Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 46


__ADS_3

Tasya menggigit ujung bibirnya karena gugup untuk berhadapan dengan Alex. Ia masih mengingat dengan jelas kejadian malam tadi di mana mereka bertengkar hebat.


Akh... bukan elo namanya kalau cemen gini Sya. Pikir Tasya dalam hati. Kemudian ia pun langsung menekan bel. Tasya terlihat begitu sabar menunggu orang itu membuka pintu. Ia sangat yakin Alex masih ada di sini karena mobil lelaki itu masih terparkir di garasi.


Sampai pintu itu pun terbuka, Tasya mendadak kaku. Apa lagi wajah tampan Alex menyembul dari balik pintu. Lelaki itu menatap Tasya aneh.


Ngapain dia ke sini, bukanya malam tadi dia marah sama gw? Dasar bule aneh.


"Nih sarapan buat elo dari Mamud." Kata Tasya menyodorkan kotak nasi pada Alex. Membuat lelaki itu mengerut bingung.


"Tadi Mey buatin nasgor lebih, dia kira lo masih ada di sana." Jelas Tasya mengerti kalau Alex bingung dengan ucapannya.


"Makasih." Ucap Alex menerima kotak nasi itu dan hendak menutup pintu.


"Eh, tunggu." Pekik Tasya langsung menahan daun pintu hingga Alex mengurungkan niatnya.


"Apa lagi?" Tanya Alex datar.


"Ck, gw ke sini sengaja buat nagih hutang elo."


"Hutang apaan? Lo sendiri yang bilang gak butuh tanggung jawab gw." Jawab Alex memasang wajah malas.


"Ih... bukan itu. Lo hutang pizza sama gw. Gw mau pizza itu sekarang." Ralat Tasya sambil mengerucutkan bibirnya. "Lo kan udah janji, masak lupa gitu aja?"


Mata Alex terbelalak mendengarnya. "Lo ke sini cuma mau nagih pizza?"


"Iya lah, lo ngarepnya apa? Gw bakal mohon-mohon gitu sama lo buat tanggung jawab. Sorry, gw gak akan minta sesuatu yang udah tahu kalau lo gak bakal kasih. Tapi kalau pizza gw yakin lo kasih, duit lo kan banyak." Cerocos gadis itu dan tanpa permisi langsung masuk ke dalam. Alex cuma bisa melongo saat melihat itu.


"Okay, gw bakal pesenin lo pizza sekarang. Tapi ngapain lo masuk?" Alex mengekori Tasya yang berjalan tanpa arah.


"Ih, di mana sih ruang tv? Gw mau nonton tahu." Kesal Tasya tak peduli dengan pertanyaan Alex.


"Emang di villa mewah lo gak punya tv apa? Ngapain lo nonton ke sini?" Tanya Alex berdecak kesal.


"Di sana males gw, Bokap sama Nyokap gw ribut banget. Mereka kan lagi temu kangen. Lagian gak papa kan gw numpang nonton di sini? Masak iya lo pelit banget sama gw." Oceh Tasya yang kini sudah duduk di ruang tv. Kemudian ia mengambil remot dan mulai menghidupkan tv.


"Lo kan bisa nonton di kamar sendiri. Gw sibuk." Ketus Alex yang masih setia berdiri sambil ngawasin pergerakan bumil yang satu itu.


"Enggak ah, gw di sini aja. Sekalian nunggu pizza datang. Gak tahu kenapa gw pengen banget makan bareng elo."


"Gak usah ngaco, jangan pake alesan lo ngidam. Lo mau cari perhatian gw kan?"


Tasya yang mendengar itu langsung bangun. "Heh, siapa sih yang mau cari perhatian elo? Gw emang lagi kepengen di sini, makan pizza bareng lo. Emang gw salah? Gw juga gak minta yang aneh-aneh sama elo. Lagian gw masih marah soal hinaan lo malam tadi." Teriak Tasya terpancing emosi. Matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Apa salahnya lo ikutin kemauan gw, cuma sebentar doang. Kalau gw gak kepengen banget gw gak bakal ke sini." Tangisan Tasya pun pecah. "Kenapa lo jahat banget sama gw? Apa salah gw sama elo, Kak?"


Alex menggeram dalam hati. Ia tidak pernah menghadapi gadis seperti Tasya sebelumnya. "Ok, fine. Lo boleh di sini sampe pizza datang. Habis itu lo pulang ke tempat lo sendiri." Kesalnya yang langsung beranjak pergi.


"Eh, lo mau ke mana?" Kaget Tasya.


"Ambi hp." Jawab Alex dengan ketus.


"Owh." Tasya mengusap air matanya dan duduk lagi di tempat tadi. Mencari siaran yang ingin ia tonton. Dan pada akhirnya pilihannya jatuh pada siaran yang sedang memutar Tom and Jarry.


Dan entah bagaimana ceritanya, kedua insan itu kini sudah duduk berdampingan sambil menonton serial Tom and Jarry. Sesekali Tasya tertawa sambil nyemil. Di atas meja juga sudah ada dua gelas jus jeruk dan beberapa cemilan.


Hingga suara bel rumah pun menarik perhatian keduanya.


"Pizza." Tasya memekik riang dan langsung berlari ke depan. Sedangkan Alex cuma bisa menggeleng melihat tingak aneh gadis itu dan tak berniat ikut dengannya. Karena ia sudah terbawa suasana dengan serial anak-anak yang saat ini masih tayang. Padahal sebelumnya ia tak pernah punya waktu hanya untuk menonton seperti saat ini.


Tidak lama, Tasya kembali dengan kotak pizza ditangannya. Gadis itu tersenyum senang karena Alex memesannya susuai keinginan.


"Lo udah bisa pulang, pizzanya udah datang." Kata Alex mengusir Tasya secara halus. Namun gadis itu sepertinya tak memahi perkataan Alex dan malah duduk sila di atas sofa. Meletakkan kotak pizza berukuran panjang itu dengan wajah berseri-seri.


"Huh, dari semalam gw udah bayangin ini." Katanya sambil menyomot sepotong pizza dan memasukkannya ke dalam mulut. "Omg, enak banget."


Alex yang melihat itu langsung menegakkan tubuhnya. Mendadak ia juga tergiur untuk ikut menikmati makanan berat itu. Apa lagi ia belum makan apa pun sejak pagi.


"Sya." Panggil Alex yang berhasil menarik perhatian gadis itu.


"Hm." Tasya pun menoleh dengan pipi yang menggembung karena mulutnya dipenuhi makanan.


"Gw lapar, boleh nyobak kan?" Tanya Alex tak ingin kejadian malam tadi terulang kembali. Kan berabe kalau Tasya nangis kejer.


Tasya terlihat berpikir keras. "Boleh deh, tapi jangan banyak-banyak." Ia menyodorkan kotak pizza pada Alex.


"Thank you." Ucap Alex menyomot sepotong pizza.

__ADS_1


"Sama-sama." Sahut Tasya meraih gelas jus dan meneguknya perlahan. Dan itu semua tak lepas dari perhatian Alex.


"Kenapa lo sama sekali gak naruh curiga sama gw. Gimana kalau gw kasih obat peluruh kandungan dalam minuman itu?"


Uhuk! Tasya tersedak karena pertanyaan itu. Kemudian menatap gelas jusnya dengan seksama. Setelah itu mengalihkan pandangan pada Alex. "Em, gw gak tahu. Hati gw selalu bilang kalau lo gak sejahat itu. Entahlah, gw sendiri bingung. Elo bener, bisa aja lo bunuh anak ini kan? Tapi... gw yakin lo itu baik. Meski lo gak mau ngakuin anak ini." Tasya memasang wajah sendu. Namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum.


Alex mengangkat sebelah alisnya saat melihat ekspresi Tasya yang selalu berubah setiap saat.


"Gw minta maaf soal malam tadi, gw gak maksud buat hina anak itu. Gw cuma syok dan gak bisa nerima kenyataan. Gw belum siap punya anak." Ucap Alex dengan tulus.


Tasya terdiam sejenak. "Gw paham, gw juga sama, syok dan belum siap punya anak. Tapi mau gimana lagi, semuanya udah terlanjur. Mungkin lo bisa terima anak ini seandainya yang hamil itu Mey kan?"


Alex merasa tertampar dengan pertanyaan yang Tasya lemparkan. Gadis itu benar, seandainya Mey yang ada di posisi Tasya saat ini. Ia tidak akan ragu lagi untuk menikahinya.


Tasya mendadak hilang selera. "Lo aja yang habisin, gw udah kenyang." Gadis itu bangun dari posisinya dan melangkah pergi.


"Sya, lo mau kemana?" Tanya Alex merasa heran.


"Pulang." Jawabnya datar.


Alex terdiam cukup lama. Ia tahu dirinya terlalu jahat buat gadis itu. Namun ia bukan tipe orang yang akan mengorbankan kebahagiannya dan menikahi wanita yang tak ia sukai. Karena itu hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Biarlah Tasya menganggapnya lelaki brengsek atau tak bertanggung jawab. Dari pada ia harus menyakiti Tasya dalam status pernikahan yang tak diinginkan.


Tasya berjalan gontai meninggalkan kediaman lelaki pujaan hatinya. Air matanya menitik sedikit demi sedikit. Rasanya sangat menyakitkan. "Please, jangan minta Mommy buat deket Daddy kamu terus. Daddy gak akan suka, kamu boleh minta yang lain. Tapi jangan Daddy, karena Mommy gak bisa memberikan itu sama kamu." Lirih Tasya mengusap perutnya dengan lembut. Air matanya mengucur dengan deras. Tasya bingung kenapa dirinya sangat cengeng akhir-akhri ini. Terkadang ia tak bisa mengontrol tangisannya sendiri.


"Udah jangan nangis lagi dong, gw capek. Berhenti ya air mata?" Tasya bicara sendiri sambil menghapus jejak air matanya. Namun air matanya seolah tak ingin berhenti. "Ih, udah dong. Tar kalau diliat Mamud dia bakal salah paham."


"Salah paham apa?"


Tasya terhenyak karena Mey sudah ada di depannya secara tiba-tiba. Sebenarnya Mey sejak tadi sudah berjalan mendekati Tasya, hanya saja gadis itu tak menyadarinya. Saat ini Mey sudah mengacak pinggang, ia terlihat lucu karena mengenakan jaket yang kebesaran.


"Eh, kok lo bisa ada di sini?"


"Gw nyariin elo, lo gak ada di sana. Gw curiga lo ke sini karena nasi goreng buat Kak Alex udah hilang. Jadi gw nyusul ke sini karena takut kalian berantem. Terus sekarang kenapa lo nangis? Apa lagi yang dia omongin sama elo?"


Tasya langsung menggeleng kuat.


"Gak mungkin lo nangis kalo dia gak ngomong macem-macem. Mana dia huh? Biar gw kasih pelajaran." Mey menyingkap lengan bajunya dan berjalan cepat memasuki pelataran villa Alex.



"Mey, elo salah paham," sanggah Tasya menyusul Mamudnya itu.


"Gak usah belain dia, dari tadi gw emang udah nahan buat ngasih dia pelajaran. Enak aja dia udah buntingin elo tapi gak mau tanggung jawab. Mau mabok atau pun enggak, tetap aja itu benih dia. Kalo gw jadi elo, udah gw habisin tu orang."


"Alex! Di mana lo?" Teriak Mey langsung masuk karena pintunya masih terbuka.


Alex yang masih di ruang tv pun merasa heran dengan suara ribut di luar. "Siapa sih berisik banget?" Ia bangun dari posisinya dan berniat untuk melihat siapa gerangan yang sudah berani membuat keributan.


"Mey?" Alex mengerutkan kening saat melihat Mey melangkah cepat ke arahnya.


"Ada apa, Mey? Tadi Ta...."


Bugh!


Seketika ucapan Alex tertahan karena Mey lebih dulu menendang tongkat bisballnya. Refleks Alex langsung membungkuk sambil memegang miliknya yang terasa seperti pecah. Wajah Alex merah padam karena menahan rasa sakit yang sulit di utarakan. "M__mey...."


"Itu balasan buat cowok brengsek kayak elo, Kak. Mungkin gw memang hutang budi karena elo udah banyak bantu gw. Tapi gw gak bakal segan hajar elo karena elo udah ngerusak sahabat gw, anak tiri gw." Bentak Mey dengan emosi yang meledak-ledak.


"Mey... gw gak...."


"Gak apa? Lo mau bilang kalau lo gak mau tanggung jawab kan? Lo ngatain anak lo sendiri anak haram. Brengsek lo, Kak. Gw pikir lo itu cowok gantel dan bertanggung jawab, nyatanya lo sama aja kayak banci." Semprot Mey tak kuasa menahan emosi. Ia juga tak ragu menarik rambut Alex dan menjambaknya dengan brutal.


Tasya yang melihat itu langsung menarik Mey dan menghadang di depan Alex. "Berhenti, Mey. Lo udah janji gak bakal nyakitin dia. Dia gak salah, gw yang salah di sini."


"Lo masih aja belain dia, Sya? Setelah apa yang dia perbuat sama lo." Bentak Mey menatap Tasya tak percaya.


"Gw mohon, jangan pukul dia lagi." Mohon Tasya menangkup kedua tangannya. Mey yang melihat itu memicingkan matanya.


"Kenapa Sya? Kenapa lo belain dia sampe segitunya. Jangan bilang lo jatuh cinta sama si brengsek ini huh?"


"Iya! Gw emang cinta sama dia." Jawab Tasya dengan nada tinggi. Sontak Mey dan Alex terkejut mendengar pengakuan Tasya. Alex langsung membalik tubuh Tasya dengan kasar.


"Lo bilang apa tadi?" Tanya Alex menatap Tasya penuh selidik.


"Gw cinta sama elo, Kak." Jawab Tasya menangis pilu. "Gw jatuh cinta sejak pertama kali ketemu elo."


Alex tersenyum getir mendengar itu. "Oh. Gw ngerti sekarang, lo emang sengaja jebak gw kan? Lo manfaatin gw yang lagi mabok supaya bisa tidur sama gw dan sekarang lo hamil, supaya apa? Supaya gw tanggung jawab dan lo juga maanfaatin Mey buat itu. Bener kan tebakan gw?"


Tasya terbelakan mendengar tuduhan sadis itu. "Gw gak serendah itu." Bentak Tasya. "Gw emang cinta sama elo, tapi gw gak mungkin jatuhin marwah keluarga gw cuma buat dapetin elo."

__ADS_1


"Terus apa sekarang kalau lo gak manfaatin Mey huh? Apa yang lo ceritain sama dia sampe dia datang ke sini dan marahin gw? Ini rencana elo kan? Murahan lo!"


Plak!


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Alex. Dan tamparan itu bukan dari Tasya tentunya, tetapi Mey lah yang memberikan tamparan itu. Mata wanita itu memerah karena menahan emosi.


"Brengsek! Lo ngatain anak gw murahan?"


Plak! Sekali lagi Mey melayangkan tamparan ke dua. Dan kali ini Tasya tidak mahannya. Ia terlalu sakit hati dengan tuduhan dan hinaan yang Alex berikan untuk dirinya.


"Sialan lo, udah hamilin anak orang lo malah mau lari dari tanggung jawab. Dan sekarang lo malah ngatain dia murahan? Gw lebih dulu kenal Tasya dari pada elo, dia bukan cewek murahan. Seharusnya lo juga tahu, gw sayang banget sama dia. Sekarang dia hamil anak lo, tapi elo malah hina anak tiri gw. Gak punya otak lo."


Entah bagaimana kini Mey sudah berada di atas Alex, menduduki perut lelaki itu dan terus menghajarnya. "Gw kecewa tahu gak sama elo, gw udah naruh kepercayaan besar sama elo. Tapi lo malah hamilin anak gw, sahabat gw." Tangisan Mey pun pecah, pukulannya pun mulai mengendur. Alex sama sekali tak menahan atau memberi pembelaan. Ia membiarkan wanita yang dicintainya mengjaharnya habis-habisan. Ia bisa melihat kekecewaan yang begitu besar di mata Mey.


"Lo jahat, lo brengsek, gw benci sama elo." Mey menangis sesegukan sambil memukul pelan dada Alex. Tasya yang melihat itu menarik Mey bangun.


"Udah, Mey. Dia bisa mati."


"Sekali lagi lo ngatain Tasya murahan, habis lo." Ancam Mey dengan tatapan permusuhan yang kental.


"Mey, pelase." Pinta Tasya memohon.


Tasya sedikit berjongkok dan berniat untuk membantu Alex. Namun lelaki itu langsung menepisnya. "Gak usah sok peduli."


Tasya terkejut dan langsung mundur. "Sorry." Ucapnya gemetar. Alex bangun dari poisisnya dan berjalan menuju sofa. Menjatuhkan dirinya di sana.


Kini ketiganya sudah duduk di sofa dalam diam. Mey masih memberikan tatapan permusuhan pada Alex. Dan lelaki itu menatap Mey penuh penyesalan. Mey memilih duduk berjauhan dengan Alex. Sedangkan Tasya duduk di sebelah Alex. Mengobati ujung bibir Alex yang luka bekas tinjuan Mey.


Tasya meringis pelan dan itu berhasil menarik perhatian Alex. "Gw minta maaf, gak ada sedikit pun niat gw buat jebak elo." Bisik Tasya. Sebulir air bening mentes melewati pipi mulusnya.


Alex yang mendengar itu kembali melempar tatapan untuk Mey. Seolah tak ingin mendengar penjelasan apa pun dari Tasya.


"Saat itu gw liat elo berantakan, lo terus berteriak frustasi. Gw takut lo kenapa-napa di jalan. Jadi gw ikutin elo. Lo malah mabok, apa salah gw bawa lo balik?" Lanjut Tasya dengan suara pelan. Ia tidak mau Mey dengar. Alex kembali menatap Tasya yang sudah berderai air mata.


"Gw tahu lo cinta mati sama Mey, gw tahu itu, Kak. Bahkan lo terus nyebut nama dia pas kita ngelakuin itu. Karena itu gw gak cari elo pas tahu gw hamil. Gw udah putusin buat rawat anak ini sendirian. Karena ini salah gw, lo gak salah." Jelas Tasya gemetar. Alex bisa melihat kegugupan dalam diri wanita dihadapannya saat ini.


"Semoga lo selalu bahagia, Kak." Pungkas Tasya yang kemudian bangun dari posisinya.


"Mey, pulang yuk." Ajak Tasya menghampiri Mamudnya. Mey menatap Tasya lamat-lamat. Menghapus jejak air mata anak tirinya dengan lembut.


"Jangan nangis lagi, ini terakhir kalinya gw liat lo nangisin cowok brengsek kayak dia. Gw yakin, anak lo bakal dapat Bapak yang jauh lebih baik dari Bapak kandungnya." Sindir Mey menatap Alex sinis.


Alex memalingkan wajahnya. Ada sedikit rasa tak rela saat mendengar perkataan Mey.


"Ayok." Mey pun membawa Tasya pergi dari hadapan Alex. Meninggalkan lelaki itu tanpa sepatah kata pun. Alex mengusap wajahnya dengan kasar.


"Gw minta maaf," ucap Tasya saat mereka sudah berada di luar villa.


"Minta maaf buat apa?"


"Maaf, gara-gara gw hubungan pertemanan kalian jadi renggang gini."


"Lebih baik gw gak punya temen, dari pada gw harus berteman sama cowok brengsek kayak dia. Biar aja dia mikir kalo gw ini gak tahu diri."


Tasya menatap Mamudnya begitu dalam. "Tapi dia cinta mati sama lo, Mey."


"Terus? Karena dia cinta sama gw, gw rela gitu lo disakitin gini? Ya enggak lah, gw lebih cinta elo sama bokap lo, Sya."


Tasya tersenyum dan langsung merangkul Mey. "Gw sayang banget sama elo."


"Gw juga." Balas Mey merengkuh pinggang sahabatnya.


"Tangan lo bengkak." Kata Tasya saat melihahat punggung tangan Mey yang merah dan sedikit bengkak karena terlalu keras memukul Alex tadi.


"Tar gw obatin."


"Gimana kalau Daddy tahu?"


"Lo tenang aja, Daddy lo tadi tidur pas abis minum obat."


Tasya mengangguk sambil tersenyum lebar. "Makasih karena lo selalu ada buat gw."


"Sama-sama. Gw akan selalu ada buat lo."


"Love you."


"To."

__ADS_1


Keduanya pun berjalan santai menyusuri jalanan sepi itu sambil sesekali tertawa bersama. Mungkin untuk waktu yang panjang mereka akan menjaga jarak dengan Alex. Lelaki itu sendiri yang membuat keadaan jadi serumit ini.


__ADS_2