
"Yah kok basah gini sih," keluh Chaca saat selesai membuang air kecil.
Chaca pun segera keluar dan mencuci tangan, namun saat Chaca hendak keluar bertepatan dengan pintu di buka dari luar.
"Mama ... " gumam Chaca lirih saat melihat Lana berdiri di ambang pintu.
Lana hanya memandang Chaca dengan wajah datar, namun matanya memberikan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
"Keluarlah, hati-hati." Ucap Lana datar lalu ia segera memasuki toilet, sedangkan Chaca hanya diam menatap punggung Lana yang semakin tak terlihat.
Chaca hanya tertawa getir saat bertemu dengan sang Mama, mengapa ia masih berharap Lana akan menyayangi nya. Mengapa ia berharap bahwa Lana akan memeluknya dan meminta maaf padanya.
Sungguh, Chaca merasa sangat bodoh saat mengharapkan itu semua. Chaca menarik napasnya dalam lalu ia segera berjalan keluar menghampiri Dimas dan yang lainnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Dimas saat melihat wajah Chaca sedikit lesu.
"Ah gapapa. Oh ya Mas, beliin CD dong." kata Chaca memanyunkan bibirnya.
"CD apa?" Tanya Dimas. "Jangan bilang korea lagi." Imbuhnya kesal.
__ADS_1
"Ih bukan itu," kata Chaca cemberut kesal.
"Terus CD apa kalau bukan korea? semua koleksi kamu Drakor semua. Masih kurang banyak itu CD di rumah?" Omel Dimas karena setiap ke Mall pasti Chaca membeli CD Drakor.
"Mas Dimas asli ngeselin nya tingkat dewa, eh di atas dewa deh." Kata Chaca.
"Ada apa sih Cha?" Tanya Jenar yang melihat perdebatan kakak ipar dan sahabat nya.
"CD gue basah Je pas tadi pipis. Gue minta tolong sama mas Dimas malah ngomel dia kan ngeselin." Sungut Chaca kesal.
"CD yang kamu maksud ****** *****?" Tanya Dimas pelan.
"Iya lah emang nya apa lagi." Kata Chaca.
"Kan tadi Chaca udah bilang, Mas tolong beliin CD. Chaca belum selesai ngomong nya mas Dimas udah marah marah ngedumel kaya emak-emak yang di tagih kreditan." Omel Chaca panjang lebar sambil memakan kentang goreng di meja.
Jenar dan Arya hanya menahan tawanya kala melihat Dimas terus di salahkan oleh Chaca. Ada rasa kasian sebenernya namun bagaimana lagi, itu kan memang kesalahan nya. Dan istri itu adalah ratu, apalagi di saat mengandung, itu berarti di atas ratu lagi. Jadi sebagai suami yang sudah menebar benih harus sabar, sabar dan extra suabaarr.
"Ya sudah, kamu tunggu disini biar Mas yang cari." Kata Dimas lalu mulai beranjak dari duduknya untuk mencari CD untuk Chaca.
__ADS_1
"Je kayaknya gue ngompol lagi deh," kata Chaca pelan saat merasa bagian inti nya basah kembali.
"Hah serius kamu?" Tanya Jenar terkejut.
"Tapi gue gak ngerasa pipis Je, dari tadi makanya gue risi banget karena becek terus." Kata Chaca.
"Aduh!" Pekik Chaca lumayan keras saat merasakan air terus mengalir membasahi paha nya.
"Kamu kenapa Cha?" Tanya Jenar panik.
"Mami kenapa?" tanga Aiden juga tak kalah panik.
"Gapapa Sayang hanya kaget saja." kata Chaca masih berusaha menahan air yang terus mengalir dari bagian inti nya.
"Je, tolong telfonin laki gue suruh cepetan." Ucap chaca dengan jantung yang tiba tiba berdebar kencang.
"Cha, kamu serius gapapa? Wajah kamu kok jadi pucet gitu?" Tanya Jenar.
"Mas, kamu telfonin kak Dimas!" Perintah Jenar kepada Arya yang sedari tadi menyuapi Vier es krim.
__ADS_1
"Kenapa memang nya?" Tanya Arya.
"Gue ngompol, buruan Arya telfonin laki gue!" Ucap Chaca geram, akhirnya Arya segera menelfon Dimas agar segera kembali.