
Hari minggu, David menepati janjinya membawa istri dan anaknya jalan-jalan ke mall. Tasya dan David masing-masing terlihat mendorong stroller bayi. Anak dan Ayah itu terlihat begitu kompak. Mey yang berada di belakang mereka tersenyum penuh haru. Tidak lupa ia mengabadikan momen itu dengan merekamnya.
"Sayang." Panggil David menghentikan langkahnya saat menyadari Mey tidak ada di sampingnya. Buru-buru Mey melangkah maju dan menggandeng tangan suaminya. "Ngapain sih?"
"Enggak, tadi ada liat baju cantik banget." Alibinya. Dan itu berhasil menarik perhatian Tasya.
"Kenapa, kamu suka? Kita balik lagi aja kalau kamu mau baju itu." Tawar David.
"Gak usah, cuma suka liat aja. Lagian baju di rumah masih banyak. Belum semuanya habis Mey pake, Mas." Tolak Mey.
"Kalau gw ambil aja Mey, dari pada gak bisa tidur." Tasya ikut menimpali.
"Ck, itu mah elo, gw mah beda."
Tasya terkekeh geli. "Mamud, mampir ke toko baju anak-anak yuk? Baju King udah mulai kekecilan semua. Kayaknya harus beli stok baru."
"Boleh, gw juga mau nyari sepatu buat Noah."
"Ayok, sini biar Daddy yang dorong." David mengambil alih stroller milik King. Dan kini dua stroller itu dalam genggaman David.
"Thank you, Dad." Ucap Tasya. Kemudian mereka pun beranjak menuju toko pakaian bayi.
"Gila, lucu semua, Mey. Ini muat gak ya?" Tasya mengukur baju pilihannya di badan King yang saat ini di gendong David. Sedangkan Noah masih tidur dalam stroller.
"Yang ini muat, gede soalnya." Mey menunjuk baju yang ada di tangan kanan Tasya.
"Okay, gw ambil yang ini satu, ini juga. Lo pilihin yang lainnya dong." Pinta Tasya mulai bingung memilih karena semuanya terlihat lucu dan menggemaskan.
"Sayang, ini bagus buat Noah. Pasti lucu kalau dia pake." Kata David menunjukkan sepatu bermotif pokemon pada Mey.
"Enggak, Mey gak suka. Terlalu mencolok, cari yang lain aja Mas. Yang agak keren dikit dong, Mas." David tersenyum kikuk.
Tasya terkekeh geli. "Selera Daddy mah kuno." Ledek Tasya.
"Namanya juga Daddy udah tua, kan udah punya cucu. Iya kan, Sayang?" David mengecup pipi gembul King sampai menimbulkan kemerahan.
"Dad, nyiumnya biasa aja dong. Kasian pipinya merah." Protes Tasya.
"Abis gemesin sih, pipinya empuk kayak bakpau. Uncle Noah gak segembul ini."
"Belum aja, tar kalau udah makan pasti gembul juga."
Yang dibicarakan pun mulai menggeliat dan membuka matanya. Bibirnya terus berkedut dan mulai menangis. Mey yang mendengar itu terkejut, meletakkan kembali sepatu yang sedang ia pilih di tempatnya.
"Aduh, tahu aja kalau lagi di omongin." Ucap Tasya mencubit pipi Noah gemas. Sontak tangisannya semakin kecang. Mey pun langsung melotot pada Tasya. Mengambil Noah dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Cengeng banget sih? Cuma noel doang dikit." Tasya terkekeh geli.
__ADS_1
"Kamu juga dulu cengeng pas bayi." Ledek David yang berhasil menudarkan senyuman Tasya.
"Dad, jangan buka aib dong." Kesal Tasya.
"Makanya jangan ganggu adek kamu, kasian Mommy kewalahan buat nenangin Noah." David menatap Mey yang tengah menenangkan putranya.
"Mas, kayaknya Noah haus. Kita cari tempat buat nenenin dia dulu kayaknya. Gak bakal berhenti nangisnya kalau udah haus." Ajak Mey terus mengusap punggung putranya.
"Okay, aku bayar dulu semua belanjaannya. Kalian tunggu di luar." David memberikan King pada Tasya. Mey pun mengangguk dan langsung mendorong strollernya keluar toko. Begitu pun dengan Tasya yang mengekorinya di belakang.
"Mamud, gw ke tempat lain boleh gak? Tar kita ketemu di lobi ya? Noah lama kalau udah *****, tar King bosen. Boleh ya?" Pinta Tasya menidurkan kembali putranya dalam stroller.
"Iya, tapi kabarin gw lo kemana. Takut ilang tar kita juga yang susah." Gurau Mey.
"Emang lo kira gw anak kecil? Udah ah, gw pergi dulu. Jangan lupa bilang sama Daddy, by Mamud." Tasya pun mendorong stroller dan bergegas pergi dari sana.
"Tasya mana?" Tanya David yang baru keluar dari toko.
"Katanya mau bawa King jalan-jalan. Biarin aja dia keliling, kita langsung cari tempat aja. Kasian Noah, Mas."
"Ayok, Sayang." David mengambil alih stroller dari tangan Mey. Kemudian mereka pun beranjak pergi dari sana.
Tasya terus bersenandung sambil melihat-lihat. "Sayang, temenin Mommy beli keperluan kampus ya? Jangan rewel, anak Mommy kan baik."
Tasya mendorong stroller itu memasuki sebuah toko perlengkapan kampus. Namun tanpa ia sengaja stroller bayi itu menyenggol seseorang.
"Sorry gak sengaja, Mbak." Ucap Tasya melirik wanita itu sekilas. Kemudian mengangkat King ke dalam pelukannya. Menenangkan putranya yang masih menangis.
"Tasya!" Pekik orang tadi yang berhasil menarik perhatian Tasya. Sontak netra biru itu melebar saat melihat wajah wanita yang tak sengaja ia tabrak tadi. Kemudian pandangan Tasya pun tertuju pada lelaki berpakaian formal yang digandeng sang wanita. Jantungnya berpacu hebat seperti sedang berlari maraton. Dengan cepat Tasya mengalihkan pandangannya pada wanita itu lagi. Ya, lelaki yang ada dalam gandengan wanita itu adalah Alex.
"Wilona? Sorry tadi gw gak sengaja." Ucap Tasya sempat melirik Alex yang kini tengah menatapnya. Wilona merupakan teman kampus Tasya yang terkenal seksi dan cukup famous di kampus. Hanya saja ia selalu memusuhi Tasya karena sudah mengalahkan kecantikannya akhir-akhir ini. Tentu saja, Tasya masih canti alami, berbeda dengannya yang cantik karena polesan.
Tangisan King belum juga reda, Tasya terus mengusap punggungnya. "Gak papa, Sayang." Bisiknya.
"Anak siapa? Anak lo? Mana Bapaknya?" Tanya Wilona menatap Tasya sinis. Sedangkan yang ditanya malah menatap Alex.
"Bukan urusan lo." Sahut Tasya menidurkan kembali King ke dalam stroller. Dan itu tak luput dari pengawasan Alex. Mata lelaki itu terus tertuju pada King yang masih sesegukkan.
Tasya hendak pergi dari sana, tetapi Wilona langsung mencekal lengannya. "Mau kemana lo? Kabur huh? Lo takut ya karena anak itu beneran anak lo?"
Tasya memutar bola matanya jengah. Menepis tangan wanita itu dengan kasar. "Bukan urusan lo." Tasya pun melangkah pergi dari sana.
"Gw gak nyangka lo udah punya anak, lo kan belum nikah. Anak haram ya?" Teriak wanita itu yang berhasil membuat Alex disebelahnya kaget. Hatinya seolah tak terima wanita itu mengatai anak itu yang tak lain darah dagingnya. Namun mulutnya tak mampu berucap, ia mengingat ucapannya dulu. Di mana dengan gamblangnya ia mengatai anak itu anak haram.
Langkah kaki Tasya pun tertahan saat mendengar itu. Tangannya mencengkram erat stroller. Matanya terpejam karena menahan emosi.
"Kenapa lo diam? Tebakan gw bener ya? Kalo itu anak haram."
__ADS_1
Tasya yang sudah tidak tahan pun berbalik dengan tatapan tak bersahabat.
"Wah, gw salah ya? Kalo lo punya anak haram? Ups, canda anak haram."
Amarah Tasya pun sudah tak terbendung lagi. Dengan langkah cepat ia menghampiri Wilona.
"Apa lo bilang?"
"Anak haram. Apa gw salah? Ngaku aja deh kalau anak itu hasil lo zinah."
Plak! Sebuah tamparan dari tangan Tasya pun mendarat mulus di pipi Wilona. Membuatnya sampai tertoleh ke samping.
"Lo bilang apa tadi huh? Lo ngatain anak gw apa?" Tasya mendorong wanita itu sampai terjungkal kebelakang. Dengan gerak cepat pula Tasya menindih wanita itu. Dan kembali melayangkan tamparan keras. Alex tercengang melihat kemarahan Tasya. Seolah ia masuk kemabali dalam ingatan silam
Tasya terus menghajar wanita itu tanpa ampun. Ia tak pernah terima anaknya dikatai anak haram. Baginya King adalah anak yang suci dan bersih. Tidak ada seorang Ibu yang rela anaknya dihina dan dicaci. Semua orang tidak berani melerai atau sekadar menenangkan Tasya. Wanita itu benar-benar mengerikan saat sedang marah.
Alex sama sekali tidak peduli dengan Wilona. Perlahan kakinya melangkah menghampiri stroller di mana King berada. Bayi itu masih menangis sesegukkan. Alex merasa tersentuh, tanpa sadar ia berjongkok dan mengusap pipi gembul King. "Hey, jangan menangis."
Seperti mendapat ikatan batin, King pun berhenti menangis dan menatap Alex begitu dalam. Tangan mungil itu bergerak meraih jemari besar Alex. Tanpa sadar Alex mengulum senyuman lebar. Ia tak pernah menyangka anak yang sudah ia hina sebelum lahir dulu, kini tumbuh menjadi bayi tampan dan menggemaskan. Bahkan wajah itu bagaikan cerminan dirinya.
Alex kembali tersadar dan menoleh ke belakang, ia terkejut karena Wilona sudah babak belur dibawah Tasya. Dengan gerak cepat ia menghampiri mereka dan menarik Tasya. "Cukup, Tasya."
"Lepasin gw, dia udah hina anak gw di depan umum. Biarin gw habisin wanita sialan itu. Lepasin gw." Tasya terus memberontak dan hendak menendang Wilona. Namun dengan sigap Alex menariknya agar menjauh dari Wilona.
Tasya yang masih emosi pun memutar tubuhnya dan mendorong Alex sekuat tenaga. Matanya terlihat memerah karena diselimuti amarah yang memuncak. "Puas lo huh? Puas lo liat gw kayak gini? Dulu lo yang hina anak gw, sekarang pacar lo juga lakuin hal yang sama. Brengsek kalian berdua!" Tasya memukul dada Alex sekuat tenaga dan langsung meninggalkannya. Alex terdiam mematung seolah tertampar dengan ucapan Tasya.
Tasya mendorong stroller dengan langkah cepat dan ingin secepatnya menjauh dari lelaki itu. Tangisannya pecah seketika, pandangannya juga terus mengabur. Tasya menjatuhkan dirinya di sebuah bangku, kakinya mendadak lemas. Bahkan tangisannya tak kunjung redam. Tasya melihat King yang kini terus menatapnya. Lalu membawa anaknya itu dalam gendongan. Mendekapnya dengan erat.
"Mommy minta maaf, Mommy janji. Mommy gak akan membiarkan orang lain menghinamu lagi. Mommy janji. Apa pun akan Mommy lakukan agar kamu tidak mendapatkan hinaan lagi. Mommy minta maaf, Sayang." Tasya menangis sesegukkan menahan rasa sakit di dadanya.
Tanpa ia sadari sejak tadi Alex mengikuti dan terus mengawasinya. Lelaki itu hendak mendekati Tasya, tetapi langkahnya tertahan karena Mey dan David lebih dulu datang.
"Sya! Lo kenapa?" Pekik Mey kaget melihat kondisi Tasya yang cukup berantakan dan dalam keadaan menangis. Mey memberikan Noah pada David. Kemudian duduk di samping Tasya dan memeluk sahabatnya dengan lembut.
"Ada apa, Baby?" Tanya David yang juga merasa heran.
"Mereka terus hina anak gw, Mey. Mereka jahat." Adu Tasya menangis pilu dalam dekapan Mey. Bahkan saat ini King masih dalam dekapannya.
"Mereka siapa, Sya? Siapa yang berani hina anak lo huh? Dia cari mati." Mey mengedarkan pandangan keseluruh penjuru mall. Sampai matanya menangkap perawakan seseorang yang sudah lama tak ia temui dan tentu saja masih ia kenali. Siapa lagi kalau bukan Alex.
Sialan! Jadi dia lagi. Umpat Mey dalam hati.
Andai saja saat ini tidak ada David. Mungkin saja Mey sudah menghabisi orang itu.
"Sayang, sebaiknya kita bawa Tasya pulang. Kasihan King." Ajak David yang sebenarnya masih penasaran dengan apa yang terjadi pada putrinya. Namun kondisi saat ini sepertinya tak memungkinkan untuk bertanya.
"Kita pulang." Ajak Mey dengan pandangan yang masih tertuju pada Alex. Tatapan permusuhan yang begitu kental. Kemudian Tasya pun mengangguk. Mereka beranjak meninggalkan tempat itu tanpa suara. Membiarkan Tasya kembali menata hatinya yang tengah hancur.
__ADS_1