
Satu tahun kemudian....
"Wah, mana nih jagoan Daddy dan Grandpa." Seru David menghampiri dua bayi kecil yang tengah bermain di gazebo belakang. Lelaki itu langsung mengecup kedua bayi mungil yang begitu menggemaskan.
Noah Zayden Lander, bayi mungil berkulit putih bersih yang hampir sembilan puluh persen mewarisi wajah sang Daddy. Bayi itu tersenyum senang saat melihat wajah Daddynya. Saat ini Noah sudah berusia lima bulan. Dan di sebelahnya terlihat bayi tampan yang tak kalah menggemaskan. Kingsley Johnathan Lander, putra kecil Tasya yang usianya satu bulan di atas Noah. Karena bayi itu lahir saat usia kandungan yang baru memasuki delapan bulan. Sedangkan Mey melahirkan tepat di usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari.
Noah, bayi mungil itu mengangkat kedua tangan meminta agar sang Daddy menggendongnya. Dengan senang hati David langsung membawanya dalam gendongan. Mengecupi pipi gembul putranya dengan gemas. "Anak Daddy berat banget sih, kebanyakan minum mimik ya? Sampe Daddy gak kebagian."
"Mas, jangan mulai lagi deh. Kok tumben kamu cepat pulang?" Mey menatap suaminya penuh tanya.
"Kebetulan kerjaan di kantor dikit. Jadi aku langsung pulang, kangen sama dua jagoan soalnya." Jawab David seraya membawa King dalam gendongannya juga. Dua bayi itu terus menggoyangkan tubuhnya sangking senangnya.
"Tasya belum pulang?" Tanya David saat tak menemukan keberadaan putrinya.
"Baru aja berangkat, Mas. Dia kena jam siang, jadi gantian jaga Baby." Jawab Mey mengelap air liur putranya.
Sudah jalan dua bulan Mey maupun Tasya mulai aktif kuliah. Keduanya sengaja mengambil jam berbeda supaya bisa bergantian untuk menjaga dua bocil. Kadang ada saatnya mereka dalam satu jadwal, dan Bik Nina lah yang menjaga dua bocil itu sampai Tasya dan Mey pulang.
"Kan udah aku bilang cari baby sitter aja, kalian malah bandel. Yang repot kalian juga kan harus bagi waktu antara kuliah dan jaga anak." Protes David menatap istrinya yang terlihat agak kurusan.
"Ck, gak repot juga sih kalau Noah gak rewel. Mungkin pas jadwal kuliah mulai padat baru deh kami cari baby sitter. Lagian cuma Noah doang yang sering rewel gak mau ditinggal. Kalau King mah baiknya gak ketulungan."
"Ikut Mommynya, cerwet, bandel dan gak bisa diatur." Ledek David yang disambut teriakan oleh Noah.
"Eh, emang ngerti ya Daddy ngomong apa?" David mencium pucuk kepala Noah dengan gemas.
"Untuk sekarang Mey sama Tasya masih bisa jaga mereka. Kami gak mau lewatin perkembangan mereka. Liat tuh anak kamu, udah mulai tengkurap. Gak bisa lagi kalau di tarok di atas kasur." Adu Mey tentang tingkah baru anaknya.
"Namanya juga udah besar ya kan, Dek?"
"Sini King sama aku aja, Mas." Mey mengambil King dalam gendongannya. Mengusap sisa roti yang menempel di pipi bayi gemuk itu.
"Mey, kok King kayak mirip siapa gitu ya? Aku kayak pernah liat wajah dia, tapi gak tahu dimana dan siapa?"
Sontak Mey terkejut mendengar itu. "Eh, emang mirip siapa, Mas?" Mey agak gugup. Ia takut David menyadari jika King mirip dengan wajah Ayanya, Alex.
"Kalau aku ingat gak aku tanya sama kamu, Mey. Gemesin kamu." Kesal David. Sedangkan yang dikatain malah cengengesan. Mey mengecup pucuk kepala King dengan penuh kasih sayang.
Mudah-mudahan Mas David gak inget sama Alex. Sabar ya Dek, Ayah kamu sih jahat banget. Belum liat aja kalau kamu itu gemesin.
"Mey."
"Hm." Mey terperanjat kaget saat David menyebut namanya.
"Tar malam udah bisa kan? Seminggu lebih aku nahan Mey." Bisik David memasang wajah memelas. Karena sudah satu minggu lebih Mey kedatangan tamu bulanan. Jadi dirinya belum mendapat jatah. Belum lagi mereka harus menunda karena Noah menangislah, rewel dan kadang anak itu tidak tidur sampai pagi. Pada akhirnya David harus berendam air dingin.
"Ck, kirain apa? Tergantung, kalau Noah gak rewel bisa aja sih." Jawab Mey sekenanya.
"Jangan rewel ya sayang, Daddy kangen Mommy kamu." Pinta David pada putranya. Sedangkan yang diajak ngomong sama sekali tak merespon. Mey yang melihat itu tertawa renyah.
"Kamu ada-ada aja, Mas. Noah malah kamu ajak ngomong nyeleneh, mana paham dia." David tertawa renyah mendengarnya.
"Gimana kuliah kamu, lancar?" Tanya David kembali dalam pembahasan serius.
"Lancar, banyak temen baru juga. Ternyata asik juga ya kuliah. Banyak wawasan baru yang Mey dapat."
"Namanya juga kuliah, Mey. Pasti ada aja hal baru yang kita dapat. Asal rajin aja cari kesempatan. Jangan cuma jadi mahasiswa kupu-kupu."
"Hah? Kupu-kupu?" Tanya Mey bingung.
"Kuliah pulang kuliah pulang, Mey." Jawab David semakin gemas pada istrinya itu.
"Ih, kamu ledek aku sama Tasya ya? Lagian kalau gak pulang kasihan Noah sama King. Tar kalau orang ini haus gimana? Apa lagi anak kamu gak bisa minum semua jenis susu formula."
"Namanya juga anak sultan, harus beda dari yang lain. Gak boleh sembarangan minum susu."
__ADS_1
Mey mendengus kesal mendengarnya. "Mas, hari minggu jalan-jalan ke Mall yuk. Bosen di rumah terus, Noah sama King juga gak pernah keluar rumah selain ke rumah sakit buat cek up."
"Boleh."
"Beneran?"
"Iya, Sayang."
Mey memekik girang mendengar itu. Setelah melahirkan, Tasya dan Mey memang tidak pernah jalan-jalan seperti biasanya. Keduanya terlalu sibuk mengurus anak masing-masing.
****
Di kampus, Tasya terus menghindari seorang laki-laki berperawakan jangkung. Sudah satu bulan lebih lelaki itu terus mengejarnya.
"Sya, Sya... tunggu sebentar." Pinta lelaki itu menahan Tasya yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Apa lagi Gib? Gw harus pulang." Tasya menarik tangannya dari lelaki itu. Memutar bola matanya jengah.
"Kita harus ngomong, gw belum minta maaf secara langsung soal masa sekolah dulu." Kata lelaki itu menatap Tasya lekat.
Tasya menatap lelaki itu sekilas, lalu melipat tanganya di dada. "Gw udah lupain masa lalu." Ketus Tasya.
"Tetap aja gw minta maaf, gw bully lo karena gw suka sama elo sejak lama. Gw gak tau mau ngungkapinnya gimana jadi gw sengaja deketin lo lewat ejekan. Tapi gw beneran suka sama lo, Sya." Jelas lelaki bernama Gibran itu jujur. Gibran merupakan kakak kelas Tasya yang dulu sering membulinya. Lelaki yang pernah mendapat tonjokkan maut dari Mey.
"Terus?"
"Kasih kesempatan buat gw, gw mau ngejar lo, Sya." Mohon lelaki itu.
"Gw gak sempat buat ladenin lo." Tolak Tasya.
"Please, kasih gw kesempatan." Gibran kembali memohon. Ia benar-benar mencintai Tasya sepenuh hatinya.
"Sorry, gw gak bisa Gib." Tasya membuka pintu mobil dengan kasar dan hendak masuk ke dalam.
"Gw bakal terima elo apa pun keadaannya, Sya. Termasuk anak lo."
"Gw sering pantau lo, gw tahu pas elo hamil sampe anak lo lahir. Gw udah bilang kan kalau gw serius sama lo." Jelas Gibran meraih tangan Tasya.
"Lo... lo tahu siapa Ayah anak gw?" Tanya Tasya mulai waswas. Ia tidak ingin orang lain tahu tentang identitas anaknya. Dengan susah payah ia menyembunyikan King dari publik.
"Ck, kalau itu gw gak tahu. Gw juga gak mau cari tahu, karena gw yakin lo juga gak ambil pasal soal Bapak anak lo. Kasih gw kesempatan, Sya." Gibran menggenggam tangan Tasya erat.
Tasya menghela napas lega karena Gibran tidak tahu siapa Ayah kandung King. "Kasih gw waktu." Putus Tasya menarik tangannya.
"Jadi lo mau kasih gw kesemapatan, Sya?"
Tasya mengangguk pelan. "Tapi jangan kejar gw terus, gw malu sama anak-anak lainnya. Kasih gw waktu buat bisa nerima lo." Tasya terkejut saat Gibran menarik dan memeluknya dengan erat.
"Akh... makasih banyak, Sya. Udah lama banget gw nunggu ini."
"Hm. Lepasin gw." Tasya menarik diri dari dekapan lelaki itu. "Gw harus balik, takut anak gw nangis. See you."
"See you to." Balas Gibran dengan senyuman manisnya. Tasya tersenyum tipis dan bergegas masuk ke dalam mobil. Tasya melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus. Tatapannya kosong seolah tak ada kehidupan.
Apa yang udah gw lakuin? Gw kasih Gibran kesempatan saat hati gw masih buat orang lain? Jahat banget gak sih gw? Tapi gw juga pengen sembuh dari sakit ini. Sampe sekarang dia gak pernah datang nemuin gw, atau sekadar nanyain kabar King. Hah, apa lagi yang lo harepin Sya? Sejak awal dia gak bakal nyari elo.
Tanpa sadar air mata Tasya menetes. Padahal sudah lama Tasya tidak menangis, terakhir kali dirinya menangis itu saat melahirkan King. Dan itu pun tangisan haru bukan kesedihan.
"Lo gak boleh gini terus, lo harus kuat. Sekarang lo punya King yang harus lo bahagiain. Buka lembaran baru Sya. Udah saatnya lo lupain dia." Tasya mencoba meyakinkan hatinya. Menarik napa dalam-dalam dan menghapus jejak air matanya. Tasya mengulas senyuman lebar. "Mommy kangen King."
Tasya mempercepat laju mobilnya. Ia sangat meridukan putra kecilnya yang ia tinggalkan selama beberapa jam.
Lima belas menit kemudian, mobil mewah milik Tasya memasuki peraratan rumah. Tasya langsung turun dari mobilnya dan sedikit berlari memasuki rumah. "Mommy pulang." Teriaknya.
"Mommy mandi dulu ya, Sayang." Imbuhnya yang langsung bergegas menuju kamar. Ia tahu saat ini putranya masih berada di kamar Mey.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Tasya langsung bergegas menuju lantai atas. Ia sudah tidak sabar memeluk pangeran tampannya. Tasya masuk ke kamar orang tuanya dengan langkah pelan.
"Tidur?" Tanyanya saat melihat Mey sedang menyusi Noah.
"Iya, tadi habis nangis dia langsung makan. Habis mandi malah bobok. Kok lama banget pulangnya? Bukanya cuma satu mata kuliah?"
"Tadi ada jam ganti, dadakan banget dosennya ngomong. Makanya gw telat pulang." Jawab Tasya menghampiri box bayi di mana putranya berada. Ia tersenyum hangat saat melihat wajah tenang King saat sedang tidur seperti ini.
"Jangan ganggu dulu, dia baru aja tidur." Kata Mey sembari membenarkan posisi Noah.
Tasya mengangguk dan menghampiri Mey yang masih setia menyusui anaknya. "Lahap banget nenennya." Tasya menekan hidung mancung adiknya. Sontak bayi menggemaskan itu moleh dan berhenti menyusu. Noah tersenyum dan meminta digendong.
"Kangen ya sama Kakak cantik?" Tasya pun langsung menggendong Noah. Bayi itu tertawa riang. Tasya yang merasa gemas pun mengecup kedua pipi cubby Noah. "Berat banget dia, Mey. Udah mau ngalahin King."
Mey tertawa renyah. "Padahal belum makan apa pun cuma ***** doang."
"Eh, kayaknya dia udah bisa di kasih mpasi deh. Makanya sering rewel, lapar kali dia." Usul Tasya menatap wajah Noah dengan senyuman lebar.
"Gak usah dulu deh, dokter bilang bulan depan baru bisa. Lagian dia gak rewel-rewel amat. Asi gw juga banjir terus, tar kalo kecepetan di kasih makan mubajir asinya." Ujar Mey mengelap pipi Noah dengan tisu basah.
"Belum makan aja udah seendut ini, gimana kalau udah mamam huh? Kalah King kayaknya."
"Saingan berat ya dek? Tapi King agak kurang makannya, kayaknya dia mau nambah tingkah lagi tuh. Udah gede aja anak lo, Sya."
"Namanya juga gw kasih makan, Mey. Dari orok dia emang udah gembul." Kata Tasya tertawa renyah.
Mey tersenyum lebar. "Oh iya, hari minggu gw udah ajak Daddy lo jalan-jalam ke mall. Lo harus ikut pokoknya."
"Terus King gimana?" Tanya Tasya bingung.
"Bawa aja sih, mau sampe kapan lo umpetin dia huh? Gw rasa udah saatnya lo bawa dia keluar. King juga harus tahu dunia luar, Sya. Kenapa? Lo takut Alex ngambil dia dari lo? Gak bakal, gw orang pertama yang bakal maju. Enak aja dia mau ambil hak elo, dulu aja dia nolak King. Sampe jelek-jelekin elo pula. Udah aman, percaya sama gw." Jelas Mey panjang lebar.
Tasya menghela napas panjang. "Ok deh, gw kan punya elo sama Daddy."
"Gitu dong."
"Oh iya, Mey. Lo masih inget Gibran gak?" Tanya Tasya saat mengingat lelaki di kampus tadi.
"Gibran mana?" Tanya Mey bingung.
"Ck, yang dulu lo tonjok. Yang suka bully gw."
"Owh, Gibran yang ganteng tinggi itu kan?" Seru Mey saat mengingat lelaki itu lagi. "Kenapa emangnya?"
"Dia lagi ngejar gw."
"Hah? Kok bisa? Bukannya dulu dia sering bully lo abis-abisan?"
"Entah, gw juga gak ngerti. Dia juga tahu soal King."
Mata Mey melotot mendengar itu. "Terus?"
"Gw kasih dia kesempatan. Gw liat dia serius, dia juga gak mempermasalahin sol King. Dia udah tahu sejak lama. Dia sering mantau gw. Kayaknya dia serius sama gw. Menurut lo gimana?"
Mey menatap Tasya lamat-lamat, kemudian tersenyum simpul. "Kalau dia emang serius, coba aja buka hati lo. Walau pun gw tahu lo masih cinta sama si brengsek itu. Tapi lo harus move on, King butuh Daddy yang mau nerima dia kan? Apa lagi yang lo tunggu. Terima aja dulu, kalau emang dia beneran serius, dia gak bakal ragu nunjukin diri di depan gw sama Daddy lo. Bahkan dia bakal minta lo langsung sama Daddy."
Tasya tampak berpikir keras. "Gimana kalau gw gak bisa move on?"
"Ck, belum lo cobak kan? Dicobak aja dulu, kalau lo emang gak bisa nerima dia. Jangan paksa hati lo, ngomong terus terang sama dia. Yang penting lo harus jujur." Jelas Mey mengusap pundak Tasya.
"Lo bener, kayaknya gw harus keluar dari zona nyaman." Tasya tersenyum lebar.
"Itu baru namanya sahabat gw."
"Sekarang lo lebih pantes jadi Nyokap gw, Mey."
__ADS_1
"Terserah lo mau anggap gw sahabat atau Nyokap. Soalnya dua-duanya bener."
Keduanya pun tertawa bersama. Noah yang tak memahami apa pun justru ikut tertawa. Mey dan Tasya semakin tergelak melihat kelucuan bayi kecil itu.