Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 55


__ADS_3

"Sya, kenapa lo? Gw perhatiin ngelamun terus dari tadi?" Tanya Mey saat melihat anak tirinya itu banyak ngelamunnya dari pada ngerjain tugas kampus. Ya, hampir setiap malam Mey dan Tasya memang menghabiskan waktu buat ngerjain tugas kampus di kamar Tasya saat dua bocil mereka sudah tertidur.


Tasya menghela napas gusar. "Mey, tadi gw ketemu lagi sama Daddynya King di rumah Gibran."


"Hah? Kok bisa sih?" Pekik Mey memusatkan perhatian untuk Tasya.


"Jangan teriak-teriak, entar King bangun, Mey." Kesal Tasya sambil melirik box bayi anaknya. Memastikan King tidak terbangun.


"Sorry deh, lanjut ceritanya."


Tasya menatap Mey lamat-lamat. "Dia jemput Mamanya di rumah Gibran. Dan gw sama dia sempat berantem di rumah Gibran."


"Lah, gimana ceritanya? Emang keluarga Gibran udah tahu King anaknya Alex?"


Tasya langsung menggeleng. "Dia masuk ke kamar tamu pas gw lagi nyusuin King. Dia bilang, dia pengen ketemu King secara langsung. Lo tahu kan gw takut banget kalo Alex bakal rebut King dari gw. Jadi gw usir dia, dan kita berantem dikit. Terus dia malah bilang...." Tasya sengaja menjeda kalimatnya. Membuat Mey semakin penasaran.


"Bilang apa?" Tanya Mey sudah tidak sabar mendengar kelanjutannya.


"Dia pengen gw sama King. Dia ngajak gw nikah."


"What?" Pekikkan Mey tertahan saat mengingat keberadaan King. "Kok bisa dia ngajak lo nikah sih? Terus lo terima gitu aja gitu?"


"Ya enggak lah, gw masih sakit hati banget sama hinaan dia dulu. Enak aja dia bilang gw cewek murahan." Jawab Tasya sedikit ketus.


"Tapi kan, Mey. Habis gw tolak dia mentah-mentah. Dia langsung neyerah dan dia bilang gak bakal ganggu gw sama King lagi. Gw juga bisa liat luka di matanya, Mey. Tapi kan dia sendiri yang nolak King dulu. Sebenernya gw kecewa banget pas dia langsung nyerah gitu aja. Entahlah. Gw malah berharap dia merjuangin gw, Mey."


"Ck, lo udah ngasih harapan buat Gibran, Sya. Terus lo masih berharap Alex merjuangin elo. Jahat lo." Kesal Mey tidak senang dengan jalan pikiran Tasya.


"Gw tahu gw jahat, Mey. Tapi apa salah kalau gw ngarep lebih? Dia Bapak kandung King, Mey. Dan lo tahu gw masih cinta sama dia." Ujar Tasya menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Terus kalau dia beneran merjuangin elo, gimana sama Gibran?" Tanya Mey menatap Tasya Iba.


Tasya menegakkan tubuhnya, menatap Mey lekat. "Gw bakal liat siapa yang lebih peduli sama gw, bukan sekadar menginginkan gw atau King. Gw yakin Alex cuma mau King doang, Mey. Dia masih cinta sama elo, gak ada kesempatan gw masuk ke dalam sana. Gw bisa liat tatapan dia sama elo."


Tasya menatap Mey penuh luka.


"Sya, ujung-ujungnya lo harus milih juga kan? Mending lo pilih di antara mereka dari sekarang deh. Dari pada runyem urusannya, mana mereka sepupuan lagi. Jangan sampe lo rusak hubungan persaudaraan mereka." Komentar Mey.


Tasya terdiam beberapa saat. "Gw bingung, Mey."


Mey menghela napas gusar. "Okay, untuk sementara waktu. Lo jangan kasih keputusan apa pun sama Gibran. Kita tunggu siapa yang datang lebih dulu ke depan Bokap lo. Kita liat kesungguhan mereka dulu. Udah, jangan sedih gini ah. Gw ikutan sedih tahu." Mey memeluk Tasya penuh kasih sayang.


"Makasih, Mamud. Lo selalu ada buat gw. Lo Mommy terbaik buat gw."

__ADS_1


"Ck, gw tahu. Yuk ah kerjain lagi tugas kita. Udah nanggung, keburu ngantuk gw." Ujar Mey melerai pelukan mereka. Dan keduanya pun kembali ke laptop.


"Mey."


"Apaan? Jangan bahas lakik lagi deh. Lagi fokus gw." Sahut Mey sekenanya.


"Bukan, ini masalah Daddy." Kata Tasya melirik Mey sekilas.


"Kenapa Daddy lo? Daddy lo kan lakik juga, udah gw bilang jangan bahas masalah lakik." Tanya Mey dengan santai.


Tasya tertawa renyah. "Gw cuma mau tanya aja sih, kok bisa lo secinta itu sama Daddy gw? Padahal saat itu di dekat lo ada Alex yang notabennya cinta mati sama lo dan dia jauh lebih ganteng dan muda dari Daddy."


"Ck, namanya juga hati, Sya. Gak bisa dipaksain. Gw demennya sama Bokap lo, jadi gw gak peduli sama yang lain. Namanya juga takdir, Sya. Buktinya cinta gw gak sia-sia, sekarang Daddy lo jadi milik gw kan? Bahkan sampe udah ada Noah segala. Cinta gak bakal peduli ganteng, muda, tua, kaya atau miskin. Kalau udah cinta melekat dan hati terpikat. Apa pun caranya harus dapat. Eak... keren gak kata-kata gw?"


Tasya mendengus kesal. "Lo mah beruntung aja karena gw comblangin lo sama Daddy. Meski awalnya banyak drama buat nyatuin kalian. Ujung-ujungnya ranjang juga yang bikin Bokap gw terpikat sama lo."


"Namanya juga suami istri, banyak cobaannya. Ngomongin masalah ranjang, gw jadi kangen Daddy lo. Udah tidur belum ya?"


"Dih, emang beda otak orang udah kawin mah. Ranjang mulu di otaknya." Sinis Tasya.


"Emang apa lagi cobak? Itu yang paling ngangenin. Tar juga lo kalau udah nikah itu yang di kejar, yakin gw. Apa lagi otak lo yang udah ngeres dari lahir. Gw yakin lo lebih tahu masalah berbagai gaya di ranjang kan? Ngaku lo."


Tasya terkekeh geli mendengar pertanyaan Mey. "Jelas dong, gw udah tahu berbagai gaya. Tinggal prakteknya aja tar. Nunggu sah dulu, gak mau gw kejadian King terulang lagi."


"Gak papa, biar dia cuma inget gw. Tar kalo lo kehabisan gaya, tanya aja sama gw."


"Bengek lo! Udah ah, gara-gara lo sih mancing ke situ. Gak siap-siap tugas gw. Keburu bangun si bocil ini mah." Ujar Mey.



"Eleh, bilang aja lo udah gak tahan mau main kuda-kudaan kan sama Bokap gw. Kebaca otak lo."


"Namanya juga kebutuhan jasmani suami istri, Sya. Awas aja lo kalau gw denger bunting lagi sebelum nikah, gw kawinin lo sama orang tua bandot. Biar nyaho." Ketus Mey melirik anak tirinya sekilas.


"Ck, tega banget lo, Mey. Berasa punya emak tiri beneran gw kalau gini." Lirih Tasya.


"Lah, gw kan emang emak tiri elo. Cuma lo doang yang punya emak tiri sebaik dan sekece gw. Percaya deh sama gw."


"Iya, gw percaya kok. Cuma elo emak tiri yang nyebelin se dunia."


"Sialan lo."


****


Jam sebelas malam Mey kembali ke kemarnya. Tubuhnya terasa kaku karena berjam-jam duduk di kursi buat selesaikan tugas kampusnya. Mey terus menguap dan naik ke atas pembaringan di mana David sudah tertidur. Mey tersenyum dan ikut masuk dalam selimut. David yang merasa terganggu pun bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Jam berapa ini? Kamu baru selesai, Mey?" Tanya David melihat ke arah jam dinding. "Masih jam sebelas rupanya."


"Kok masih sih? Mey udah ngantuk banget tahu." Mey menjadikan dada suaminya menjadi bantal. Memejamkan matanya yang sudah sangat berat.


"Mey."


"Ya?"


"Kamu gak kangen aku?" Mey yang mendengar itu langsung melek dan mengangkat kepalanya. Manatap David bingung.


"Kan kamu ada di sini, Mas. Kalau aku kangen tinggal peluk aja." Jawab Mey kembali menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Ck, bukan itu Mey. Gak kangen sama benda limited edition kamu huh?"


Mey yang mendengar itu langsung memukul dada bidang David pelan. "Kenapa gak bilang aja kalau kamu pengen sih, Mas? Pake tanya kangen-kangenan segala."


"Habis kamu gak pekaan sih. Dari tadi aku nunggu kamu. Kebetulan Noah nyenyak banget tidurnya. Lanjut punya malam kemaren yang terpotong yuk." Ajak David dengan tangan yang mulai bergerak nakal. Dan rasa kantuk Mey pun mendadak hilang saat suaminya memberikan rangsangan nikmat.


"Punya kamu makin padet aja, Mey. Padahal udah disedot Noah terus."


"Mesum kamu gak ilang-ilang, Mas. Tapi aku juga kangen kamu sih. Yuk buruan, tar keburu Noah bangun." Mey bangun dari posisinya. Sedangkan David mengubah posisinya bersandar.


"Kamu di atas aku ya? Kangen kamu soalnya."


"Ck, nakal banget kamu, Mas." Ledek Mey yang mulai merangkak naik ke atas pangkuan suaminya. David tersenyum jahil dan mulai menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya dan sang istri. David terkejut karena Mey sama sekali tak memakai dalaman.


"Kamu gak pake daleman, Mey? Udah niat banget ya mau goda aku?"


"Ck, biar cepet prosesnya." Sahut Mey sekenanya. Ibu satu anak itu pun langsung menyambar bibir sensual suaminya. Mencecapnya begitu dalam dan menuntut. Sedangkan David semakin gencar menjamah bagian titik sensitif istrinya. Mey sedikit m*ndes*h saat tangan nakal itu menyentuh bagian intimnya. Mata wanita itu mulai menggelap, menginginkan sesuatu yang lebih.


"Mey, langsung masuk aja ya? Udah basah benget."


Mey pun mengangguk pasrah. David yang mendapat lampu hijau pun langsung menancapkan benda limited editionnya dalam liang surgawi sang istri. Keduanya terlihat m*ndes*h kuat saat merasakan nikmat yang luar biasa karena rasa hangat yang menjalar dari ujung kaki sampai ubun-ubun.


"Kamu masih sempit aja Mey, benda limited editionku kamu jepit kuat. Aku suka. Aku gerakin ya?"


"Iya, tapi pelan-pelan. Masih perih, punya kamu gede banget sih, Mas. Punya aku masih sakit aja pas kamu masuk. Akh... pelan-pelan." Mey terus mengeluarkan suara merdunya saat benda limited edition suaminya semakin bergerak liar di dalam sana. Sedangkan David mengerang kenikmatan karena milik istrinya menjepit dan mengurut miliknya dengan sensasi yang luar biasa.


"Mas, jangan di tembak di dalam. Aku gak mau Noah punya adik dulu. Kasian dia masih kecil. Awh... jangan digigit, sakit tahu." Rancau Mey saat David mengingit aset berharga milik Noah.


"Abis gemesin sih." Sahut David mempercepat temponya.


"Jangan dihabisin, tar Noah kebangun gak kebagian jatah." Gurau Mey terkekeh geli.

__ADS_1


"Noah masih punya jatah pagi. Kamu enak banget, Mey. Kecil-kecil cabe rawit." Ujar David masih setia dengan gunung kembarnya. Sedangkan Mey terus memejamkan dan membuka matanya saat merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya. Benda limited edition itu selalu membuatnya mabuk kepayang. Dan kedua insan itu terus bergulat dalam pergumulan panas. Seolah menyalurkan rasa rindu yang menggebu. Membuat kamar itu menjadi panas dan penuh sensasi.


__ADS_2