
"Mommy! Mommy!" Mey terbangun dari tidurnya saat tubuhnya terus digoyangkan oleh tangan mungil. Ia mengerang kecil seraya menarik selimutnya kembali.
"Sayang, Mommy masih ngantuk." Keluh Mey mengubah posisinya menjadi miring.
"Mommy lupa ya hari ini kita mau liburan?" Suara khas itu membuat mata Mey terbuka. Kemudian ia pun langsung bangkit dan menghadap ke arah putra kecilnya yang sudah tampil rapi. Wajah tampan itu mengembangkan senyuman yang begitu manis.
"Liburan?" Tanya Mey terlihat bingung. Namun, detik berikutnya ia langsung memekik. "Aaa... Mommy lupa, Noah. Tunggu Mommy ya."
Mey melompat dari atas pembaringan dan masuk kamar mandi dengan tergesa. Noah kecil pun terkekeh lucu melihat tingkah sang Mommy. Seolah sudah terbiasa dengan tingkah konyol Mommynya itu.
Ya, saat ini usia Noah sudah tiga tahun. Namun, usia dengan ukuran tubuhnya tidaklah sesuai. Anak itu memiliki tubuh yang sudah seperti anak berusia lima tahun, bahkan pemikirannya juga jauh lebuh dewasa dibanding anak-anak seusianya. Mungkin karena gen David lebih mendominan. Dan didikan Mommynya yang selalu membiarkan Noah mempelajari segala hal tanpa pengekangan membuat anak itu tumbuh dengan otak cerdas.
"Sayang, di mana Mommymu?" Tanya David yang baru saja memasuki kamar. Lelaki itu habis dari kantor pagi-pagi tadi.
Noah pun berbalik. "Mommy di kamar mandi."
"Loh, jadi dari tadi belum bangun?" David menggantung jasnya di tempat biasa.
Noah merangkak naik ke atas pembaringan. Lalu duduk santai di sana sambil memperhatikan sang Daddy.
"Daddy, kita jadi berangkat kan?"
David menjatuhkan diri di atas pembaringan, kemudian memeluk tubuh kecil putranya. "Jadi, sayang."
"Yey, tadi King juga udah nelepon. Mereka udah siap semua." Ujar si kecil Noah membalas pelukan sang Daddy.
"Seneng banget mau liburan."
"Iya dong, kan naik pesawat."
David tersenyum lucu. "Sudah beresin barang-barangnya?"
Noah mengangguk antusias. "Kakak bantu Noah tadi."
"Terus di mana Kakak?"
"Di kamarnya, tadi Kakak masih siap-siap. Kakak sama Mommy sama aja, lama kalau siap-siap." Omel Noah begitu menggemaskan. David tertawa renyah.
"Bisa aja kamu. Ya udah, Daddy mau mastiin dulu pesawatnya siap apa belum."
"Iya, Dad." Dengan patuh Noah duduk di sana. David tersenyum, lalu bangkit dari posisinya. Dan beranjak ke balkon untuk menelepon pilot.
Tidak lama, Mey pun keluar dari kamar mandi. "Hey, masih di sini?"
Noah tersenyum. "Noah mau nunggu Mommy."
"Okay, tunggu sebentar." Mey tersenyum dan langsung beranjak menuju ruang ganti. Dan Mey cukup lama di sana.
__ADS_1
Noah yang mulai bosan pun turun dari atas ranjang, kemudian berlari keluar.
"Loh, kemana anak itu? Katanya mau nunggu." Mey keheranan saat tidak lagi menemukan putranya.
"Nyariin aku ya?" Tanya David dengan penuh percaya diri.
"Ck, kamu mah gak usah di cari. Nongol terus kalau lagi ada maunya." Sahut Mey merapikan rambutnya di depan cermin. Lalu sedikit memoles wajahnya. Ibu satu anak itu memang jauh lebih dewasa sesuai pertambahan usia. Begitupun dengan kecantikannya, semakin bertambah pula. Apa lagi Mey cukup rajin perawatan.
"Udah cantik, sayang." Puji David berdiri di belakang sang istri. Juga menghadiahi kecupan di pucuk kepala istri cantiknya itu. "Jangan lama-lama, anak-anak udah nunggu. Apa lagi Noah, dari tadi bolak-balik terus."
"Iya, aku udah siap kok. Yuk."
"Perlengkapan gimana?"
"Udah aman, tuh di dalam koper semua."
"Tar di sana kita bulan madu lagi ya? Udah saatnya Noah punya adik. Tasya aja udah mau tiga."
Mey menghela napas pendek. "Iya, sayang. Lagian tiap saat juga kamu mah bulan madu terus. Yuk ah, kasian mereka bosan kelamaan nunggu." Ajaknya.
"Kan kamu yang lama."
"Maaf, habis enak banget tidur tadi, hehe."
David menggeleng pelan. "Kamu duluan, aku bawa barang-barangnya dulu."
Sesampainya di lantai dasar, Mey langsung disambut heboh oleh Noah dan Laura.
"Mommy." Noah berlari dan langsung memeluk Mey. Tidak mau kalah dari sang adik, Laura pun ikut memeluk Mey. Membuat Mey tersentak kebelakang.
"Mommy punya Kakak tahu." Laura mengulurkan lidahnya pada sang adik. Sontak Noah pun berteriak tak terima.
"Enggak, ini Mommy Noah. Kakak awas jangan deket-deket." Teriak Noah semakin mengeratkan pelukannya.
"Eh, kok malah ribut. Kan Mommy sering bilang, Mommy ini punya kalian berdua."
"Enggak, Mommy punya Noah." Kekeh Noah mengangkat kedua tangannya ke udara, meminta Mey untuk menggendongnya.
Mey sedikit membungkuk, kemudian menggendong putra kecilnya itu. Kemudian mencium pipi putranya dengan penuh kasih sayang. Tidak ingin pilih kasih, Mey juga mengecup pucuk kepala Laura. "Udah ya, sekarang kalian siap-siap. Bentar lagi Daddy turun dan kita berangkat."
"Yey!" Heboh keduanya. Dan tidak lama dari itu Tasya bersama keluarga besarnya pun datang. Bumil yang satu itu pun mendekati Mey yang masih menggendong Noah.
Laura yang melihat kehadiran King dan Queen pun terlihat senang dan langsung mengajak keduanya duduk di sofa.
"Udah siap ya? Gw pikir lo masih tidur, Mey. Tadi Noah bilang lo masih ngorok."
Mey menghela napas berat. "Itu kan tadi, sekarang udah cantik kan gw?"
__ADS_1
"Iya, iya. Terus di mana Daddy?"
"Masih di atas, barang gw masih di sana soalnya." Jawab Mey.
"Emang lo bawa barang apaan? Kayak mau pindahan aja. Orang cuma seminggu aja kok liburannya."
"Bukan barang gw aja, punya Daddy lo juga ada."
Tasya pun mengalihkan perhatian pada sang adik. "Dih, udah gede juga masih aja di gendong. Kalah sama Queen."
"Biarin, woee... Kakak gendut." Balas Noah yang berhasil membuat Tasya kesal. Padahal apa yang dikatakan Noah gak ada salahnya karena saat ini Tasya memang gemukan karena efek kehamilan.
"Eh, berani kamu ya?" Ancam Tasya hendak menggigit tangan Noah. Sejak hamil anak ketiga Tasya memang sering banget ribut dengan adik kecilnya itu.
"Mommy!" Teriak Noah.
"Sya, suka banget gangguin adeknya." Tegur Mey kesel sendiri dengan kelakuan Tasya yang masih seperti anak kecil itu sejak hamil lagi.
"Habis dia gemesin sih, pengen gigit. Boleh ya Kakak gigit tangannya."
"Mommy!" Teriak Noah lagi. Seketika Tasya pun tertawa lepas.
Karena tidak mau diganggu terus oleh sang Kakak. Noah pun turun dari gendongan Mey. "Kakak gendut, jelek." Setelah mengatai Tasya, anak itu langsung bergabung dengan yang lain.
"Dasar cengeng, dikit-dikit ngadu."
"Ck, anak kecil lo ladenin, Sya. Aneh lo sejak hamil."
"Dih... suka-suka gw dong." Sewot Tasya.
"Jangan ribut lagi. Ayok berangkat, jetnya udah nunggu dari tadi." Ujar David yang baru aja muncul. Sontak anak-anak pun bersorak ria. Lalu keempat anak itu pun langsung berlari keluar.
"Liat, dari tadi mereka udah gak sabar pengen cepet-cepet berangkat." Kata Mey.
"Kamu juga sama aja kayak mereka." Ledek David merangkul istrinya.
"Kayak kamu enggak aja." Balas Mey lagi.
"Jelas, aku gak sabar ngulang bulan madu kita." Goda David yang berhasil membuat pipi Mey merona. Sedangkan Tasya yang mendengar itu memutar matanya malas.
"Ekhmm... sadar umur kali. Udah banyak cucu juga." Cibir Tasya yang langsung melenggang pergi bersama suaminya.
"Huh, julid." Sahut Mey.
"Aku harap habis ini kamu juga hamil lagi."
Mey tersenyum. "Iya, Mas. Aku juga udah pengen hamil lagi."
__ADS_1
David mengecup kepala istrinya. Lalu keduanya pun menyusul yang lain.