
"Aura mau makan di suapin Aunty." Rengek Laura menatap Mey yang tengah menikmati sarapan paginya. Dan hal itu tentunya berhasil menarik perhatian semua orang.
"Aduh, Non makan sama Bibik aja ya? Auntynya lagi makan." Bujuk Bik Nina.
"Gak mau, Aura mau makan kalau disuapin Aunty." Laura terus merengek sambil menatap Mey sedih. Membuat wanita itu pusing tujuh keliling. Hampir setiap hari gadis kecil itu merengek dan meminta disuapi oleh Mey. Sudah hampir empat hari lamanya anak itu berada di rumah Lander.
"Sini Bik makanannya." Pinta Mey beranjak duduk di dekat Laura karena tak tega melihat anak itu merengek terus. Bik Nina pun memberikan piring makanan Laura pada Mey dengan tatapan bersalah. "Udah Bibik makan aja sana, biar aku yang urus Laura. Hari ini kan Minggu jadi aku agak santai. Noah juga lagi nyenyak boboknya."
"Baik, Nya." Sahut Bik Nina.
"Makan yang banyak." Mey pun mulai menyuapi gadis kecil itu dengan telaten. Beberapa hari bersama anak itu membuat perasaan sayangnya mulai tumbuh karena sejak awal ia hanya kesal pada Ibunya.
"Aura suka disuapin Aunty," oceh Laura yang berhasil mengembangkan senyuman di bibir Mey. David dan Tasya yang meyaksikan itu ikut tersenyum.
"Kalau suka, Laura harus banyak makan ya? Biar cepet gede." Kata Mey meyapu nasi yang menempel di bibir mungil Laura.
Gadis kecil itu mengangguk dengan pipi mengembung karena dipenuhi makanan.
"Oh iya Dad, Mom, siang nanti Gibran mau datang ke sini. Boleh kan?" Tanya Tasya yang berhasil menarik perhatian Mey dan David.
"Katanya udah pacaran sama Alex? Kok Gibran mau ke sini?" Tanya Mey bingung.
"Ck, Gibran cuma mau main, Mey." Sahut Tasya memutar bola matanya malas.
"Daddy lebih setuju kamu sama Gibran. Dia baik dan sopan, Daddy sering ketemu dia pas mau jemput kamu." Ujar David mencuri perhatian Mey.
"Jangan menentang hubungan mereka Mas, biarin Tasya memilih hidupnya sendiri. Dia udah dewasa dan bisa milih mana yang bisa buat dia bahagia. Sebagai orang tua kita cuma bisa mendukung." Protes Mey.
"Aunty lagi." Pinta Laura membuat Mey tersentak kaget. Dan kembali menyuapi anak itu.
"Apa kamu udah baca berita?" Tanya David menatap Mey. Tasya yang mendengar itu kaget setengah mati.
Jadi Daddy udah tahu berita itu? Pikir Tasya.
Mey pun menoleh. "Berita apa?"
"Alex akan menikah dengan salah satu anak pengusaha terkenal. Karena itu aku menentang hubungan mereka. Lelaki itu hanya mempermainkan Tasya. Mulutnya dan hati tak sejalan. Dia tak pantas menjadi suami kamu, Tasya." Jelas David dengan penuh penekanan. Mey pun langsung menatap Tasya meminta jawaban.
Tasya tampak menarik napas dalam-dalam. Kemudian membuangnya perlahan. "Okay, Sasa bisa menjelaskan itu. Sebenarnya Sasa udah tahu berita itu, Dad. Tapi itu gak bener. Alex gak pernah tahu soal pernikahan itu. Semua itu rencana Papanya. Alex menolak mentah-mentah."
"Terus kamu percaya? Lelaki tak bertanggung jawab seperti dia tidak bisa dipegang omongannya." Komentar David berdecih sebal.
"Dad, Sasa yang mendengar sendiri dari mulut Papanya Alex. Sasa udah ketemu sama Om Effendi beberapa hari yang lalu."
"Apa?" Kaget David dan Tasya kompak.
"Ya, Alex serius mau nikahin Sasa. Karena itu dia bawa Sasa ketemu orang tuanya." Tasya menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Cih, bahkan setelah kejadian itu dia gak berani nunjukin batang hidungnya. Pengecut." Cerca David.
"Sasa yang melarangnya datang ke sini karena Sasa tahu Daddy bakal hajar dia lagi."
__ADS_1
"Dia pantes dihajar karena dia sudah menelantarkan kalian. Lelaki macam apa dia?"
"Dad, semua orang bisa berubah dan berhak mendapat kesempatan. Sasa percaya dia tulus. Percaya sama Sasa, Dad. Kasih dia kesempatan ya?"
"Nope, Daddy tak akan memberikan kalian restu sebelum dia menunjukkan keseriusannya. Kalau berani, datang temui dan minta langsung dengan Daddy. Kalau dia serius, dia gak akan takut atau pun ragu nemuin Daddy." Tegas David.
"Dad, aku gak mau Daddy hajar dia lagi. Sudah cukup dulu Mey yang hajar dia habis-habisan."
David yang mendengar itu langsung menatap Mey. Sedangkan yang di tatapan malah berpura-pura fokus menyuapi Laura karena tak ingin menghindari tatapan intimidasi dari suaminya.
David pun kembali menatap putrinya. "Kapan Mommy kamu lakuin itu?"
"Pas kita di puncak dulu, Mamud mukul Kak Alex sampe babak belur. Daddy tahu? Saat itu Mommy benar-benar hebat, bahkan dia berhasil menumbangkan seorang Alex. Padahal saat itu kan dia lagi hamil muda." Jawab Tasya jujur.
"Jadi kamu sudah tahu sejak saat itu Mey?"
Mey yang mendengar itu langsung menatap suaminya. "Ya, tapi putrimu yang meminta aku buat sembunyiin semuanya."
"Dan kamu nurut aja gitu?"
"Ya__ iya lah. Dia kan bestie aku." Alibi Mey yang tak tahu harus menjawab apa. Dan itu berhasil membuat Tasya tersenyum geli.
"Dan kamu lupa aku suami kamu huh?" Tanya David memicingkan matanya.
"Saat itu aku masih marah sama kamu, makanya aku langsung setuju. Udah ah, kayaknya Noah bangun tuh. Kamu liat dulu sana." Mey mencoba mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Tasya terkikik geli dalam hati.
"Malam nanti kita perlu diskusi."
"Namanya juga diskusi di atas ranjang, sekali jalan aja biar gak buang waktu."
"Ck, udah sana liat Noah. Entar keburu kejer nangisnya. Susah dieminnya." Protes Mey.
"Iya bawel, jangan lupa diskusi malam nanti. Siapin diri dan tenaga." David bergegas bangun dari kursi dan beranjak dari sana.
"Mas!"
Tawa Tasya pun pecah melihat kemesraan pasutri yang satu itu.
"Heh, pakek ketawa lo! Lo yang buat dosa, gw yang selalu kena imbasnya." Kesal Mey.
"Eleh, imbasnya enak juga. Gw yakin lo menjerit kesenengan kan?"
"Gak usah mulai, gw jitak baru nyaho lo." Ketus Mey menunjukkan bogeman pada anak tirinya.
"Aunty, jitak itu apa?" Tanya Laura dengan polosnya.
Mey dan Tasya pun saling melempar pandangan.
"Bukan apa-apa kok, lanjut makannya ya?"
Laura pun mengangguk patuh. Mey bernapas lega karena anak itu tak cerewet dan menghujaninya dengan pertanyaan. Sedangkan Tasya malah tertawa geli.
__ADS_1
****
Suasana rumah pun menjadi canggung karena tanpa di duga Alex juga hadir di sana. Saat ini mereka sudah berkumpul di ruang tamu. Kecuali Mey, wanita itu menghilang entah kemana.
"Kamu ngapain sih pake datang segala?" Bisik Tasya yang sengaja duduk di sebelah Alex.
"Buat ketemu kamu, kamu kan pacar aku, Sya. Wajar kalau aku ngapel kan?" Sahut Alex dengan santai.
David menatap Alex tak suka. Kemudian ia pun berlaih menatap Gibran. "Gibran, gimana sama kuliah kamu?" Tanyanya.
Alex dan Tasya pun sama-sama menatap Gibran.
"Alhamdulillah lancar, Om. Insha Allah setahun lagi lulus."
"Wah mantap, Om dengar kamu juga kerja ya? Keren tu masih muda udah kerja sambil kuliah pula tuh." Puji David.
Tasya menggenggam tangan kekasihnya. Alex pun tersenyum senang.
"It's okay, biarin aku berjuang dapetin hati Daddy kamu. Setelah itu kita langsung nikah." Bisik Alex yang berhasil menciptakan rona merah di pipi Tasya. Wanita itu pun menunduk malu.
"Iya, Om. Sambilan belajar juga, bantu Papa di kantor. Soalnya kasian gak ada yang bantu, anaknya cuma saya sendiri." Jawan Gibran tersenyum ramah.
"Bagus itu. Kapan mau bawa orang tua kamu ke sini? Kamu suka sama Tasya kan?" Pertanyaan yang David lontarkan pun berhasil membuat ketiga anak muda itu tekejut. Terutama Gibran yang notabennya sudah tahu soal hubungan Alex dan Tasya.
Jadi Om David gak tahu soal hubungan Kak Alex dengan Tasya? Pikir Gibran.
"Maaf, Om. Kayaknya Tasya udah punya pilihannya sendiri. Saya memang suka sama anak Om, tapi saya gak mau memaksa dia. Mungkin kami bukan jodoh." Jelas Gibran menatap Alex dan Tasya bergantian.
"Dad, kita udah bahas ini tadi pagi. Tolong hargai perasaan Kak Alex. Please...." Tasya menatap sang Daddy penuh permohonan.
"Om, saya tahu kesalahan saya di mana. Karena itu izinkan saya untuk memperbaiki semuanya. Saya memang tidak bisa berjanji untuk selalu membahagiakan Tasya. Tapi saya akan berusaha untuk membuatnya nyaman dan sebahagia mungkin." Ujar Alex dengan nada tegas. Gibran tersenyum mendengar itu.
"Aku setuju," seru Mey yang baru muncul membawa sebuah nampan berisi minuman segar dan cemilan. Kemudian meletakkan benda itu di atas meja. "Silakan minum dulu, setelah itu lanjut ngobrolnya."
Mey pun duduk di bibir sofa tepat di mana suaminya duduk. Wanita itu meletakkan tangannya dibahu David. Kemudian membisikkan sesuatu. "Berhenti jadi penghalang hubungan mereka, Mas. Kamu mau apa liat Tasya sedih terus? Apa kamu gak lihat kebahagiaan di mata putri kamu saat bersama lelaki yang dia cinta?"
David menatap istrinya tajam. "Kamu dilarang ikut campur. Ini urusan Ayah dan anak." Balas David yang juga ikut berbisik.
"Jangan lupa aku ini Mommy sambungnya Tasya, dia juga sahabat aku. Aku berhak ikut campur." Mey tersenyum lebar saat menyadari tatapan semua orang yang tertuju padanya dan sang suami.
"Alex, Gibran. Ayok di munum dulu. Selagi masih dingin, seger banget loh." Pinta Mey pada kedua pemuda itu.
Alex dan Gibran pun mengangguk, kemudian mengambil segelas minuman itu dan meneguknya dengan penuh sensual. Kedua lelaki itu benar-benar memiliki karisma tersendiri.
"Gimana kalau kita makan siang dulu, habis itu kita lanjut ngobrol. Kalau perut kenyang kan enak ngobrolnya." Ajak Mey berusaha memecah kecanggungan. Wanita yang satu itu benar-benar peka terhadap suasana.
"Hm, itu lebih baik. Aku juga sangat lapar." Sahut David seraya mengambil segelas minuman segar. Kemudian menyesapnya perlahan.
"Ayok, tadi aku sempetin masak buat kalian. Spesial pokoknya." Mey bangun dari posisinya. Ibu satu anak itu terlihat begitu antusias.
Kemudian mereka pun beranjak menuju ruang makan. Makan siang itu berjalan semestinya. Kehadiran Mey benar-benar melepaskan segala rasa canggung. Bahkan tak jarang ruang makan itu diisi dengan tawa dan ocehannya.
__ADS_1