
"Sudah aku katakan bukan? Pertama-tama dia akan memintamu menjaganya dua hari, selanjutnya seminggu. Besoknya dia akan memintamu menjaganya seumur hidup. Pegang saja perkataanku. Aku rasa kecurigaanku benar, Laura itu anakmu, Mas." Cerocos Mey panjang lebar. Ia benar-benar kesal pada suaminya. Terutama wanita itu yang sudah menciptakan bomerang dalam rumah tangganya.
Karena sangat kesal, Mey menghidupkan musik dengan suara kencang. Namun dengan cepat David matikan. Ya, saat ini keduanya memang sedang dalam perjalanan.
"Mey, kamu ngomong apa sih? Aku gak pernah menjalin hubungan apa pun sama Ingrid. Cuma sebatas sahabat, itu aja." Jelas David jujur.
"Kamu anggap dia sahabat, lalu dia sama kamu gimana? Omong kosong kalau dalam perhabatan antara cewek dan cowok gak ada perasaan. Pasti ada salah satunya."
David terdiam sejenak. "Tapi aku gak merasa pernah tidur sama dia, Mey."
"Mungkin aja kamu lupa, atau dia sengaja jebak kamu."
"Ingrid gak mungkin lakuin itu, Mey."
"Ya, dia kan wanita baik-baik. Itu kan yang mau kamu bilang?"
"Cukup, Mey. Aku capek debat terus sama kamu."
"Aku juga capek Mas, aku capek sama sikap kamu yang selalu berubah-ubah. Aku cinta sama kamu karena itu aku takut kehilangan kamu. Apa aku salah kalau aku cemburu? Kamu suami aku, Mas." Tangisan Mey pun pecah. "Gimana kalau Laura beneran anak kamu dan Tante Ingrid minta kamu tanggung jawab? Terus gimana sama aku dan Noah, Mas?"
David menepikan mobilnya. Kemudian menarik Mey agar duduk dipangkuannya. Tangan kekar itu mengusap lembut jejak air mata di pipi istrinya. "Apa pun yang terjadi, aku akan tetap milih kamu, Mey. Karena aku juga cinta sama kamu. Percaya sama aku, Mey."
Mey menunduk lemas. Hatinya masih berperang dengan rasa takut.
David menarik dagu istrinya, mengunci netra coklat itu dalam-dalam. "I love you so much. Aku tak akan pernah melepaskan permata sepertimu, Mey. Gak akan pernah."
David meraih bibir istrinya, m*lum*atnya dengan penuh perasaan. Ciuman itu semakin dalam dan menuntut lebih. David menyudahi cecapannya, memberikan waktu untuk sang istri bernapas. Kemudian mengecupnya sekilas. Mata lelaki itu juga tampak sayu.
"Mey, habis ngampus ke kantor ya? Aku kangen kamu, satu jam aja udah boleh." David memberikan tatapan memohon.
Mey tampak berpikir keras. Kemudian mengangguk setelahnya.
"Jangan marah-marah lagi, aku gak bisa nahan terlalu lama." Mohon David.
"Tergantung kamunya." Sahut Mey kembali menyesap bibir suaminya. "Manis." Puji Mey tersenyum nakal.
"Dasar nakal. Udah sana balik ke tempat duduk. Aku bisa telat meeting kalau gini."
"Ck, kamu pikir aku gak telat apa?" Mey memukul dada bidang suaminya. Kemudian membenamkan wajahnya di leher David.
David tersenyum geli. "Katanya telat? Mau sampe kapan gini terus?"
"Bentar lagi, aku ngantuk semalam gak bisa tidur." Keluh Mey melingkarkan kedua tangannya di pinggang David.
"Kamu udah telat, Mey."
"Aku gak mau masuk kelas, ikut kamu aja ke kantor."
"Kamu yakin? Aku mah hayuk aja."
Mey mengangguk yakin. "Tapi aku ada meeting, dua jam baru selesai. Yakin mau nunggu?"
__ADS_1
"Gak papa, aku nunggu kamu sambil tiduran sebentar. Noah makin rewel, untung minggu depan udah masuk enam bulan. Jadi udah bisa aku kasih mpasi. Anak kamu itu banyak benget tingkahnya sekarang." Omel Mey masih setia memeluk David.
"Kayaknya dia banyak tingkah karena ikut kamu gak? Kamu kan banyak tingkah pas hamil dia. Manjat loteng lah, manjat pohonlah, sampe buat aku kalang kabut."
Mey tertawa renyah saat memutar kembali memorinya saat hamil dulu. "Habis seru sih bikin kamu panik, muka kamu lucu."
"Ya udah sana pindah," titah David.
"Ck, kamu juga yang narik aku tadi." Mey pun pindah ke posisinya semula. Memasang seat belt dan menghidupkan musik. "Aku lapar, tadi gak sempat sarapan. Habis kamu bikin kesel."
"Kita beli di depan, makan di kantor aja. Aku udah telat."
"Okay."
Sesampainya di kantor. David langsung menuju ruang meeting, sedangkan Mey ke ruang kerjanya.
"Ah... enak banget." Mey menjatuhkan bokongnya di sofa empuk. Kemudian membuka bungkus nasi yang dibelinya tadi. Ia pun menikmati sarapan paginya seorang diri. Meski begitu, ia tetap menikmatinya. Hitung-hitung terbebas dari si bocil untuk beberapa saat.
Setelah sarapan, Mey pun beranjak menuju kamar khusus tempat David beristirahat. Ia duduk di ranjang berukuran sedang. Kemudian mengeluarkan ponselnya dari tas. Dan langsung menghubungi Bik Nina untuk menanyakan kondisi putra kecilnya.
"Halo, Bik." Sapa Mey saat wajah Bik Nina muncul di layar ponselnya. Ya, Mey memang melakukan video call dengan Bik Nina.
"Ada apa, Nya?" Tanya Bik Nina tersenyum ramah.
"Cuma mau tanya Noah, masih rewel gak Bik?"
"Enggak lagi, Nya. Dari tadi asik main sama Non Laura. Seneng banget kayaknya si aden punya temen main." Bik Nina pun mengarahkan kameranya pada Noah dan Laura. Gadis kecil itu terlihat sedang mengajak Noah bicara. Sesekali Noah teriak dan tertawa seakan sedang menanggapi Laura. Mey yang melihat itu tersenyum lega.
"Iya, Nya."
"Oh iya, Laura udah makan Bik?" Tanya Mey lagi.
"Udah tadi, Nya. Itu pun harus di bujuk dulu." Jawab Bik Nina.
"Iya gak papa, Bik. Yang penting dia mau makan. Jangan sampe anak orang kurus cuma ditinggal dua hari di rumah kita." Ujar Mey terus memperhatikan Laura yang terlihat menyayangi Noah. Seketika pikiran buruknya kembali muncul. "Bik, menurut Bibik Laura mirip Tasya gak sih?"
Bik Nina tak langsung menjawab. Sepertinya wanita paruh baya itu tengah memperhatikan Laura. "Mirip dikit, Nya. Kenapa Nyonya nanya gitu?"
"Enggak sih, cuma nanya aja. Aku rasa Bibik paham maksudku kan?" Mey menghela napas berat.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Nya. Tar malah sakit, percaya aja semuanya cuma perasaan Nyonya doang. Gak mungkin kan Tuan sembunyiin rahasia besar."
"Bibik bener, gak seharusnya aku berprasangka buruk. Tapi kan Bik.... gak jadi deh. Ya udah, aku tutup dulu ya, Bik?"
"Iya, Nya. Si adennya lagi anteng." Mey tersenyum mendengar itu.
"Assalamualaikum, Bik."
"Waalalaikumsalam."
Mey pun menekan tombol end, meletakkan ponselnya asal. Kemudian berbaring di sana. Matanya menerawang lurus ke langit-langit. Sampai rasa kantuk pun perlahan menyerang dan mengikis kesadarannya.
__ADS_1
****
Mey terbangun dari tidurnya karena merasa ada sesuatu yang menggerayangi tubuhnya. Benar saja, saat ini David sudah berada di atasnya. Memainkan dua gunung kembar miliknya .Bahkan ia terkejut karena suaminya sudah tak berbusana. Begitu pun dengan dirinya. Pakaian yang ia kenakan kini sudah berceceran di lantai. Sebegitu nyenyaknya ia tidur sampai tak menyadari David melakukan itu?
"Maaf, Sayang. Aku main duluan karena udah gak tahan. Berapa hari cobak kamu gak kasih jatah. Tadi mau bangunin kamu kasihan, pules banget kamu tidurnya."
"Emang kamu gak kerja apa?" Mey menggigit ujung bibirnya saat David semakin gencar menjamah setiap lekuk tubuhnya.
"Kerja, tapi nanti habis ngerjain kamu." David tersenyum jahil dan langsung menyambar bibir tipis istrinya. Mey terlihat pasrah karena ia pun merindukan sentuhan suaminya.
"Mas... gak tahan. Jangan di mainin terus dong. Cepet masukin." Rengek Mey terus menggigit bibir bawahnya. Sedangkan David tersenyum penuh kemenangan saat melihat istrinya yang mulai dikuasai kenikmatan yang luar biasa.
"Dasar nakal, belum apa-apa udah becek."
Mey menjerit tertahan saat milik suaminya masuk dengan sempurna ke dalam liang surgawinya. "Jangan gerak dulu, sakit banget."
"Kok masih sakit aja sih? Kayak baru pertama aja. Punya kamu kayaknya awet banget. Padahal Noah juga lahir lewat sini kan?"
Mey pun mengangguk dengan mata terpejam. Menahan antara rasa ngilu dan enak. "Udah."
"Udah apa, Sayang?" Goda David.
"Udah bisa gerak, Mas. Cepetan." Kesal Mey. David yang mendengar itu malah tersenyum senang. Kemudian mulai menggencarkan aksinya. Mey mencengkram erat punggung suaminya saat merasakan sesuatu yang hampir meledak dalam dirinya.
Satu jam lebih keduanya terhanyut dalam permainan panas. David menjatuhkan diri di samping istrinya. Kemudian memeluk dan mengecup istri kecilnya. "Makasih, Sayang."
Mey mendongak, tangannya ikut bergerak untuk menyentuh rahang David. "Kamu nembaknya di dalam, Mas. Gimana kalau aku hamil lagi?"
"Lahirin aja, aku gak keberatan banyak anak."
"Ck, kamu mah enak gak perlu negrasain sakit sama capeknya jaga anak. Aku minum pil kb aja nanti ya? Belum siap buat hamil lagi. Sakitnya masih kerasa."
"Buatnya sakit gak?"
"Enggak, enak malah. Eh... kok malah nanya itu sih?" Mey terkejut dengan jawabannya sendiri. Dan itu berhasil mengundang tawa David.
"Polos banget kamu, Mey. Gak bisa dipancing dikit. Ya udah tidur aja bentar, nanti pulang kita ketemu dokter buat konsul masalah pil kb. Aku tahu kamu masih repot jaga Noah." Ujar David mememuk istrinya semakin dalam.
"Makasih, Sayang." Ucap Mey memberikan kecupan di rahang suaminya.
"Jangan di situ, di sini aja." David menunjuk bibirnya.
"Enggak mau, tar keterusan. Udah ah, aku ngantuk mau tidur sebentar. Habis itu pulang, takut Noah nangis." Mey pun memejamkan mata.
"Hm. Susah memang kalau udah ada bontot. Gak bisa Daddynya lama-lama kayak gini."
"Noah hadir juga karena perbuatan mesum kamu."
"Sakit, tapi enak." Bisik David dengan nada sensual. Mendengar itu Mey kembali membuka matanya. Pipinya pun merona bak kepiting rebus.
"Jangan ungkit itu lagi, malu tahu." Rengek Mey membenankam wajahnya di dada sang suami. David pun tertawa renyah.
__ADS_1