Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 40


__ADS_3

"Mey."


Mey langsung mengalihkan pandangan dari orang itu dan menoleh ke samping. Di sana sudah berdiri Tasya dengan senyumannya yang khas.


"Mey, lo kemana aja?" Gadis itu langsung berlari mendekat dan berhambur dalam pelukan Mey.


"Sya, kenapa lo ada di sini? Bukanya lo di London?" Tanya Mey tak berniat membalas pelukan Tasya.


Tasya pun melerai pelukannya. "Gw pulang karena elo, tapi elo malah lari dari rumah."


"Sya... gw...."


"Gw tahu apa yang terjadi, tapi tolong dengerin penjelasan Daddy gw dulu. Lo liat sendiri, Daddy berantakan pas elo pergi." Potong Tasya menggenggam tangan Mey. Mey menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri di depan gerbang. David masih terdiam dan sejak tadi pandangannya terus tertuju untuk Mey.


Hati Mey sempat terenyuh saat melihat penampilan suaminya yang benar-benar aneh. Dua minggu ia meninggalkan rumah, kini David terlihat kurusan dengan wajah yang memucat.


Kenapa kamu jadi seperti ini, Mas? Bukanya kamu yang bilang mau cerein aku? Apa ini cuma akting?


"Daddy hampir gila nyari elo, Mey." Kata Tasya ikut menatap sang Daddy.


Mey memalingkan wajahnya dari David. Kata-kata menyakitkan lelaki itu membuatnya kembali sakit hati. "Gw gak bisa balik lagi, Daddy lo udah milih pilihannya sendiri. Secepatnya gw bakal lempar gugatan cerai."


"Mey...."


"Elo gak tahu rasanya jadi gw, Sya. Sakit hati gw pas denger kata-kata yang Daddy lo ucapin. Gw gak bisa maafin dia kali ini. Lagian sekarang dia udah punya Tante Nindy. Selama ini lo minta adik kan? Tante Nindy yang bakal kasih adik buat elo." Ujar Mey mulai menitikan air mata. Hatinya teramat sakit saat mengatakan hal itu.


"Tapi Daddy gw...."


"Dev! Akh... ternyata aku tidak salah tebak." Suara itu berhasil menahan ucapan Tasya. Keduanya pun langsung menoleh ke sumber suara. Di sana Nindy sedikit berlari menghampiri David, lalu memeluk lelaki itu. David yang sejak tadi masih termenung pun tersentak kaget.


"Maaf, Sya." Mey hendak pergi. Namun dengan cepat Tasya menahannya.


"Please, tetap di sini." Mohon Tasya.


"Buat apa? Nyaksiin kemesraan mereka? Apa lagi yang harus gw denger, Sya? Gw udah liat semuanya dengan jelas." Kesal Mey sedikit meninggikan suaranya. Kemudian ia pun bergegas pergi dari sana. Alex pun langsung menyusul Mey.


"Mey." Panggil Tasya. Namun Mamudnya itu tak mendengarkannya. Lalu ia pun langsung menatap Nindy yang masih memeluk David. Sedangkan David berusaha melepaskan wanita itu dari dekapannya.


"Sialan!" Umpat gadis itu langsung menghampiri keduanya. Dengan kesal ia menarik rambut Nindy sampai wanita itu tersentak kebelakang. Tidak ingin membuang waktu, Tasya langsung mendorong wanita itu dengan kasar. Spontan Nindy pun terjatuh ke aspal.


"Awh...." ringis wanita itu sambil menyentuh perutnya.


"Kenapa? Lo mau pake drama kalau lo keguguran gitu huh? Gw bukan orang bodoh kali. Lo gak mungkin keguguran cuma karena benturan dikit. Soalnya elo kan sering main kuda-kudaan sama lakik, buktinya anak lo baik-baik aja. Sialan emang lo, ngerusak suasana tahu gak? Gara-gara elo Mamud gw pergi lagi." Bentak Tasya mengeluarkan emosinya. Dengan berani ia menjambak rambut Nindy dengan brutal.


"Denger ya Nenek sihir. Mungkin selama ini gw diem pas elo goda bokap gw. Tapi kali ini gw gak bakal diam lagi karena elo udah rusak kepercayaan Mamud gw. Elo buat dia pergi dari hidup Daddy gw sampe dia sakit kayak gini." Tasya benar-benar meluapkan semua emosinya pada Nindy. Menjambak dan menampar wanita itu sampai puas.

__ADS_1


"Dev, hentikan putrimu." Teriak Nindy mulai ketakutan dengan amukan Tasya. Ia tak pernah menyangka gadis yang terlihat diam ini ternyata seekor macan betina.


"Sasa, cukup." Pinta David menarik tangan Tasya.


"Biarin Sasa habisin penipu ini dulu, Dad. Dia pantas dapat tamparan, dasar wanita murahan." Tasya kembali melayangkan tamparan di pipi Nindy sampai tangannya terasa panas.


"Sasa, cukup!" Bentak David yang berhasil menghentikan aksi putrinya. Kemudian menarik Tasya dan memeluknya dengan erat. Seketika tangisan Tasya pun pecah. "Dia jahat, dia udah buat Mamud pergi lagi, Dad."


"Jangan sakiti diri sendiri hanya karena wanita itu, sebaiknya kita masuk." Ajak David.


"Tapi bagaimana dengan Mey, Dad?"


"Kita akan pikirkan lagi, Okay? Kepala Daddy juga sakit." Tasya mendongak untuk melihat wajah sang Daddy yang semakin pucat.


"Ayok masuk." Kali ini Tasya yang mengajak David. Ia menggendeng sang Daddy masuk ke dalam villa. Namun sebelum itu ia sempat menatap Nindy, memberikan tatapan penuh ancaman. Nindy yang melihat itu merinding ngeri.


"Akh... sialan! Kenapa semuanya jadi kacau gini sih? Sekarang Hendra udah bangkrut, ke mana gw harus lari? Anak sialan ini benar-benar pembawa sial." Pekik Nindy memukul perutnya dengan kuat. Kemudian menjambak rambutnya dengan kesal. Kini penampilannya sudah seperti orang gila.


****


Tok tok tok


Alex terus mengetuk pintu kamar Mey. Sejak siang tadi Mey tak kunjung keluar kamar. Dan saat ini hari mulai gelap, bahkan di luar sana sedang turun hujan deras.


"Mey, makan malam dulu yuk. Gw udah masak banyak buat lo." Ajak Alex berharap Mey keluar dari dalam sana. Namun sama sekali tak ada sahutan dari dalam.


Tidak lama pintu kamar pun terbuka, menampakkan Mey dengan wajah sembabnya. Alex yang melihat itu merasa iba.


"Makan yuk, gw udah masak spesial buat elo." Ajak Alex menggenggam tangan Mey.


"Masak apa?" Tanya Mey dengan suara serak. Ia juga menarik tangannya dari genggaman Alex.


"Gulai ayam kalau gak salah." Jawab Alex sekenanya. Pasalnya ia juga tak tahu masak apa. Tadi ia melihat di youtube dan langsung praktekin.


"Okay, yuk." Mey pun melangkah pasti menuju ruang makan. Namun langkahnya harus tertahan saat mendengar suara bell rumah. Keduanya pun saling menatap.


"Siapa sih malam-malam gini bertamu? Mana ujan lagi." Kesal Alex.


"Mungkin aja orang pabrik. Liat aja dulu yuk." Ajak Mey beranjak ke depan. Alex pun mengekorinya di belakang.


Huh, ganggu waktu gw sama Mey aja ni orang. Kesal Alex dalam hati.


Mey mengintip dari jendela untuk memastikan orang itu adalah orang yang dikenalnya. Seketika mata Mey membulat saat melihat Tasya lah yang kini berdiri di depan pintu. Gadis itu terlihat basah kuyup dan kedinginan.


"Siapa Mey?" Tanya Alex ikut mengintip. Namun Mey tak menjawabnya dan langsung membuka pintu.

__ADS_1


"Tasya." Pekik Mey kaget saat melihat tubuh menggigil Tasya. Gadis itu tak membawa payung atau pun jas hujan.


"Mey, ikut gw sekarang." Pinta Tasya dengan raut panik.


"Ada apa, Sya?" Tanya Mey ikut panik.


"Daddy."


Raut wajah Mey seketika berubah datar saat mendengar itu. "Kenapa sama Daddy lo? Dia berantem sama Tante Nindy karena gw?"


Tasya yang mendengar itu langsung menggeleng. "Udah seminggu Daddy sakit, kata dokter gejala tipes. Soalnya Daddy gak pernah istirahat sejak lo pergi. Hampir tiap hari Daddy muntah-muntah terus. Sekarang Daddy deman, Mey. Dokter udah tanganin dia, tapi Daddy terus sebut nama elo." Jelas Tasya yang berhasil membuat Mey kaget.


"Gw mohon, sebentar aja. Setelah itu terserah elo mau ninggalin Daddy atau tetap tinggal. Sekarang gw butuh elo, gak peduli lo mau anggap gw manfaatin lo atau apalah. Daddy beneran butuh lo, Mey. Gw mohon." Tubuh gadis itu semakin menggigil.


"Lo naik apa ke sini?" Tanya Mey saat tak melihat ada kendaraan terparkir di depan.


"Gw lari kesini sangking paniknya. Daddy langsung demam setelah ketemu elo siang tadi. Gw kira demamnya bakal turun kayak biasa, tapi sampe sekarang...."


"Gw ambil jaket dulu." Potong Mey lansung berlari ke dalam. Meninggalkan Alex dan Tasya yang masih mematung.


Tasya menatap Alex begitu dalam dan penuh arti. Apa harus gw jujur sekarang? Pikirnya.


Alex mengerutkan kening saat melihat tatapan Tasya untuknya. "Ada apa?" Tanyanya datar.


Tasya yang mendengar nada tak suka dari Alex pun langsung menggeleng. Tidak lama Mey pun muncul dan sudah memakai jaket. Ia juga membawa jaket lain dan memberikannya pada Tasya.


"Makasih." Tasya pun lansung memekai jaket itu.


"Tunggu sebentar, gw ambil kunci mobil dulu." Kata Alex berlari menuju kamarnya. Kemudian lelaki itu sudah kembali dan berlari ke dalam mobil. Sedangkan Mey mengunci pintu.


Alex Membawa mobil itu ke depan pelataran supaya Mey tak kehujanan.


"Gw duduk di depan ya?" Tasya pun mengangguk. Kemudian keduanya pun masuk ke dalam mobil. Alex pun melajukan mobilnya membelah jalanan yang gelap karena hujan turun semakin deras.


Lima menit kemudian mereka tiba di villa milik keluarga Lander. Mey tidak pernah menyangka villa yang ia kagumi selama ini milik suaminya. Memang sih David sering mengajaknya ke puncak, apa mungkin tempat ini yang dimaksud?


"Mey, ini kamar Daddy. Gw gak bisa ikut masuk karena basah. Lo masuk sendiri aja ya?" Tunjuk Tasya sembari membuka pintu kamar. Mey mengangguk pelan.


"Gw tunggu di sini ya?" Kata Alex duduk di sofa dengan santai. Mey menatap Alex sekilas, kemudian langsung masuk ke dalam.


Tasya yang masih di sana pun menatap Alex lamat-lamat. Siempunya yang merasa ditatap pun menoleh.


"Why? Dari tadi lo mandang gw terus, ada apa huh? Jangan bilang lo suka sama gw? Mending gak usah deh, gw masih suka sama Nyokap tiri elo." Ujar Alex tersenyum miring.


Huh, sabar Tasya. Dia gak mungkin ingat kejadian itu. Tasya pun melenggang pergi menuju kamarnya. Membuat Alex semakin bingung.

__ADS_1


"Dasar bule aneh." Ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Mengecek beberapa pekerjaannya melalui email.


__ADS_2