
"Dimana Chaca sekarang?" tanya Cakra saat mereka sudah duduk berdua di sebuah Caffe.
Cakra sengaja meminta bertemu dengan Lana karena ingin menjemput Chaca agar mau ikut kembali bersamanya ke Itali.
"Untuk apa kau mencari Chaca? setelah sekian lama kau baru datang dan sok menjadi pahlawan, cih!" cibir Lana sambil memalingkan wajahnya.
"Aku ada alasan jelas, mengapa aku baru datang!" tegas Cakra dengan tajam menatap Lana.
"Alasan jelas? Hahahaha itu berarti memang kau tak pernah menganggap Chaca ada,"
"Aku selalu berusaha mencarinya selama ini! tapi kau dan suami mu yang selalu menyembunyikannya dariku!"
"Hahaha, terlalu banyak bicara! Sudahlah, tidak perlu lagi kau mencari anak itu! dia sudah bahagia dengan suaminya!"
__ADS_1
"Suami? Mengapa dia tidak mencari ku untuk meminta restu? aku ayah kandungnya!"
"Pantaskah kau di sebut ayah kandung baginya!" seru Lana lalu mulai beranjak dari duduknya. "Pantaskah seorang ayah yang mau membunuh anak kandungnya sendiri hah!" bentak Lana tiba-tiba.
"Jangan pernah mengganggunya lagi, dan jangan pernah menemuinya!" imbuhnya lalu Lana pergi meninggalkan Cakra.
Beberapa detik kemudian, Cakra mengejar Lana yang hendak menyetop taxi dan mencekal tangannya.
"Bila kamu memiliki alasan yang jelas, mengapa aku tak boleh memiliki alasan lain juga?" tanya Lana dengan ekspresi datar dan dingin.
"Berhenti mengganggunya! hidupnya sudah bahagia dan nyaman bersama orang yang sepantasnya!"
"Tunggu! aku akan tetap membawa Chaca ke Itali, karena Cerry ingin bertemu dengannya!"
__ADS_1
Plakkk!
"Anak kamu yang penyakitan itu ingin bertemu dengan Chaca atau kamu dan istrimu yang ingin mengajak Chaca lalu menjual seluruh organ tubuhnya!" Lana berseru sambil menunjuk wajah Cakra dengan jari telunjuknya. "Aku memang ibu yang brengsek! aku bukan ibu yang baik buat anak itu! tapi itu lebih baik daripada kamu yang baik di depan tapi diam diam malah ingin membunuh anak sendiri!"
"Aku tidak berniat membunuh Chaca!"
"Hahaha tidak berniat? kau hendak mengambil salah satu organ nya tanpa bertanya atau berdiskusi dengannya! kau itu pencuri! kau itu baji ngan dan breng sek!" Air mata Lana kini sudah tidak bisa di bendung lagi. Sejujurnya ia masih sangat mencintai laki-laki di depannya ini, namun rasa bencinya saat ia di tinggalkan saat hamil Chaca tidak bisa ia hilangkan. Bayangan saat-saat ia menangis dan memohon agar Cakra bertanggung jawab sesuai janjinya yang ternyata hanya janji palsu, selalu terngiang di kepalanya.
Lana sangat membenci Chaca, karena setiap ia melihat Chaca maka wajah Cakra akan terlintas. Dan juga, tuntutan dari sang mertua membuatnya semakin membenci Chaca dan harus bersikap kasar dengan anak gadis itu. Namun, sebenci bencinya Lana kepada Chaca, dia juga tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri, mulutnya memang tajam dan pedas, namun jauh di dalam relung hatinya, ia menangis. Ia selalu menangis, hatinya sakit namun rasa bencinya selalu menang menguasai hati nuraninya.
"Lana—" Cakra tidak bisa berkata apapun, ia menatap Lana dengan dalam seolah tahu arti dari air mata itu. Ia hendak memegang tangan Lana namun segera di tepis. Dan ketika Lana hendak pergi, tiba-tiba sebuah mobil yang sedang melaju kencang kearahnya tanpa bisa ia hindari. Lana masih bisa mendengar sayup sayup suara kedua anak gadisnya. Chaca, gadis itu menangis sangat kencang sambil memeluknya, Lana masih bisa merasakan itu, tanpa ia dan semua orang sadari, sebuah senyum terbit di wajah Lana.
'Chaca, maafkan Mama!' kata hati Lana sebelum akhirnya ia menutup mata.
__ADS_1