Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 52


__ADS_3

Tasya berjalan pasti menghampiri meja di mana masih ada Mey, Gibran dan Wilona. Ia menepis jejak air matanya dengan kasar. Lalu menggantinya dengan senyuman semanis mungkin.


"Gib, jalan-jalan yuk. King kayaknya mulai bosan di sini terus. Lo bawa mobil kan?" Ajaknya pada lelaki itu. Mey yang mendengar itu menatap Tasya penuh selidik. Ia tahu terjadi sesuatu pada anak tirinya itu.


"Tar di rumah gw cerita, gw butuh ketenangan sekarang." Bisik Tasya saat dirinya duduk di kursi kembali.


"Okay." Balas Mey.


"Yuk, gw juga masih belum puas main sama King, gw bawa mobil kok. Ayok jalan-jalan, Boy." Gibran terlihat begitu semangat. Mengangkat bayi gemuk itu ke udara. Tentu saja King menyukainya dan tertawa riang. Di waktu yang bersamaan Alex ikut bergabung kembali.


"Mau jalan-jalan kemana, My boy? Biar Papa bawa keliling. Ayok, aku aja yang gendong ya?" Pinta Gibran. Ia juga mengubah panggilannya jadi aku kamu. Tasya cuma bisa tersenyum dan mengangguk. Gibran tertawa senang dan langsung membawa King pergi dari sana.


Alex mengeratkan rahangnya saat melihat itu. Ia merasa tak rela Gibran menjadi Papa sambung untuk anaknya.


Tasya memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. "Mey, gw pergi dulu ya? Sorry gak bisa temenin lo sampe siang. Kasian King kalau di sini terus, bisa gerah dia." Pamit Tasya yang sebenarnya menyindir Alex.


"Oh iya, bilang sama Buk Neny gw pamit. Bilang aja gw ada urusan penting. Gw nyusul Gibran dulu ya? See you, Mom." Tasya mencium pipi Mey sebelum pergi dari sana.


Sepeninggalan Tasya. Mey menatap Alex dengan senyuman masam. "Lo percaya kata-kata ini gak? Penyesalan itu datang di akhir." Mey tertawa renyah setelah mengatakan itu. Dan sedetik kemudian merubah raut wajanya menjadi dingin.


"Wil, tunggu di mobil." Titah Alex pada Wilona.


"Tapi...."


"Sekarang." Tegas Alex.


"Ok. Jangan lama." Ketus Wilona yang langsung beranjak dari sana.


Alex menatap Mey dengan tatapan serius. "Mey, gw mau minta maaf secara langsung sama elo. Gw tahu semua kesalahan gw, gw brengsek, gw...."


"Apa yang mau lo omongin sebenernya huh?" Potong Mey.


Alex menghela napas berat. "Gw mau memperbaiki semuanya, gw pengen deket sama King. Gw emang gak pantes dapat pengakuan dari King. Tapi gw nyesel, Mey. Gw nyesel sejak kejadian lo nyerang gw, bahkan gw masih inget tuduhan yang gw lontarin buat Tasya. Gw nyesel banget Mey."


"Gak ada gunanya lo nyesel sekarang, Kak. Tasya udah lewatin masa sulitnya jauh-jauh hari. Mungkin dulu gw dan Tasya berharap lo datang dan minta maaf secara langsung. Lo ngakuin depan suami gw kalo elo yang hamilin Tasya. Tapi lo malah menghilang." Mey meneteskan air matanya. Alex yang melihat itu hendak meraih tangan Mey. Namun dengan cepat Mey menolaknya.


"Lo tahu apa Kak? Sampe sekarang suami gw gak tahu siapa Ayah kandung King. Gw berdosa karena nyembunyiin semua ini. Tapi gw sayang sama Tasya. Dia gak mau Daddynya tahu, dia masih lindungin nama baik lo setelah apa yang lo perbuat sama dia. Cinta dia ke elo besar banget, dan elo malah hancurin hatinya sampe berkeping-keping." Lanjut Mey menyentuh keningnya. Sebenarnya ia tidak sanggup untuk bercerita lebih lanjut. Namun dia sudah sangat geram dengan sifat cemen Alex.


"Delapan bulan dia ngandung anak lo, jangan lo pikir selama delapan bulan itu dia baik-baik aja. Enggak, dia menderita asal lo tahu. Gw yang liat sendiri gimana susahnya dia jalanin masa-masa dia ngidam. Dia sering nangis tiap malam cuma karena pengen ketemu elo. Dia pendem semuanya sendirian." Pertahanan Mey pun runtuh. Ia menangis sesegukkan.


Alex yang meliaht itu merasa bersalah. "Mey, gw...."


"Gw belum selesai, Kak. Lo juga haru tahu, Tasya hampir mati saat lahirin King. Dia pendarahan hebat, karena dia sempat ngalamin gangguan pembekuan darah. Beruntung Tuhan masih kasih kesempatan buat dia hidup. Merawat King sampai sebesar ini. Jadi gw mohon, jangan egois buat dapetin hak asuh King saat Tasya milih orang lain buat jadi Ayah sambung anak lo. Biarin dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Salah lo sendiri karena nyia-nyiain cewek sebaik dia, juga buang King gitu aja."


Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Lelaki itu benar-benar terlihat frustasi. Namun ia sadar, tak pantas dirinya mengharapkan Tasya atau pun King menjadi miliknya.


"Sekarang semuanya terserah lo, Kak. Kalo lo mau memperbaiki semuanya, lo ngomong sama dia baik-baik. Tapi jangan pernah maksa dia, sewajarnya aja. Gw yakin dia gak bakal larang elo buat ketemu King."


Alex menatap Mey dengan sendu. "Gw cuma pengen deket sama anak gw, Mey. Gw gak akan ganggu kehidupan Tasya. Sadar diri gw, Mey. Gw orang yang udah hancurin masa depan dia."


Mey menghela napas gusar, menatap Alex penuh iba. "Lo omongin ini baik-baik sama dia deh, gw gak bisa bantu lo kalo masalah King. Salah lo sendiri karena dulu nolak kehadiran King. Seharunya lo sadar, dari rahim siapa pun King lahir. Lo harus tanggung jawab. Sekarang lo yang nyesel sendiri kan?"

__ADS_1


Alex mencengkram rambutnya sendiri. "Gw berdosa banget, Mey. Gw pernah minta Tasya buat gugurin King. Gw nyesel."


"Percuma lo nyesel sekarang, King udah lahir dan tumbuh jadi anak pinter. Beruntung dia belum ngerti apa-apa, gak tahu kalo dia punya Bapak brengsek kayak lo." Mey tersenyum getir. Masalah Tasya memang bukan hal mudah.


Keduanya terdiam cukup lama.


"Mey, thank you udah mau cerita sama gw. Gw gak bakal ganggu Tasya, gw janji. Dia berhak bahagia. Gw pulang dulu, Nyokap udah nunggu."


"Hm." Mey mengangguk pasrah.


"Gw pamit dulu sama Buk Neny, thanks buat lo." Pungkas Alex beranjak menuju ruangan Buk Neny. Sedangkan Mey memilih diam di sana. Sesekali ia menghela napas, memikirkan semua masalah hidup sahabat sekaligus anak tirinya itu.


"Gw harap lo bahagia selalu, Sya. Siapa pun yang bakal jadi masa depan lo, gw harap dia bisa memahami setiap keadaan lo dan bahagiain lo tentunya."


****


Di dalam mobil, Tasya terus tersenyum saat melihat Gibran memangku King sambil menyetir. Bayi gembul itu terlihat senang dan terus mengoceh.


"Buzzz...." mulut King sudah dipenuhi air ludah karena bayi itu tidak mau diam dan terus berteriak gembira.


"Kayaknya dia seneng banget main mobil-mobilan, gak pernah lo bawa kayak gini ya?" Tanya Gibran yang sengaja melajukan mobil pelan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu bersama wanita pujaan hatinya.


"Gw gak sempat bawa dia jalan-jalan kayak gini." Jawab Tasya menatap King penuh rasa bersalah.


"Gak papa, tar gw yang bakal rajin-rajin bawa King jalan. Lo ngerasa gak sih?"


"Rasa apa?"


Tasya tertawa lucu mendengarnya. "Jadi lo lagi ngayal ceritanya nih punya keluarga kecil? Okay, anggap aja kita emang keluarga kecil."


Gibran tersenyum lebar. "Gw harap kedepannya kita bisa gini terus. Gw jatuh hati sama si gembul, My baby boy."


Tasya tertegun mendengar itu.


Andai Kak Alex yang ada di posisi ini, pasti gw bahagia banget. Seketika Tasya tersentak kaget. Ck, ngapain gw ingat dia lagi sih? Gw kan lagi belajar buat terima Gibran. Dia lelaki tulus yang pertama kali gw kenal. Bahkan dia mau nerima King tanpa mempermasalahkan statusnya.


"Gib."


"Hm?" Gibran melirik Tasya dengan senyumannya yang khas.


"Lo beneran mau nikah sama gw?" Tanya Tasya memberikan tatapan serius.


Gibran menepikan mobilnya, menatap Tasya lamat-lamat. "Gw kan udah bilang, gw serius sama lo. Kalo lo mau, gw pengen nikahin lo secepatnya. Gw gak mau orang lain lebih dulu ambil elo, Sya. Gak rela gw." Jujur Gibran.


"Gib, sorry kalau gw terkesan manfaatin lo atau jadiin lo pelarian. Tapi gw gak ada niat kayak gitu. Gw pengen sembuh dari rasa sakit yang selama ini gw pendem. Gw butuh seseorang buat jadi obat, gw lelah, Gib. Gw pengen move on." Tasya menitikan air matanya. Ia tak mampu membendung rasa sakitnya lagi.


Gibran menghela napas berat. "Gw gak pernah ngerasa lo manfaatin gw, Sya. Lagian gw gak peduli lo mau manfaatin gw atau apalah itu. Yang penting gw bisa terus di sisi lo dan buat lo bahagia. Kita bisa besarin King sama-sama. Gw yakin cinta dihati lo bakal tumbuh dengan sendirinya." Jelas Gibran meyakinkan hati Tasya. Bahwa dirinya tidak pernah main-main.


"Kenapa lo baik banget sama gw, Gib?"


"Karena gw cinta sama lo, Sya."

__ADS_1


Tasya menatap Gibran cukup lama, mencari sebuh kebohan di mata lelaki itu. Namun lelaki itu terlalu jujur, sampai ia tak menemukan keraguan sedikit pun di sana.


"Lo mau bukti apa supaya lo percaya sama gw? Kalo gw beneran cinta sama elo. Apa pun bakal gw lakuin supaya lo percaya."


"Bubuzzzz...." Tasya dan Gibran terkejut saat mendengar suara King yang cukup besar. Bayi itu terus memukul-mukul setir mobil seolah meminta Gibran melajukan mobilnya lagi.


Lalu keduanya pun tertawa bersama melihat kelucuan King. "Anak siapa sih pinter banget?" Gibran mendudukkan King di atas setir. Lalu mencium pipi gembul King dengan gemas.


"Anak Mommy dong, iya kan Sayang?" Tasya mengusap kepala King penuh kasih sayang. Bayi gembul itu pun berteriak seolah mengerti perkataan Mommynya.


"Sya, ke rumah gw yuk? Gw mau kenalin lo sama Mamah. Mau ya?"


Tasya menatap Gibran dengan tatapan aneh. Membuat lelaki itu merasa waswas jika Tasya akan menolak.


"Ok, ayok." Jawab Tasya dengan senyuman lebar. Gibran menatap Tasya nyaris tak percaya.


"Serius lo mau? Ketemu Mamah gw?"


Tasya mengangguk antusias. "Gw juga pengen kenal Nyokap lo. Gw yakin dia baik banget kan? Soalnya anaknya juga baik. Meski dulu lo sering bully gw."


"Ck, kan udah dibilang gw bully lo karena gw gak tahu gimana caranya buat deket sama elo. Soalnya dulu lo diem banget, pas udan kenal si cewek barbar aja lo jadi gini." Ujar Gibran yang berhasil medapat pelototan dari Tasya.


"Lo jangan lupa, Mey itu Mamud gw. Lo gak boleh lagi bilangin dia cewek barbar." Kesal Tasya.


"Sorry deh, jadi gw panggil si cewek barbar Mamud dong? Lucu juga ya?"


"Ck, udah ah jangan ngomongin Mamud gw. Kasian tar dia keselek. Katanya mau bawa gw ke rumah elo. Ayok, gw udah siap."


"Siap jadi mantu kan?"


"Ih... jangan becanda Gib. Ayok jalan." Rengek Tasya memukul lengan lelaki itu.


"Sabar, Sayang. Nih King sama lo aja, biar cepet gw nyetirnya." Gibran memberikan King pada Tasya. Namun bayi gembul itu langsung menangis.


"Eh, kok nangis? Gak mau di gendong sama Mommy lagi ya? Mentang-mentang udah punya Om Gibran." Kata Tasya memeluk King dan mengusap punggungnya.


"Ko Om sih, Sya? Papa dong, King harus terbiasa manggil gw Papa." Protes Gibran.


"Ck, entar aja kalau udah jadi."


"Wih, jadi lo nerima gw nih?"


"Gib... kapan sapenya kalo lo ngomong terus?" Kesal Tasya yang sebenarnya malu.


"Lah, yang nyetir kan tangan gw, yang teken gas kaki gw. Mulut masih nganggur, Sya."


"Eh, iya juga ya?"


"Ck, baru kali ini gw nemu bule lola kayak gini."


"Gib! Lama-lama gw marah nih." Kesal Tasya yang disambut tawa oleh Gibran. Kemudian mobil mewah milik Gibran pun melesat cepat membelah jalanan kota.

__ADS_1


__ADS_2