
Kini Tasya sudah bersimpuh di kaki David dengan tangisan yang tak kunjung reda. Hatinya begitu sakit saat melihat kekecewaan sang Daddy saat tahu dirinya tengah hamil. Begitu pun David yang tak kalah berantakan. Ia terus menjambak rambutnya dengan kasar. Jika dibilang ia kecewa, tentu saja ia kecewa. Semua Ayah di dunia akan kecewa saat tahu anak gadisnya mengandung sebelum menikah. Namun kembali lagi pada dirinya sendiri. David merasa semua ini adalah hukum alam untuk dirinya karena dulu selalu mempermainkan wanita. Kini putrinya sendiri yang harus menanggung dosa itu.
"Sasa minta maaf, Dad. Bunuh Sasa aja, Dad. Supaya Daddy gak nanggung malu." Pinta Sasa menangis tersedu sambil memeluk kaki sang Daddy. Mey yang melihat itu ikut sedih. Ia memeluk diri sendiri sambil menatap suaminya dengan penuh kesedihan. Sejak tadi Mey memilih berdiri di dekat sofa karena ia takut terbawa suasana dan malah menangis histeris.
"Sasa." David menarik putrinya bangun. Membiarkan Tasya duduk di sisinya. Lalu memeluk gadis itu dengan lembut.
"Daddy yang minta maaf, ini semua salah Daddy. Andai dulu Daddy gak mainin perasaan wanita, gak nidurin banyak wanita. Mungkin kamu gak akan jadi seperti ini. Daddy yang salah di sini, Sayang." David mengecupi pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Enggak, Sasanya aja yang gak bisa jaga diri." Kata Sasa masih menangis sesegukkan. "Sasa gak pantes dapat ampunan dari Tuhan. Sasa udah maluin keluarga kita."
"Berhenti bicara, Sasa. Daddy akan marah jika kamu terus menyalahkan diri sendiri. Semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa kita sesali. Rawat anak itu dengan baik, dia berhak mendapatkan kehidupan dan kasih sayang. Jika lelaki itu tidak mau bertanggung jawab, kita bisa besarkan dia sama-sama. Mommy kamu juga sedang hamil saat ini."
"Apa?" Tasya memekik kaget dan langsung menarik diri dari dekapan David. "Mamud hamil? Kenapa lo gak bilang sama gw kampret?" Tasya melayangkan tatapan maut pada Mamudnya itu.
Mey kaget saat melihat Tasya langsung merubah raut wajahnya dengan cepat. Bukan hanya Mey, David juga merasa aneh melihatnya.
"Sya, kita masih sedih-sedihan loh."
"Gw gak peduli." Tasya menghapus jejak air matanya dan langsung bangun. "Kenapa lo gak bilang sama gw kalo elo juga hamil huh?" Tasya melayangkan tatapan membunuh kali ini sembari mengacak pinggang. David yang melihat itu mendadak bingung.
"Sya, lo kerasukan ya?" Mey mendadak merinding saat melihat aura dingin dari tatapan gadis itu.
"Elo yang kerasukan, punya kabar baik lo sembunyiin dari gw. Sini lo." Bentak Tasya yang berhasil membuat Mey membuat ancang-ancang buat kabur.
"Gw kan belum punya kesempatan, kamu sih Mas pake ngomong segala." Mey pun melayangkan tatapan sinis pada suaminya.
"Loh, kok aku sih, Mey?"
"Emang kamu yang salah, ngapain pake ngomong sekarang sama Tasya. Kan gak kejutan lagi."
"Kejutan mata kaki lo, udah mau jantungan gw dengernya. Sini, gw pengen jitak pala lo, Mey." Tasya mulai geram dan hendak menangkap Emak tirinya yang super lincah itu.
"Sya, jangan macem-macem. Gw lagi gak sanggup lari. Bokap lo baru siap gempur gw soalnya." Keluh Mey yang berhasil membuat David melotot.
"Sayang, itu kan kamu yang minta. Pake ngerengek lagi."
__ADS_1
"Shhtt, cowok diama aja. Ini urusan cewek." Ketus Mey kembali menghindar saat Tasya hendak menangkapnya. Ibu hamil yang satu itu masih terlihat gesit meski sudah digarap habis sekali pun.
David memijat kepalanya saat melihat tingkah aneh dua wanita hamil itu. Ia tidak habis pikir bisa memiliki mereka dalam satu rumah. Sedangkan kedua wanita itu masih main kejar-kejaran layaknya anak kecil.
"Mey, jangan ngindar terus. Capek gw." Kesal Tasya mulai ngos-ngosan.
"Lah, siapa suruh lo ngejar gw? Dasar bumil gila." Ledek Mey menjulurkan lidahnya.
"Sialan lo, belum dapat pala lo belum puas gw." Tasya kembali melanjutkan aksinya. Dan aksi kejar-kejaran itu kembali terjadi. David cuma menonton itu dengan santai. Percuma dia melarang mereka, sudah pasti gak bakal digubris.
"Hah, masih gesit aja lo, Mey. Gak sanggup gw ngejar elo. Pantes aja bokap gw gak bisa jauh dari lo. Karena cuma elo kayaknya cewek yang sanggup digempur sampe pagi." Ujar Tasya menjatuhkan dirinya di sofa. Sedangkan Mey yang juga kecapekan memilih duduk di sebelah suaminya.
"Ck, gak sadar diri. Lo kan bunting karena digempur sampe pagi juga." Balas Mey yang berhasil mendapat pelototan dari Tasya.
"Tiupin, panas." Rengek Mey memeluk suaminya manja.
"Iwh, mana ada orang kepanasan pake peluk-pelukan segala."
"Iri? Bilang bos."
"Mana gw tahu, kalau gw mah emang udah direncanain. Lah elo mendadak bunting. Mana lebih tua anak lo lagi, padahal duluan kita buatnya iya kan, Sayang?"
"Hm. Siapa Ayah anak itu, Sasa?"
Deg! Tasya dan Mey pun saling melempar pandangan. Tasya menggeleng pelan, memberi isyarat pada Mey supaya tidak mengatakan kebenarannya. Bisa-bisa Alex mati saat ini juga.
"Sayang, Tasya masih terpukul banget. Sebaiknya kita gak usah tanya dulu siapa Ayahnya ya?" Bujuk Mey megusap dada suaminya.
Tasya mengangguk sambil memasang wajah sedih.
"Tidak perlu buat drama, aku tahu apa yang ada dalam kepala kalian. Katakan siapa Ayah anak itu atau Daddy yang akan cari tahu sendiri. Seharusnya kamu tahu, Sasa. Apa yang akan Daddy lakukan kalau Daddy yang tahu lebih dulu siapa Ayah dari anak yang kamu kandung. Ini masalah serius, dia harus berani tanggung jawab." Ancam David.
Tasya mulai kalang kabut mendengar ancaman Daddynya itu. Mey yang melihat kecemasan di wajah sahabatnya pun langsung menggengam tangan suaminya.
"Mas, kamu nakutin Tasya. Jangan keras-keras ngomongnya. Aku juga kaget tahu?"
__ADS_1
"Ck, Daddy minta maaf. Sekarang kamu jujur, siapa dia, Sasa?" David sedikit merendahkan suaranya.
Tasya menggigit ujung bibirnya. "Dad, Sasa gak tahu. Saat itu kami mabuk." Bohong Tasya.
"Mabuk? Daddy selalu melarang kamu buat nyentuh minuman haram itu, Sasa. Sekarang lihat akibatnya. Jika sudah seperti ini kamu sendiri yang rugi. Bahkan kamu gak tahu siapa laki-laki itu, ya Tuhan, Sasa." David mulai frustasi.
Mey mengusap lengan sang suami. Namun matanya masih tertuju pada anak tirinya. Tasya masih setia menunduk dengan kedua tangan yang saling tertaut.
"Mas, kamu sendiri yang bilang kalau kita akan merawat anak itu sama-sama kan? Mey mohon, jangan tekan Tasya terus. Dia bisa stres, itu akan mempengaruhi perkembangan anaknya." Bujuk Mey.
David menghela napas dalam. "Baiklah, mulai sekarang kamu cukup diam di rumah sampai anak itu lahir. Setelah itu lanjutkan studimu. Daddy tidak mau punya anak bodoh."
"Terus Mey gimana? Mey juga mau kuliah." Mey menatap David penuh harap.
"Kamu juga bisa kuliah bareng Tasya."
"Hah? Jadi Mey kuliah di luar negeri?" Seru Mey kaget.
"Ck, Tasya gak jadi kuliah di luar negeri. Dia lanjut kuliah di sini. Aku gak mau kejadian ini terulang kembali. Kehidupan di sana lebih bebas." David melirik putrinya untuk memberikan peringatan.
"Sasa gak akan ulang kesalah kedua kalinya, Dad. Sasa janji." Ucap Tasya lirih.
"Ya sudah, Daddy sama Mommy ke kamar dulu."
"Eh, ngapain Mas?"
"Emang ngapain lagi kalau ke kamar? Lagian di luar juga masih gerimis, jadi gak bisa kemana-mana."
"Enggak ah, Mey di sini aja. Kalau di kamar kamu maunya aneh-aneh." Tolak Mey menjauhkan diri dari David.
"Nolak suami itu dosa, Mey."
"Ck, selalu itu yang dijadiin senjata para suami. Ya udah ayok, tapi jangan macam-macam. Awas aja." Ancam Mey bangun dari posisinya. David tersenyum senang, lalu mereka pun bergegas menuju kamar. Lain halnya dengan Tasya, ia menggelengkan kepala saat melihat kemesraan Daddy dan Mamudnya.
Tasya terdiam cukup lama di sana. Sampai tiba-tiba mengingat Alex. "Apa dia udah makan? Huh, apa aku ke sana aja ya? Aku juga pengen nagih pizza malam tadi. Dia udah janji mau ganti rugi." Tasya bangun dari posisinya dan bergerak menuju dapur. Ia masih ingat tadi Mey membuat nasi goreng lebih. Dia bisa panasin itu dan memberikannya pada Alex.
__ADS_1