Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 51


__ADS_3

"Mey." Sapa Buk Neny menyambut kedatangan mantan karyawannya. Memeluk singkat Mama muda yang satu itu. "Lama banget kamu gak ke sini. Sibuk sama Baby ya?"


"Iya, Buk. Belum lagi Mey sekarang kuliah." Jawab Mey dengan ekspresinya yang khas.


"Ya udah, duduk dulu yuk." Ajak Buk Neny yang kemudian melihat ke arah Tasya. "Ayok, siapa namanya?"


"Tasya, Buk." Sahut Tasya tersenyum ramah.


"Ayok-ayok, duduk di depan sana aja Mey. Oh iya, katanya hari ini Alex juga mau berkunjung. Apa dia ada bilang sama kamu, Mey?"


Deg! Kedua Mama muda itu saling melempar pandangan.


"Ah, enggak ada Buk. Kami udah lama gak berkomunikasi." Jawab Mey tersenyum kikuk. Kemudian mereka pun duduk di salah satu meja yang agak besar. Mungkin bisa menampung lima atau enam orang.


"Ibu paham, kamu juga udah punya suami sama anak. Mana mungkin sempat kontekan sama Alex ya? Dia juga udah sibuk jadi CEO. Gantiin Pak Effendi. Namanya juga pewaris tunggal."


Mey dan Tasya hanya menanggapinya dengan senyuman ramah.


"Gimana dong, Mey?" Bisik Tasya yang notabennya duduk di sebelah Mey. Ia mulai panik setelah mendengar kabar Alex akan datang juga.


"Jangan panik, lo bawa santai aja. Anggap aja lo gak kenal dia." Balas Mey dengan suara nyaris tak terdengar.


"Oh iya, Tasya ini anak tiri kamu kan, Mey? Kayaknya pernah ketemu di acara pesta dulu ya?"


"Iya, Buk. Anaknya Mas David." Jawab Mey.


"Wah, jadi ceritanya kalian pada nikah muda ya? Kecil-kecil gini udah pada punya anak. Gemesin tahu gak? Mey, mau gendong anak kamu boleh kan?"


"Boleh kok." Mey mengangkat Noah dari stroller. Lalu memberikan bayi kecil itu pada Buk Neny.


"Ya ampun, ganteng banget anak kamu, Mey. Kayak Ayahnya bule, mirip sama Kakaknya dikit." Ujar Buk Neny menatap Noah dan Tasya bergantian.


"Mey juga seneng banget Noah lahir mirip sama Ayahnya. Soalnya dari dulu Mey pengen punya anak mirip bule. Eh rupanya kesampean." Oceh Mey sambil menatap putranya yang tengah tersenyum saat Buk Neny mengajaknya bicara.


"Jodohnya sama bule, anaknya jadi bule deh. Sering-sering main ke sini Mey. Ibu kan pengen main terus sama Noah. Seminggu sekali pun gak papa." Pinta Buk Neny menatap Mey penuh harap.


"Em... nanti lah Mey lihat kondisi dulu. Soalnya sabtu minggu ada suami di rumah. Jadi gak bisa kalau ditinggal. Paling kalau free kuliah baru Mey main ke sini." Jelas Mey.


"Iya gak papa, yang penting dalam satu bulan kamu ada main ke sini. Sekarang saya udah sering tinggal di sini, jadi kapan aja kamu bisa main." Ujar Buk Neny.


"Oh iya, anaknya Tasya seumuran ya sama Noah?"


"Beda sebulan, Buk. King tua sebulan dari Noah." Jawab Tasya.


"Siapa namanya?"


"Kingsley, kami biasa manggilnya King."


"Wah, namanya bule semua. Mana ganteng-ganteng semua lagi. Tinggalin aja deh di sini." Gurau Buk Neny meras gemas melihat dua bayi kecil itu. Mey dan Tasya tertawa renyah mendengarnya.


"Ya ampun, sampe lupa. Kalian mau makan sama minum apa? Bilang aja, kamu pun gak usah sungkan Mey. Kayak orang jauh aja."


"Mana mungkin Mey sungkan Buk, ini kan kafe punya Mey. Bebas mau milih makanan apa aja." Gurau Mey yang disambut tawa oleh Buk Neny dan Tasya.


"Sya." Sapa seseorang yang berhasil mengalihkan perhatian ketiga wanita itu.


Mata Tasya dan Mey pun melebar saat melihat orang itu. "Gib, ngapain lo di sini?" Tanya Tasya kaget melihat kehadiran Gibran.

__ADS_1


"Kebetulan gw mampir mau beli kopi, eh gak taunya ada elo. Boleh gabung gak nih?" Tanyanya tanpa ragu.


"Boleh kok, ayok duduk." Jawab Buk Neny dengan senyuman ramahnya yang khas.


Gibran tersenyum senang dan memilih duduk di sebelah Tasya. Lalu pandangan lelaki itu langsung tertuju pada King. "King? Anak lo kan? Ganteng banget."


Tasya mengangguk sebagai jawaban.


"Akhirnya gw ketemu King juga. Gak perlu nunggu sampe hari minggu. Hari minggu mah tinggal ngapel Mamahnya. Iya gak King?"


"Ekhem." Deham Mey menarik perhatian Tasya dan Gibran.


"Eh, ada cewek barbar rupanya di sini? Apa kabar Bar?" Tanya Gibran dengan entengnya.


"Eh dodol, gw punya nama kali. Minta gw bogem lagi lo huh?" Ancam Mey menunjukkan kepalan tangannya.


"Wih... makin galak aja lo setelah jadi emak-emak. Santai kali, Mey. Gw masih ingat rasanya bogeman lo yang dulu. Jadi gw gak perlu icip lagi. Lagian bentar lagi lo bakal jadi mertua gw." Ujar Gibran dengan rasa percaya diri yang tinggi. Mey memberikan pelototan saat mendengar itu. Sedangkan sang empu malah tertawa renyah.


"Kalian temen sekolah atau gimana?" Tanya Buk Neny menatap ketiganya bergantian.


"Iya, Buk. Mereka adik kelas saya. Dan ini calon istri saya." Jawab Gibran sambil menunjuk Tasya.


"Calon istri? Bukanya Tasya...."


"Buk." Sapa seseorang yang berhasil memotong ucapan Buk Neny. Sontak semua orang pun menoleh. Seketika tubuh Tasya pun menegang saat melihat wajah lelaki itu. Dan juga Wilona yang masih setia menempelinya. Wanita itu merapatkan tubuhnya pada Alex saat melihat Tasya. Ia masih trauma dengan kejadian hari itu.


Alex juga tampak kaget melihat keberadaan Mey dan Tasya di sana.


"Eh, Lex. Kebetulan kamu datang, ayok gabung." Ajak Buk Neny yang tak memahami situasi.


Alex tampak ragu apa lagi saat melihat tatapan Mey untuknya. Tatapan permusuhan yang begitu kental. Namun ia mengabaikan itu semua karena menghargai Buk Neny. Lelaki itu duduk tepat di depan Tasya. Keduanya pun kini saling melempar pandangan.


"Gibran? Ngapain lo di sini?" Kaget Alex yang baru menyadari keberadaan Gibran.


"Kalian juga saling kenal?" Tanya Buk Neny nyaris tak percaya.


"Kenal dong, dia ini Kakak sepupu saya. Mamak dia Kakak Mamak saya." Jawab Gibrab dengan senyuman lebar.


"Apa?" Pekik Mey dan Tasya bersamaan. Sontak semua orang memusatkan perhatian pada dua Mamud itu.


Tasya dan Mey pun langsung berdeham.


"Gw maklumin kalian kaget, gak nyangka ya gw ini sepupu dari orang terpandang kayak dia?" Tanya Gibran memecah kecanggungan.


"Aduh... ceritanya kalian satu circle lah ya? Kalau gitu Ibu undur diri dulu. Mey, Noah saya bawa bentar ya? Masih belum puas main sama dia soalnya."


"Iya Buk gak papa, lagian dia udah kenyang jadi gak akan rewel lagi." Sahut Mey yang tentunya dapat perhatian dari Alex. Tasya yang melihat itu tersenyum getir.


"Sya, gw mau gendong King dong." Pinta Gibran yang berhasil memecah kecanggungan.


"Yakin lo bisa? King berat loh." Sahut Tasya mengangkat King dari dalam stroller. Dan itu tak lepas dari pengawasan Alex. Mata tajam lelaki itu terus tertuju pada bayi gembul yang kini tengah menghisap kompeng. Namun mata indah itu tertuju padanya.


King. Apa dia tahu kalau gw Ayah kandungnya?


King tersenyum pada Alex, dan senyuman itu berhasil menular pada lelaki itu. Mey yang melihat itu langsung berdeham.


Alex langsung menghapus senyumannya dengan cepat.

__ADS_1


"Tarok dipangkuan gw, iya disini."


Tasya tertawa reyah saat melihat Gibran terlihat kaku menggendong King. "Gila, berat banget dia. Padahal masih kecil." Pujinya dengan penuh kebahagiaan.


"Jelas dong King gembul, dia kan bahagia punya Mommy, Grandma sama Grandpa yang sayang banget sama dia. Apa lagi, Tasya. Tiap hari kasih cinta yang banyak buat King." Ujar Mey menyindir lelaki di depannya.


Alex menatap Mey lamat-lamat.


"Sayang, kayaknya gw bakal gembul juga kalo lo manjain terus." Rengek Gibran yang terlihat seperti anak kecil.


Alex cukup kaget saat mendengar panggilan Gibran untuk Tasya.


Sayang? Apa mereka pacaran? Pikirnya dengan tatapan terus tertuju pada wanita dihadapannya.


"Apa kabar lo, Kak?" Tanya Mey yang lagi-lagi membuat Alex kaget.


"Baik, lo gimana?" Balas Alex.


"Kayak yang lo liat, kita bahagia di jalan masing-masing. Dia pacar lo?" Tatapan Mey pun ditujukan untuk Wilona.


"Bukan, dia itu sepupu jauh kita. Cuma dia gak tahu malu aja dan terus menempel sama Kak Alex. Kayak kutu babi, nemel terus dan ngisep darah segar." Jawab Gibran tanpa ragu. Wilona yang mendengar itu langsung memberikan tatapan membunuh pada Gibran.


Tasya mentatap Wilona malas, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu menghina putranya. Sedangkan yang ditatap merawa terintimidasi.


"Em... Sya, gw minta maaf soal kemaren itu gw gak ada maksud buat...."


"Lupain itu." Potong Tasya tak ingin membahas itu lagi. Hatinya masih sakit untuk mengungkit kejadian itu.


"Untung bestie gw yang lo caci, kalo gw habis lo!" Ancam Mey yang berhasil membuat Wilona kaget.


"Mey, jangan buat dia takut." Alex menatap Mey penuh arti. Mey yang mendengar itu berdecih kesal dan memalingkan wajah ke arah lain.


Alex kembali memusatkan perhatian pada King yang masih dalam pangkuan Gibran.


"Tasya," panggil Alex yang berhasil menarik perhatian semua orang terutama si pemilik nama.


"Gw mau ngomong empat mata, ikut gw." Ajak Alex datar tanpa ekspresi. Lelaki itu bangun dari duduknya dan berjalan menuju pelataran belakang.


Tasya menatap Mey sekilas, kemudian menyusul lelaki itu dengan jantung yang sudah belari maraton.


"Ada apa?" Tanya Tasya duduk di hadapan Alex.


"Gw minta maaf." Ucap Alex dengan cepat. "Gw tahu ini terlambat, tapi gw akan tetap minta maaf sama elo."


Mulut Tasya terkatup rapat mendengar itu, seolah tak percaya seorang Alex mengucapkan kata maaf padanya secara langsung.


"Terserah lo mau maafin gw atau enggak. Gw beneran tulus minta maaf sama lo." Timpal Alex menatap Tasya begitu dalam. Membuat wanita itu gugup setengah mati. Tasya menunduk dengan kedua tangan yang terpaut.


"Sya."


Tasya langsung mendongak.


"Izinin gw buat deket sama King." Pinta Alex penuh harap.


Tasya yang mendengar itu tersenyum getir. "Sekarang lo baru minta? Kemana aja selama ini huh? Apa lo peduli pas gw ngidam pengen ketemu elo? Apa lo peduli pas gw hampir mati lahirin dia? Apa lo peduli pas orang lain hina dia? Enggak, lo gak peduli sama sekali. Lo ngilang gitu aja bak ditelan bumi. Bahkan lo diam aja pas Wilona hina dia di depan umum. Buat apa sekarang lo mau deketin King? Mau bilang kalau dia darah daging lo huh? Telat." Tasya langsung bangun dari posisinya dengan emosi yang memuncak.


"King udah punya calon Bapak yang lebih baik. Yang bisa nerima dia dengan tulus. Yang jelas dia nerima gw dan King apa adanya." Pungkas Tasya yang langsung beranjak pergi.

__ADS_1


"Sya." Alex berteriak frustasi. "Gw minta maaf." Namun Tasya mengabaikannya begitu saja.


__ADS_2