadakan sih batalin pertemuan kali ini. Tunggu gw bentar ya? Gw siap-siap dulu. Cuma ganti baju doang." Pinta Tasya yang langsung melesat menuju kamarnya.
"Ok, gw tunggu di depan ya?" Teriak Mey sebelum beranjak menuju ruang depan.
Lima menit kemudian, Tasya pun mucul sambil mendorong stroller King. Ibu satu anak itu terlihat cantik dengan sweater toska yang dipadukan jeans putih. Rambutnya ia buat gaya messy bun, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
"Yuk." Ajaknya.
Mey pun bangun dari sofa. "Yuk."
Kedua Mama muda itu pun mulai beranjak meninggalkan rumah bersama bayi mungil mereka.
Bersambung....
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...Tasya Stephanie Lander...
...Alex...
...Gibran...
...Baby Kingsley...
__ADS_1
...Wilona...