Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 59


__ADS_3

Mey terus merengut sepanjang jalan pulang karena David marah lagi soal pengusiran Ingrid tadi. Lelaki itu melirik istrinya sesakali.


"Bababa...." Mey tersentak saat mendengar Noah mengoceh. Bayi mungil itu sudah terbangun dari tidurnya.


"Eh, anak Mommy udah bangun." Mey mengecup kening putra kecilnya dengan penuh kasih sayang. "Mommy gak bosan lagi deh Adek udah bangun, kayak patung tahu gak Mommy di sini."


David yang mendengar itu langsung menoleh. Sedangkan Mey masih asik mengoceh dengan Noah.


"Iya, kenyang ya boboknya? Gak bisa kena AC dikit, pasti pules banget boboknya." Noah tersenyum mendengar Mommynya mengoceh. Sesekali bayi mungil itu menarik kemeja Mey.


"Mey." Panggil David yang tak dihiraukan oleh si empu.


"Adek mau mimik? Tar aja di rumah ya? Nanggung soalnya sebentar lagi sampe." Mey mendirikan putranya. Kemudian mengecup hidung kecil itu dengan gemas.


Sesampainya di rumah, Mey langsung masuk ke rumah tanpa bicara pada David. Lelaki itu berdecak kesal, juga mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor. Kemudian ikut masuk ke dalam.


Sesampainya di kamar. Mey langsung berbaring karena Noah terus merengek karena haus. Tanpa sadar air matanya meluncur. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana David berbincang dengan Ingrid tadi. Bahkan lelaki itu meninggalkannya hanya untuk bicara dengan wanita itu setelah perdebatan panjang.


"Mommy sedih, Daddy kamu jahat tahu gak? Sama Mommy aja gak mau ngomong. Giliran sama orang lain ramahnya gak ketulungan. Siapa cobak yang gak kesal? Kamu jangan gitu ya dek kalau udah punya istri nanti. Sakit banget hati Mommy." Ujar Mey mengecupi tangan mungil Noah. Bahkan ia tak menyadari David sudah masuk ke kamar dan mendengar keluhannya.


"Mommy tahu, Mommy memang salah." Punggung Mey bergetar karena menahan isakkan. David yang melihat itu beranjak duduk di sisi ranjang. Mey yang merasakan pergerakan pun menghapus jejak air matanya dengan cepat.


"Mey." Panggil David seraya menyentuh punggung istrinya. Mey mengehela napas berat.


"Kamu gak ke kantor?" Tanya Mey tanpa melihat lawan bicaranya.


"Sebentar lagi." Jawab David.


"Hm." Mey kembali terdiam.


"Mey, aku minta maaf masalah tadi. Aku cuma kesal karena kamu terus bicara tak menentu. Makanya aku pindah ke meja Ingrid."


"Mas gak perlu minta maaf, Mey yang salah karena terlalu banyak bicara. Mulai sekarang Mey gak akan banyak bicara lagi." Sahut Mey seraya bangun dari posisinya. Kemudian beranjak dari ranjang menuju closet untuk berganti pakaian. Tidak perlu lama, Mey pun sudah berganti pakaian santai. Seperti biasa, wanita itu hanya mengenakan hotpants dan kaos oversize kesukaannya. Kemudian ia duduk kembali di samping Noah. Dan semua itu tak lepas dari pengawasan David.


"Keluar yuk, Mommy kangen King." Ajak Mey seraya menggendong Noah.


"Mey." David menahan lengan istrinya.


"Apa lagi, Mas?" Mey menatap David sekilas.


"Aku mau ngomong sesuatu."


"Nanti aja, lagi gak mood." Sahut Mey yang kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar. Lagi-lagi David berdecak sebal dan mengekori istrinya.


"Ingrid mau nitip Laura di sini beberapa hari." Kata David yang berhasil menahan langkah Mey. Wanita itu pun berbalik.


"Ngapain? Rumah ini bukan tempat penitipan anak? Siapa yang mau jaga? Emang dia gak punya keluarga apa?" Rentetan pertanyaan pun Mey lontarkan pada suaminya.


David menghela napas gusar. "Ingrid tidak punya keluarga di sini."


"Kalau begitu bawa aja, dia kan punya suami. Lagian siapa yang mau jaga dia disini? Bik Nina gak mungkin kan? Kasian terus-terusan di suruh jaga anak."

__ADS_1


Omel Mey melupakan kata-katanya untuk tak banyak bicara lagi.


"Ingrid juga tidak punya suami."


"Apa? Jadi Laura?"


"Apa itu penting untuk di bahas Mey?"


Mey berdeham kecil. "Pokoknya aku gak setuju. Bilang aja dia mau cari perhatian kamu, kamu pikir aku gak tahu apa dia itu suka sama kamu. Aku bisa liat dari cara dia mandang kamu. Aku rasa dia juga sengaja ngekorin kamu. Gak usah kegatelan deh pake acara nolong dia segala."


"Mey, ini bukan saatnya untuk cemburu. Ingrid harus melakukan perjalanan bisnisnya dan gak ada yang bisa jaga Luara, kasian dia masih kecil."


"Terus selama ini dia tarok Laura di mana sebelum bertemu kamu? Penitipan anak banyak di sini Mas. Gak usah banyak alasan. Kenapa gak sewa baby sitter aja cobak? Dia kerja kan?" Protes Mey masih tak setuju dengan keputusan David.


"Baby sitter dia lagi sakit." Sahut David.


"Terus kamu percaya? Alasan basi itu mah. Hari ini dia nitip anaknya, jangan sampe besoknya dia bilang anak itu anak kamu, Mas. Males dengar drama gitu-gitu aja. Pokoknya aku gak setuju. Suruh aja dia titip sama orang lain. Gak usah pake alasan Bik Nina bisa jaga. Bik Nina udah capek terus jaga King sama Noah." Cerocos Mey tak ada habisnya. Wanita itu pun melanjutkan langkahnya.


"Tapi aku sudah terlanjur setuju, Mey."


"Itu urusan kamu, pikirin gimana cara nolaknya." Mey menekan timbol lift dengan kasar. "Makanya kalau buat keputusan itu dipikirin dulu. Kamu itu punya istri manusia, bukan patung."


"Mey." David memperingati.


"Terserah, yang jelas aku gak setuju." Mey masih kekeh dengan keputusannya. "Dari awal aku ketemu dia emang gak srek. Kayak punya niat terselubung."


"Kamu gak bisa suuzon sama orang, Mey." Protes David.


David menghela napas berat. "Cuma dua hari, Mey." Bujuknya.


"Besoknya seminggu, percaya deh, Mas." Sanggah Mey.


"Mey, gak perlu cemburuan gitu. Ini bukan masalah Ingrid tapi anaknya." Ujar David bersamaan dengan terbukanya pintu lift.


"Terserah. Kalau emang kamu mau jaga dia ya jaga aja. Jangan suruh-suruh Bik Nina, aku atau pun Tasya. Kami punya tugas masing-masing." Pungkas Mey yang kemudian menutup mulutnya rapat-rapat.


David menatap punggung Mey yang melenggang pergi menuju kamar Tasya.


****


Keesokan paginya, Ingrid benar-benar mengantar Laura ke rumah. Dan hal itu tentunya membuat Mey semakin marah. Bahkan Mey benar-benar tak bicara sepatah kata pun pada David.


"Bik, titip Noah sebentar ya? Aku ke kampus cuma satu mata kuliah aja kok. Oh iya, kalau Noah nangis hubungin aku aja ya, Bik?" Mey menyomot roti panggang.


"Baik, Nya."


"Makasih, Bik." Ucap Mey tersenyum ramah. Tidak lama David pun muncul bersama Laura. Mey yang melihat itu mendengus sebal.


"Eh, anak siapa Dad?" Tanya Tasya yang juga ikut bergabung.


"Tante Ingrid, kamu ingat kan?" Jawab David seraya menatap Mey yang masih setia mengunyah roti panggang.

__ADS_1


"Owh, ingat-ingat lupa sih. Kenapa di sini?" Tasya menatap Mey heran. Gak biasa Mamudnya itu diam.


"Tante Ingrid ke luar kota beberapa hari, baby sitter Laura sakit jadi dia titip sama kita." Jawab David.


"Terus siapa yang jaga Laura, Dad?" Tanya Tasya menatap anak itu lamat-lamat.


"Daddy akan membawanya ke kantor." Jawab David yang berhasil mendapat perhatian Mey.


"Wah, Noah ada saingan baru ceritanya nih?" Gurau Tasya.


"Noah gak akan mau bersaing sama orang asing." Kali ini Mey ikut menimpali. Namun nada bicaranya benar-benar dingin. Tasya merasa heran mendengar itu.


"Sya, lo pergi sama siapa?" Tanya Mey yang berhasil membuat Tasya kaget.


"Eh, itu... sama... sama...."


"Kenapa kamu gugup gitu, Sasa?" Tanya David menatap putrinya lekat.


"Itu, Dad. Sebenarnya... Sasa, Sasa pacaran sama Alex. Jadi mulai sekarang dia yang antar jemput Sasa ke kampus." Jawab Tasya dengan cepat.


"What?" Pekik David dan Mey bersamaan.


"Daddy gak setuju."


"Gw setuju." Mey menatap suaminya tajam.


"Aku gak setuju, Mey. Dia lelaki brengsek."


Mey mengalihkan perhatiannya pada Tasya. "Gw setuju, Sya. Dia emang brengsek, tapi dia cowok yang baik dan selalu ngertiin hati perempuan."


"Aku gak setuju, Mey."


"Apa kamu peduli saat aku nolak Laura dititipkan di sini? Aku juga bisa keras kepala dan mendukung hubungan Tasya dan Alex. Manusia bisa berubah, Mas. Beda sama kamu yang gak berubah sejak dulu." Tukas Mey yang langsung beranjak pergi. Tasya terkejut melihat sikap Mamudnya itu.


"Dad, kenapa Daddy bawa anak ini kalau Mey gak setuju? Runyam kalau gini urusannya. Daddy lupa Mey itu istri Daddy? Dia punya hak di rumah ini." Ujar Tasya menatap sang Daddy bingung.


"Dia cuma cemburu gak menentu sama Ingrid." Jawab David sekenanya.


"Semua istri pasti cemburu, Dad. Sasa juga pasti cemburu kalau liat Alex deket sama cewek lain, apa lagi sampe bawa-bawa anak segala." Jelas Tasya.


"Tapi Ingrid lagi butuh bantuan, Sayang. Hari ini dia butuh kita, mungkin besok kita butuh dia."


"Sasa tahu, Dad. Tapi jangan sampe nyakitin hati Mommy juga. Tante Ingrid itu juga perempuan yang notabennya pernah dekat sama Daddy. Jelas aja Mommy cemburu. Sekarang Sasa tanya, apa Tante Ingrid sudah bersuami?"


David terdiam sejenak. Kemudian menggeleng pelan.


Tasya menghela napas gusar. "Sebaiknya Daddy jaga jarak sama Tante Ingrid. Jangan sampai kedekatan kalian jadi bomerang dalam kelurga kita, Dad. Daddy masih ingat kejadian Tante Nindy kan? Jadikan itu pelajaran."


David terdiam dan berusaha mencerna nasihat putrinya.


Tasya bangun dari posisinya karena ia sudah selesai sarapan. "Ya udah, Sasa pergi dulu. Jangan buat Mommy marah lagi." Pungkas Tasya seraya mencium pipi David. Kemudian menatap Laura sekilas dan bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2