
Usia yang sudah semakin besar membuat aktifitas nya semakin terganggu, terlebih Chaca sudah tidak boleh memakan es krim kesukaan nya. Kemarin, tepat saat mereka pulang dari rumah sakit, Dimas langsung menyuruh para pekerja di rumah nya untuk menyingkirkan freezer es itu agar Chaca tak lagi tergiur oleh es krim.
Tentu saja Chaca sangat kesal dan marah, maka dari itu sejak kemarin ia hanya diam dan merenungkan nasib es krim nya.
"Sayang, sudah dong jangan marah lagi." Ucap Dimas pelan berusaha membujuk Chaca agar tak mendiamkan nya terus.
Chaca tidak menjawab, ia malah memutar kursinya dan memejamkan matanya menikmati Alunan musik yang ia dengarkan lewat earphone.
"Kita jalan jalan yuk? Mau gak?" Tawar Dimas masih membuat Chaca diam.
"Kita ke taman nanti beli es krim," ucap Dimas pelan namun langsung di dengar oleh Chaca. Terbukti ia langsung melepaskan earphone nya dan mulai beranjak dari duduk.
"Ayo!" jawab Chaca dengan cepat sambil perlahan beranjak dari duduknya.
"Tapi sedikit saja ya?" Ucap Dimas.
"Iya sedikit aja janji," kata Chaca tersenyum senang.
Dimas pun segera menuntun Chaca menuruni tangga dengan perlahan.
(Kini Chaca dan Dimas sudah pindah ke rumah baru yah, jadi di rumah nya sudah tidak ada Ipar atau mertua Chaca lagi.)
__ADS_1
"Kita jalan kaki saja ya, sekalian olah raga," ucap Dimas di balas anggukan kepala oleh Chaca.
"Nyeker boleh gak?" Tanya Chaca polos.
"Enggak!" Jawab Dimas dengan cepat. "Kalau kamu nyeker, kaki kamu akan sakit terus nanti luka bagaimana?" Tanya Dimas menatap Chaca tajam.
"Hemm, iyalah " Ucap Chaca lalu ia segera berjalan menuju Taman komplek, karena di sana biasanya ada tukang es krim langganan Chaca.
Namun Chaca harus menelan kekecewaan kala tak menemukan tukang es krim tersebut.
Chaca tidak tau bahwa ini adalah salah satu strategi dari suaminya sendiri.
"Yah kemana si abang yang jual es krim nya?" Tanya Chaca lirih sambil matanya terus menelisik ke sembarang arah untuk mencari keberadaan tukang es krim.
"Gak mungkin banget cepet habis, dia kan Kuala nya siang, dan ini baru jam berapa." Kata Chaca lesu.
Sebelum Dimas membujuk Chaca, ia sudah lebih dulu menyuruh tukang es krim di taman itu untuk berpindah jualan, tentu saja setelah Dimas memberikan nya uang sebagai tanda rugi.
'Maafkan aku sayang,' batin Dimas terkekeh saat melihat raut wajah kecewa Chaca karena tak menemukan es krim.
"Dimas, Chaca." Panggil seseorang sukses membuat Chaca dan Dimas langsung mengalihkan pandangan nya.
__ADS_1
"Mbak Astrid," kata Chaca sambil tersenyum kikuk. Sedangkan Dimas hanya diam menatap datar.
"Hay Cha," kata Astrid tersenyum ramah.
"Ha—hay juga mbak," kata Chaca.
"Kalian ngapain disini?" Tanya Astrid.
"Ah hanya jalan-jalan sore saja. Mba Astrid sendiri ngapain disini?" Tanya Chaca.
"Oh itu, tadi saya habis menemui salah seorang teman ku. Rumahnya gak jauh dari sini." Kata Astrid lalu menatap perut Chaca yang sudah begitu besar.
"Sudah berapa bulan Cha? Wah Aiden pasti senang yah sebentar lagi ia akan mempunyai Adik," kata Astrid dengan senyum getir.
"Iya mbak Aiden sangat antusias dengan adik nya." Jawab Chaca.
"Ayo kita pulang," kata Dimas menggenggam tangan Chaca.
"Ta—" ucap Chaca tak enak hati kepada Astrid.
"Gapapa Cha, hati-°hati ya, salam untuk Aiden." Kata Astrid dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Iya mbak, kami duluan yah." Ucap Chaca lalu ia segera berjalan mengikuti langkah kaki Dimas.