Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 72


__ADS_3

"Aunty."


Mey tersentak dari tidurnya saat tangan mungil Laura menyentuhnya. "Kamu sudah bangun?"


"Haus, Aunty."


"Iya, sayang." Mey pun mengambil air minum di atas nakas. Kemudian membantu Laura minum. Mey tersenyum saat Laura menatapnya. Tatapan polos yang begitu menggemaskan. Mey meletakkan kembali gelas itu di atas nakas. Setelah itu membenarkan posisi Laura.


"Aunty, Aura gak mau tinggal di rumah kecil itu lagi. Aura mau tinggal sama Aunty. Mimi jahat, Aunty. Mimi gak mau jemput Aura lagi."


Hati Mey mencolos mendengar itu. "Mungkin Mimi sibuk, sayang. Mulai sekarang Aura tinggal sama Aunty ya? Temenin Adek Noah."


"Aura mau, Aunty." Aura tersenyum senang. Mey meraih tangan mungil Laura. Kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Aura, boleh tidak Aura panggil Aunty dengan sebutan Mommy?"


Laura pun mengangguk lagi.


"Cobak panggil Mommy, sayang."


"Aura sayang Mommy." Mey tersenyum bahagia mendengar itu. Ia pun memeluk Laura dengan penuh kasih sayang.


"Aura lapar gak? Tadi Daddy beliin makanan enak buat Aura. Aura makan ya?"


Lagi-lagi Aura mengangguk. "Mommy yang suap."


"Iya, sayang." Mey pun mengambil kotak makanan di atas nakas. Menyuapi gadis kecilnya itu dengan penuh kesabaran. Sesekali ia juga mengajak Laura bercanda ria. Mey benar-benar bahagia. Mungkin benar, keikhlasan akan membawa sebuah kebahagiaan. Kini Mey membuktikannya sendiri.


****


"Gimana kondisinya?" Tanya Tasya saat memasuki ruang rawat Laura. Mey pun menoleh, ditatapnya Tasya yang kini sudah duduk di tepi brankar.


"Kata dokter besok kondisinya udah mendingan. Baru aja tidur, demamnya juga udah turun." Mey pun mengalihkan perhatiannya pada Laura.


Tasya mengangguk pelan. "Mey, jadi lo udah nerima dia sepenuhnya?"


"Hm... setelah gw pikir-pikir gak ada salahnya kan kita terima dia? Dia sama sekali gak berdosa di sini. Gw yang terlalu baperan."


Tasya mengusap pundak Mey lembut. "Semoga keluarga kita terus diberi kebahagiaan ya Mey. Gak ada lagi masalah rumit seperti sebelumnya."


Mey menoleh ke arah Tasya. "Masalah mertua lo gimana?"


Tasya menghela napas pendek. "Kemarin Papanya Alex dateng ke rumah sama Wilona."


"Hah? Ngapain?" Kaget Mey.


"Biasa, Papa desak Kak Alex buat nikahin Wilona."


"Terus?" Mey mulai penasaran.


"Kak Alex mana mau lah. Dia lebih milih gw ketimbang perusahaan."


"Baguslah, itu artinya dia beneran cinta sama lo. Awas aja kalau dia mainin lo."


"Harap-harap Papa secepatnya bisa nerima gw. Gak enak jadi menantu yang tak diinginkan."


"Sabar, gw yakin pelan-pelan lo di terima. Lagian lo gak punya kekurangan buat jadi menantu mereka."

__ADS_1


Tasya pun mengangguk pelan. Lalu keduanya terdiam cukup lama.


Suara ponsel Tasya pun bergetar. Dengan gerak cepat Tasya merogoh ponselnya dan ternyata Alex lah yang menghubunginya. "Sebentar, gw rasa King nangis di rumah."


"Okay." Mey pun mengangguk pelan. Dan Tasya pun beranjak keluar.


"Hallo, Kak. Ada apa?"


"Sya, pulang dulu."


Tasya mengerut bingung saat mendengar nada cemas Alex. "Ada apa sih, Kak? Jangan buat aku takut. King sama Noah baik-baik aja kan?"


"Mereka aman, Sya. Sekarang pulang dulu."


"Ah, iya aku pulang sekarang kok. Aku tutup ya?"


"Hm."


Tasya menutup panggilan dan langsung beranjak pulang. Sangking paniknya ia sampai lupa memberi kabar pada Mey.


Sesampainya di rumah, Tasya langsung menghampiri suaminya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Ada apa, sayang?" Tasya duduk di sebelah Alex yang sedang sibuk mengetik di ponselnya.


"Cobak kamu buka berita sekarang, sepertinya Papa belum puas ganggu hubungan kita." Ujar Alex dengan wajah memerah karena amarah.


Tidak ingin membuang waktu, Tasya pun langsung membuka ponselnya dan mencari hot news hari ini. Tasya sedikit tersentak saat melihat berita King sudah memenuhi beranda. Di sana tertulis jika King adalah anak hasil hubungan gelap Alex dan Tasya. Dalam kutip King itu anak haram. Sontak darah Tasya pun mendidih.


"Kak, kalau gini aku gak bisa diam terus. Papa keterlaluan, gimana pun King itu cucunya. Kenapa tega banget sih buat berita kayak gini? Masa depan King bisa terancam kalau gini."


"Aku tahu. Sebaiknya kita temui Papa langsung supaya dapat klarifikasinya."


"Ayok." Alex bangkit dari posisinya.


"Gimana sama anak-anak?"


"Kita titip sama Bik Nina aja."


"Ya udah." Alex setuju. Lalu keduanya pun menutuskan untuk bergerak sekarang juga.


Setibanya di rumah Effendi, Alex dan Taysa terkejut saat melihat Mama dan Papanya bertengkar hebat.


"Aku minta cerai, Mas. Kamu tuh tega banget tahu gak. King itu cucu kamu juga, Mas. Darah daging kita, tega sekali kamu buat berita seperti itu." Hardik Bunda Aira.


"Kamu harus percaya, sayang. Aku tidak pernah ngeluarin berita itu. Aku aja kaget makanya pulang."


"Bohong! Kamu keterlaluan, Mas. Kalau sikap kamu gini terus, aku pergi dari kehidupan kamu, Mas."


"Sayang...."


"Pa, Ma." Potong Alex yang berhasil mencuri perhatian keduanya.


"Alex? Kebetulan kamu di sini. Ayok bawa Mama pulang, Lex. Mama gak mau tinggal satu atap sama lelaki tidak bertanggung jawab seperti Papa kamu."


Alex menatap sang Papa. "Kenapa Papa lakukan ini, Pa? Kenapa Papa gak serang aku atau Tasya langsung, kenapa harus King, Pa?"


Pak Effendi mengusap wajahnya dengan kasar. "Alex, Papa gak melakukan itu. Saat ini Papa sedang menyelidiki siapa orang yang memanfaatkan keadaan dan menggunakan nama Papa."

__ADS_1


Alex mendengus sebal. "Aku kecewa, Pa. King itu cucu Papa, darah daging Papa. Kenapa Papa mencemari nama baiknya?"


"Papa tidak melakukan itu, Alex!" Bentak Papa yang berhasil membuat ketiganya kaget. "Papa sudah jujur, Papa tidak melakukan itu. Papa masih punya hati dan tidak mungkin menghancurkan nama King."


Tasya menyentuh lengan suaminya. "Aku rasa Papa tidak bohong. Mungkin benar, ada yang memanfaatkan situasi supaya hubungan kita retak." Ujarnya.


"Tapi siapa?" Tanya Alex terlihat frustasi.


"Wilona."


"Apa?" Pekik Alex, Bunda Aira dan Pak Effendi bersamaan.


"Ya, saat ini hanya dia tersangka terakhir. Mungkin saja dia dendam karena kamu terus menolaknya, Kak. Dia ingin menghancurkan keluarga kita melalui King." Jelas Tasya yang sejak awal memang sudah menduga hal ini.


"Jika itu benar, aku tidak akan memaafkannya." Geram Pak Effendi.


"Sebaiknya kita cari tahu sekarang juga, sebelum beritanya jadi besar. Aku juga sudah meminta tim untuk menghentikan berita itu." Ujar Alex.


****


Saat ini mereka sudah berada di kediaman Wilona. Seperti yang diduga, wanita itu sudah pergi sebelum mereka datang.


"Tidak salah lagi, ini pasti perbuatannya." Effendi mengusap wajahnya kasar.


"Alex, hubungi semua direksi dan jajaran tinggi. Kita lakukan meeting sekarang juga untuk membatalkan kerja sama dengan keluarga Wilona. Ini tidak bisa dibiarkan."


Deg!


Alex dan Tasya terkejut mendengar itu. Pasalnya sejak dulu Pak Effendi begitu menggebu-gebu untuk bekerja sama dengan entertaimernt besar itu.


"Papa yakin? Jika kita memutus kerja sama, kita akan kehilangan beberapa pendukung."


"Tidak jadi masalah, harga diri cucuku lebih penting dari pada ini."


Alex langsung menatap Tasya, lalu keduanya tersenyum bahagia. Karena akhirnya sang Papa bisa menerima King.


"Hey, kenapa kalian diam?" Tegur Pak Effendi.


"Maaf, Pa. Kami cuma kaget aja Papa menganggap King sebagai cucu."


"Dia memang cucuku bukan?"


Tasya mengangguk penuh haru. "Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah mengakui status King."


Pak Effendi menatap Tasya dan Alex penuh arti. "Papa minta maaf, tidak seharusnya Papa egois."


Alex langsung memeluk Papanya dengan erat. "Aku sudah memaafkan Papa sejak lama. Aku juga minta maaf karena tidak bisa menjadi anak yang seperti Papa harapkan."


"Tidak, kamu sudah memberikan yang terbaik pada keluarga kita, Lex. Papa saja yang kurang bersyukur." Pak Effendi pun mengalihkan perhatiannya pada Tasya yang sudah menitikan air mata.


"Kemari menantuku." Pinta Pak Effendi. Membuat tangisan Tasya semakin tersedu. Dan tanpa banyak berpikir lagi Tasya ikut berhambur dalam pelukan sang ayah mertua.


"Papa doakan kalian selalu diberikan kebahagiaan."


"Aamiin."


"Ayok kita pulang, Papa ingin menggendong cucu gembul Papa."

__ADS_1


Sontak Alex dan Tasya pun tertawa bersamaan. Yang disusul oleh Pak Effendi.


Ya Tuhan. Maafkan aku karena hampir menghancurkan keluargaku sendiri. Detik berikutnya aku akan selalu melindungi mereka. Aku berjanji.


__ADS_2