
"Hay Cha." Sapa Astrid lembut sambil mendudukkan dirinya di kursi samping Aiden.
"Hay juga mbak." Sapa Chaca lemah berusaha tersenyum.
"Terimakasih." Ucap Chaca pelan.
"Tidak, Aku yang harusnya berterimakasih sama kamu Cha." Kata Astrid membuat Chaca menyerngitkan dahinya bingung.
"Terimakasih karena kamu sudah menjadi Mami yang baik untuk Aiden. Terimakasih karena kamu sudah memberikan kasih sayang yang begitu besar kepada Aiden. Kasih sayang yang belum bisa aku berikan untuk nya." Ucap Astrid sambil melirik ke arah Aiden yang masih fokus memandang wajah Chaca dan menggenggam tangan Chaca.
"Selama beberapa hari Aiden bersama ku, aku bisa melihat seberapa besar dia mencintai kamu Cha, dia terus bercerita tentang kamu. Kamu beruntung bisa mendapatkan cinta Aiden Cha." Kata Astrid sambil tangan nya mengelus kepala Aiden.
"Aiden juga sayang kok sama Mama, tapi lebih sayang sama Mami." Kata Aiden laku ia memeluk Chaca membuat Chaca tersenyum haru.
"Chaca, aku percayakan Aiden sama kamu, tapi bolehkah aku sesekali mengajak nya bersama ku?" Tanya Astrid.
"Mbak, Aiden tetap anak kandung mbak Astrid. Bila Aiden mau Chaca gak akan pernah melarang nya." Kata Chaca.
"Kamu memang gadis yang baik Cha, gak salah Dimas dan Aiden memilih kamu." Ucap Astrid tersenyum.
Menyebut nama Dimas tiba tiba senyum di wajah Chaca berubah menjadi datar. Entah mengapa tiba tiba ada sesuatu yang menusuk di relung hatinya.
"Aku berharap kamu segera sembuh ya Cha, jaga adik nya Aiden baik baik. Maaf aku tidak bisa berlama lama disini." Kata Astrid. "Dan ini untuk kamu."
"Mbak?" Tanya Chaca sambil memegang sebuah surat undangan dari Astrid.
__ADS_1
"Iya, minggu depan aku akan menikah." Kata Astrid tersenyum senang.
"Kamu sudah tau siapa orang nya kok. Dan atas namanya Aku meminta maaf ya Cha." Kata Astrid membuat jantung Chaca semakin berdetak tidak karuan.
"Baiklah, aku pergi dulu ya Cha, karena calon suamiku sudah menunggu di depan. Aku harap kamu dan Aiden bisa datang." Ucap astrid lalu ia pergi keluar kamar.
"Mami kenapa?" Tanya Aiden yang melihat Chaca terdiam dan tanpa sadar hingga meneteskan air mata.
Bagaimana Chaca tidak syok bila ternyata nama suami nya terpajang di kartu undangan itu, hati Chaca bagai tertusuk ribuan jarum hingga membuatnya begitu sakit dan perih.
Ceklek.
Pintu kembali terbuka dan Dimas masuk untuk menemui Chaca.
Namun Dimas begitu terkejut kala melihat Chaca menangis dengan tubuh sedikit bergetar.
"Pergi!" Teriak Chaca sambil mendorong Dimas agar menjauhinya.
"Sayang ada apa?" Tanya Dimas semakin bingung.
"Pergi aku bilang pergi!" Teriak Chaca lagi. "Chaca benci sama om! Chaca benci!" Ucap Chaca semakin histeris.
Dimas terdiam dan semakin bingung, kalau Chaca sudah memanggil nya Om berarti Chaca sudah benar benar kecewa dan marah dengan nya. Namun Dimas bingung dimana letak kesalahan nya?.
"Pergi dari sini pergi!" Teriak Chaca sambil menangis.
__ADS_1
"Mami jangan nangis." Kata Aiden langsung memeluk tubuh Chaca dengan erat namun malah semakin membuat Chaca terisak.
"Om jahat sama Chaca om jahat hiks hiks Chaca benci sama om Chaca benci!" Kata Chaca lirih.
"Chaca, Dimas ada apa ini?" Tanya Tamara yang baru saja masuk.
"Mama ... " panggil Chaca dengan menatap sendu ke arah Tamara.
"Mah Dimas gak tau, saat Dimas masuk Chaca sudah begini." Kata Dimas jujur.
"Diam kamu Dim!" Kata Tamara menatap tajam ke Dimas lalu ia mendekati Chaca, "Sayang ada apa?" Tanya Tamara lembut sambil memeluk Chaca.
"Om Dimas jahat mah, om Dimas jahat hiks hiks." Kata Chaca terima.
"Jahat kenapa sayang? Jelasin sama Mama." Kata Tamara.
Lalu Chaca pun memberikan kartu undangan yang di berikan Astrid tadi kepada tamara, dan benar saja kobaran api langsung menyala di wajah Tamara.
Tamara pun langsung menatap tajam ke arah Dimas dan tanpa berkata lagi Tamara memberikan sebuah tamparan syantik lagi di pipi Dimas.
Plaaakk!
.
__ADS_1
Duh om Dimas yang di gampar, pipi Mommy yang ngilu 🙈🙈😂🤣🤣