Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 73


__ADS_3

David masuk ke ruang rawat Laura sepulangnya dari kantor. Seulas senyuman terbit di bibirnya saat melihat Mey dan Laura tertidur dalam posisi saling berpelukan. Lelaki itu mendekat dan duduk di sisi Mey. Kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut.


Mey terkejut dan langsung membuka matanya. "Mas, kaget tahu gak. Baru pulang?"


David mengangguk.


"Terus kamu gak pulang dulu liat Noah? Dari tadi Mey kepikiran terus. Takutnya Noah haus." Mey memasang wajah cemas.


"Aku gak sempat. Lagian malam ini Laura udah bisa pulang. Baru aja dibilang sama dokternya."


"Beneran, Mas? Alhamdulillah kalau gitu. Lagian kalau di rumah Mey bisa rawat Laura sama Noah sekaligus."


"Gak perlu terlalu memforsir diri kamu sendiri, biar Laura dirawat sama suster."


Mey tampak berpikir. "Ya udah, terserah Mas aja."


"Ya udah pulang aja duluan. Aku udah minta supir buat antar kamu. Laura biar aku yang bawa pulang nanti." David mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Iya, Mas. Aku pamit dulu. Kasian saolnya Noah. Dada Mey juga udah sakit banget dari tadi. Pasti Noah rewel."


"Sini biar aku isep dulu." Sontak Mey melotot mendengarnya.


"Ck, mesumnya gak ilang-ilang. Ini jatah Noah, Mas. Tar malam aja jatah kamu mah, kalau ada sisanya sih." Mey terkekeh sendiri.


"Sisain sebelah. Aku kangen kamu soalnya. Nanti malam harus kelonan. Siapa suruh lari dari rumah terus."


"Lah, itu mah salah kamu. Udah ah, Mey mau pulang. Titip Laura, love you Daddy." Mey mengambil tas miliknya dan memberikan kecupan di bibir David sebelum pergi.


"Love you too, Mommy." Balas David. Mey pun tersenyum dan langsung begegas pergi. David pun duduk di sebelah Laura, lalu memberikan kecupan di pipi gadis kecil itu.


Sesampainya di rumah, Mey langsung berlari menuju kamar. Sebelum sampai ke rumah tadi, ia sempat menghubungi Tasya untuk menanyakan keberadaan putranya. Dan ia bersyukur karena Noah ada di rumah.


"Ya ampun anak Mommy."


Bik Nina yang sedang berusaha menidurkan Noah pun sedikit bergeser. "Kayaknya haus berat, Nya. Dari tadi ngerengek terus."


"Iya, Bik. Pantes aja dada aku sakit banget. Mommy minta maaf ya? Adek jadi haus ya? Sayang anak Mommy. Bik, tunggu ya aku bersih-bersih dulu, habis dari rumah sakit soalnya."


"Iya, Nya."


Mey pun langsung beranjak menuju kamar mandi. Hanya dalam dua menit ia sudah keluar hanya dengan balutan bathrobe. "Masih belum bobok ya, Bik?"


"Belum, Nya. Namanya juga aus."


"Iya, sini biar aku susuin dulu." Mey pun mengangkat Noah dan menggendongnya. Lalu menyusui anak tampannya itu.

__ADS_1


"Duh... haus banget ya sampe lahap gitu?" Mey menoel hidung Noah gemas.


"Kata Tasya orang tua Bibik meninggal ya? Mey turut berduka cita ya, Bik."


Bik Nina tersenyum ramah. "Iya, Nya. Makasih banyak. Tadi pagi Bibik juga baru balik ke sini karena ingat rumah kosong."


Mey mengangguk pelan.


"Oh iya Bik, King di mana?" Tanya Mey menatap Bik Nina yang sedang merapikan tempat tidur Noah.


"Ada di kamar Non Tasya, dari tadi tidur aja karena Non Tasya ninggalin asi."


"Syukurlah." Mey pun kembali memperhatikan wajah polos putranya yang mulai terlelap.


"Oh iya, Nya. Kapan Non Laura pulang?"


"Iya lupa, malam ini, Bik. Aku boleh minta tolong bersihin kamar Laura gak, Bik?"


"Boleh kok, Nya."


"Makasih ya, Bik."


"Sama-sama, kalau gitu saya pamit dulu Nya."


"Silakan, Bik."


"Kamu kangen kamar ini juga ya? Mommy juga sama, maaf ya karena sifat kekanakan Mommy kamu harus tinggal di tempat sempit. Habis Daddy kamu sih bikin Mommy kesal." Mey meraih tangan Noah dan terus memberikan kecupan.


Setelah dirasa tidurnya pulas, Mey pun menidurkan Noah ke dalam box bayi. Kemdian ia meninggalkan kamar untuk mengecek King ke kamar Tasya.


"Duh... si gembul nyenyak amat tidurnya." Mey tersenyum geli saat melihat cara tidur cucunya itu. "Mommy kamu kemana ya kok belum ada kabar?"


Mey terdiam beberapa saat sambil menatap wajah King yang semakin hari semakin mirip dengan Alex.


"Gak nyangka aja kamu bakal lahir dan jadi prantara buat satuin Mommy sama Daddy kamu. Meski banyak banget drama di kehidupan orang tua kamu. Grandma harap kamu tumbuh besar jadi anak yang baik dan bisa banggain orang tua. Jangan ikutin jejak orang tua kamu, nyeleneh itu mah." Mey terkekeh sendiri. Setelah puas memantau cucunya. Ia pun kembali ke kamarnya. Sepertinya ia harus istirahat sebentar karena matanya udah berat banget.


****


Tasya terus mengembangkan senyuman bahagia sepanjang perjalanan. Alex yang sedang serius di balik kemudia pun menoleh sekilas


"Senang banget kayaknya yang dapat restu dari Papa?"


"Iya dong, sekian lama dan purnama akhirnya Papa nerima aku jadi mantunya. Rasanya hati aku menghangat pas Papa peluk. Aku pikir sampe tahun depan Papa masih dingin sama aku."


Alex tersenyum. "Aku rasa Papa emang udah lama nerima kamu. Cuma dia ego aja. Bahkan aku sering mergokin dia ngintip King yang lagi tidur."

__ADS_1


"Beneran?"


"Iya, tapi aku sengaja diam. Soalnya Papa gengisian banget."


"Sama kayak kamu." Cibir Tasya yang disambut tawa suaminya.


"Namanya ayah sama anak, pasti miriplah."


Tasya tersenyum. "Besok kita bawa King main ke rumah Papa deh. Biar Papa puasin main sama cucunya."


Alex melirik Tasya lagi. "Nambah yuk?"


"Nambah apa?"


"Nambah anak, sayang. Masak nambah istri? Kasian King, kayaknya butuh adek."


Tasya menatap Alex cukup lama. "Sayang, kayaknya aku udah telat seminggu deh."


Mendengar itu Alex langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. "Serius kamu?"


Tasya mengangguk. "Tapi aku belum cek sih."


"Ya udah, pulang ini kita cek sama-sama."


"Mana bisa malam ini, Kak. Besok pagi paling bisanya."


"Gak papa, kita cobak aja dulu. Ya udah, kita mampir di apotek dulu buat beli alat tes kehamilan. Kita beli agak banyak biar lebih akurat. Ya ampun, kok aku deg degan ya?" Alex pun kembali melajukan mobilnya.


Tasya tertawa renyah. "Kalau iya aku hamil lagi, gak jadi dong bulan madunya?"


"Siapa bilang gak jadi, tetap jadi lah. Kan bulan madu gak harus di atas ranjang aja. Hitung-hitung ajak King liburan."


Tasya tersenyum lebar. "Gak sabar pengen liburan."


"Aku gak sabar mau lihat hasilnya, positif atau enggak?"


"Kayaknya gak sabaran banget kamu."


"Aku cuma pengen rasaian aja gimana prosesnya jadi seorang Ayah. Meski aku udah punya King, tapi aku udah lewatin masa-masa itu, Sya. Kadang aku nyesal dan pengen sujud di kaki kamu pas ingat kelakuan aku dulu. Gak bertanggung jawab banget."


Tasya menggenggam erat tangan suaminya. Kemudian dikecupnya dengan lembut. "Itu masa lalu, sayang. Jangan diingat terus. Sekarang kita mulai lembaran baru. Syukur-syukur aku beneran hamil."


"Mudah-mudahan aja. Duh... jadi gak sabar pengen cepet sampe rumah."


"Eh, jangan lupa ambil King dulu. Kasian dia pasti udah tidur dari tadi."

__ADS_1


"Mana mungkin aku lupa, Sya. Gak ada dia gak bisa tidur aku."


Tasya tertawa renyah yang disusul oleh Alex. Sepertinya kebahagian mulai terasa lengkap sekarang. Restu sudah dikantongi, hanya tinggal menunggu hasil apakah King akan punya adik atau belum. Jika belum, tentu saja mereka masih harus berusaha ekstrak lagi.


__ADS_2