
Sepulangnya dari kampus, Mey memutuskan untuk menyusul suaminya ke kantor. Sudah lama sekali ia tak mampir ke sana.
"Siang Nyonya." Sapa sang sekretaris.
"Siang, Tuan ada kan?" Balas Mey dengan senyu man yang khas.
"Ada, tapi tadi ada tamu juga. Masuk aja, soalnya Tuan gak berpesan buat jangan ganggu mereka."
Mey mengangguk kecil. "Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama, Nyonya."
Mey pun bergegas masuk ke ruangan suaminya. Namun ia terkejut saat melihat keberadaan Ingrid di sana. Wanita itu terlihat sedang menangis bersama David disisinya.
David juga tak kalah kaget melihat kedatangan istrinya. Lelaki itu bangun dari posisinya dan mendekati Mey.
"Kenapa dia di sini, Mas? Gak mungkin kan bahas bisnis sambil nangis?" Tanya Mey penuh selidik.
"Dia datang memang bukan buat bahas bisnis, ayok duduk." Ajak David membawa Mey duduk di sofa. Mey pun menurut patuh. Dan kini ia duduk tepat di hadapan wanita itu yang masih setia menunduk.
"Ada apa?" Tanya Mey menatap David dan Ingrid bergantian.
Ingrid mulai memberanikan diri untuk menatap Mey. "Maafkan aku, aku gak bermaksud buat ngerusak hubungan kalian."
"Kalau emang masalah pribadi, kenapa gak datang ke rumah? Kita bahas ini sama-sama. Ini kantor, kalau aku gak datang saat ini gimana? Kalian mau main petak umpet?"
"Mey...."
"Kamu punya istri, Mas. Kita udah janji buat selalu terbuka satu sama lain kan?" Sela Mey yang tak suka dengan cara suaminya bertindak. "Apa jangan-jangan kalian memang sering ketemuan gini?"
"Mey, itu gak bener. Ingrid baru balik dari Singapur."
"Singapur? Katanya cuma keluar kota? Ah, pantes aja keenakan ninggalin anak di sini. Rupanya jalan-jalan ke luar negeri ya?"
"Sayang, kasih kesempatan buat Ingrid bicara. Dia ke sana bukan untuk jalan-jalan, Ingrid mengidap penyakit meningitis stadium akhir." Jelas David yang berhasil membuat Mey terkejut. Wanita itu terdiam beberapa saat.
"Terus?"
__ADS_1
"Aku minta kalian jaga Laura, dokter memprediksikan usiaku tak lama lagi. Aku sengaja datang ke kantor supaya gak ketemu Laura." Jelas Ingrid.
"Dia anak kamu loh, Mbak. Emang situ gak punya keluarga apa? Rasanya aneh kalau Mbak suruh kami jaga anak orang lain di saat kami punya anak dan kehidupan sendiri."
"Laura bukan orang lain, dia darah daging David."
"Apa?" Kaget Mey. Ia pun langsung melihat ke arah suaminya. Sepertinya David sudah tahu lebih dulu karena tak terlihat keterkejutan sedikit pun dimatanya. Karena ia memang sudah tahu lebih dulu dari Ingrid.
"Kalian bercanda kan?" Tanya Mey lagi untuk memastikan semua yang didengarnya itu gak benar sama sekali. Apa kecurigaan Mey selama ini benar? Ya Tuhan, apa yang akan wanita itu lakukan jika itu benar?
"Aku gak bercanda, Laura lahir karena ketidak sengajaan. Lima tahun lalu kami terlibat percintaan satu malam, kami sama-sama mabuk. Dan David gak tahu semua ini. Aku pergi sebelum dia bangun. Dan setelah itu aku hamil Laura. Awalnya aku gak bakal ngasih tahu rahasia ini. Tapi keadaan memaksaku untuk menemui Ayah kandung Laura." Jelas Ingrid panjang lebar.
Mey mengepalkan kedua tangannya karena menahan emosi.
"Kenapa gak dari dulu aja ngomongnya? Kenapa baru ngomong sekarang setelah Mas David punya anak dan istri. Pernah mikir gak sih semua keputusan yang Mbak buat itu ngerugiun orang lain. Cobak ngaku dari dulu, mungkin aku gak bakal ada di antara kalian." Ujar Mey dengan kilatan amarah di matanya.
"Mey, dengerin dulu...."
"Apa lagi yang harus aku dengar, Mas? Sejak dia muncul, aku emang udah takut ini bakal terjadi. Kenapa hidupku selalu dihantui sama masa lalu kamu? Kejutan demi kejutan terus berdatangan. Hari ini Laura, besok siapa lagi Mas? Aku capek tahu gak." Mey bangun dari duduknya. Kemudian meninggalkan ruangan dengan langkah pasti.
Mey terus mempercepat langkahnya meninggalkan kantor sang suami. Hatinya benar-benar sakit dengan kenyataan yang diterimanya.
"Sayang." David meraih tangan istrinya. Menarik wanita itu dalam dekapan. Tidak peduli orang lain melihatnya.
"Kejutan apa lagi yang bakal kamu kasih ke aku, Mas?" Tangisan Mey pun pecah dalam pelukan David.
"Maafkan aku, Sayang. Aku gak tahu ini bakal terjadi. Aku gak pernah tahu Laura itu anakku."
"Lepasin aku, kasih aku waktu buat nerima semuanya." Mey menarik diri dari dekapan David. Kemudian melanjutkan langkahnya.
"Mey." Panggil David yang sama sekali tak di gubris oleh sang istri. Ia mengusap wajah frustasi. "Maafkan aku, Mey."
Sesampainya di rumah, Mey langsung berlari menuju kamar. Mengambil sebuah koper dan mulai memasukkan beberapa pakaiannya dan juga milik Noah. Ia berniat untuk pergi dari rumah. Dirinya tak bisa menerima kenyataan jika Laura adalah anak suaminya. Ia tak terima itu. Istri mana sih yang akan terima jika suaminya memiliki anak dari wanita lain?
Mey menghapus jejak air matanya sebelum pergi meninggalkan kamar. Lalu ia pun beranjak menuju kamar Bik Nina untuk ngambil Noah. Belum sempat Mey sampai di kamar Bik Nina. Wanita paruh baya itu mucul lebih dulu dari arah dapur bersama Noah dalam gendongannya. Dan Laura juga bersamanya. Melihat anak itu, hati Mey semakin sakit.
"Eh, Nyonya mau kemana?" Tanya Bik Nina saat melihat Mey menggeret koper.
__ADS_1
"Pergi sejauh mungkin, Bik." Jawab Mey seraya mengambil Noah dalam gendongannya.
"Loh, mau pergi kemana, Nya? Ini kan rumah Nyonya."
"Aunty, Aura boleh ikut?"
"Aku pergi, Bik. Assalamualaikum." Ucap Mey yang langsung beranjak pergi tanpa peduli dengan anak itu dan Bik Nina yang tampak bingung.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Bik Nina semakin bigung. Sedangkan Laura masih setia menatap punggung Mey yang menghilang di balik dinding.
"Mey, mau kemana lo?" Tanya Tasya yang baru pulang dari kampus bersama suaminya. Mey menatap keduanya sekilas, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Tasya.
"Mey." Pangil Tasya mengejar Mamudnya itu. Dengan gerak cepat Tasya menghadang jalan Mey. "Lo mau kemana? Ada masalah apa lagi sih?"
"Lo tanya sama Daddy lo. Jangan halangin gw." Mey pun memilih jalan lain dan benar-benar meninggalkan rumah besar itu. Kemudian menyetop sebuah taksi.
David yang baru samapai pun segera turun dari mobil saat melihat istirnya memasuki sebuah taksi.
"Mey." Panggilnya. Namun terlambat, taksi itu sudah melaju lebih dulu. "Sial!"
"Dad, ada apa lagi? Kenapa Mommy pergi?"
"Ceritanya panjang. Nanti Daddy jelaskan." David pun masuk ke dalam mobil kembali. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk mengejar taksi yang dinaiki sang istri. David tidak pernah membayangkan dirinya harus terpisah lagi dengan Mey. Perasaanya mulai bekecamuk hebat. Antara rasa takut dan cemas bercampur menjadi satu.
Sedangkan di dalam taksi, Mey kembali menangis sambil memeluk putra kecilnya. "Kenapa di saat hidup gw mulai bahagia, ada aja penganggu?" Gumamnya.
"Tatatata...." sahut Noah berteriak kegirangan.
Mey mengecup pucuk kepala Noah dengan mata terpejam.
"Pak, ke Bandara ya?" Pinta Mey pada sang sopir.
"Baik, Nona." Sahut lelaki paruh baya itu.
Mey memang memutuskan untuk ke luar kota. Meski ia bingung harus pergi ke mana. Karena dirinya tak punya sanak saudara untuknya berlabuh. Mungkin ia akan memikirkan itu saat di bandara nanti.
Sesampainya di bandara, Mey menggeret kopernya dengan Noah yang digendong di depan. Anak itu terus mengoceh karena tak memahami perasaan Mommynya. Mey memilih duduk di sebuah kursi tunggu. Menatap orang-orang yang tengah berlalu lalang. Sambil memikirkan ke mana ia akan pergi.
__ADS_1