
Tasya terus termenung sepanjang jalan. Membuat Alex merasa cemas.
"Masih mikirin Mey?"
"Hm... apa lagi cobak? Sebenarnya aku kasian sama Mey. Dia selalu jadi korban keadaan. Wajar kalau dia marah, hatinya pasti hancur banget. Aku juga bakal marah kalau tahu kamu punya anak dari cewek lain. Mungkin aku gak akan lari, tapi aku bunuh kamu sama cewek itu."
Bukannya takut, Alex malah tersenyum geli mendengar itu. "Sayang banget aku cuma nidurin satu cewek di dunia ini. Cewek polos di luar tapi liar di dalam."
Tasya mendengus sebal mendengar itu. "Aku liar juga sama kamu doang. Habis kamu suka mancing."
Alex tersenyum mendengar itu. "Kita belum bulan madu. Gimana kalau minggu depan? Kamu mau ke mana?"
"Kayaknya gak perlu bulan madu deh. Aku gak tega ninggalin Daddy sama Mey dalam keadaan kayak gini. Papa kamu juga masih buat ulah. Si centil Wilona juga masih aja ganggu kamu."
"Aku selalu menghindari dia kok. Aku jaga perasaan kamu." Alex menggenggam tangan sang istri. Sedangkan Tasya memperdalam tatapannya.
"Makasih sayang. Aku gak pernah bayangin kita bisa bersatu kayak gini. Aku bahagia banget."
Alex tersenyum lagi. "Aku juga gak pernah bayangin nikah sama bule liar kayak kamu."
"Ih, liar-liar juga kamu doyan." Ledek Tasya yang disambut tawa oleh Alex.
"Sayang, aku rasa Papa kamu masih belum puas ganggu hubungan kita. Aku takut Papa kamu bawa-bawa King dalam masalah kita. Aku gak mau itu terjadi."
Alex menoleh sekilas. "Aku yang akan langsung hadapin Papa kalau King dibawa-bawa. Aku juga gak mau anak kita jadi korban."
"Bingung harus hadepin Papa kamu gimana? Padahal aku gak pernah cari masalah."
"Kita hadapin sama-sama okay, Mama juga ada di pihak kita."
Tasya mengangguk kecil. Namun tak ayal ia masih memikirkan semuanya. Rasa takut itu tentu saja ada, apa lagi Effendi merupakan salah satu orang berpengaruh di Ibu kota. Kapan saja ia bisa menghancurkan masa depan King.
****
Sesampainya di rumah, Tasya dan Alex dikejutkan dengan kehadiran Wilona dan Effendi di sana.
"Papa," sapa Alex menatap sang Papa lekat. "Ada apa sampai Papa datang ke sini sama Wilona?"
"Sayang, aku kangen tahu gak?" Rengek Wilona hendak memeluk Alex. Namun dengan sigap Tasya menarik suaminya. Membuat wanita itu hampir terjerembab. Dan Tasya tertawa puas dalam hati karena berhasil mengerjai wanita centil itu.
Rasain. Siapa suruh kegatelan.
"Uncle." Adu Wilona dengan wajah memerah karena menahan rasa malu.
Tasya merengkuh lengan suaminya dengan erat. "Ajak mereka masuk aja, sayang."
__ADS_1
"Gak perlu, aku yakin gak ada hal penting yang mau mereka sampaikan." Ujar Alex menatap sang Papa intens.
Effendi berdeham sebelum memulai bicara. "Ada yang ingin Papa sampaikan padamu, Lex."
"Bicarakan saja, dia istriku dan berhak tahu apa yang akan Papa sampaikan."
"Kau yakin?"
"Ya."
"Direksi mulai mendesak Papa buat nikahin kamu sama Wilona. Mereka percaya kalau kamu nikah sama Wilona jaringan perusahaan makin luas. Kamu tahu saingan kita mulai berakar di mana-mana. Perusahan Wilona bisa membantu perusahaan kita tetap kokoh." Jelas Effendi tanpa takut menyakiti hati Tasya.
"Seharunya Papa katakan pada mereka aku sudah beristri. Mereka akan memahami situasi. Jika memang mereka memintaku mundur, aku akan mundur dari perusahaan."
"Alex. Kau bisa menikahi Wilona tanpa menceraikan istrimu." Kekeh Effendi yang berhasil membuat Tasya kaget.
"Papa seharusnya memahi aku sebagai anak Papa, aku tidak ingin wanita lain. Sekarang bagaimana jika kita balikkan posisi Papa berada di posisiku. Apa Papa akan menikahi wanita lain yang tidak Papa cintai sedangkan Papa punya istri yang sangat Papa cintai? Apa Papa tega menyakiti Mama?"
"Itu berbeda, Alex."
"Apa bedanya Pa? Aku mencintai istriku lebih dari apa pun. Sama halnya seperti Papa mencintai Mama. Aku tak akan melepaskan kebahagianku hanya karena pekerjaan. Ayok sayang, abaikan mereka." Alex membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Mengabaikan Effendi yang tengah merenungkan semua perkataan putranya.
"Ini semua salah Uncle. Kak Alex...."
"Diam! Kau sama sekali tak membantu apa pun. Kau hanya mengacaukan segalanya. Aku akan membatalkan pernikahanmu dengan putraku. Dia sudah bahagia dengan pilihannya sendiri." Sela Effendi yang langsung beranjak pergi dari sana. Sejak awal ia memang tak menyukai perangai liar Wilona. Hanya saja ia membutuhkan wanita itu sebagai perantara. Effendi benar-benar meninggalkan Wilona yang masih ternganga di tempatnya. Tak percay Unclenya itu berani membentaknya.
Sedangkan di dalam kamar, Tasya terus termenung setelah menyaksikan pertengkaran Alex dan Papanya tadi. Ia merasa bersalah karena dirinya penyeban Anak dan Ayah itu sering beradu mulut.
"Sayang, apa kamu bakal ninggalin aku?" Tanya Tasya saat Alex baru keluar dari kamar ganti. Lelaki itu berjalan santai menghampiri sang istri.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu, kamu istri aku, Sya." Alex memeluk Tasya dengan penuh kehangatan.
"Aku cinta banget sama kamu, aku takut Papa maksa kamu terus buat nikah sama Wilona. Aku gak sanggup, Kak."
"Ck, ngomong apa sih? Mau Papa mendesak atau mengancam aku sekali pun, aku gak akan goyah buat terus pertahanin kamu. Aku udah mati-matian buat dapetin kamu, masak iya aku lepas gitu aja. Lagian aku udah nanamin prinsip kalau aku cuma nikah sekali seumur hidup. I love you so much, my wife."
Tasya bernapas lega mendengar itu. "Aku juga cinta banget sama kamu."
"Udah jangan sedih terus, jadi ambil King gak? Atau kita biarin aja King sama Mama. Malam ini kita lanjut produksi adik buat King."
"Ih, kamu mah itu aja yang diingat. King masih butuh asi tahu." Tasya mencubit pelan lengan suaminya. Sebelum memeluk Alex dengan erat.
"Malam aja kita jemput King, sekarang kita nikmatin waktu berdua."
"Terserah kamu aja, aku ngikut."
__ADS_1
"Mau main bentar gak? Masih banyak waktu."
"Ck, aku masih capek. Kamu gak ada bosan-bosannya. Libur sekali aja gak bisa ya?" Rengek Tasya tak bisa membayangkan Alex kembali menggempurnya. Sendi-sendinya masih terasa ngilu karena sisa percintaan mereka malam tadi.
"Sering-sering main bisa bikin awet muda loh, apa lagi nyenengin suami."
"Itu mah maunya kamu, dasar mesum."
"Mesum sama istri sendiri gak papa, aku kan buka ladang pahala buat kamu. Atau kita reka ulang pas buat King dulu yuk?"
"Idih, kamu kan mabok pas itu. Lagian kamu mana ingat apa aja yang kamu lakuin sama aku. Aku kesakitan aja kamu gak peduli, mana pake nyebut Mey pula tuh pas nabur benih. Sakit pas ingat momen itu." Jelas Tasya memasang wajah kesal.
"Karena itu kita reka ulang, sekarang aku cuma bakal teriakin nama kamu. Dan mengingat setiap detik percintaan kita. Gimana?"
"Gak mau." Tolak Tasya dengan bibir cemberut.
"Yakin gak mau?"
"Yakin pake banget."
"Tapi aku lagi pengen, gimana dong?"
"Main aja sendiri." Ketus Tasya seraya bangun dari posisinya dan berjalan santai menuju kamar mandi. "Aku mau mandi, gerah."
"Sayang, gak enak main sendiri. Aku ikut mandi ya?" Teriak Alex masih berusaha membujuk sang istri.
"Enggak, kamu mah lama kalau udah main. Gak cukup lima ronde." Sahut Tasya dari dalam kamar mandi. Alex bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi, mengetuk-ngetuk daun pintu yang sengaja Tasya kunci.
"Janji cuma tiga ronde, udah on nih. Sya, mau ya?"
Tidak lama terdengar suara kunci pintu terbuka. Dengan cepat Alex ikut masuk ke kamar mandi. Dan betapa kagetnya ia saat melihat sang istri sudah toples dibawah guyuran air shower. Membuat sesuatu dibalik celananya semakin mengeras. Tanpa banyak berpikir lagi, Alex ikut melepas pakaian. Dan dengan langkah pasti menghampiri istrinya. Memeluk wanita itu dari belakang.
"Kamu mau goda aku huh?" Bisik Alex dengan napas beratnya. Mengecupi leher dan pundak Tasya.
"Aku cuma mandi, kamu aja yang mudah tergoda." Ledek Tasya memejamkan mata saat tangan nakal Alex menggoda titik sensitifnya. Tanpa sadar ia meloloskan sebuah des*h*n kecil.
"Enak?"
Tasya mengangguk pelan dengan mata yang masih terpejam. Menikmati setiap sentuhan yang Alex ciptakan. Alex tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat istrinya terangsang.
"Tadi katanya gak mau." Bisik Alex lagi sambil membenamkan dua jarinya dalam liang surgawi sang istri. Membuat sang empu menjerit tertahan.
"Kamu... yang goda aku." Napas Tasya tersengal karena perlakuan suaminya. Dengan cepat Alex membalik tubuh sang istri dan menyusu layaknya anak kecil. Tasya mer*m*s rambut Alex saat gelombang cinta hampir meledak. Dan beberapa detik kemudian gelombang cinta miliknya itu keluar, membuat Tasya lemas seketika.
Alex menuntun kaki sang istri agar melingkar dipinggangnya. Dan dalam sekali hentakan ia berhasil membus lembah basah yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Keduanya pun mend*s*h bersamaan.
__ADS_1
"Aku harap kali ini dia tumbuh di dalam sana, aku gak keberatan kamu melahirkan sepuluh anak sekali pun." Alex meraih bibir istrinya, mencecap benda kenyal dan manis itu dengan lembut tetapi menuntut. Sedangkan dibawah sana terus bergerak liar keluar masuk. Dan itu berlangsung sangat lama. Keduanya benar-benar terbuai dalam lembah kenikmatan.