
Plaakk.
Satu tamparan keras mendarat syantik di pipi Dimas.
Yups siapa lagi kalau bukan Tamara yang memberikan nya. Tamara begitu geram dengan kebodohan anak anak nya.
"Astaga." Kata Tamara sambil memijit pelipisnya.
"Sedikit lagi Dim, sedikit lagi kamu akan mengalami seperti Arya." Ucap Tamara dengan napas yang sudah naik turun karena emosi.
"Maafkan Dimas mah." Ucap Dimas lirih.
"Bodoh kamu bodoh!" Pekik Tamara.
"Tapi Dimas gak bermaksud seperti itu mah. Dimas hanya ingin--" ucap Dimas terhenti.
"Ingin apa hah ingin apa!" Ucap Tamara. "Ingin membuat istri kamu stres begitu hah!"
"Huuuhh untung kamu anak mama kalau bukan udah mama bejek bejek kamu jadi rempeyek!" Ucap tamara gemes dengan tingkah Dimas.
"Oma." Teriak Aiden saat melihat Tamara di depan pintu ruangan Chaca.
"Aiden." Ucap Tamara lembut. Namun matanya menangkap sosok yang sangat tidak ingin ia temui.
"Selamat siang Tante." Sapa Astrid sopan.
"Hemm." Jawab Tamara datar.
"Aiden kangen sama Oma." Ucap Aiden langsung memeluk Tamara.
__ADS_1
"Kamu sudah lihat Mami kamu?" Tanya Tamara lembut.
"Sudah." Jawab Aiden cepat. "Mami belum bangun." Ucapnya lirih.
"Ya sudah kita masuk lagi yuk, Oma gerah disini." Ucap Tamara lalu menggandeng tangan Aiden untuk masuk ke kamar perawatan Chaca.
"Kak Dimas untung kakak gak kena bogeman dari mama." Bisik Jenar kepada Dimas.
"Je ... " tekan Dimas membuat Jenar hanya nyengir kuda.
"Hehehe pisss, lain kali aku harap Mama bisa ngasih lebih ke kakak biar gak nakal lagi sama sahabat Jeje." Ucap Jenar lalu ia segera menyusul Tamara. Sebelum ia masuk ruang rawat tamara, Jenar sempat melihat ke arah Astrid yang tersenyum kepadanya dan spontan Jenar juga membalas senyum ramah Astrid.
"Eeuugghh." Lenguh Chaca seketika membuat Aiden dan tamara langsung mendekat.
"Mami."
"Chaca."
Ucap ketiganya bersamaan saat melihat adanya pergerakan di tangan Chaca.
"Jenar." Lirih Chaca sambil memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Kenapa Cha?" Tanya Jenar pelan.
"Je kepala ku sssshhh sakit banget." Ucap Chaca pelan sambil matanya terpejam kuat.
"Mami." Panggil Aiden lagi.
Chaca tidak menjawab namun ia tersenyum kepada Aiden, lalu ia kembali memegangi kepalanya yang semakin sakit.
__ADS_1
"Mama akan panggil Dokter." Ucap Tamara lalu ia segera keluar dari kamar Chaca untuk memanggil Dokter.
"Iks si Mama, ini kan ada tombol nya astaga." Gumam Jenar pelan, lalu ia menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.
"Mami jangan sakit, Mami cepet sembuh yah." kata Aiden dengan mata berkaca kaca. sungguh Aiden tidak tega melihat Chaca kesakitan seperti itu.
"Kalau Aiden gak mau Mami sakit kenapa Aiden malah ninggalin Mami sendiri hem?" Tanya Jenar .
"Aiden gak ninggalin Mami kok, Aiden cuma pergi sebentar ke rumah Mama. Dan juga--" kata Aiden terhenti kala mendengar Chaca berteriak.
"Aaaaaaakkhhh, sakit banget Je." Pekik Chaca.
"Chaca." Kata Jenar, lalu kemudian beberapa Dokter masuk bersamaan dengan Dimas dan Astrid.
"Sayang." Dimas mendekati Chaca untuk menyentuh tangan Chaca namun Chaca malah menepis tangan itu dan kembali merem@s kepalanya.
"Bagaimana istri saya Dok?" Tanya Dimas.
"Hemm istri anda harus kembali menerima tranfusi darah." Ucap Dokter lirih.
"Kami minta maaf karena sudah lalai dalam menjalankan tugas. Tidak seharusnya kami melakukan tindakan itu tanpa mengecek kondisi tubuh istri anda." Ucap Dokter pelan membuat Dimas frustasi.
"Kami terlalu panik karena keadaan Ibu Lana kritis dan nona Chaca terus mendesak kami. Sekali lagi maafkan kami." Imbuhnya.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok." Ucap Dimas khawatir karena melihat Chaca yang terus meringis menahan sakit.
"Masalahnya stok darah O+ sedang kosong Tuan." Lirih Dokter membuat Dimas menjambak rambut nya frustasi, hingga tiba tiba ia mendengar suara seseorang yang mau mendonorkan darahnya.
"Ambil darah saya saja Dok."
__ADS_1