
"Chaca bagaimana? Apakah masih rembes?" Tanya Jenar.
"Kayaknya masih deh," jawab Chaca masih santai.
"Emang kamu gak ngerasain mules atau sakit gitu Cha?" Tanya Jenar menelan ludahnya kasar saat mengingat dirinya dulu yang merasakan sakit luar biasa.
"Mules sih dikit kaya mau Bab, tapi gak terlalu," jawab Chaca sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas.
"Baby Queen jangan nakal yah, kalau mau keluar nanti jangan buat Mami sakit. Cepet keluar biar cepet ketemu sama Kakak oke!" Sedari tadi Aiden dan Dimas terus berlomba mengusap perut Chaca, makanya Chaca merasa sangat nyaman dan tenang.
Mobil yang di kendarai Arya pun kini akhirnya sudah sampai di rumah sakit keluarga Pranata.
Dan ternyata di sana sudah ada Tamara dan Adi yang sudah menunggu sedari tadi.
Dimas pun segera menuntun Chaca masuk ke dalam rumah sakit, awalnya Dimas hendak menggendong Chaca, namun Chaca tidak mau. Dia memilih jalan sendiri.
"Sayang, bagaimana? Apa yang kamu rasain?" Tanya Tamara langsung menghampiri Chaca.
"Cuma kaya ngompol aja Mah, gapapa kok. Gak sakit sama sekali," kata Chaca santai sambil tersenyum membuat Tamara sedikit lega.
Lalu semuanya pun memasuki rumah sakit dan menuju ruang bersalin. Chaca langsung berbaring dan Dokter segera memasang selang infus untuk Chaca.
"Saya cek dulu ya pembukaan nya," ujar Dr. Maya.
__ADS_1
"Auwh sakit Dok!" Pekik Chaca saat merasakan jari Dr. Maya memasuki organ intim nya.
"Sudah pembukaan 4, di buat miring ke kiri terus yah biar cepet nambah pembukaan nya," ujar Dr. Maya sambil tersenyum.
"Dokter, bisa tolong panggilin suami saya gak?" Tanya Chaca.
"Sebentar yah," Dr. Maya pun segera keluar dan memanggil Dimas.
"Ada apa sayang?" Tanya Dimas lembut saat sudah duduk di samping Chaca.
"Chaca mau tanya-tanya sama mas Dimas." Ujar Chaca sambil menggenggam tangan Dimas.
"Apa?" Tanya dimas mengusap kepala Chaca.
"Dulu mbak Astrid saat melahirkan Aiden normal atau SC?" Tanya Chaca sedikit meringis sepertinya sudah mulai kontraksi.
"Berarti ini pertama kali mas nemenin orang melahirkan?" Tanya Chaca dan Dimas mengangguk.
"Mas, perut Chaca kayaknya mulai mules lagi deh." Ucap Chaca pelan lalu Dimas pun segera mengusap perut Chaca.
"Chaca pengen deh lahiran ada Mas sama Mama disini. Tapi kayaknya gak mungkin yah, Mama gak akan mau nemenin Chaca," ucap Chaca dengan sendu.
"Mama Tamara?" Tanya Dimas mengerutkan dahinya. "Mau mas panggilkan?" Tanya nya lagi.
__ADS_1
"Bukan Mama Tamara, tapi Mama—" ucap Chaca terpotong kala merasakan perut nya semakin melilit.
"Auuwwhh ssshhhhh." Chaca menggigit bibir bawanya dan memejamkan matanya saat rasa sakit itu datang dan semakin sakit.
"Sayang kamu kenapa? Mas panggil Maya duku ya," ucap Dimas panik melihat Chaca meringis.
"Gapapa kok tadi sakit sedikit sekarang ilang lagi." Kata Chaca kembali santai.
Beberapa saat kemudian Chaca kembali merasakan kontraksi dan dia spontan berteriak, hingga membuat Dimas terkejut.
"Mas panggil Maya sebentar yah," ucap Dimas namun Chaca menggeleng.
"Ilang lagi sakit nya," kata Chaca saat sudah tenang, lalu mereka mengobrol lagi dan hingga tiba tiba Chaca benar benar merasakan sakit yang lebih terasa di banding kan sebelumnya hingga membuat Dimas langsung menekan tombol darurat.
"Kenapa?" Tanya Dr. Maya saat memasuki ruangan Chaca.
"Dok, kenapa semakin sakit yah aaaahhh sssshhh, tadi gak sesakit ini?" Tanya Chaca sambil menggenggam erat tangan Dimas.
"Sebentar kita cek lagi yah," kata Dr. Maya lagi lagi mengecek pembukaan.
"Woahh cepet banget yah, udah pembukaan 8 saja. Sabar ya Chaca sebentar lagi pembukaan lengkap dan baby kalian akan segera launching." Kata dr. Maya tersenyum.
"Tapi kenapa sakit banget Dok! Tadi gak kaya gini sakit nya hiks hiks," ujar Chaca menahan sakit.
__ADS_1
"Sebentar lagi kok, sabar yah. Dan kamu Dim, usapin terus punggung nya biar rileks." Ucap Dr. Maya sambil menyiapkan beberapa peralatan untuk persiapan melahirkan Chaca.
"Maasssss sakiitttt!" Chaca berteriak saat merasakan sakit itu kembali.