
Anak-anak itu pun berlari ke dalam resort saat mereka baru saja sampai. Ya, David memang membawa keluarga besarnya ke Lombok. Sekalian mengunjungi resortnya di sana yang sudah lama tak ia kunjungi.
"Mommy, Mommy, apa aku boleh main ke pantai?" Seru Noah sambil berlari ke arah balkon yang langsung memperlihatkan hamparan laut biru.
"Boleh, sayang. Nanti sore ya? Sekarang masih panas. Yuk kita makan dulu." Ajaknya. Sontak anak-anak pun berteriak bahagia.
"Kemari," ajak David membawa anak-anak itu ke sebuah ruangan yang disiapkan khusus untuk makan siang. Di sana terdapat meja berukuran panjang dengan berbagai hidangan lezat di atasnya.
"Aku di sini." Teriak Noah heboh sendiri. Anak menggemaskan itu pun naik ke atas kursi dan berdiri di sana. Mey yang melihat itu panik sendiri.
"Noah, duduk." Titahnya.
"Mirip lo banget, Mey. Pecicilan." Ledek Tasya.
Tidak lama dari itu terdengar suara benda jatuh dan pecah. Sontak semua mata tertuju pada Queen. Ya, anak itu tidak sengaja menjatuhkan gelas.
"Solly, Mommy." Ucap Queen dengan mata berkaca-kaca.
Sontak Mey pun tertawa kencang. "Lo ledek gw kan? Sekarang kena batunya lo. Kuwalat sama gw."
Tasya mendengus sebal dan langsung menghampiri putrinya yang sudah menangis. "Gak papa, sayang. Jangan nangis." Tasya menggendong putrinya.
"Tolong diberesin," pinta David pada seorang pelayan yang baru saja datang membawa makanan penutup.
"Baik, Tuan."
David menghampiri Tasya yang masih menenangkan Queen.
"Sini sama Grandpa, jangan nangis lagi dong." David mengambil alih Queen dalam gendongannya. Dikecupnya kening sang cucu dengan lembut. "Jangan nangis lagi, gak papa, sayang."
David beralih menatap putrinya. "Kamu makan aja dulu, biar Queen sama Daddy."
"Thank you, Dad." Tanpa banyak berpikir Tasya pun ikut bergabung ke meja makan dan duduk di sebelah suaminya. Sedangkan David terlihat sibuk mengalihkan perhatian cucunya pada hal yang menarik. Mey yang melihat itu tersenyum bahagia. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan sesempurna ini.
Setelah puas memandangi sang suami, Mey pun mengalihkan atensinya pada anak-anak. Di mana Noah sedang sibuk memilih berbagai jenis makanan kesukaannya dan Laura dengan senang hati membantu sang adik.
Membahas Laura, Mey bersyukur karena anak itu bisa menerima keadaan. Ya, gadis itu sudah tahu soal Ingrid karena Mey memberitahunya saat usia gadis itu memasuki enam tahun. Dan sekarang Laura sendiri sudah berusia tujuh tahun. Anak itu tumbuh menjadi gadis cantik, pintar dan sangat pengertian. Yang jelas dia begitu menyangangi adiknya.
"Mommy tidak makan?" Tanya Laura yang berhasil membuyarkan lamunannya.
"Ah, makan kok. Kalian makan duluan. Mommy tunggu Daddy."
Mendengar itu Alex dan Tasya pun menoleh ke arah David. Di mana lelaki itu masih mengajak cucunya main.
"Santai aja, kayaknya Daddy kalian kangen cucunya. Udah lama kan Queen gak main ke rumah."
__ADS_1
Tasya mengangguk dengan tatapan sendu. "Sorry ya, Mamud. Gw jarang banget main. Lo tahu sendiri kan gimana gw pas hamil muda?"
"Gw ngerti kok. Lagian Daddy kalian juga sibuk banget sama kerjaannya." Mey terkekeh lucu. "Udah lanjut aja makannya, gw tahu lo kelaparan dari tadi. Perut lo berisik dari tadi."
"Sialan lo, Mey."
Mey tertawa renyah. "Canda gw."
Tidak lama David pun ikut bergabung.
"Sini Queen sama Daddy." Pinta Alex. David pun memberikan Queen pada Alex. Lalu ia pun duduk di sebelah sang istri.
"Mau makan sekarang?" Tanya Mey.
"Boleh, sayang. Laper juga liat makanan enak-enak semua." Jawab David mengambil jus dan menyesapnya sedikit.
Mey pun menuangkan nasi dan lauknya ke piring sang suami. "Cukup?"
David mengangangguk. "Kamu gak makan?"
"Ini mau makan, tadi nunggu kamu."
"Hm." David pun mulai melahapnya dengan khidmat. Ia tersenyum bahagia karena keluarga besarnya berkumpul semua. Sejak lama ia ingin mengajak anak-anak dan cucu-cucunya berlibur. Dan baru hari ini semua itu baru bisa terlaksana.
"Tentu saja, sayang." Jawab Alex mengusap kepala putranya.
"Oh iya, Kakek juga bilang. Kalau aku besar nanti, aku bakal di kasih mobil mewah. Terus Grandpa mau kasih aku apa?" King menatap David penuh harap.
David menyipitkan matanya. "Ambil aja deh pesawat tadi."
"Beneran, Grandpa?"
"Iya, mulai sekarang itu punya kamu."
"Yey!" Seru King kesenengan. Mey, Tasya dan Alex yang melihat itu tertawa renyah.
"Daddy, Noah mau juga pesawatnya."
David tertawa renyah. "Boleh, nanti Daddy beliin yang baru."
"Asikk... punya pesawat baru." Seru Noah tidak kalah senang dari King.
"Kamu gak minta apa-apa dari Daddy?" Tanya David pada Laura.
Gadis cantik itu pun tersenyum. "Aura gak mau apa-apa, cukup kasih sayang dari Daddy sama Mommy aja."
__ADS_1
Mey menatap putrinya bangga. "Kasih sayang Mommy sama Daddy gak akan pernah habis buat kamu, sayang."
"Aura percaya, buktinya sampai sekarang Mommy sayang banget sama Aura. Aura senang punya Mommy dan Daddy seperti kalian."
"Duh... jadi ikutan terharu. Pengen nangis." Ujar Tasya mulai menitikan air mata. "Aku kayak anak terbuang tahu gak? Gak tahu apa-apa."
"Dih, udah kayak anak kecil aja lo pake nangis segala. Lagian apa yang lo tahu. Lo tahunya buat anak terus." Cibir Mey yang langsung dapat pelototan dari Tasya.
"Mulut lo masih aja lemes, Mey. Ditahan dikit kek, anak-anak udah pada gede tahu." Sahut Tasya masih menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti menetes.
"Gak bisa kalau udah berhadapan sama lo, emosi aja gw kerjaannya." Mey melahap makanannya dengan kasar.
"Aneh banget, jangan-jangan lo juga bunting, Mey. Dulu juga kan lo gitu pas hamil Noah, kerjaan lo musihin gw terus."
Mey terdiam mendengarnya. Bukan hanya Mey, David pun menatap istrinya.
"Cobak aja lo periksa, Mey. Mana tahu dugaan gw bener. Kan lo udah kepengen banget bunting." Imbuh Tasya.
"Bunting-bunting, lo kira gw kucing?"
Tasya terkekeh lucu. "Lo kan kucing garong. Suka nyakar."
"Hih, serem dong gw?"
"Tasya bener, sayang. Sebaiknya kita cek ya? Mungkin aja kamu hamil lagi." Usul David.
"Iya nanti pulang dari sini kita cek, Mas. Jangan di sini ah, tar aku gak bebas main lagi. Kamu kan posesif banget kalau aku hamil. Gak boleh inilah, itulah."
"Tetap aja lo bandel, Mey. Sampe pohon pun lo panjat." Celetuk Tasya sekedar mengingatkan masa lalu.
Mey tertawa kecil. "Barbar banget ya gw dulu? Tapi seru juga sih, udah lama gw gak manjat pohon."
David terkejut mendengarnya. "Mey! Jangan macem-macem. Sekali lagi kamu manjat, sebulan kamu gak boleh keluar dari rumah." Ancamnya.
"Ih... mana boleh gitu, sayang. Mey janji deh gak bakal macem-macem. Sebulan di rumah? Sehari aja Mey nyerah. Lagian Mey kan belum selesai kuliah, Mas. Dikit lagi Mey wisuda."
Tasya menatap Mey lekat. "Ngomong-ngomong masalah kuliah, gw jadi kangen kampus." Ujarnya. Ya, Tasya memang memutuskan untuk berhenti kuliah karena Alex juga tidak mengizinkannya lanjut. Bukan apa, Alex cuma takut terjadi sesuatu karena saat itu Tasya sedang hamil. Dan sekarang juga Tasya malah hamil lagi. Jadi gak memungkinkan buat dia lanjut kuliah. Toh harta suaminya juga bejibun, buat apa lagi dia capek-cepek sekolah. Bahkan sekarang Tasya udah punya butik gede.
Alex menatap istrinya lekat. Tasya yang sadar akan hal itu pun tersenyum kikuk. "Aku cuma bilang kangen aja kok, sayang. Gak ada niat buat lanjut, hehe."
"Kalau kamu mau lanjut, aku juga gak keberatan kok." Kata Alex.
"Enggak ah, aku udah enak di rumah. Lagian kalau aku bosan bisa main ke butik." Sahut Tasya apa adanya. Alex yang mendengar itu tersenyum lega.
Setelah makan siang, mereka pun memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum kembali bermain di pantai. Sepertinya keluarga besar Lander itu benar-benar akan menghabiskan waktu selama satu minggu di Lombok. Momen kebersamaan bersama keluarga tentu saja menjadi impian setiap orang. Termasuk David dan Mey. Keduanya terlihat bahagia karena bisa melihat langsung kebahagiaan di wajah anak-anaknya.
__ADS_1