Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 41


__ADS_3

Mey duduk di tepi ranjang, menatap wajah pucat David begitu dalam. Lalu tangannya mulai bergerak untuk menyentuh pipi suaminya. Jujur ia sangat merindukan David.


"Mey." Gumam David dengan mata yang masih tertutup. Mey yang merasa iba pun merapatkan dirinya pada David. Mengusap lembut pipi suaminya. Hati Mey terasa sakit saat melihat David sudah sekurus ini. Padahal sebelumnya David sedikit gemukan. "Kenapa bisa sekurus ini sih Mas? Kamu pasti gak makan dengan baik kan?"


David yang merasakan kehadiran sang istri pun langsung membuka matanya. Ia juga baringsut bangun dari tidurnya, sampai membuat Mey kaget.


"Mey, kamu pulang?" Tanyanya dengan tatapan sayu. Kemudian ia pun langsung membawa Mey dalam pelukannya. Lagi-lagi Mey tersentak kaget.


"Kamu kamana aja, Sayang? Aku sudah cari kamu ke sana kemari, tapi kamu gak ada di mana-mana. Aku hampir gila Mey." Ungkap David mengecupi pucuk kepala istrinya.


"Mas." Panggil Mey mendorong David perlahan. David menatap wajah Mey lamat-lamat, meluapkan rasa rindu yang membuncah didadanya. "I miss you so much, Mey." David mencium bibir Mey dengan lembut. Mey yang juga merindukan sentuhan itu pun memejamkan matanya. David yang mendapat lampu hijau pun langsung membawa Mey berbaring. Ia benar-benar merindukan istri kecilnya.


Mey tersentak saat David mulai menyentuh bagian intimnya. Ia mendorong David dan bangun dari posisinya. Merapikan kembali pakainnya. "Kamu masih sakit, Mas." Mey berdiri membelakangi David.


David menyesali perbuatannya, tidak seharusnya ia melakukan itu di saat istrinya masih dalam kondisi marah. Bahkan ia belum menjelaskan apa pun. Kepala David berdenyut sakit, ia menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. "Aku minta maaf."


Mey memutar tubuhnya, menatap David yang sudah memejamkan matanya lagi. "Kamu butuh sesuatu? Sudah makan?" Tanyanya.


David mengangguk pelan. Matanya tak sanggup untuk terbuka. Mey menghela napas gusar, kemudian duduk kembali di sebelah sang suami. "Kapan Mas mau cerein Mey?"


David langsung membuka matanya saat mendengar pertanyaan itu. Mengabaikan rasa sakit dikepalanya. David menatap Mey begitu dalam. "Aku tidak akan ceraikan kamu, Mey. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk bercerai dengan kamu. Aku tulus mencintaimu."


"Mas gak usah bohong, Mey dengar semuanya kok. Mas bilang sama Tante Nindy kalau Mas itu gak akan cinta sama Mey. Mas juga mau...." perkataan Mey tertahan karena David lebih dulu mmebungkam mulut Mey dengan tanganya.


"Kepalaku sakit Mey, bisa tidak kita berdebatnya basok aja? Mana tahu besok aku baikkan, tapi entah kalau besok pagi aku sudah...." Ucapan David pun tertahan karena Mey juga menutup mulutnya.


Mey menggeleng kuat. "Jangan asal ngomong, gimana kalau perkataan kamu bener, Mas?" Mey mulai menangis sesegukkan. Sejak hamil ia memang sangat cengeng dan sangat sensitif.


"Gak papa, kamu juga gak mau disisiku lagi, Mey. Buat apa aku hidup kan? Karena separuh nyawaku ada sama kamu, Mey."


"Mas yang buat Mey kayak gini. Mas lebih milih Tante Nindy dari pada Mey, istri kamu. Mas juga bilang sama cewek gatel itu kalau Mas mau cerein Mey, kan? Mas tega tahu gak? Mey denger semuanya." Mey meluapkan semua emosinya pada David. Bahkan tak ragu untuk memukul dada suaminya. Tidak peduli saat ini suaminya sedang sakit. Mey hanya ingin meluapkan rasa kesalnya. David juga membiarkan istrinya itu menumpahkan kekesalan padanya.


"Sekarang di mana kamu sembunyikan dia huh? Kamu mau nyakitin aku lagi kan? Pake pura-pura sakit segala. Mana ada orang sakit liburan di puncak, pake bawa calon istri segala lagi." Imbuh Mey terus memukuli suaminya. David yang mendengar itu tersenyum geli. Sedangkan Mey semakin kencang menangis.


"Udah?" Tanya David dengan suara lemah. Mey yang masih sesegukan pun mengangguk pelan. "Kamu jahat__ Mas. Mey sakit___ hati, Mey marah."


David menarik Mey dalam pelukannya. Mengecup kening Mey dengan lembut.


"Aku tahu, Sayang. Ini semua memang salahku, seharusnya saat itu aku kerja sama dulu sama kamu. Dan saat itu aku juga lupa kalau kamu itu keras kepala, nekat dan pasti nyusul aku ke rumah sakit. Benar aja kan? Kamu nyusul dan datang di saat aku mengatakan sesuatu buat nenangin Nindy."

__ADS_1


Mey menarik diri dari dekapan David, menatap suaminya lamat-lamat. "Maksud kamu?"


David menghela napas berat, ia memposisikan dirinya duduk meski kepalanya masih berdenyut. Mey yang bisa membaca raut kesakitan di wajah suaminya pun meminta David untuk berbaring. "Mas jelasinnya sambil tiduran aja."


"Aku mau tiduran di pangkuan kamu ya?" Pinta David merengek seperti anak kecil. Mey terdiam sesaat, kemudian mengangguk pelan. David tersenyum senang dan langsung berbaring dipangkuan Mey.


"Mey mau bersandar, pinggang Mey sakit." Pinta Mey sedikit menggeser punggungnya agar menyentuh kepala ranjang. David bergerak untuk mencari poisis nyaman. Membenamkan wajahnya di perut rata Mey.


"Aku kangen aroma kamu, Sayang. Udah seminggu lebih aku mual terus." Kata David yang berhasil membuat Mey mengingat sesuatu.


Mas David mual-mual? Apa jangan-jangan morning sicknessnya pindah sama Mas David ya? Pikir Mey mulai menyadari kenapa dirinya tak pernah merasakan mual-mual seperti kebanyakan Ibu hamil lainnya.


"Mual gimana Mas? Apa karena efek sakit kamu ya?" Tanya Mey meyakinkan.


"Entahlah, bisa jadi. Tapi aku juga sering pengen makanan yang asam atau pedas. Udah kayak orang ngidam, dulu aku juga pernah gitu pas Anna hamil Tasya. Aku yang ngalamin morning sickness dan ngidam sampe tujuh bulan. Mungkin terdengar aneh, tapi itu kenyataan." Jelas David yang kemudian mengelus perut Mey. Membuat sang empu membeku seketika.


"Apa jangan-jangan udah ada dedek di sini ya, Mey? Kamu udah pernah cobak cek belum?" Tanya David menatap istrinya.


"Em... kayaknya belum ada, Mas. Aku juga belum pernah cek ke dokter." Bohong Mey. Ia masih belum siap memberi tahu David sebelum semua masalahnya benar-benar tuntas. Ia takut David membohonginya lagi. Separuh kepercayaan Mey sudah hilang pada suaminya untuk saat ini.


"Aku harap dia segera hadir, supaya kamu gak kabur-kaburan lagi, Mey. Aku kangen kamu. Demam aku juga udah mendingan pas kamu datang. Kamu pijitin kepala aku dong, Mey." David terlihat begitu manja. Ia memeluk Mey layaknya anak kecil yang takut kehilangan Ibunya.


David merubah posisinya menjadi terlentang. "Aku hampir lupa menjelaskan semuanya sama kamu. Kamu mau dengar sekarang atau besok?"


Mey tidak berniat untuk menjawab.


David menarik tangan istrinya, lalu menempelkan di pipinya. Matanya terpejam saat rasa dingin dari tangan Mey menusuk kulit. "Tangan kamu dingin banget, Mey."


Mey masih diam, meski hatinya terus memberontak ingin segera meminta David bicara.


"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya padamu, Sayang." David pun mulai menceritakan semua kebenarannya tanpa terlewatkan sedikit pun. Termasuk dirinya melihat Nindy berbuat mesum di rumah sakit.


"Aku benar-benar nyaris gila karena tak menemukanmu, Mey. Sampai aku tak sadarkan diri dan dokter mengatakan aku terkena gejala tipes karena kurang istirahat, makan dan minum. Karena saat itu aku hanya memikirkanmu siang dan malam. Aku takut kamu tidak akan kembali, Mey. Jika itu terjadi, mungkin aku benar-benar mati. Karena aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padamu. Jika kamu pergi lagi, seharusnya kamu tahu apa yang akan terjadi padaku kan?"


Mey terdiam sejenak. "Terus, kenapa Mas ada di sini dan membawa Tante centil itu? Kalian masih berhubungan kan?"


"Tasya yang terus membujukku untuk menenangkan diri di sini, dia bilang tempat ini cocok untuk mencari ketenangan. Aku tidak tega melihatnya terus bersedih karena keadaanku dan juga merasa kehilanganmu. Jadi aku setuju tinggal di sini beberapa waktu. Dia juga membatalkan kuliahnya untuk sementara waktu. Mommy dan Daddy tidak mau bicara lagi padaku karena kesalahpahaman ini. Dia mengancam tak akan menganggapku sebagai anaknya lagi seandainya kamu tidak kembali." Jelas David panjang lebar.


"Untuk Nindy, aku tidak tahu kenapa dia bisa ada di sini. Tapi kamu harus lihat apa yang terjadi setelah kamu pergi tadi. Ambil ponselku." Pinta David.

__ADS_1


Mey mengerut bingung, tetapi tetap menuruti permintaan suaminya. Mey meraih ponsel suaminya di atas nakas. Kemudian memberikannya pada David.


"Kamu buka sendiri, lihat aja di galeri." Perintah David kembali memeluk pinggang ramping Mey. Membenamkan wajahnya di perut sang istri. Sedangkan Mey masih fokus mebuka galeri di ponsel suaminya.


"Yang mana?" Tanya Mey bingung.


"Buka video paling bawah." Perintah David. Mey pun langsung membuka video tersebut. Menontonnya dengan seksama, tetapi sedetik kemudian matanya melotot.


"Ini kan Tasya sama Tante centil? Wih... kok bisa Tasya segalak ini? Keren Sya, iya bagus hajar aja. Siapa suruh gatel jadi cewek." Mey langsung tergelak saat melihat Nindy sudah tersungkur seperti orang gila dengan rambut acak-acakan dan wajah yang babak belur.


"Kamu senang banget kayaknya?" Tanya David masih setia memeluk sang istri.


"Banget, udah lama Mey juga mau cakar muka dia. Cuma gak ada kesempatan aja. Kamu kan selalu lindungin dia." Ketus Mey menaruh kembali ponsel suaminya di atas nakas.


"Bukan lindungin dia, tapi aku lindungin kamu, Sayang. Aku gak mau tangan kamu kotor atau lecet." Jawab David.


"Ck, Masnya aja yang gak kenal Mey siapa."


"Aku tahu kok, kamu itu satu-satunya Nyonya Lander yang harus dilindungi. Lagian wanita terhormat kayak kamu mana boleh bertengkar sama orang sembarangan." Ujar David yang berhasil membuat wajah Mey bersemu.


Kemudian mereka terdiam cukup lama. Sampai suara perut Mey yang keroncongan berhasil memecahkan kesunyian. David bangun dari posisinya, menatap sang istri lamat-lamat. "Kamu belum makan?"


"Belum, habis tadi pas mau makan Tasya keburu datang." Mey mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya ia sangat malu karena David selalu saja mendengar suara perutnya.


"Ya udah, kita makan yuk. Aku juga jadi lapar lagi pas liat kamu." Gurau David. Entah sejak kapan ia sudah sehat kembali. Sepertinya Mey memang sangat berpengaruh untuknya.


"Ck, ayok. Mey udah lapar." Rengek Mey menggoyangkan tangan suaminya.


"Ayok, tapi buatin nasi goreng telur mata sapi ya? Aku kangen banget." Pinta David bangun dari posisinya.


"Eh, kamu kan masih sakit, Mas." Kaget Mey baru menyadari suaminya sudah terlihat bugar dibanding sebelumnya.


"Karena obat aku udah datang, jadi aku udah baikan." Jawab David seraya membantu istrinya bangun.


"Aku belum sepenuhnya percaya sama kamu, jadi jangan dekat-dekat dulu." Ketus Mey menepis tangan suaminya. Tentu saja hal itu membuat David kaget.


"Jadi yang tadi itu apa, Mey?"


"Anggap aja Mey khilaf." Jawab Mey sekenanya. Kemudian berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Mey." David menghela napas gusar, kemudian menyusul sang istri.


__ADS_2