Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 42


__ADS_3

Di kamar dengan penerangan temaram. Terlihat seorang gadis cantik terus menatap sebuah stik yang ada ditangannya, juga terdapat dua garis merah di dalamnya. Sesekali ia menarik napas panjang, kemudian membuangnya perlahan. Meletakkan benda itu di dalam laci.


"Apa yang harus gw lakuin sekarang? Gimana kalau Daddy tahu?" Gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Gadis itu tak lain adalah Tasya.


"Apa ini hukuman buat gw karena terlalu banyak baca novel dewasa kali ya? Dan akhirnya hidup gw hampir mirip kayak di novel-novel. Gw hamil, tapi Ayah anak ini gak tahu. Terus gimana dong? Dia juga gak bakal ingat kejadian malam itu." Tasya meringkuk, menatap rintik hujan dari balik jendela.


Tasya terus mengikuti mobil lelaki yang sudah mencuri hatinya akhir-akhir ini. Ia tahu lelaki itu sedang tidak baik-baik saja. Siapa sih yang bakal baik-baik aja setelah menghadiri pernikahan gadis pujaan hatinya?


Seketika mata Tasya membulat saat mobil yang dikendarai Alex memasuki sebuah bar ternama. "Ngapain dia ke sana? Masak iya dia mau mabok-mabokan."


Tanpa banyak berpikir, Tasya ikut memarkirkan mobilnya di sana. Toh Alex gak bakal kenal mobilnya. Tasya terus memantau Alex yang sudah keluar dari mobilnya. Kemudian berjalan cepat menuju tempat itu.


"Wah, kayaknya dia beneran mau lampiasin kekesalannya sama minuman tuh. Baru tahu kalau dia punya kebiasaan gitu." Tasya pun buru-buru keluar dari mobil dan ikut masuk ke sana. Gadis itu sedikit menutup wajahnya dengan dompet merah yang ia pegang. Lalu mencari keberadaan lelaki tadi. Hingga pandangannya pun tertuju pada seorang laki-lali berjas maroon duduk di meja bartender sambil meneguk minuman haram dengan rakus.


"Hai cantik, sendirian aja? Badan lo bagus banget." Puji seorang lelaki bertubuh gempal hendak menyentuh Tasya. Namun gadis itu langsung menghindar.


"Suami gw ada di sini, jadi jangan macam-macam." Ancam Tasya mencoba untuk mengindari lelaki jelek itu.


"Gw gak percaya, mau cobak main sama gw gak? Dijamin lo puas deh dari pada main sama suami lo."


"Cih, punya suami gw udah cukup muasin. Jadi gw gak butuh batang elo." Ketus Tasya merasa jijik melihat bibir tebal lelaki itu yang seolah ingin segera melahapnya.


"Wih, seru juga ya main sama elo. Mulut lo pedes, bisanya cewek jutek itu hot di atas ranjang. Gw bisa bayar lo berapa aja deh." Bujuk lelaki itu.


"Suami gw udah tajir melintir, jadi gw gak perlu duit elo yang gak seberapa itu. Suami gw itu komplit segala-galanya, ganteng, tajir, romantis dan yang pastinya dia bisa muasin gw sampe pagi." Jelas Tasya tanpa rasa malu sedikit pun.


"Wih, gw gak percaya sama kata-kata elo. Cobak tunjukin mana suami lo?"


"Itu yang baju merah, baju gw sama dia couple. Masih gak percaya?" Tunjuk Mey ke arah Alex. Lelaki itu pun tak berani bersuara lagi. Entah apa yang terjadi sampai ia terlihat ketakutan saat melihat Alex. Tasya mengambil kesempatan untuk kabur dan langsung menghampiri Alex. Lelaki itu sepertinya sudah mabuk berat. Entah berapa gelas minuman haram yang ia teguk.


"Lagi." Pinta Alex seraya mengangkat gelasnya ke udara. Sang barteder hendak mengisinya. Namun Tasya langsung menahannya.


"Saya pacarnya, saya harus bawa pulang dia." Kata Tasya mengeluarkan uang seratus ribuan dan memberikan itu pada sang bartender. Kemudian Tasya melihat Alex yang sudah teler.


"Thank you, Nona cantik." Ucap sang bartender tersenyum ramah.


Tasya langsung memapah Alex turun dari kursi. Beruntung tinggi gadis itu hampir sama dengan Alex. Jadi memudahkannya untuk membawa Alex keluar dari tempat itu. Meski ia agak kesulitan berjalan karena bobot Alex jauh diatasnya. "Berat banget sih lo." Keluhnya.


Sesampainya di parkiran, Tasya membawa Alex masuk ke dalam mobilnya. Kemudian menghubungi seseorang. "Datang ke alamat yang gw kirim. Terus lo bawa mobil yang ada di foto ke alamat yang bakal gw kirim."


Tasya memutus panggilan. Kemudian mengambil kunci mobil Alex dari saku celana lelaki itu. Tasya tahu karena tadi sempat melihat di mana Alex menaruh kunci mobilnya. Setelah mendapat benda itu, Tasya sedikit berlari ke arah mobil Alex. Lalu menaruh kunci itu di dalam laci dasboard. Karena Tasya sudah memberi tahu anak buahnya di mana posisi kunci mobil itu. Setelah di rasa aman, Tasya pun kembali ke mobilnya. Kemudian segera meninggalkan tempat itu.


"Akh... sialan lo, Kak. Berat banget, kebanyakan dosa lo." Keluh Tasya dengan susah payah membawa Alex menuju apartementnya.


"Uh, untung apart lo pake fingerprint bukan sandi." Ujar Tasya seraya menempelkan jari jempol Alex. Pintu itu pun langsung terbuka. Tanpa ragu Tasya membawa lekaki itu masuk. Menidurkan Alex di atas ranjang.


"Uh... akhirnya aaaaa...." Tasya memekik kaget karena tiba-tiba Alex menariknya hingga bagian depak tubuhnya terjatuh di atas dada bidang Alex. Aroma maskulin lelaki itu langsung menyeruak masuk dalam rongga penciumannya. Membuat sekujur tubuh Tasya meremang. Apa lagi ia sudah terlalu sering membaca cerita-cerita dewasa, menbuat otaknya mendadak beku.


"Mey." Tasya tersentak saat lelaki itu berguman memanggil nama Emak tirinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Alex sudah bangun dari tidurnya. Mata lelaki itu terbuka dan menatap Tasya dengan seksama. Membuat jantung gadis itu berdegup kencang.

__ADS_1


Mampus gw. Gimana kalau dia mikir macem-macem? Sebaiknya gw langsung pergi dari sini aja deh. Sebelum urusannya jadi berabe.


Tasya hendak bangun dari posisinya. Namun ia kembali memekik karena tiba-tiba Alex memutar posisinya menjadi di bawah Alex.


"Aaaaa... lo mau apain gw?" Teriak Tasya masih dalam mood kaget.


"Mey, kenapa lo bisa ada di sini? Lo berubah pikiran huh?" Gumam Alex sambil mengelus pipi mulus Tasya. Sepertinya Alex memang sudah sepenuhnya dikuasi alkohol.


"Gw Tasya, bukan Mey. Emang dasar mabok lo! Mata lo jadi gak waras. Awas sana, badan lo berat banget. Bisa penyet gw." Cerocos Tasya yang sama sekali tak merasa terancam dengan posisinya saat ini.


Alex tertawa renyah mendengar repetan gadis itu. Karena dimatanya gadis itu adalah Mey.


"Idih, kok malah ketawa sih? Gila lo, Kak."


"Aku suka kamu yang cerewet gini, Mey. Malam ini gw gak bakal lepasin elo. Gw bakal jadiin elo wanita gw seutuhnya. Lo mau kan, Mey? Lo yang datang ke gw sendiri." Rancau Alex tak jelas.


"Gw bukan Mey, gw Tasya. T-A-S-Y-A." Jelas Tasya sambil menahan dada Alex yang hampir menindihnya. "Sumpah, lo berat banget."


"Mey, gw cuma cinta sama elo. Gw gak mau lo jodohin terus sama si bule gak jelas itu."


Tasya melotot mendengar hinaan Alex yang ditujukan untuk dirinya. "Brengsek! Gw ini butik, alias bule cantik dodol. Lo malah ngatain gw gak jelas. Gw rasa elo emang mabok deh. Ck, emang dia mabok sih. Bodoh banget gw ya?"


"Mey, gw mau elo malam ini. Jadi milik gw ya?"


"Woi... gw Tasya. Lepasin gw, badan lo itu berat banget. Si Mey lagi bulan madu sama Bokap gw, elo masih aja mikirian dia. Buat apa huh? Lagian mereka udah belah duren juga."


Sialan. Kayaknya posisi gw mulai gak aman nih. Lo harus cari cara buat kabur, Sya. Jangan sampe gw ngalamin hal kayak di novel-novel. Masak iya gw tidur sama orang mabok? Terus tar gw hamil, gw ke luar negeri dan pulang-pulang bawa anak. Drama banget hidup gw kalau gitu. Tapi kan bentar lagi gw beneran mau ke luar negeri. Pikir Tasya panjang lebar. Sampai tak menyadari Alex sudah meloloskan dress yang ia kenakan.


"Akh...." pekik Tasya karena Alex tiba-tiba saja menggigit lehernya. Kemudian lelaki itu langsung membungkam mulutnya dengan benda kenyal dan hangat miliknya. Mata Tasya melotot saat merasakan cecapan itu terasa lembut tetapi menuntut. Sampai dirinya benar-benar terbuai dengan sentuhan demi sentuhan Alex.


"Hmmm...." suara jeritan Tasya pun tertahan karena Alex masih gencar mencecap bibirnya. Sedangkan yang dibawah sana terasa sangat sakit dan perih saat sesuatu yang keras berusaha masuk ke dalamnya. Air mata Tasya mengalir dengan deras saat milik Alex benar-benar tertanam sepenuhnya di sana. Lelaki itu sudah merenggut kesuciannya. Ternyata apa yang ia alami tak seindah yang ia bayangkan saat dirinya membaca sebuah cerita. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan dan mengoyak hatinya.


"I love you, Mey. Makasih lo udah mau nerima gw." Bisik Alex tepat di telinga Tasya.


"Gw Tasya, bukan Mey. Lo harus tanggung jawab." Sahut Tasya yang sudah berderai air mata. Namun Alex seolah tak peduli dan terus melanjutkan aksinya. Menggempur Tasya sampai dirinya mendapat kepuasan yang tiada tara.


Daddy. Jerit Tasya dalam hati. Seketika rasa bersalah mulai menghantuinya. Bagaimana jika dirinya hamil? Lelaki itu melepaskannya di dalam, dan saat ini adalah masa suburnya. Ia akan menjadi aib untuk keluarganya. Tapi Tasya sudah terlanjur, juga mencintai Alex.


I'm so sorry, Dad. Mungkin cuma ini cara Sasa buat dapetin hati Kak Alex. Walaupun sekarang dihatinya masih ada Mey. Sasa yakin suatu sata nanti Kak Alex bakal luluh. I'm sorry, Dad.


Dengan kesadaran penuh Tasya meraih wajah Alex, lalu mencium bibir lelaki itu dengan lembut. Tentu saja hal itu membangunkan junior Alex yang sudah tertidur. Dan adegan panas itu berlanjut sampai sang fajar menyingsing di udara.


Tasya meraih kembali pakaianya yang berserakan di lantai. Dengan susah payah memakai gaun itu kembali. Sedangkan ia juga harus menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Tasya menatap Alex yang masih tertidur dengan posisi tengkurap. Ada rasa sakit dihatinya ketika Alex terus memanggil nama Mey saat lelaki itu melakukan pelepasan. Namun Tasya tahu diri dan posisi. Ia tahu Alex begitu mencitai sahabatnya. Sejak awal ia tahu itu. Juga tak menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Toh nasi sudah menjadi bubur, mau menyesal pun semuanya sudah terlambat.


"Mungkin setelah ini, saat gw ketemu elo lagi nantinya. Gw akan tetap bersikap seolah gak pernah terjadi apa pun di antara kita. Karena gw yakin lo gak akan ingat semua yang udah kita lewatin malam tadi. Lo mabok berat, Kak." Ujar Tasya yang kemudian menyambar kunci mobilnya yang terjatuh di lantai. Setelah itu ia pun bergegas pergi dari sana dengan langkah yang sedikit tertatih.


Tasya tersenyum getir saat mengingat kejadian malam itu lagi. Malam yang berhasil menjeratnya dalam situasi sulit. Kini diperutnya sudah tumbuh janin tak berdosa hasil dari kebodohan dan kecerobohannya.


"Jangan marah sama Mommy ya kalau kamu lahir tanpa Daddy? Sepertinya Daddy kamu gak bakal bisa nerima kamu. Dia masih mencintai Nenek, Sayang. Mommy harus gimana dong? Mommy sayang sama kamu dan gak mungkin buang kamu. Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap kuat dan terus temenin Mommy ya? Mommy janji bakal bahagiain kamu terus." Tasya terus mengusap perutnya yang masih rata. Kemudian ia pun merasa sangat lapar dan ingin makan-makanan berat. Sudah beberapa minggu Tasya memang sering terbangun tengah malam karena rasa lapar. Hanya saja malam ini Tasya tidak bisa tidur.

__ADS_1


"Ck, kamu mau ngerjain Mommy ya? Okay, Mommy gak akan marah. Tapi jangan buat Mommy gemuk dong. Nanti gak ada yang mau sama Mommy." Imbuh Tasya mengelus perutnya dengan gemas. Dan rasa lapar itu semakin menjadi-jadi.


"Okay, kita makan sekarang. Sabar sedikit." Tasya pun bangun dari posisinya dan langsung bergegas keluar dari kamar.


Tasya melangkah pasti menuju dapur yang lumayan jauh dari kamarnya sambil bersenandung ria. Kakinya terus melangkah menuju lemari es. Mengambil pizza dan burger yang sengaja ia pesan sore tadi untuk persiapan. Karena ia mulai terbisa dengan rasa lapar di tengah malam seperti saat ini.


"Makan-makan." Kini Tasya sudah duduk di meja dan siap untuk melahap makanan yang sudah ia panaskan lebih dulu. Namun tiba-tiba Alex muncul dan ikut bergabung.


"Wih, ada makanan enak nih. Bagi dikit ya? Dari sore gw belum makan, laper. Habis lo ada tamu gak ditawarin makan." Ujar Alex tanpa malu langsung menyomot sepotong pizza dan melahapnya dengan rakus.


Mata Tasya mulai berkaca-kaca karena jatah makannya sudah berkurang. Padahal biasanya ia bisa menghabiskan satu loyang pizza dan kini Alex sudah mengambil dua potong pizza miliknya. Mendadak selera makannya pun hilang.


"Kenapa lo gak lanjut makan? Lo mar... Sya, kenapa lo nangis?" Panik Alex saat melihat Tasya sudah berlinang air mata.


"Lo marah karena gw ambil pizza elo huh?" Alex semakin panik saat Tasya masih diam tetapi air matanya terus jatuh. "Gw minta maaf, lagian pizzanya masih banyak."


"Gak cukup, biasanya gw makan satu loyang penuh." Rengek Tasya mulai sesegukan. Tentu saja Alex kaget mendengar itu.


"Lo seriusan? Badan lo kurus gitu tapi makan lo jumbo. Gak percaya gw." Ledek Alex yang lagi-lagi membuat Tasya semakin mengencangkan tangisannya.



"Eh, kok makin kenceng sih nangisnya? Tar gw ganti deh."


"Beneran?" Seketik Tasya langsung menghentikan tangisannya.


"Iya, tapi besok."


"Okay, tapi gw mau yang satu meter. Boleh ya?" Tasya terlihat begitu antusias. Dan itu berhasil membuat Alex merasa aneh.


"Gw baru tahu lo semanja ini. Tapi lo lucu juga kalo kayak gini." Kata Alex menatap Tasya lamat-lamat. Sedangkan sang empu langsung merah padam mendengar pujian dari sang pujaan hati.


"Lo belum tahu aja siapa gw? Lo ada rencana buat kenal gw lebih jauh gak?" Tanya Tasya tanpa malu dan tentunya penuh harap.


"Enggak, gini aja udah cukup." Jawab Alex meraih gelas susu milik Tasya.


"Eh, jangan dimi...." Terlambat, karena Alex sudah lebih dulu meminumnya. Padahal itu bukan susu biasa, melainkan susu bumil.


"Kok aneh rasanya? Susu apaan nih?" Tanya Alex sedikit merasa aneh dengan rasa susunya.


"Susu hamil, puas lo." Kata Tasya merebut gelas itu dari tangan Alex. Lalu meneguknya sampai habis.


"Temenin gw makan, siapa suruh lo udah hilangin mood makan gw." Pinta Tasya sembari menyomot sepotong pizza.


"Tadi itu beneran susu hamil? Lo hamil, Sya?"


"Iya, anak elo." Jawab Tasya tanpa sadar karena ia terlalu fokus makan. Alex yang mendengar itu terdiam cukup lama.


"Setelah ini kita harus bicara."


"Eh?"

__ADS_1


__ADS_2