Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 68


__ADS_3

"Bagaimana, Dad?" Tanya Tasya setelah menantikan kepulangan sang Daddy. Setelah lelah mencari keberadaan Mey tentunya.


David menggeleng pelan, melangkah lemas menuju kamarnya. "Biarkan saja Mommymu menenangkan dirinya." Kata David sebelum benar-benar pergi.


"Daddy kamu benar, seprtinya Mey butuh waktu. Sama sepertiku dulu, aku butuh waktu untuk menerima keadaan." Ujar Alex seraya mengusap bahu istrinya.


"Kenapa semuanya harus kayak gini sih? Masalah kita aja belum selesai, sekarang masalah lain muncul lagi." Keluh Tasya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Aku yakin dibalik semua ini akan ada hikmahnya. Lagian kita udah usaha buat nyari Mey. Selanjutnya kita hanya bisa berdoa supaya hubungan mereka baik-baik aja."


"Terus gimana sama Laura? Anak itu juga gak salah, dia hanya korban keadaan. Daddy sih kebanyakan main perempuan. Sekarang kena karmanya."


"Hush... jangan sembarangan ngomong. Gak ada yang tahu sama takdir Tuhan. Sebaiknya kita istirahat, seharian penuh kamu gak diam. Pasti ada jalan keluarnya buat masalah ini."


Tasya pun mengangguk pelan. Kemudian keduanya pun kembali ke kamar karena hari mulai malam.


Di kamar, David terus termenung. Sebenarnya ia tahu di mana sang istri berada. Hanya saja ia tak memiliki keberanian untuk mendekatinya. Ia tahu istrinya masih dikuasi emosi. Jika ia mendekatinya, takutnya wanita itu akan lari semakin menjauh. David akan terus mengawasinya dari jauh setiap saat. Ia akan mencari waktu yang pas untuk menjemput istrinya itu.


****


Suara tangisan bayi menggema di sebuah rumah sederhana. Tidak lama wanita bertubuh mungil sedikit berlari dari arah dapur menuju kamar. "Iya, Mommy datang."


Mey tersenyum lebar saat melihat putra kecilnya sudah terbangun dalam posisi tengkurap di ranjang. "Maaf, Sayang. Mommy lagi siapin sarapan buat kamu."


Noah menghentikan tangisannya saat Mey membalikkan tubuh mungilnya. Kemudian menyusuinya. "Kamu lapar ya? Sebentar lagi kita mamam kok."


Mey memang tinggal di sebuah rumah sederhana yang ia sewa di pinggiran kota. Sudah hampir satu bulan ia berada di sana dan perasaanya jauh lebih tenang. Beberapa pekan yang lalu ia memang mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar kota karena menurutnya itu bukan keputusan terbaik. Dan disinilah ia berada saat ini. Di sebuah rumah sederhana yang cukup membuatnya nyaman dan jauh dari segala hal yang membuat hatinya aral. Setidaknya tempat ini cukup membuatnya nyaman.


"Habis makan, kita mandi ya? Mommy mau ajak kamu ke posyandu."

__ADS_1


Noah melepaskan emutannya dan tersenyum pada sang Mommy. Kemudian mengoceh tak jelas.


"Udah kenyang huh?" Mey mengusap mulut putranya yang basah karena air susu. "Mommy ambilkan makanan kamu dulu ya? Tunggu sebentar."


Mey pun beranjak menuju dapur untuk mengambil makanan putra kecilnya. Tidak butuh waktu yang panjang Mey pun sudah kembali dengan sebuah mangkuk bayi dan gelas mungil berisi air putih. Dengan penuh kesabaran Mey menyuapi Noah sambil mengajaknya bicara. Kehidupan seperti ini memberikan kesan tersendiri pada Mey. Bohong memang jika dirinya tak merindukan David. Namun Mey seakan menyerah pada lelaki itu. Toh suaminya juga tak berniat mencarinya. Itu yang Mey pikir selama ini. Ia tak pernah menyadari jika lelaki itu selalu ada di dekatnya.


Menjelang siang, Mey membawa putranya ke tempat posyandu untuk mengecek perkembangannya. Mey terlihat senang karena Noah bertambah timbangan. Dan anak itu benar-benar aktif. Sampai membuat semua orang yang melihatnya gemas setengah mati.


"Buk Mey, suaminya dari tadi nunggu di luar tuh. Kenapa gak di ajak masuk?" Tanya salah seorang Ibu-ibu yang juga membawa anaknya untuk diperiksa. Mey mengerut bingung.


Suami?


"Saya gak pergi sama suami kok." Jawab Mey menatap Ibu itu bingung.


"Loh, tapi Bapak tadi bilang dia suami Ibu. Cobak Ibu lihat dulu, mungkin aja benar."


Setelah selesai dengan urusannya, Mey pun beranjak pulang. Karena hari mulai terik. Tepat di depan rumah, langkah kakinya tertahan saat melihat sepasang suami istri tengah duduk di bangku depan. Kedua orang itu bangun dari duduknya saat melihat Mey pulang. Mereka tak lain adalah Tasya dan Alex.


"Mey." Seru Tasya sedikit berlari ke arah Mamudnya dan memeluk wanita itu erat. "Kemana aja lo huh? Gw hampir gila nyari elo tahu gak?"


Mey terdiam cukup lama karena Masih kaget. Setelah itu ia pun sedikit tersentak.


"Sebaiknya kalian pulang, karena gw gak bakal balik ke rumah itu." Mey menarik diri dari dekapan Tasya.


"Sampe kapan, Mey?"


"Lo gak perlu nanya." Mey pun beranjak masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Tasya dan Alex. Tasya terenyuh melihat tempat tinggal Mamudnya itu. Ia seakan masuk kembali dalam lorong waktu. Di mana Mey pernah tinggal di rumah kecil seperti ini. Sebenarnya bisa saja Mey menyewa rumah bagus karena uang yang David berikan cukup banyak. Namun wanita itu cukup tahu diri dan tak mungkin menghamburkan uang. Ia masih memikirkan masa depan putranya.


"Duduk." Titah Mey yang kemudian beranjak menuju dapur untuk membuatkan minum. Tanpa Mey sadari Tasya mengekorinya.

__ADS_1


"Kenapa lo milih tinggal di sini? Rumah lo kosong, Mey."


"Rumah itu bukan punya gw," jawab Mey sekenanya.


"Lo Nyonya di rumah itu, jelas rumah itu punya lo."


"Oh ya? Bukannya Nyonya rumah itu udah ganti? Buktinya Daddy lo gak peduli lagi sama gw. Boro-boro nyariin gw, nelpon aja gak pernah. Gw gak berharap dia nanyain kabar gw. Setidaknya dia khawatir sama anaknya. Kayaknya seneng banget udah punya anak lain."


Tasya menghela napas berat. "Tante Ingrid udah meninggal seminggu yang lalu."


Mey langsung berbalik karena terkejut mendengar itu. Namun tak memberikan respons apa pun. Mey pun kembali berbalik dan melanjutnya kegiatannya untuk membuat minuman. Si kecil Noah terus melihat ke belakang. Sepertinya anak itu merindukan sang Kakak. Tasya yang menyadari itu segera membawa Noah dalam gendongannya. Mecium pipi gembul Noah dengan penuh kerinduan. Juga memeluknya dengan erat.


"Sejak lo pergi, Daddy nitipin Laura di tempat penitipan anak. Gw rasa Daddy juga masih terpukul."


Pergerakan Mey tertahan saat mendengar itu.


"Laura juga gak tahu kalau Miminya udah gak ada. Dia gak punya siapa-siapa, Mey. Setiap hari gw jenguk dia, anak itu nangis terus. Gw gak mungkin bawa dia pulang. Masalah gw juga belum kelar."


"Dia punya Daddynya." Sahut Mey sedikit bergerak untuk mengambil nampan.


"Daddy gak mungkin ngurus Laura sendirian. Sekarang gw udah pindah ke rumah baru. Daddy sendirian. Udah seminggu Bik Nina dan Unang pulang kampung karena Ibunya meninggal. Daddy sendirian di rumah."


Mey menghela napas gusar. "Apa pun itu, gw gak bisa nerima kenyataan kalau Laura itu anak Daddy lo. Lo gak pernah rasain gimana sakitnya hati gw. Lo juga tahu sejak anak itu datang gw selalu dihantui rasa takut, dan semuanya kenyataan, Sya. Hati gw hancur."


"Gw tahu, tapi semuanya udah terlanjur terjadi Mey. Lo gak bisa ngelak. Gw tahu Daddy yang salah di sini. Tapi semuanya juga gak sepenuhnya kesalahan Daddy. Daddy gak tahu kenyataan itu. Gak seharunya Tante Ingrid nyembunyiin masalah serius ini. Kasih Daddy kesempatan, Mey. Daddy cinta mati sama lo."


"Dia gak cinta sama gw, peduli pun enggak."


"Siapa yang gak peduli?"

__ADS_1


__ADS_2