Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 37


__ADS_3

Mey meletakkan gelas kosong di atas nampan setelah meneguk habis isinya. Kemudian berbaring sambil mendekap sang suami. Sedangkan yang didekap cuma tersenyum, mengecup kening Mey dengan lembut.


"Mey kangen Tasya. Udah dua hari Mey gak angkat telepon dia. Mey gak mau dia tahu Mey sedih terus. Bisa-bisa dia langsung terbang ke Indo."


"Besok kamu hubungi Tasya, hari ini kita jalan-jalan bagaimana?" Tawar David membenamkan wajahnya di leher Mey. Menghirup aroma vanilla yang menjadi favoritnya.


"Mey lagi males gerak, Mey mau tiduran aja. Rasanya males mau ngerjain apa pun." Jawab Mey jujur. Saat ini ia merasa sangat lemas dan mengantuk.


"Ya udah, kita tiduran aja."


"Mas gak ke kantor?"


"Kalau aku ke kantor siapa yang jaga kamu, Sayang?" Tanya David menatap wajah pucat istirnya. Mata Mey juga terlihat bengkak dan sembab karena terus menangis.


"Kamu pucet banget, Mey. Sakit ya?" Imbuh David masih memperhatikan wajah sang istri.


"Enggak kok, mungkin karena Mey nangis terus makannya agak pusing. Mey juga jarang makan." Jawab Mey.


"Hm. Besok-besok jangan gini lagi ya? Aku gak suka liat kamu nangis setiap hari." Bisik David.


Mey tersenyum, lalu mengangguk pelan. David terus menatap wajah sang istri. Hingga tatapan itu berujung pada bibir tipis sang istri yang sudah beberapa hari tak tersentuh. "Aku kangen kamu, Mey."


Tentu saja Mey memahami maksud suaminya. Namun saat ini ia benar-benar sedang tidak mood. "Maaf, tapi hari ini Mey beneran gak enak badan, Mas."


David terdiam sesaat. "Kalau yang ini." Tunjuknya pada bibir Mey.


Mey menangkap pandangan suaminya, kemudian mengangguk pelan. David yang mendapat lampu hijau pun langsung menyambar bibir manis istirnya yang amat ia rindukan. Sampai suara deringan ponsel miliknya pun berhasil menghentikan aktivitas keduanya. Mey bisa melihat raut kecewa di wajah suaminya. "Angkat dulu, Mas. Mana tahu penting."


"Sebentar lagi." Bisik David melanjutkan kembali keinginannya untuk mencecap bibir itu lebih dalam. Namun lagi-lagi ponselnya berdering. David berdecak kesal dan menyambar ponselanya dengan kasar. Lalu menerima panggilan itu entah dari siapa, karena David tak melihat nama sipelaku.


"Halo." Nada suara lekaki itu terkesan dingin. Mey terkekeh pelan melihat wajah lucu suaminya.


"Apa?" Pekik David seketika merubah raut wajahnya menjadi kaget. "Ok, aku akan segera ke sana." David memutus panggilan.


Mey menatap David penuh tanya. "Ada apa?" Mey bangkit dari posisinya.


David ikut bangun dari posisinya dan turun dari ranjang dengan raut wajah tegang. "Nindy mencoba bunuh diri, saat ini ia ada di rumah sakit."


"Apa?" Kaget Mey nyaris tak percaya atas apa yang suaminya sampaikan.


"Mas udah mastiin kalau dia beneran bunuh diri?" Tanya Mey turun dari atas ranjang.


"Jika Sam yang memberi kabar, itu artinya benar. Wanita itu sudah gila." David mengambil kunci mobilnya di atas meja.


"Mey ikut ya, Mas?" Pinta Mey menghampiri David.


"Aku rasa kamu tidak perlu ikut dulu. Takutnya suasana jadi lebih kacau. Kamu juga sedang sakit, Sayang. Diam di rumah aja ya? Aku janji akan selesaikan masalah ini secepatnya." David mengecup kening Mey dengan lembut. Kemudian bergegas pergi. Mey yang hendak protes pun mengurungkan niatnya. Meski hatinya terus memberontak ingin ikut.


"Apa sih rencana Tante Nindy?" Gumam Mey menggigit ujung jempolnya. Kepalanya sangat pusing karena masalah hidup yang terus berdatangan silih berganti. "Apa jangan-jangan anak itu beneran anak Mas David?"


Kepala Mey semakin berdenyut saat memikirkan hal yang belum pasti itu. "Enggak, gw harus tetap percaya sama suami gw."


Mey menjatuhkan bokongnya lagi di atas pembaringan. Namun pikirannya terus tertuju pada sang suami. "Akh. Gw gak bisa gini terus, gw harus liat sendiri kondisi Tante Nindy." Putus Mey yang langsung berlari menuju walk in closet.


Setelah berganti baju, Mey langsung keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Mey, mau kemana?" Tanya Nyonya Grace saat melihat Mey tergesa-gesa.


"Eh, Mom. Mey mau ke rumah temen, iya ke rumah temen, Mom." Jawab Mey gugup. Ia tak mungkin mengatakan hal sebenarnya. Karena Nyonya Grace akan marah besar jika tahu anaknya masih berhubungan dengan Nindy.


"Owh. Kalau gitu hati-hati di jalan. Dev baru aja pergi, kenapa gak sekalian aja sih?"


"Jalan rumah temen Mey beda arah, Mom. Makanya Mey memutuskan buat naik taksi aja." Jawab Mey asal.


"Ya sudah, jaga diri baik-baik."



"Iya, Mom. Mey pergi dulu." Mey memeluk Ibu mertuanya singkat. Kemudian langsung bergegas pergi.


"Pak, antar saya ke...." Mey sengaja menjeda kalimatnya karena lupa sesuatu. Rumah sakit mana yang harus ia datangi?


Akh... kenapa gw gak kepikiran ke sana sih? Mikir Mey, mikir buruan.


"Ah, ke rumah sakit pusat ya Pak." Lanjut Mey asal menebak rumah sakit. Memangnya ke mana lagi orang itu di bawa kalau bukan ke rumah sakit besar? Mudah-mudahan aja tebakan Mey gak salah kali ini. Taksi yang Mey tumpangi pun langsung melesat menuju rumah sakit pusat Ibu Kota.


Dua puluh menit kemudian, Mey sampai di rumah sakit. Mey membayar uang taksi dan langsung bergegas masuk. Lagi-lagi Mey bedecak kesal karena tidak tahu nama lengkap Nindy.


Ck, bodo amat deh. Gw langsung tanya aja sama si Mbak cantik itu. Pikir Mey langsung menghampiri meja resepsionis.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?"


"Itu, ruangan pasien bernama Nindy di mana? Kasus bunuh diri." Tanya Mey sedikit memberi klue supaya suster itu mengetahuinya.


"Owh, pasien yang baru sampai satu jam lalu ya? Mbak ini keluarganya?"


Ah, ternyata tebakan gw gak salah. Ternyata keberuntungan gw masih laku.


"Mbak naik aja ke lantai lima, ruang Anggrek."


"Okeh, terima kasih, Mbak."


"Sama-sama, Mbak."


Mey pun langsung bergegas menuju ruangan yang suster itu maksud. Tidak perlu lama, Mey pun sudah berada di lantai lima. Ia melihat papan nama setiap ruangan. Sampai matanya menangkap seseorang yang ia kenali. Mey tersenyum dan tanpa ragu menghampiri orang itu. Yang tak lain adalah Paman Sam.


"Paman," sapa Mey yang berhasil membuat Paman Sam terkejut dengan kedua bola mata yang membulat.


"Nyonya?"


Ya Tuhan, sedang apa Nyonya ada di sini? Bagaimana jika beliau salah paham? Pikir Paman Sam melirik ke arah David dan Nindy di dalam ruangan melalui kaca pintu.


"Di mana suami saya? Oh, maksud saya Tante Nindy. Ruangan ini kan?" Tanya Mey langsung melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka. Hingga matanya menangkap sosok David yang tengah memeluk Nindy dalam posisi berdiri. Senyuman Mey pun memudar.


"Nyonya, jangan...."


Mey mengangkat tangannya, memberikan istarat supaya Paman Sam diam. Mey membuka pintu itu perlahan. Sehingga bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Dev, berjanjilah untuk tetap disisku. Aku sangat mencintaimu. Anak ini benar-benar anakmu, Dev. Jika kau tak percaya, lebih baik aku mati. Biarkan aku mati." Lirih Nindy menangis sesegukkan.


"Jangan melakukan hal bodoh, aku akan bertanggung jawab jika itu benar anakku." Sahut David membiarkan Nindy menangis dalam pelukannya. Ia tak menyadari jika Mey terus menonton adegan mereka. Karena posisi David membelakangi Mey.


"Bertanggung jawab seperti apa? Kau hanya menginginkan anak ini kan? Lalu kau akan membuangku, Dev. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Biarkan aku mati saja jika seperti itu." Nindy berteriak histeris dan melangkah mundur. Lalu mata Nindy pun tak sengaja menangkap keberadaan Mey. Ia tersenyum tipis dan kembali menatap David seolah tak melihat keberadaan Mey.

__ADS_1


"Nindy."


"Biarkan aku mati, kau hanya punya dua pilihan Dev. Melihatku mati atau menikahi aku. Mana tanggung jawab yang akan kau pilih?" Nindy mengambil pisau buah dan mengarahkan itu dilehernya.


"Kau tak bisa memberikan pilihan padaku, aku sudah menikah dan tak mungkin menikahimu. Aku tak akan pernah menyakiti istriku."


Mey tersenyum senang mendengarnya.


"Kalau begitu kau memilih untuk melihatku mati kan? Baiklah, aku akan mati Dev." Nindy menekan pisau itu hingga kulitnya terkoyak dan mengeluarkan darah. David yang melihat itu langsung panik. Begitu pun dengan Mey. Ia hendak masuk ke ruangan itu.


Sialan! Jika dia mati sekarang, aku yang akan menjadi tersangka. Pikir David mencoba memutar kepalanya. Mencari akal agar wanita itu menghentikan aksi gilanya. David tak mungkin menikahi wanita itu sebelum tahu anak itu milik siapa.


"Ok, aku akan bertanggung jawab dan menikahimu." Langkah kaki Mey tertahan saat mendengar itu. Ia mundur kembali ke tempatnya semula.


"Aku akan menikahimu, jauhkan pisau itu dari lehermu." Pinta David berusaha mendekati Nindy. Namun wanita itu mundur dua langkah.


"Jangan mendekat! Kau berbohong. Sekarang berjanjilah. Kau akan menikahiku dan menceraikan istrimu. Kau sudah berjanji akan membuangnya setelah putrimu pergi. Aku ingin menagih janji itu." Teriak Nindy sedikit menekan pisau itu lagi hingga darah segar menetes dengan deras.


Kita lihat apa yang akan kau katakan, Dev? Aku rela menyakiti diriku hanya untuk mendapatkanmu. Bicaralah, Dev. Agar istrimu mendengar dengan jelas kalau kau lebih memilihku. Akulah pemenangnya, Dev.


"Aku tak mungkin melepaskannya, Nindy. Aku...."


"Kau mau bilang kalau kau mencintainya kan? Aku ingin mati saja Dev." Nindy benar-benar nekat menusuk lehernya. Kini ujung pisau itu sudah masuk ke dalam kulitnya.


"Bukan itu, aku tak bisa melepaskannya karena saat ini dia masih berduka. Aku sudah bilang padamu, aku tak mungkin mecintai gadis jelek itu. Aku akan melepasakan gadis itu jika waktunya sudah tepat."


Deg! Bagaikan ribuan belati yang langsung menghujam jantung Mey kala mendengar pengungkapan suaminya itu. Kaki Mey lemas seolah tak mampu menopang tubuh kecilnya lagi. Paman Sam yang melihat itu langsung menahan tubun Mey.


Maafkan aku, Sayang. Aku tak bermaksud untuk mengatakan hal itu. Aku hanya ingin menghentikan aksi gilanya. Maafkan aku, sampai mati pun aku tak akan pernah melepaskan permata sepertimu. Aku janji akan menyelesaikan semua ini dengan cepat. Aku akan pulang dan memelukmu lagi. Akh... bahkan aku sudah merindukannya.


Kamu jahat, Mas. Kamu bilang cinta sama aku, kamu juga bilang gak akan pernah ninggalin aku. Tapi apa yang aku dengar tadi? Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan, Mas? Kamu pembohong, sejak awal seharusnya aku gak percaya sama kamu. Mulut Mey seolah terkunci. Padahal ingin sekali ia meneriaki itu pada suaminya. Namun hatinya sangat sakit, sampai mulut itu benar-benar terkatup rapat.


Tidak lama beberapa dokter pun tiba. Paman Sam membawa Mey menjauh dari pintu saat para dokter hendak masuk. Pintu itu pun tertutup kembali.


"Nyonya."


Lagi-lagi Mey mengangkat tangannya karena tak ingin mendengar apa pun, ia juga mencoba menguatkan diri. Menegakkan tubuhnya kembali, Ditatapnya lelaki paruh baya itu lamat-lamat. "Beruntung Mey datang kan, Paman? Mey bisa mendengar semuanya." Tangisan Mey pun pecah.


"Nyonya...."


"Jangan membelanya, Paman. Mey dengar semuanya dengan jelas." Dengan tangan bergetar Mey melepas cincin pernikahannya. Lalu memberikan itu pada Paman Sam. Bukan hanya cincin, Mey juga memberikan tas sampingnya. Karena di sana terdapat semua barang pemberian David.


"Mey gak perlu nunggu kata-kata cerai dari mulutnya. Mey akan langsung mengusul gugatan cerai. Tolong bilang sama Om David. Makasih buat semuanya, Mey bisa rasain seperti apa rasa bahagia punya suami kaya raya, seharunya Mey sadar diri siapa Mey ini, Paman. Di dalam tas itu semuanya punya Om David."


"Nyonya, Anda harus...." Paman Sam tak melanjutkan perkataannya karena Mey langsung pergi tanpa ingin mendengarkannya.


Kemudian pintu itu pun terbuka, menampakkan David dengan wajah kusutnya.


"Tuan." Paman Sam menunjukkan benda yang ada di tangannya pada David. Ia sendiri bingung harus bicara apa.


Mata David terfokus pada benda yang ada di tangan asistennya. Tentu saja David mengenali benda itu. Dengan gerak cepat ia mengambil benda itu, terutama cincin nikah sang istri. Lalu menatap Sam untuk meminta jawaban.


"Nyonya mendengar semua pembicaraan Tuan dengan Non Nindy."


"Sial!" Umpat David yang langsung beranjak pergi dari sana, mengejar sang istri yang sudah salah paham padanya. Ia harus menemukan istri kecilnya. Menjelaskan semua kebenaran yang ada. David terus menekan tombol lift, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Karen kesal, David pun memilih tangga darurat.

__ADS_1


Kamu harus dengarkan aku dulu, Sayang. Tolong jangan pergi, aku akan mati jika kamu benar-benar pergi. Aku mohon.


__ADS_2