
"Bicara di kamar gw aja," ajak Tasya berjalan pasti menuju kamarnya. Sedangkan Alex hanya mengekorinya di belakang.
Kini kedua insan itu sudah berada dalam kamar. Alex terus memperhatikan Tasya yang tampak gelisah dengan kedua tangan yang saling tertaut.
"Apa elo benar-benar hamil?" Tanya Alex yang berhasil membuat Tasya kaget. Gadis cantik itu pun terlihat semakin gugup.
Tasya mengangguk pelan. "Jadi lo inget kejadian itu?" Tanya Tasya gemetar.
"Enggak, tapi gw liat CCTV. Gw bukan orang bodoh, gw bangun dalam keadaan telajang dan banyak bercak darah di kasur. Siapa yang gak curiga cobak? Karena itu gw cari tahu sendiri. Setelah itu elo gak nyari gw, jadi gw pikir semuanya baik-baik aja. Lo juga tahu gw gak mungkin nikah sama elo. Gw masih cinta sama Mey." Jelas Alex panjang lebar.
Hati Tasya sakit saat mendengar itu. Jika bisa memilih, ia tak ingin jatuh cinta pada lelaki brengsek seperti Alex. Namun sayang, cinta itu hadir seolah tak tahu tempat dan waktu.
"Berapa usia anak dalam perut lo?"
"Li__lima minggu." Jawab Tasya gugup.
"Gw rasa belum terlambat buat gugurin anak itu."
Tasya terhenyak mendengar perkataan Alex. "Gugurin?"
"Ya."
Tasya mendadak emosi dan bangun dari posisnya. "Brengsek lo! Seenak jidat lo aja nyuruh gugurin anak yang gak berdosa ini. Setelah dosa yang kita buat, lo masih minta gw buat dosa besar lagi huh? Gak ada otak lo, Kak. Gw juga gak minta lo tanggung jawab, gw bisa besarin dia sendiri. Jadi lo gak usah khawatir soal nama baik elo."
Alex mengusap wajahnya dengan kasar.
Tasya menangis sesegukkan. "Lo jahat banget tahu gak? Dia juga darah daging elo."
"Gw gak bisa nerima anak itu."
"Gw gak pernah minta elo buat nerima anak ini. Gw yang bakal besarin dia sendiri." Bentak Tasya dengan emosi yang memuncak.
"Tapi elo gak bisa hapus kebenaran kalau darah gw ngalir dalam nadi dia. Cepat atau lambat dia bakal nanya siapa Ayahnya. Keluarga gw gak pernah nerima anak haram."
Deg! Bagai ribuan petir yang menyambar tubuh Tasya. "Lo ngatain dia anak haram?"
"Terus apa lagi? Kehadiran dia sama sekali gak diharapkan. Dia pantes di bilang anak haram."
Plak!
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Alex. Perkataan lelaki itu berhasil membuat emosi Tasya meledak-ledak. Hormon kehamilan membuatnya tak bisa mengontrol emosi itu.
"Brengsek! Sialan lo! Lo ngatain anak gw anak haram? Dia bukan anak haram, tapi apa yang kita buat yang pantes di sebut haram. Gw gak peduli lo gak nerima anak ini, gw gak peduli lo gak bakal tanggung jawab. Tapi jangan pernah lo sebut anak gw anak haram. Dia suci dan bersih. Gw benci elo, Kak. Akh...." Tasya meringis saat perutnya terasa sakit. Alex terkejut saat melihat Tasya kesakitan.
"Sya."
"Pergi lo dari kamar gw!" Hardik Taysa masih diselimuti emosi dan rasa sakit dihatinya.
"Sya, lo dengerin dulu...."
"Apa lagi yang harus gw denger? Hinaan lo untuk anak gak berdosa ini huh? Lo mau nagtain dia apa lagi huh? Pergi, gw muak liat muka elo. Gw benci elo, Kak." Sarkas Tasya. Ia juga menjatuhkan diri di lantai karena kakinya tak sanggup menahan bobot tubuhnya lagi. Ia juga Memegangi perutnya yang masih menimbulan rasa sakit. Bahkan tangisannya semakin kencang. "Elo jahat, Kak. Anak ini bukan anak haram."
"Gw minta maaf." Ucap Alex mulai frustasi. Ia tak ada maksud untuk mengatai anak itu. Ia masih belum bisa terima kenyataan kalau dia bakal punya anak dan lebih parahnya sebelum nikah. Dan anak itu tumbuh bukan dari wanita yang ia inginkan.
Masih sesegukkan, Tasya bangun dari posisinya. "Keluar." Suara gadis itu mulai melemah.
__ADS_1
"Sya, gw...."
"Keluar gw bilang." Teriak Tasya mendorong Alex dengan kasar. "Anak ini gak butuh bapak brengsek kayak elo. Gw bisa jadi bapak sekaligus ibu buat dia. Gw gak butu elo."
Alex melangkah mundur, kemudian meninggalkan gadis itu sendirian. Sepeninggalannya, tubuh Taysa ambruk seketika. Tangisannya semakin kencang. Apa yang ia pikirkan tentang lelaki itu meluap sudah. Harapan yang ia bumbung selama ini terlepas begitu saja. Ia tak menginginkannya lagi setelah semua penghinaan Alex pada anak tak berdosa yang masih tumbuh dalam rahimnya.
Tasya terus menangis, tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Ia mengabaikan dinginnya lantai yang menusuk hingga tulang. Bahkan membekukkan hatinya. Semuanya begitu menyakitkan, jika tahu seperti ini. Ia tak akan membiarkan lelaki itu tahu. Biarkan dirinya saja yang menyimpan rahasia ini. Tapi semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur.
****
Mey terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik. Namun lama kelamaan suara itu lebih mirip dengan suara seseorang yang sedang muntah-muntah. Mey tersadar sesuatu, ia melihat ke samping. Benar saja, suaminya sudah tidak ada di sana. Mey bergegas bangun dan beranjak menuju kamar mandi. Ia terkejut saat melihat suaminya terus muntah-muntah. Wajah David juga terlihat sangat pucat.
Mey memijat tengkuk suaminya dan merasa iba. Ini pertama kalinya ia hamil dan baru tahu jika sorang suami bisa menggantikannya mual-mual. Bahkan Mey sama sekali tak merasakan apa pun.
"Udah?" Tanya Mey saat David sudah berhenti muntah. David mengangguk pelan sebelum membasuh mulut dan wajahnya.
"Tiap pagi kamu kayak gini?" Tanya Mey yang dijawab anggukan oleh David. Mey menatap David sedih.
"Kamu tidak perlu sedih, aku cuma mual selama lima menit. Habis itu hilang sendiri. Tiap pagi juga gitu."
Mey langsung memeluk suaminya dan tangisannya pun pecah. "Mey minta maaf, gak seharunya Mey ninggalin kamu, Mas. Kamu jadi sakit kayak gini."
David mendorong tubuh istrinya perlahan. "Mey, kamu gak salah. Aku sakit karena kesalahku sendiri. Ayok ke kamar, di sini dingin. Kamu bisa sakit."
Mey mengangguk. Kemudian mereka pun kembali ke kamar. Mey memilih duduk dipangkuan suaminya. Tangisannya juga tak kunjung berhenti. Sampai Mey merasa sesak sendiri.
"Kamu kenapa sih? Aneh banget, gak biasanya kamu nangis kayak gini." Tanya David menyusap air mata di pipi Mey.
"Mey udah jahat karena terlalu lama ninggalin kamu, mey gak tahu... kalau kamu bakal sakit kayak gini." Mey masih sesegukkan.
David menghela napas gusar. Kemudian memeluk istrinya dengan lembut. Membiarkan Mey menangis sampai puas. Tangisan Mey masih berlanjut, sampai ia lelah dan diam dengan sendirinya.
"Iya, Sayang."
"Kalau Mey hamil, ka__kamu terima anak itu kan?" David tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia mendorong bahu istrinya dengan lembut.
"Kenapa kamu nanya gitu? Tentu aja aku nerima, justru aku senang dan nunggu dia hadir. Aku akan terus sabar menunggu sampai buah cinta kita hadir di sini." Jawab David seraya mengusap perut Mey.
Mey terdiam untuk beberapa saat. "Mas cinta gak sama Mey?" Tanya Mey menatap netra suaminya begitu dalam.
"Sudah sering aku katakan, aku mecintaimu, istriku." David menangkup wajah sang istri. Sedangkan Mey terus mencari kebohongan di mata suaminya, dan ia tak melihat itu sedikit pun.
"Mey mau bilang sesuatu boleh?"
"Ck, dari tadi kamu ngoceh terus. Kenapa sekarang masih minta izin? Aneh kamu."
"Ih, Mey serius, Mas." Rengek Mey mengerucutkan bibirnya. Mungkin ini saatnya untuk jujur tentang kehamilannya.
"Okay, emangnya mau bilang apa?" Tanya David mulai serius.
"Se__sebenarnya... sebenarnya Mey lagi... lagi...."
"Lagi apa sih? Kenapa kamu gugup gitu huh?" David semakin penasaran.
Mey benar-benar tak bisa bicara kali ini. Ia sangat gugup dan bingung harus ngomong dari mana. Mey menarik tangan suaminya dan meletakkan itu tepat di perutnya. "Mey hamil, Mas."
__ADS_1
Mata David membulat saat mendengar itu. Antara percaya dan tidak. "Hamil?"
"I__iya, aku hamil, empat minggu." Gugup Mey sambil menunduk.
"Ah, aku sudah menduganya, Sayang." Ucap David yang langsung mendekap istrinya. Kemudian memberikan kecupan hangat di pucuk kepala sang istri. "Aku udah nunggu kabar ini, Mey. Karena aku juga merasa aneh kenapa aku muntah-muntah tiap hari. Aku senang, Mey."
Mey menangis penuh haru. Ketakutannya selama ini meluap sudah. "Jangan pernah buang Mey, karena Mey gak punya siapa-siapa lagi selain kalian." Kata Mey mencengram erat piyama suaminya.
"Tidak ada yang berniat membuang kamu, Sayang. Justru aku yang meminta padamu, jangan pernah pergi lagi. Aku bisa mati, Mey." Kata David terus mengecupi pucuk kepala istrinya.
"Mey gak pergi lagi, Mey janji." Mey memeluk suaminya dengan erat.
"Biarkan aku mencium buah hati kita." Pinta David. Mey mengangguk dan menarik diri dari dekapan suaminya.
David mengelus lembut perut istrinya. Kemudian memberikan kecupan hangat dan dalam. "Daddy mencintaimu, Sayang."
"Baby juga cinta sama Daddy." Mey pun menirukan suara anak kecil. David tertawa renyah dan terus mengecupi perut sang istri. Mey tersenyum sambil menyisir rambut suaminya.
"Mas, Mey lapar." Rengek Mey. David langsung menatap wajah istrinya, kemudian melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah empat. "Ini masih pagi banget, Mey. Emang kamu mau makanan apa huh?"
"Ck, Mey bukan lapar itu." Rengek Mey sambil menunduk malu.
"Maksudnya?" Tanya David bingung.
Mey memelototi suaminya karena David tak peka sama sekali. Padahal saat ini hormonnya sedang memuncak. Entahlah, sudah beberapa hari ini Mey sangat merindukan sentuhan panas suaminya. Mungkin karena hormon kehamilannya. "Aku pengen, Mas. Kamu gak peka banget sih."
David tergelak mendengar kekesalan istrinya. "Kamu bilangnya lapar sih. Kenapa gak bilang pengen itu, Mas. Kan enak didengar."
"Ih... Mey malu tahu." Rengek Mey mengercutkan bibirnya.
"Aku juga pengen, dari semalam padahal. Tapi aku tahan karena kamu masih marah. Pagi ini kayaknya aku gak pengen lagi." David tersenyum jahil.
"Mas! Mey beneran pengen, udah hampir seminggu Mey nahan. Kayaknya dedek bayi kangen Daddynya. Ayok, sekarang." Mey terlihat begitu menggemaskan saat seperti ini. Mirip seperti anak kecil yang sedang meminta mainan baru pada Ayahnya.
"Terus kenapa kamu gak pulang? Kalau aku gak ke sini, kamu mau nahan sampe kapan huh?"
"Ck, ayok buruan." Pinta Mey membuka kancing piyama suaminya. David masih terkekeh geli.
"Kenapa kamu jadi gak sabaran gini sih? Apa karena hormon kehamilan kali ya?" Tanya David merasa aneh dengan sikap manja istrinya.
"Mey gak tahu." Sahut Mey mengalungkan tangannya di leher sang suami. Kemudian menyambar bibir David dengan buas. David sempat kaget dengan tingkah ganas istrinya. Namun ia menyukai istrinya yang seperti ini.
"Mey, aku gak bisa main bentar loh." Kata David memperingati istrinya.
"Gak papa, Mey juga pengen lama-lama, kangen."
"Kenapa kamu jadi nakal gini huh? Kalau gini caranya aku bakal buat kamu hamil terus."
Mey tersenyum nakal mendengar itu. "Mey gak takut."
"Ck, aku gak tahan lagi. Pake posisi gini aja ya?" Mey menganguk pelan. David tersenyum senang. Dan langsung menyingkap piyama tidur Mey yang panjangnya hanya sebatas paha. Dan itu memudahkan David untuk melanjutkan aksinya. Menyentuh bagian sensitif sang istri yang menjadi favoritnya.
"Jangan kuat-kuat, Mey gak mau Baby kenapa-napa." Pinta Mey menggigit ujung bibirnya saat David semakin gencar menjamah tubuhnya.
"Kamu gemukan, Mey." Bisik David.
__ADS_1
"Kamu yang buat Mey gemuk, Mas."
David tersenyum mesum dan mulai melakukan aksinya. Memberikan kepuasan penuh pada sang istri yang kini tengah lapar akan sentuhannya. Dan keduanya terus meluapkan rasa rindu dengan penuh gairah. Di luar hujan masih turun dengan deras, membuat suasana semakin panas dan menggairahkan. Sampai keduanya lupa diri dan lupa waktu.