
Braakk!
Dimas langsung membuka pintu ruangan Chaca dengan kasar. Di lihat nya tubuh mungil Chaca yang kini terbaring lemas di atas brangkar rumah sakit, membuat hatinya terasa nyeri.
"Sayang." Panggil Dimas lembut namun Chaca masih memejamkan mata nya.
Leona merem@s kuat jaket Fahmi, ia merasa takut dengan Dimas.
"Apa yang terjadi." Tanya Dimas dingin.
"Chaca baru saja mendonorkan darahnya untuk Mama." Kata Fahmi berusaha tenang.
"Donor darah?" Tanya Dimas dengan kening berkerut.
"Mama kecelakaan kemarin dan butuh donor darah. Leona sedang hamil jadi tidak bisa mendonorkan darahnya, lalu Chaca bersikeras mendonorkan darahnya tanpa di periksa terlebih dahulu." Kata Fahmi pelan ia juga merasa sangat bersalah akan hal ini.
"Lalu?" Tanya Dimas lagi.
"Setelah selesai donor, Chaca--" Fahmi tidak melanjutkan ucapan nya ia sangat bingung dan takut sudah pasti.
"Kenapa Chaca? Kenapa Chaca tidak sadarkan diri seperti ini?" Tanya Dimas tidak sabaran.
"Maaf Dim, kami semua tidak ada yang tau kalau Chaca--" kata Fahmi.
"Chaca kenapa katakan!" Ucap dimas dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Chaca sedang hamil, makanya dia mengalami kontraksi rahim." Lanjut Fahmi seketika membuat mata Dimas membola.
"Apa kamu bilang! katakan sekali lagi!" Kata Dimas marah dan langsung menarik kerah baju Fahmi.
"Kami semua tidak tau Dim, bahkan Chaca sendiri juga tidak tau. Dia sendiri yang mendatangi Dokter dan memaksa Dokter untuk melakukan tranfusi darah itu. Dokter sudah menolak karena melihat wajah Chaca yang pucat, tapi Chaca tetap memaksa." jelas Fahmi.
"Lalu bagaimana keadaan mereka Sekaran?" Tanya Dimas dengan dada yang sudah naik turun karena emosi.
"Dokter bilang kandungan Chaca lemah." Kata Fahmi.
Dimas langsung menjatuhkan dirinya di lantai dan menyandarkan kepalanya di dinding.
Dimas merasa sangat bodoh dan tidak berguna, bagaimana ia bisa tidak tau keadaan sang istri. Dimas terlalu sibuk hingga tidak tau bahwa istrinya tengah Hamil.
"pergi lah." Ujar Dimas sambil beranjak dari duduknya dan mendekati Chaca.
"Sayang. bangun." Ucap Dimas sambil menggenggam tangan Chaca.
"Hallo baby, maafkan Papi yang tidak sadar akan keberadaan kamu." Ucap dimas sambil mengusap perut Chaca.
"Kamu baik baik di sana ya sayang. Harus kuat agar kita bisa cepat bertemu. Ada kakak Aiden yang akan selalu menunggu kamu." Ucap Dimas lagi.
Aiden, Dimas langsung menghubungi nmor Aiden untuk memberitahu keadaan Chaca. Dimas yakin bahwa Aiden bisa membuat Chaca segera pulih.
...Rumah Utama...
__ADS_1
"Mama ... Mama ... " Jenar terus berteriak mencari keberadaan Tamara.
"Ada apa sih Je?" tanya Tamara.
"Mah, Chaca mah." Kata Jenar panik.
"Chaca kenapa?" tanya Tamara.
"Chaca di rumah sakit mah. Barusan kak Fahmi telfon Jenar katanya Chaca tadi abis donor Danar dan kontraksi." Kata Jenar pelan.
"Kontraksi?" Tanya tamara bingung.
"Chaca hamil mah." Kata Jenar pelan.
"Hah!" Tamara begitu terkejut mendengar ucapan Jenar.
"Kamu yakin Je? Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?" Tanya Tamara.
"Nah itu dia mah. Tadi kak Fahmi cuma cerita sedikit. Kita ke sana sekarang ya mah." Kata Jenar.
"Ya sudah mama ganti baju dulu." Kata Tamara.
"Pokok nya Awas aja kalau sampai Chaca dan Bayi nya kenapa kenapa, Dimas kamu gak akan aman!" gerutu Tamara sambil Merem@s tangannya.
Glek.
__ADS_1
Jenar sampai menelan Saliva nya saat melihat bagaimana ekspresi Tamara saat ini.
"Kak Dimas siap siap makan bogeman mentah dari Mama." Gumam Jenar dalam hati.