Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 60


__ADS_3

Tengah malam, Mey dan David terbangun dari tidurnya karena mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.


"Mey, kamu lihat siapa itu, aku ngantuk." Titah David seraya menarik selimutnya. Mey yang masih mengantuk pun bangkit dari tidurnya dan berjalan malas menuju pintu. Lalu membukanya dengan cepat. Dan di sana terlihat Bik Nina tengah menggendong Laura yang sedang menangis.


"Nya, Non Laura gak mau berhenti nangisnya. Katanya mimpi buruk." Ujar Bik Nina. Mey menatap anak itu lekat.


"Tunggu ya Bik." Mey menutup pintu dan masuk ke kamarnya lagi untuk membangunkan David.


"Mas, anak titipan kamu nangis." Lapor Mey menoel pundak suaminya.


"Kamu urus dulu, aku ngantuk. Besok aku ada meeting pagi." Sahut David tanpa membuka matanya.


"Aku juga ngantuk, Mas. Aku baru tidur dua menit. Noah rewel terus." Tolak Mey.


"Kamu kan seorang Ibu, Mey. Pasti tahu cara nenangin anak kecil."


"Aku emang seorang Ibu, tapi aku bukan Ibunya. Tanggung jawab dong. Kan kamu yang mau jaga dia. Dari awal aku udah nolak, kamu pikir enak jaga anak orang? Anak sendiri aja kamu gak bisa jaga." Ketus Mey yang berhasil menarik perhatian David. Lelaki itu bangkit dari tidurnya.


"Kali ini aja, Mey. Aku mohon." David menatap Mey penuh permohonan.


"Mas, aku beneran capek. Badan aku sakit semua." Rengek Mey dengan mata sayunya. David menghela napas dan bangkit dari ranjang. Kemudian bergerak menuju pintu.


"Sini Laura Bik," pinta David mengambil Laura dalam gendongan Bik Nina. Gadis kecil itu masih menangis sesegukkan. "Bibik balik aja ke kamar, udah bisa istirahat."


"Baik, Tuan." Bik Nina pun beranjak pergi dari sana.


"Jangan nangis lagi ya?" David membawa Laura masuk ke kamar di mana Mey sudah berbaring lagi. Sepertinya wanita itu benar-benar lelah.


"Bobok sama uncle ya?" David masih berusaha menenangkan gadis mungil itu.


"Mimi." Laura terus menyebut sang Mimi.


"Iya, Sayang. Besok Mimi pulang kok." Bujuk David sesekali manatap Mey yang masih tertidur. Berharap istrinya itu bangun dan membantunya.


Bukannya reda, tangisan Laura pun semakin kencang. David yang panik pun bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi Ingrid. Namun sayang, wanita itu tak bisa dihubungi. David mendengus kesal.


"Sayang, kita bobok ya? Mimi lagi di jalan mau pulang." Bujuk David yang sama sekali tak membuat tangisan Laura redam.


Mey yang merasa terganggu pun bangun dari tidurnya dan langsung menghampiri David. Kemudian mengambil Laura dari gendongan suaminya. "Makanya jangan sok pinter bisa jaga anak." Kesal Mey merangkak naik ke atas ranjang. Menidurkan anak itu di sana.


"Sayang, ini udah malam. Laura mimpi buruk ya? Mau Tante bacain dongeng gak?" Tawar Mey mengusap jejak air mata gadis kecil itu. Laura yang masih sesegukkan pun mengangguk pelan.


"Ya udah, Laura tutup matanya ya? Tante bacain dongeng Cinderella. Pada jaman dahulu...." Mey pun mulai berceloteh panjang lebar dan itu berhasil membuat Laura tertidur. David tersenyum karena Mey berhasil menenangkan anak itu. Lalu ia pun ikut berbaring.


Mey menguap beberapa kali karena dirinya juga sangat mengantuk. Baru saja ia terlelap, Noah menangis kencang. Mey terperanjat dan langsung beranjak menghampiri box bayi putra kecilnya. Mengangkat bayi menggemaskan itu dengan senyuman lebar. "Sayang anak Mommy."


Noah terus menarik piyama yang Mey kenakan. "Adek haus ya?" Mey menidurkan Noah di kasur dan mulai memberinya asi. Wanita itu terkantuk-kantuk sambil menunggu Noah kenyang menyusu. Malam ini jatah istrirahatnya benar-benar tersita. David yang melihat itu merasa bersalah.


"Adek gak bobok lagi? Mommy ngantuk banget. Bobok ya? Besok pagi Mommy harus ke kampus." Ujar Mey sedikit berbisik. Kemudian mengecup pipi gembul Noah.


"Tatata...." bayi kecil itu malah berceloteh sambil mengangkat kakinya ke atas.


"Iya, besok lagi kita ngobrolnya ya, Sayang. Ini udah malam, Adek harus bobok." Mey memeluk bayi mungil itu dan mulai memejamkan mata.


"Mimimimi...." Noah terus mengoceh dengan air liur yang berhamburan ke luar.


"Bobok, Dek. Mommy ngantuk."


"Biar aku yang jaga Noah." Tawar David.


"Gak usah, Noah tanggung jawab aku. Kamu kan udah punya tanggung jawab baru. Bahkan sampe lupa anak sendiri butuh Daddynya. Aku bisa jaga Noah tanpa bantuan kamu." Sarkas Mey. Bagaimana ia tak marah, seharian penuh David tak menghubunginya atau sekadar menanyakan kondisi putranya seperti hari-hari sebelumnya, di mana David akan mengubungi Mey setiap jam makan siang atau saat David senggang.

__ADS_1


"Bukan gitu, Mey. Aku...."


"Sekarang aku jadi ingat kata-kata Tante Nindy. Ternyata dia benar, kamu itu bakal lupa sama mainan lama setelah punya mainan baru. Aku akui aku ini jelek dan gak semenarik Tante Ingrid, tapi aku juga punya hati, Mas."


David yang mendengar itu mengeratkan rahangnya. "Cukup, Mey. Kalau kamu terus cemburu gak menentu kayak gini, aku bakal muak Mey." Desis David penuh penekanan.


Mey yang mendengar itu matanya mulai berkaca-kaca. Ia langsung bangun dari posisinya dan menggendong Noah. "Jadi kamu muak sama aku? Kamu muak sama sifat cemburu aku? Okay, aku gak akan larang kamu lagi buat dekat sama wanita mana pun. Silakan menikmati hidup Anda, Tuan."


Usai mengatakan hal itu Mey kembali menggendong Noah dan beranjak pergi dari kamarnya. David menggeram dan mengusap wajahnya dengan kasar. Namun tak berniat untuk membujuk istrinya. Toh besok wanita itu akan baik sendiri, pikirnya. Lagian ia sangat lelah dan tak ingin berdebat lebih panjang lagi.


Mey mengetuk pintu kamar Tasya. Hanya wanita itu tempatnya berlabuh. Tidak lama Tasya pun menyembul dari balik pintu dengan wajah bantalnya. Mata Tasya yang awalnya terlihat berat untuk terbuka pun mendadak melotot saat melihat Mamudnya menangis.


"Mamud? Kenapa lo nangis tengah malam gini?" Panik Tasya.


"Izinin gw tidur di kamar lo buat malam ini." Sahut Mey langsung masuk ke kamar Tasya sebelum anak itu menyetujuinya. Tasya yang merasa heran pun langsung menyusul Mamudnya.


"Ada apa?" Tanya Tasya duduk disamping Mey yang masih berderai air mata.


"Sorry gw ganggu tidur elo, Sya. Gw gak tau lari ke mana? Mau tidur di kamar tamu agak takut."


"Iya gak papa, sekarang ngomong ama gw kenapa lo nangis?"


"Sya, apa gw kelewatan karena terlalu cemburu soal kedekatan Bokap lo sama perempuan lain? Gw cuma takut wanita itu menanfaatkan keadaan. Lo kan tahu sendiri Bokap lo itu cepat banget terpengaruh. Lo liat sekarang, gak pernah-pernahnya Daddy lo nerima titipan anak kayak gini. Gw curiga kalau anak itu anak Bokap lo, Sya."


"Ya Allah, Mey. Kenapa lo mikir gitu sih? Jangan berpikiran buruk dulu dong. Yang ada lo sendiri yang sakit." Tasya mengusap punggung Mey.


"Gw cuma takut, Sya. Setelah gw perhatiin, Laura agak mirip elo dikit. Gimana kalau itu beneran adik lo? Gw gak bisa terima, Sya. Belum apa-apa hati gw sakit banget. Baru aja gw bahagia sama keluarga kecil kita. Masak iya harus ada orang lain dalam hidup kita. Gw gak siap."


Tasya terdiam sejenak. "Udah ah jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Mending lo tidur ya? Ini udah malem, kasian Noah."


"Lo lanjut aja tidur, gw nunggu Noah tidur dulu."


Tasya menghela napas berat. "Okay, jangan terlalu banyak berpikir. Lo bisa sakit, kalo lo sakit kasian Noah."


Semalaman penuh Mey tak bisa tidur. Kepalanya terasa sakit karena terus memikirkan pasal Laura. Entah mengapa ia sangat yakin Laura ada hubungannya dengan masa lalu David. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Mungkinkah ia bisa menerima keadaan?


Mey menatap putranya yang tertidur pulas. Gaya tidur bayi kecil itu begitu menggemaskan. Dan itu berhasil mengembangkan senyuman dibibirnya. "Apa pun yang terjadi, jadilah kekuatan buat Mommy ya?" Mey mengecup kening Noah dengan lembut.


****


David terus memperhatikan istrinya yang tengah memakaikan Noah baju karena bayi itu baru selesai mandi. Lelaki itu pun bergerak menghampiri istrinya.


"Sayang, pakein aku dasi." Pinta David seraya menyodorkan dasinya pada sang istri.


Mey menuruti perintah suaminya, tetapi kali ini ekpresinya benar-benar datar. David merengkuh pinggang ramping Mey dengan lembut. "Kamu masih marah?"


Mey menatap David sekilas. Kemudian menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Setelah itu kembali mengurus putranya.


"Sayang." Panggil David meraih tangan Mey. Kemudian memutar tubuh wanita itu agar mengarah padanya. "Jangan marah lagi ya?"


David mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Aku tahu kesalahanku di mana. Aku janji...."


Perkataan David pun harus terpotong karena suara deringan ponselnya. "Tunggu sebentar," pintanya seraya meraih ponsel di nakas.


Alis David terangkat sebelah saat melihat nama yang muncul di layarnya.


"Siapa?" Tanya Mey datar.


"Ingrid." Jawab David menatap Mey dalam. Sedangkan yang ditatapan memutar bola matanya jengah.


"Urus aja sahabat kamu itu." Ketus Mey duduk kembali di ranjang.

__ADS_1


David menghela napas berat sebelum menerima panggilan itu.


"Halo." Sapa David menekan tombol loudspeaker agar tak ada kesalahpahaman lagi antara dirinya dan sang istri.


"Halo, Dev. Ada apa malam tadi kau menelponku?"


"Malam tadi anakmu menangis, aku bingung harus melakukan apa. Karena itu aku menghuhungimu." Jawab David jujur.


"Oh ya ampun, maafkan aku, Dev. Laura memang sering bermimpi buruk di tengah malam. Tapi dia akan berhenti menangis dengan sebuah pelukan. Maafkan aku karena merepotkanmu dan istrimu, Dev."


David melirik Mey yang tengah mengajak Noah bermain. "Tidak apa-apa. Besok jam berapa Laura di jemput?"


Cukup lama tak ada sahutan dari sana.


"Halo." David memastikan panggilannya masih terhuhung.


"Ya, Dev. Sebelumnya aku minta maaf. Aku... aku tidak bisa pulang sampai tiga hari kedepan."


Mey yang mendengar itu langsung menatap David tajam.


"Rid, kau bercanda kan? Aku tak mungkin menjaganya terus. Kau tahu aku sibuk, istriku juga masih punya bayi kecil." Protes David yang merasa waswas dengan tatapan Mey.


"Antar saja pada baby sitternya. Gak mungkin di sakit selama itu. Di sini bukan tempat penitipan anak." Ketus Mey.


"Mey." David memperingati.


"Kenapa? Kamu gak rela anak itu dititip ke orang lain? Kalau kamu bisa jaga dia gak jadi masalah, tapi anak itu mengganggu istirahat orang tahu gak?" Kesal Mey.


"Dev, maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk merepotkan kalian."


"Kami sudah repot." Sinis Mey.


"Meylani stop it!"


"Ya, bela saja dia. Dia kan lebih penting dari istri kamu. Dia sahabat baik kamu yang tak mungkin kamu abaikan. Abaikan saja aku di sini. Memangnya aku ini siapa?" Mey menggendong Noah dan bergegas keluar dari kamar.


"Mey." Panggil David yang sama sekali tak dihiraukan oleh Mey.


"Dev, i am so sorry. Gara-gara aku kalian jadi bertengkar seperti itu. Tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Karena baby sitter Laura sebenarnya sudah kabur setelah mencuri beberapa perhiasanku. Karena itu aku tidak percaya pada siapa pun selain dirimu, Dev. I am so sorry."


David menghela napas gusar. "Rid, aku juga minta maaf. Aku tak bisa mengabaikan istriku. Malam tadi saja dia tidak tidur karena harus menidurkan Laura dan Noah. Putra kecilku sedang rewel dan aku kasihan padanya. Apa tak sebaiknya kau kembali dan bawa Laura ikut bersamamu?"


"Dev...."


"Aku tahu kau membutuhkan bantuanku, tapi aku tak bisa menjaga anakmu. Aku tak biasa menjaga anak kecil."


"Kau harus terbiasa, Dev. Karena...."


Entah kenapa Ingrid menahan ucapannya. Seolah ia hampir keceplosan.


"Karena apa?" Tanya David penasaran.


"Karena aku butuh bantuanmu, Dev. Dok... maksudku atasanku belum memberiku izin untuk pulang."


David memijat batang hidungnya. "Kapan kau akan kembali? Aku tak bisa menjaganya terus menerus. Aku juga bekerja, istriku kuliah sekaligus menjaga anak kami. Kau tahu itu kan?"


"Aku tahu, Dev. Aku usahakan dua hari lagi aku kembali."


"Baiklah. Aku tutup dulu, aku harus membujuknya."


"Ya, thank you Dev."

__ADS_1


"You are welcome."


__ADS_2