
Lampu blitz dari banyak kamera terus berhidupan saat Alex dan Mey memasuki area hotel. Pasangan serasi itu terus berjalan menuju ballroom. Mey sempat kaget akan hal itu, namun dengan cepat menormalkan ekspresinya kembali. Ia juga tertegun saat melihat ballroom yang didekorasi dengan sangat mewah. Hampir seluruh ruangan itu didominasi warna gold dan silver. Seolah menghipnotis matanya. Susunan meja mewah dan sebuah lantai dansa yang tak kalah mewah tak luput dari perhatiannya. Dan seluruh tamu undangan yang hadir mengenakan pakaian dengan warna senada, yaitu putih gading.
"Tema pestanya broken white ya? Semua orang pake baju warna yang sama." Tanya Mey.
"Heem, ini bukan pesta biasa. Ulang tahun perusahaan Angkasa Group yang ke sepuluh."
Deg! Jantung Mey seolah melompat keluar saat mendengar nama perusahaan yang Alex sebut.
"Angkasa Group?"
"Ya, perusahaan pacar lo. Sorry gw baru kasih tahu sekarang. Habis gw gak ada pasangan dan lo gak nolak juga. Awalnya gw sempat ragu buat ngajak lo ke sini, karena ini perayaan ulang tahun perusahaan pacar lo. Gw kira lo bakal di ajak sama cowok lo. Eh ternyata masih rezeki gw bisa bawa lo ke sini." Jelas Alex memberikan senyuman termanisnya pada Mey. Namun gadis itu memilih diam.
Jadi gw harus ketemu dia dong? Gimana ini? Apa gw pura-pura gak kenal aja sama Om David. Lagian sekarang kan gw pasangannya Alex. Bodo ah, mendidih otak gw.
"Gak marah kan?" Tanya Alex yang berhasil menarik Mey dari lamunannya.
"Enggak kok, justru gw berterima kasih sama lo. Karena udah mau bawa gw ke sini. Jujur gw pengen banget ke sini. Tapi pacar gw lebih milih cewek lain." Jujur Mey mengeluarkan unek-unek dihatinya.
Alex tersenyum simpul. "Siap kan buat ketemu pacar lo?"
Mey menghela napas berat. Lalu mengangguk pelan. Alex yang melihat itu terus membawa Mey menuju kerumunan orang. Mey terlihat gugup, tetapi matanya terus menerawang pada semua kerumunan orang. Mencari seseorang, siapa lagi kalau bukan sang suami. David Lander.
"Eh, itu kan Putra tunggal keluarga Effendi bukan sih?"
Mey menoleh ke arah wanita yang bicara. Lalu mengikuti ke mana arah pandangan wanita itu yang ternyata tertuju pada Alex. Ya, saat ini banyak mata yang tertuju pada lelaki itu.
"Iya bener, ganteng banget sumpah. Tapi cewek di sebelahnya itu siapa? Pacarnya kali ya? Cocok banget."
"Huaa.... Baru kali ini gw liat Alexio Putra Effendi gandeng cewek. Lumayan cakep juga sih tu cewek."
Mey memberikan tatapan intimidasi pada lelaki di sebelahnya.
"Ekhem." Alex berdeham saat menyadari tatapan Mey untuknya. Sepertinya ia memang tak bisa lagi menutupi identitasnya pada Mey. "Gw bakal jelasin saat kita dansa nanti, Okay?"
"Dansa?" Tanya Mey bingung. Pasalnya Mey sama sekali tak memahami bagaimana cara berdansa. Seumur-umur, ini pertama kalinya ia datang ke acara besar.
"Lo tenang aja, tar gw ajarin. Itu dia Mr. Lander." Tunjuk Alex pada seorang lelaki tampan dengan balutan tuxedo gading. Juga seorang wanita cantik dalam gandengannya. Kedua orang itu tengah berbincang dengan para tamu undangan, jadi tak menyadari kehadiran Mey dan Alex.
"Mey, lo bisa manfaatin gw buat panasin pacar lo kok. Tenang aja, gw ikhlas." Tawar Alex saat menyadari Mey yang mendadak tegang. Lelaki itu mengelus tangan Mey yang masih melingkar sempurna di lengannya. Lalu ia bergerak menghampiri David.
"Selamat malam Mr. Lander." Sapa Alex yang berhasil menarik perhatian David.
David terhenyak saat melihat sang istri hadir di sana. Ia menatap Mey dan Alex bergantian.
Mey? Kenapa dia ada di sini?
Bukan hanya David yang terkejut. Namun wanita disampingnya tak kalah kaget saat melihat kehadiran Mey dan juga penampilan Mey yang cukup memukau.
What! Kok bisa sih gadis jelek ini ada di sini? Dan apa ini? Dia keliatan jauh lebih cantik dariku. Tunggu! Kenapa dia bisa datang sama cowok itu? Di mana aku lihat dia ya? Ah, di sekolah tempo lalu. Jadi mereka benar-benar berhubungan. Bagus deh kalau gitu, jadi gak ada penghalang lagi buat terus menfaatin si bodoh David.
Mey sama sekali tak bereaksi, ia benar-benar berakting seolah tak mengenali suaminya sendiri.
"Ah, malam Mr...."
"Alexio Putra Effendi." Ucap Alex memperkenalkan diri.
Apa? Jadi lelaki ini putra tunggal keluarga Effendi? Keturunan ningrat dong? Sial! Kok bisa beruntung banget sih cewek jelek yang satu ini. Selalu dikelilingi cowok tajir. Kesal Nindy dalam hati. Wanita itu pun mengeratkan rengkuhannya di lengan David, juga memberikan tatapan penuh kemenangan pada Mey. Namun gadis itu sama sekali tak peduli.
"Wah, jadi Anda putra tunggal Effendi? Maaf saya tidak tahu, padahal kita sudah pernah bertemu sekali." Ucap David sambil sesekali melirik Mey yang terlihat begitu menawan. Rahangnya mengerat geram pada gadis itu karena tak meminta izin padanya akan keluar dengan laki-laki lain.
Sial! Jadi ini yang menbuatnya diam sejak sore tadi? Dan sikap apa itu, kenapa dia seolah tak mengenaliku? Pikir David.
Alex tersenyum ramah. "Benar, Mr. Lander. Saya ingin mewakili Papa, beliau tidak bisa hadir karena kurang sehat. Tanpa mengurangi rasa hormat, beliau juga meminta maaf sebesar-besarnya."
"Ah, tidak perlu sungkan. Harusnya saya yang berterima kasih karena Anda sudah bersedia hadir. Semoga Anda menikamati acaranya. Silakan duduk."
"Thank you, Mr. Lander. Ayok, Baby. Aku tahu kamu sudah lapar." Ajak Alex membawa Mey kesalah satu meja bundar yang disediakan khusus untuk tamu undangan.
Baby? Apa-apaan ini? Kesal David masih setia menatap pasangan itu.
__ADS_1
Tasya berdiri tepat di sebelah David. Solah tak mengenali lelaki di sebelahnya. "Omg, Mey. Gila, lo cakep banget. Apa lagi ada pangeran tampan di sisi lo. Serasi banget kalian. Semoga aja kalian jodoh." Puji Tasya dengan suara pelan.
David yang mendengar itu langsung menoleh ke samping. Matanya menajam saat tahu yang mengatakan itu putrinya sendiri.
"Bodoh banget cowok yang udah buang lo, Mey. Emang cuma orang yang cinta sama lo yang tahu seberapa cantiknya diri lo. Bisa menghargai semua kekurangan lo." Imbuh Tasya memberikan tatapan memuja pada pasangan itu.
David mengepalkan kedua tangannya. Apa lagi saat melihat Mey dan Alex saling tersenyum satu sama lain. Gadis itu terlihat begitu senang sambil menikmati hidangan.
Api cemburu dalam diri David pun semakin menggebu-gebu. Ingin sekali rasanya ia menarik Mey dari lelaki itu. Namun dirinya masih sadar bahwa saat ini begitu banyak tamu penting yang hadir.
Tasya tersenyum puas saat melihat akting Mey yang berhasil membuat sang Daddy merah padam menahan rasa cemburu.
Sasa harap Daddy sadar dengan perasaan Daddy sendiri. Kalau Mey memang sudah bersarang di hati Daddy. Maaf, Dad. Saat ini hanya Daddy sendiri yang bisa membawa Mey kembali. Jelaskan padanya apa alasan Daddy membohonginya. Tasya melangkah pergi dari sana menuju sebuah meja bundar yang masih kosong. Mungkin ia hanya akan menonton drama itu dengan santai.
"Lo baik-baik aja kan, ketawa lo aneh?" Tanya Alex saat melihat gelagat aneh Mey. Lelaki itu tahu saat ini Mey sedang cemburu karena David terus menggandeng Nindy saat menyapa para tamu yang datang.
"Lo cemburu?" Tanya Alex lagi. Mey tak langsung menjawab. Ia meneguk segelas minuman berwarna merah dengan kasar. Lalu meletakkan gelas itu dengan kasar pula di atas meja. Untung saja gelas mahal, jadi gak langsung pecah.
"Apa gw salah cemburu sama su... eh pacar gw sendiri?" Kesal Mey yang hampir saja keceplosan.
Alex yang mendengar itu malah tersenyum. "Mey, seperti yang gw bilang tadi. Lo bisa manfaatin gw buat cemburuin pacar lo. Santai aja, jangan tegang gitu."
"Dia jahat banget kan? Gandeng cewek lain, padahal dia udah punya pacar. Lebih parahnya lagi pacar dia ada disini. Sekarang malah elo yang bawa gw ke sini. Gw merasa lo yang lebih cocok dikatain pacar gw. Lo juga yang selalu ngertiin perasaan gw." Curhat Mey.
Alex tersenyum mendengar itu. "Dia belum tahu aja lo itu spesial banget, sulit buat dapetin hati lo."
"Ck, kayaknya dia memang gak akan pernah ngertiin perasaan gw. Capek gw lama-lama." Keluh Mey.
"Lo bisa lari ke gw saat lo mulai bosan ngejar cinta lo, Mey. Tangan gw akan selalu terulur buat lo." Kata Alex penuh ketulusan.
Mey menatap Alex dengan seksama.
"Kak, apa gw keliatan jelek banget ya?" Tanya Mey dengan tatapan sendu. Hatinya masih sangat perih saat mengingat David yang memilih Nindy untuk menjadi pasangannya.
David yang entah sejak kapan duduk di meja sebelah pun tertohok saat mendengar pertanyaan istrinya.
David yang mendengar itu mengepalkan tangannya dengan erat. Tentu saja Nindy melihat itu.
"Sayang, dari tadi aku sama sekali gak lihat kamu makan. Makan ya sedikit, biar aku suapin." Tawar Nindy dengan sengaja ingin memanasi Mey dan menarik perhatian David.
Mey dan Alex yang mendengar itu terdiam sesaat. Mereka tak sadar jika David dan Nindy ternyata di sana, karena tadi terlalu fokus mengobrol. Alex menggenggam tangan Mey. "Lanjut makannya dong, apa perlu gw suapin?"
"Kak, gw bukan anak kecil." Rengek Mey mengerucutkan bibirnya. David yang melihat itu semakin mendidih. Karena tidak tahan, ia pun bergegas pergi dari sana.
"Baby." Panggil Nindy yang terkejut atas kepergian David. Wanita itu pun langsung menyusul David yang sudah menghilang di balik kerumunan orang.
Mey dan Alex pun cuma bisa saling pandang. "Kayaknya pacar lo cemburu."
"Gak mungkin, dia sama sekali gak cinta sama gw. Udah ah, sekarang kan gw pasangan lo. Jadi buat apa bahas orang lain? Sekarang jelasin kenapa lo bohongin gw huh? Pake nipu gw lagi kalau lo itu dari keluarga sederhana. Sederhana pala lo. Gw tahu kali siapa keluarga Effendi. Dan bodohnya gw gak tahu itu elo. Soalnya lo gak pernah ke sorot kamera kayak Bonyok lo."
Keluarga Effendi merupakan pemilik Entertaiment terbesar di Kota ini. Tak heran jika nama mereka cukup mecuat di sosial media dan berita-berita tv. Kecuali lelaki yang ada di hadapan Mey saat ini. Ia begitu misterius.
"Gw udah bilang, gw bakal ngomong pas dansa nanti."
"Gw gak sabar buat langsung dansa, penasaran soalnya sama kisah hidup lo. Terutama alasan lo nipu kita semua."
Alex tertawa renyah. "Lo bakal tahu secepatnya, Mey."
"Masih lama ya acaranya?" Tanya Mey sembari melihat kesekelilingnya. Alex terus memperhatikan Mey begitu intens dan tak berniat menjawab pertanyaan gadis itu.
Beruntung banget kalau lo jadi pacar gw beneran Mey. Gw gak akan segan nunjukkin lo ke dunia, kalau lo itu milik gw seorang.
"Kok gw gak liat Tasya ya?" Mey mengalihkan perhatiannya lagi untuk Alex. Lelaki itu tersentak karena hampir kepergok nyuri pandang.
"Mungkin dia lagi sama temen-temennya." Jawab Alex sekenanya. Mey pun mengangguk pelan. Ia tak menyadari sejak tadi Tasya duduk tak jauh dari sana. Hanya saja gadis itu menutupi wajahnya dengan sebuah majalah yang etah diambil dari mana.
Suara alunan musik dansa mulai memenuhi seisi ballroom. Alex sedikit membungkuk dan mengecup tangan Mey. Saat ini mereka sudah berdiri si lantai dansa. Bukan hanya mereka, tetapi banyak pasangan lainnya yang sudah mulai berdansa, mengikuti alunan musik yang begitu syahdu. Tak terkecuali David dan Nindy yang ikut berdansa layaknya pasangan lainnya. Namun David terlihat tak fokus, karena perhatiannya terus tetuju pada sang istri.
Alex meletakkan sebelah tangan Mey dibahunya, lalu tangan sebelahnya ia genggam lembut. "Ikutin gerakkan gw pelan-pelan."
__ADS_1
Mey mengangguk pelan. Ia terlihat tenang dan mengikuti pergerakan Alex. Perlahan Mey pun mulai terbiasa dengan gerakan yang Alex ajarkan. "Lumayan." Kata Mey tersenyum senang.
"Baru beberapa menit udah hapal aja gerakan gw, gak rugi gw bawa lo, Mey." Alex merengkuh pinggang ramping Mey, mengikis jarak di antara mereka.
Jantung Mey berdegup kencang saat wajah Alex begitu dekat dengannya. Bahkan hembusan napas Alex menyapu hangat diwajahnya. Ia juga merasakan napas itu semakin berat seiring berjalannya waktu.
Mey menggerakkan matanya dan memberanikan diri untuk menatap netra hazel Alex. Hingga tatapan keduanya pun terkunci satu sama lain.
David semakin meremang saat melihat keintiman istrinya dengan lelaki lain. Otak dan hatinya semakin mendidih.
"Mey." Panggil Alex dengan napas memburu.
"Hm."
"Sorry karena gw udah bohongin lo, sebenarnya gw gak ada niat buat nipu semua orang. Gw cuma pengen ngerasain hidup sederhana tanpa harus takut dikejar media. Gw gak suka kehidupan gw yang nyata. Karena itu gw memutuskan keluar dari rumah dan kerja paruh waktu. Ngerasain gimana susahnya nyari duit. Sampe gw ketemu lo, gw jatuh hati sejak pertama kali ngeliat lo."
Mulut Mey terkatup rapat dan tak berani berkomentar.
"Lo cewek pertama yang gak peduli sama tampang gw, gak pernah caper atau nyari perhatian gw. Lo unik, asik, ceria dan yang paling gw suka itu sifat terbuka lo. Lo gak pernah malu ngungkapin semua isi hati lo. Bahkan dengan berani lo bilang cinta sama orang lain. Padahal lo tahu gw udah lama suka sama lo."
"Kak, gw...."
"Mey, gw tahu cinta itu gak bisa dipaksain. Tapi kasih gw kesempatan buat dapetin hati lo. Gw tulus cinta sama lo, Mey. Gw juga tahu saat ini lo masih berjuang buat dapetin cinta seseorang. Tapi kalau lo gagal, biarin gw maju. Karena bagi gw, kebahagiaan lo itu lebih penting dari segalanya. Gw akan terus nunggu lo."
Mey mencengkram lengan baju Alex, menahan rasa sesak didadanya. "Kenapa harus gw, Kak?"
"Gw juga gak tahu, Mey. Perasaan itu muncul sendiri, apa lagi pas liat senyuman lo. Gw merasa dunia ini milik gw seorang."
Mey tertawa hambar. "Tapi lo harus sakit hati karena gw gak cinta sama lo, Kak. Lagian di luar sana masih banyak cewek yang cocok buat dampingin lo. Gw gak pentes."
"Gw yang nentuin lo pantes atau enggak, Mey. Dalam hidup gw, cuma gw sendiri yang tahu apa yang terbaik buat gw. Gw cuma mau lo."
Apa yang harus gw lakuin sekarang? Apa gw terima aja cinta Kak Alex? Gw capek ngerep cinta Om duda yang gak pasti. Apa gw harus nyerah secepat ini? Pak, tolong Mey.
"Mey, kasih gw kesempatan." Potong Alex seraya menarik dagu Mey. Perlahan Alex mendekatkan wajahnya. Refleks Mey memejamkan matanya saat hembusan napas Alex semakin dekat. Alex yang merasa mendapat lampu hijau pun semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Mey. Baru saja bibir itu bersentuhan, tubuh Mey lebih dulu tersentak kebelakang karena seseorang menariknya.
Mey menoleh, seketika matanya melebar saat melihat David lah yang menariknya. Dengan cepat David merengkuh sang istri dan melayangkan tatapan sengit pada Alex.
Tasya yang sejak tadi mengawasi mereka pun bangun dari posisinya, lalu memberikan kode pada petugas agar mematikan alunan musik.
"Don't touch my wife!" Suara David pun menggema di seluruh ruangan karena musik mati diwaktu yang bersamaan.
Sontak semua tamu undangan yang tak tahu kenyataan itu terkejut mendengar pengakuan David. Seketika ruangan itu menjadi riuh.
Bukan hanya para tamu yang kaget, tetapi Nindy dan Mey pun ikut kaget. Mey tak menyangka David akan mengakuinya di depan umum. Sedangkan Nindy tampak kesal karena David resmi mengakui Mey sebagai istrinya, itu berarti dirinya mulai terancam dan akan disingkirkan.
Sial! Ngapain dia ngaku segala kalau gadis jelek itu istrinya? Kesal Nindy.
Om David mengakui kalau gw ini istrinya di depan umum? Apa gw mimpi? Pikir Mey. Namun tiba-tiba ia mengingat tentang Alex. Mey mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. Namun Alex malah tersenyum kecut.
"Jadi sekarang Mr. Lander mengakui jika gadis ini istri Anda? Apa ini sikap seorang suami, memilih wanita lain sebagai pasangan? Sedangkan Anda memiliki istri di rumah." Ujar Alex dengan santai. Mey pun menunduk lesu. Perkataan Alex kembali mengingatkannya bahwa David hanya mempermainkan perasaannya. Mey menggeser tubuhnya menjauh dari David.
David menoleh dan menatap sang istri tajam. "Mey." Panggil David memberi peringatan supaya Mey kembali mendekat. Namun gadis itu semakin mundur.
"Mey minta maaf." Gadis itu pun beregas pergi dari sana dengan langkah cepat.
"Sialan!" Umpat David yang langsung mengejar sang istri. Sedangkan Alex cuma bisa tersenyum getir dan sama sekali tak berniat menyusul gadis itu. Karena sejak awal ia tahu Mey sudah menikah. Sudah lama ia menyimpan rasa curiga. Dan bukan hal sulit juga baginya untuk mencari informasi tentang hubungan Mey dengan David.
"Dev." Pekik Nindy yang hendak mengejar David. Namun seseorang lebih dulu menahan lengannya. Orang itu adalah Tasya.
"Jangan harap lo bisa misahin mereka, Nenek lampir. Kalau lo masih punya muka, lo pergi dari sini." Sinis Tasya mencengkram erat tangan Nindy, kemudian melepasnya dengan kasar. Nindy yang merasa dipermalukan pun bergegas pergi dari sana.
Tasya menatap punggung Alex dengan seksama. Lalu melangkah maju menghampiri lelaki itu. Dengan keberanian ia menyentuh pundak Alex. Lelaki itu pun menoleh.
"Please, kasih mereka kesempatan." Mohon Tasya menatap Alex penuh harap.
Alex terdiam sejenak. "Sejak awal gw gak pernah maksa Mey. Bokap lo yang ngasih gw kesempatan itu. Tapi kalau Mey tetap milih Bokap lo, gw mundur perlahan. Dan lo harus ingat, sekali gw tahu Bokap lo nyakitin Mey. Gw akan maju selangkah lebih jauh dari Bokap lo." Setelah mengatakan hal itu. Alex pun beranjak pergi.
Tasya tersenyum getir. "Beruntung banget lo, Mey. Bisa dicintai cowok seganteng Alex. Gw harap Daddy gak melakukan hal bodoh kali ini."
__ADS_1