
Pagi pagi sekali chaca sudah lebih dulu pergi meninggalkan rumah Utama. Tujuan Chaca adalah rumah sakit. Semalam ia mendapat kabar bahwa Lana kritis, Chaca merasa sangat terpukul akan hal itu. Ia sangat butuh sosok Dimas untuk mendukung nya namun apa daya Dimas tengah sibuk dengan mantan istri nya. Dan Chaca tidak mau mengganggu nya.
"Je dimana Chaca?" tanya Dimas saat hendak mengetuk pintu kamar Arya.
"Sudah pergi." Jawab Jenar datar.
"Sepagi ini?" tanya Dimas. "Kemana?" Tanya nya lagi.
"Tanya sama diri kakak sendiri." Ucap Jenar lalu ia pergi.
Dimas mengusap wajah nya dengan kasar kala tidak menemukan keberadaan Chaca.
Sesungguhnya Jenar juga tidak tau dimana Chaca karena Chaca tidak memberitahu nya.
...Sarapan pagi...
"Kapan Aiden akan pulang?" Tanya Tamara dengan wajah datar.
"Biarkan sajalah dulu Mah," jawab Dimas pelan.
"Iya, biarkan saja dulu. Biarkan tidak apa apa." Kata Tamara mencibir.
"Tunggu Chaca meledak ya Kak?" Tanya Jenar santai.
"Apa maksud kamu Je?" Tanya Dimas.
"Inget kak, kejujuran adalah satu hal yang paling penting dalam urusan rumah tangga. Kakak udah bilang belum dimana Aiden sama istri kakak? Oh atau kakak lupa kalau sudah punya istri?" Sindir Jenar membuat Dimas terdiam. Pasalnya ia memang lupa memberitahu Chaca akan hal itu.
"Jangan sampai kesalahan mas Arya terjadi sama kakak." Ucap Jenar lagi sambil menatap ke arah Arya.
Uhuukk uhukk
Arya yang merasa namanya di sebut langsung tersedak dan menatap ke arah istrinya.
"Apa?' Tanya Jenar.
__ADS_1
"Enggak sayang gapapa." Jawab Arya sambil menelan Saliva nya karena melihat aura menyeramkan dari wajah sang Istri.
"Wajar sih Je dia lupa. Udah kelamaan sendiri sih jadi lupa kalau sudah beristri lagi." Kata Tamara.
"Mah, gak gitu. Dimas bener bener lupa mah." Kata Dimas.
"Sesibuk itu kencan nya sama sang mantan sampai lupa keberadaan istri di rumah. Sampai lupa menghubungi istri dan sampai lupa kalau punya istri. Hebat sekali anak sulung mama ini." Ucap Tamara yang sudah mulai terpancing emosi.
Saat sedang berdebat tiba tiba ponsel Dimas bergetar.
Drrttt .... Drrrttt .... Drrrtt ...
"Hallo." Jawab Dimas.
" ..."
"Apa!" Dimas langsung berdiri dari tempat duduk nya.
"Katakan di rumah sakit mana." Kata Dimas lalu ia segera berlari ke arah mobil nya.
"Dan siapa yang di rumah sakit?" Tanya Tamara.
...🥀🥀🥀...
"Kakak bagaimana keadaan Mama?" Tanya Chaca panik.
"Mama kritis Cha. Mama butuh tranfusi darah tapi stok darah disini kosong hiks hiks." Kata Leona.
"Kakak lagi hamil gak boleh donor darah." Imbuh Leona.
Tanpa berkata lagi, Chaca segera berlari ke ruangan dokter yang menangani Lana. Chaca langsung mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya kepada Lana.
"Maaf Nona, seperti nya kondisi anda sedang tidak baik baik saja, saya tidak bisa membuat anda menjadi pendonor." Ucap Dokter.
"Saya baik baik saja. Ayo Dok cepat lakukan sekarang!" Desak Chaca.
__ADS_1
"Maaf Nona tapi tidak bisa." Kata Dokter.
"Kalau mama saya kenapa napa apa Dokter mau tanggung jawab hah!" Bentak Chaca kepada Dokter.
"Papa saya sudah meninggal, dan saya hanya punya Mama, kalau sampai mama saya kenapa kenapa apa dokter mau tanggung jawab?" Tanya Chaca lagi dengan suara lebih pelan sambil menangis. "Ayo ambil darah saya Dok ayo." Kata Chaca lagi.
Sebenernya Dokter enggan melakukan nya namun keadaan Lana juga sudah sangat kritis sehingga akhirnya Dokter melakukan tranfusi donor.
"Cha apa kamu yakin?" Tanya Leona.
"Iya, demi Mama. Chaca gak mau kehilangan Mama." Kata Chaca lemah.
Chaca melihat ke arah Lana yang sedang terbujur lemah dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Hati Chaca begitu Sesak kala melihat itu.
"Semoga mama lekas membaik, Chaca mohon mama cepet sembuh." Gumam Chaca pelan.
Tak berapa lama Tranfusi darah selesai dan Chaca langsung di pindahkan lagi ke ruang perawatan lain.
"Chaca." Panggil Leona lembut.
"Kakak." Ujar Chaca lemah.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Leona.
"Kak--" Tiba tiba Chaca meringis kala merasakan sesuatu di perut nya.
"Chaca kamu kenapa?" Tanya Leona sedikit panik.
"Aaaaakkkjhh, kakak kenapa perut Chaca sakit aaahhhh." Chaca merasakan sakit luar biasa di perut nya kala sudah selesai melakukan tranfusi darah.
"Chaca kamu kenapa?" Tanya Leona semakin panik.
"Sakit kak, sakittt." Kata Chaca sambil memegang perut nya.
"Kamu tunggu sebentar, kakak akan memanggil Dokter." Leona pun segera memanggil Dokter dan segera menyuruh Fahmi agar langsung menghubungi Dimas.
__ADS_1