Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 65


__ADS_3

Tasya terlihat serius menonton tayangan televisi yang tengah membahas berita panas dipagi hari. Bahkan ia masih bergelut dibalik selimut tebal. Berita itu berisi tentang dirinya yang dituduh sebagai wanita penggoda seorang CEO muda yang akan segera menikah. Bukan hanya itu, ia juga dituduh ingin menghancurkan hubungan anak dan ayah. Sungguh berita yang mengejutkan.


"Cih, dia pikir gw bakal goyah cuma karena gosip murahan kayak gini? Okay, gw ikutin permainan kalian." Tasya tersenyum penuh arti. Dan beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Dengan cepat ia meraih ponsel itu dan menerima panggilan tanpa melihat siapa yang menghubunginya lebih dulu.


"Halo." Sapanya.


"Bagaimana dengan berita pagi ini?"


Tasya terkejut dan lansung melihat layar ponselnya. Ternyata nomor tak dikenal. Lalu ia pun menempelkan kembali ponselnya di telinga. Tentu saja ia tahu siapa yang saat ini berbicara dibalik layar panggilan kalau bukan Tuan Effendi yang terhormat.


"Impressif." Sahut Tasya dengan penuh semangat. "Berapa media yang Anda kirim ke rumah saya? Lima puluh, seratus atau seribu, Tuan?"


"Kamu bisa melihatnya sendiri di depan rumahmu. Selamat bersenang-senang." Tut. Sambungan telepon itu terputus. Dengan malas Tasya menaruh kembali ponselnya di nakas. Namun pandangannya masih tertuju pada layar televisi.


"Siapa yang menelponmu pagi-pagi buta, Baby?" Suara serak milik seseorang berhasil mengalihkan perhatiannya. Tasya menoleh ke samping. Di mana lelaki yang ia cintai masih setia memejamkan mata. Sisa percintaan mereka tentu saja belum sepenuhnya hilang. Bahkan setiap detiknya masih terekam jelas dalam momori. Lelaki itu tak lain adalah Alex.


"Ini sudah hampir jam delapan, Sayang. Ayok bangun, Papa kamu ngirim media ke sini." Rengek Tasya menggoyangkan bahu suaminya.


Ya, sudah seminggu lamanya mereka menyandang status sebagai suami istri yang sah dimata hukum dan agama. Namun status itu masih mereka rahasiakan. Jika bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, hanya mereka yang punya jawabannya.


Flash back on


"Dad, Sasa mau nikah secepatnya." Tegas Tasya menatap sang Daddy lekat. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah.


"Aku setuju, sebelum King junior hadir. Soalnya aku mulai mencium bau-bau percintaan yang panas." Sahut Mey dengan semangat. Sejak kapan wanita yang satu itu tak semangat? Mungkin sampai lebaran monyet tiba.


"Daddy gak setuju." Jawab David dengan entengnya.


"Okay. Kalau gitu Sasa akan kawin lari. Itu kan yang Daddy mau? Apa lagi yang Daddy mau sebenarnya? Alex sudah mati-matian meyakinkan Daddy. Dia melakukan semua tantangan yang Daddy buat sampai dia jatuh sakit. Please, jangan karena keegoisan Daddy, kebahagiaan kami mendadak sirna. I love him, and he's all I want, Dad." Pada akhirnya Tasya mengeluarkan keluhannya pada sang Daddy.


Memang benar, sudah dua minggu lebih Alex terus berjuang untuk mendapatkan hati David. Bahkan lelaki itu tak peduli seberat apa pun rintangan yang harus ia hadapi. Bahkan sampai dirinya sakit sekali pun.

__ADS_1


"Apa salahnya Sasa ingin membangun sebuah rumah tangga bersama lelaki yang Sasa cintai, Dad? Apa Sasa salah ingin merasakan kebahagian seperti yang Mommy dan Daddy rasakan? Sasa juga ingin hidup bahagia." Imbuh Tasya mulai menangis sesegukkan. Mey yang melihat itu langsung mendekap sahabatnya.



"Mas, biarin mereka bahagia. Tasya juga butuh seseorang buat sandaran. Kasih mereka kesempatan buat bahagia. Jangan karena kemarahan kamu, putrimu jadi korban, Mas. Semua orang pernah salah, juga punya hak buat berubah. Sama seperti kamu, aku terima semua masa lalu kamu tanpa mengungkitnya sedikit pun. Karena aku percaya kamu benar-benar sudah berubah." Timpal Mey menatap suaminya sendu.


David memijat batang hidungnya. "Ok fine. Kalian boleh menikah. Lalu bagaimana dengan keluarganya?"


"Saya setuju, Tuan Lander." Sahut seseorang yang baru saja hadir bersama Alex. Beliau adalah Mama Aira, Ibu kandung Alex. Tentu saja kehadiran Ibu dan anak itu mencuri perhatian ketiganya. Tasya tersenyum saat melihat keberadaan calon suaminya.


David, Mey, dan Tasya bangkit dari posisinya. Sedangkan Alex membawa sang Mama mendekati mereka.


"Silakan duduk." Mey pun mempersilakan keduanya duduk.


"Terima kasih, Nyonya Lander." Ucap Mama Aira duduk di sofa yang sama dengan Mey dan Tasya. sedangkan Akex duduk di single sofa yang berhadapan langsung dengan David. Kemudian para pemilik rumah pun kembali duduk.


"Mohon maaf jika kehadiran saya dan Alex terkesan dadakan. Anak saya terus mendesak agar secepatnya menemui Anda, Tuan Lander." Ujar Mamanya Alex dengan senyumannya yang ramah.


"Tidak jadi masalah, Nyonya Effendi. Kami merasa tersanjung karena kedatangan tamu terhormat seperti kalian." Balas Mey tak kalah ramah. Kemudian wanita itu memberikan lirikan tajam pada suaminya.


"Nyonya Lander bisa aja, beruntung banget Tasya punya Mama seramah Anda. Sebenarnya tujuan kami ke sini baik kok. Kami ingin memperjelas hubungan Alex dan Tasya. Mereka sudah banyak bercerita pada saya. Maaf jika suami saya terkesan jahat. Dia memang lelaki yang keras dan susah di atur. Saya meminta maaf atas nama suami saya, Tuan, Nyonya. Sebagai seorang Ibu, saya selalu mendukung keputusan putra saya untuk meminang putri kalian. Lagi pula kami sudah sering bertemu."


David yang merasa terintimidasi pun menghela napas gusar. "Baiklah, kapan kalian akan menikah?" Tanyanya yang berhasil membuat semua orang terkejut. Kini semua mata tertuju padanya.


"Besok." Jawab Alex dan Tasya bersamaan.


"Besok?" Kaget David.


"Ya, udah dari jauh hari kami mendaftar pernikahan." Jawab Alex sejujurnya.


David tercengang. Memijat kepalanya yang sedikit berdenyut. "Jadi kalian benar-benar akan kawin lari jika aku tak merestui sekalipun?"


Tasya dan Alex pun mengangguk kompak. David merintih frustasi, tak pernah menyangka putrinya senekad itu.

__ADS_1


"Dad, kami berniat untuk merahasiakan pernikahan ini lebih dulu. Sampai masalahnya selesai. Sasa harap Daddy tidak keberatan."


"Terserah, lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Aku lelah memikirkan kasus kalian. Menikahlah dan jangan buat ulah lagi. Aku merestui kalian." Sahut David mengalah.


Tasya yang mendengar itu tersenyum bahagia. "Thank you, Dad."


Flash back off


Alex menggeliat, kemudian membuka matanya perlahan. Lelaki itu tersenyum saat melihat wajah cantik sang istri. "Masih pengen."


"Ck, gak ada waktu lagi. Media udah nyerang di depan. Gimana kalau mereka nyerang Daddy?"


"Aku yang akan hancurin mereka satu per satu. Satu ronde aja, sebelum King bangun." Dengan gerak cepat Alex menindih sang istri. Menyambar bibir manis Tasya dan mencecapnya dengan penuh penuntutan.


Tasya mencengkram erat punggu Alex saat lelaki itu berhasil melakukan penyatuan. "Sempit banget, Sayang."


"Gerakin cepetan, gak tahan." Rengek Tasya gantian menyambar bibir suaminya. Karena geram, Tasya memutar posisi menjadi dia atas Alex. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Ia memang sengaja memancing istirnya. Seminggu menikah dengannya, Alex sudah tahu istrinya itu benar-benar liar.


"Gak nyangka kamu selihai ini kalau di atas ranjang, tapi aku suka. Aku suka posisi ini."


Tasya menggingit ujung bibirnya saat merasakan milik sang suami semakin dalam menyentuhnya. "Gak bisa gerak, dalem banget punya kamu masuknya. Bantuin, Sayang." Rengeknya seraya ambruk ke dada bidang Alex.


Alex tertawa renyah, kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. Dan mulai bergerak liar. Keduanya pun saling mend*s*h nikamat. Saling mengejar gelombang cinta yang hampir meledak. Sampai pada pelepasan, keduanya pun ambruk dengan napas yang menderu.


"Aku gak akan puas kalau gini. Junior masih tegang, Sayang." Bisik Alex yang kemudian m*l*m*t bibir basa istrinya yang membengkak karena ulahnya.


"Aku capek, malam nanti kita lanjut ya? Kita urus dulu mereka."


"Okay, mandi bareng aja biar hemat waktu."


"Janji gak minta jatah lagi, aku beneran capek banget."

__ADS_1


Alex tersenyum yang kemudian bangkit dari tempat tidur. Tanpa banyak berpikir lagi ia langsung menggendong tubuh polos istrinya ke kamar mandi.


Tidak lama dari itu terdengar suara riuh dan teriakan aneh dari dalam sana. Bahkan keduanya menghabiskan waktu mandi bersama selama satu jam lebih. Sungguh pengantin baru yang luar biasa. Bahkan mereka tak kenal lelah dan waktu. Impressif.


__ADS_2