
Tasya terus mengembangkan senyuman saat melihat King terus tertawa dalam gendongan Alex. Anak itu seolah tahu jika yang menggendongnya itu ayah kandungnya.
Saat ini semua orang memang tengah berkumpul di ruang keluarga sambil menyaksikan sebuah drama di televisi.
"Mey, anak lo kok gak ada mirip-miripnya sama lo sih? Jangan bilang dia bukan anak lo ya?" Celetuk Gibran sambil meneliti wajah Noah.
"Sialan lo! Gw yang ngandung dia selama sembilan bulan, jungkir balik ngelahirin dia dan seenak jidat lo bilang dia bukan anak gw." Kesal Mey seraya melempar bantal sofa tepat mengenai kepala Gibran.
Gibran tertawa renyah melihat wajah merah padam Mey. "Habis Noah cakep banget. Malah mirip Tasya kalau terus diperhatiin."
"Namanya juga satu benih, wajar kalau mirip." Sahut Mey sekenanya.
"Buruan lahirin anak perempuan dong, Mey. Tar kasih buat gw, gw bakal sabar nunggu kok." Gurau Gibran sambil menoel-noel hidung Noah.
"Noh ada yang udah jadi, lo ambil aja." Tunjuk Mey pada Laura yang tidur dipangkuan David. Bahkan lelaki itu juga sudah tertidur.
"Oh iya, dari tadi gw penasaran. Anak siapa tuh? Ponakan suami lo?" Tanya Gibran memandang ke arah Laura.
"Bukan, anak temennya suami gw. Dia nitipin anaknya di sini, udah mau seminggu tu orang gak balik-balik."
"Wah, lo kudu hati-hati, Mey. Jangan sampe Emaknya menfaatin anak itu buat deketin suami lo."
"Jangan pengaruhin Nyokap gw, Gib. Bisa berabe kalau dia ngambek. Capek kita nyarinya kalau udah kabur." Protes Tasya.
"Lagian gw yang bakal lebih dulu jambak tu orang kalau punya niat kayak gitu. Jangan harap gw kasih kendor." Ujar Mey dengan senyuman devil.
"Sya, Nyokap lo agak ngeri-ngeri sedap juga ya? Betah banget Bokap lo sama dia." Kata Gibran agak merinding saat melihat ekspresi Mey.
"Beda kalau udah bucin, Gib. Biarin aja dia kayak gitu. Lebih asik."
"Sayang, kayaknya King pipis." Kata Alex yang berhasil mencuri perhatian Mey dan Gibran.
"Sini biar aku gantiin celananya dulu, sekalian mandi aja lah ya? Soalnya dia belum sempat aku mandiin." Tasya pun bangun dari poisisnya mendekati Alex. Kemudian membawa King dalam gendongan.
"Aku ikut. Pengen belajar mandiin King." Pinta Alex ikut bangun dari duduknya.
"Yakin? Entar baju kamu basah semua. Soalnya anak kamu gak mau diam kalau lagi mandi. Anak orang pada nangis kalau dimandiin, kalau dia malah kesenengan."
"Gak papa, ayok." Ajak Alex meraih tangan kekasihnya.
"Jangan nyesel."
"Gak akan."
"Ya udah, ayok kalau gitu." Tasya pun membawa Alex ke kamarnya.
"Gib, lo gak cemburu?" Tanya Mey menatap Gibran yang masih asik bermain bersama Noah.
"Cemburu, tapi gw tahu waktu dan posisi. Harus nerima keadaan dong." Jawab Gibran dengan santainya. Toh gak ada gunanya buat manjain rasa cemburu. Sejak awal dia tulus mencintai Tasya, karena itu ia tak mengharapkan hal lebih. Kecuali kebahagian Tasya sendiri.
"Padahal lo bisa manfaatin keadaan, lo tahu sendiri suami gw belum bisa nerima Alex sepenuhnya."
Gibran tersenyum ke arah Mey. "Belum bisa terima bukan berati gak bisa nerima. Wajar kalau suami lo marah, kalau gw di posisinya juga bakal lakuin hal yang sama. Tapi sekarang balik lagi sama Tasya, bisa gak dia hidup bahagia sama gw? Disaat dia masih mencintai laki-laki lain."
Mey terdiam membisu.
__ADS_1
"Lo bener, bisa aja gw egois dan manfaatin situasi. Tapi gw gak mau, Mey. Gw bukan orang yang suka maksa. Gw hargain perasaan Tasya. Apa lagi sepupu gw yang ada dalam hati dia. Menjalin persahabatan itu lebih baik dari pada membuat musuh ya gak?"
Mey manggut-manggut sebagai jawaban.
"Semoga lo dapat jodoh terbaik, secepatnya deh."
"Kan udah gw bilang, gw mau nunggu anak lo lahir. Gw yakin gak lama lagi lo bakal kasih kabar kalau lo hamil bayi perempuan, percaya sama gw. Mulut gw asin soalnya." Ujar Gibran dengan entengnya.
"Dih, jangan dulu deh. Gw belum siap hamil lagi. Noah masih kecil banget soalnya. Nunggu umur dia tiga tahunan baru deh gw program hamil lagi." Protes Mey.
"Yah, kelamaan itu mah. Keburu tua gw, Mey."
"Lagian, banyak cewek di luar sana lo malah mau nunggu anak yang belum tentu lahir. Gila emang lo."
Gibran terkekeh geli. Dan itu membuat Noah tertawa riang.
"Mey, anak lo doyan banget ketawa kayaknya. Muka boleh mirip bokapnya. Kayaknya sifat dia mirip lo deh. Jangan terlalu bar bar ya nak, kasian Daddy kamu nanti. Tapi kamu cowok ya? Gak papa sih, kalau bisa jadi jagoan hebat." Oceh Gibran mencium gemas hidung mancung Noah.
"Ya, Uncle bawel." Sahut Mey menirukan suara anak kecil.
"Gw bawa pulang aja ya? Biar gw didik dulu jadi super hero."
"Enggak, yang ada anak gw jadi tukang bully tar."
Lagi-lagi Gibran tertawa. "Tau aja lo."
Mey mendengus sebal melihat pemuda yang satu itu. Kemudian bangkit dari duduknya. "Lo mau gw buatin kopi gak?"
"Boleh, jangan kemanisan. Soalnya gw udah kelewatan manis."
"Iya Mamud."
Mey melotot mendapat panggilan itu dari Gibran.
"Ngapain lo melototin gw?"
"Gak ada." Sahut Mey yang langsung melenggang pergi ke dapur. Sedangkan Gibran tersenyum geli melihat tingkah lucu temannya yang satu itu. Setelah itu ia kembali mengajak Noah bermain.
****
"Kan udah aku bilang tadi, gak usah ikut mandiin King. Sekarang baju kamu basah semua." Omel Tasya usai memandikan putra kecilnya. Tasya menidurkan King yang masih terbalut handuk di atas ranjang.
"Gak jadi masalah, setidaknya aku gak penasaran senakal apa anak kita." Alex duduk di tepi ranjang. Menatap King yang kelihatan ngantuk berat. Bisa dilihat dari matanya yang sudah sayu dan tingkahnya yang mulai gelisah.
"Kamu bakal tahu kalau udah tinggal seatap sama dia. Kalau kamu bisa tidur malam, itu artinya kamu hebat. Iya kan sayang? Anak Mommy ngantuk ya? Habis pake baju langsung bobok ya?"
King mulai rewel sambil mengucek kedua matanya karena memang sudah sangat mengantuk.
"Sabar, sayang. Bobok sama Daddy ya?"
"Baju kamu basah." Protes Tasya.
"Gampang." Alex bangun dari posisinya. Kemudian membuka kancing bajunya satu per satu. Tasya yang melihat itu tampak kaget. Apa lagi ia bisa melihat dengan jelas roti sobek milik kekasihnya yang mampu menggoyahkan iman.
"Mau ngapain?"
__ADS_1
"Bajunya basah, jadi aku lepas. Tolong keringin ya sayang. Biar aku yang makein King baju." Tanpa tahu malu Alex memberikan kemeja miliknya pada Tasya. Sedangkan dirinya mulai memakaikan King baju.
"Ngeselin banget sih jadi cowok, untung cinta." Omel Tasya melangkah pasti menuju meja rias. Ia berniat mengeringkan pakaian Alex dengan hairdryer.
"Jangan ngomel, hitung-hitung belajar jadi istri yang baik." Kata Alex membawa King dalam gendongan. Kemudian ia duduk bersandar di kepala ranjang. Membiarkan King menempel di dada bidangnya. Dan sepertinya bayi menggemaskan itu menyukainya. Buktinya ia langsung tertidur.
"Lah, udah tidur aja?" Tasya meletakkan pakaian Alex di ujung ranjang. Setelah itu ikut duduk disebelah sang kekasih. Kemudian tangannya terulur untuk mengusap rambut King.
"Biasanya King harus aku kelonin dulu baru mau tidur."
"Mungkin ngantuk berat." Sahut Alex. Tasya pun mengangguk, kemudian mengangkat King dengan hati-hati.
"Aku pindahin dia dulu, kalau di kasur tidurnya sebentar."
Alex mengangguk sambil memperhatikan Tasya terus menerus. Sampai wanita itu kembali duduk disisinya.
"Kenapa?" Tasya jadi salah tingkah karena mendapat tatapan dari Alex.
"Pengen cepet nikah sama kamu, biar kita bisa bebas ngapain aja."
Tasya tertawa renyah mendengar itu. "Sabar dikit, kita masih sama-sama berjuang buat dapetin hati Bokap masing-masing."
"Aku gak peduli sama persetujuan Papa, kalau Daddy kamu setuju. Aku bakal langsung nikahin kamu. Masih ada Mama yang setuju dengan hubungan kita, itu udah cukup. Aku gak mau sia-siain waktu, terutama kamu, Sya."
Tasya mengangguk antusias. "Aku ikut keputusan kamu aja."
"Walau apa pun yang terjadi, aku akan berusaha buat bahagiain kalin meski aku harus merangkak dari nol. Asal kamu selalu berdiri di sampingku, Sya. Aku harap kamu gak keberatan kita mulai dari nol."
Tasya tersenyum lebar. "Promise. I love so much mu future hubsband."
Alex tersenyum senang, lalu menarik Tasya dalam dekapannya. Mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh perasaan. "I love you to, my wife."
"Lepasin aku, tar kamu khilaf lagi. Aku gak mau kejadian tahun lalu terulang kembali."
"Mau dicoba?" Gurau Alex.
"Terus... besok kita bakal jadi mayat karena amukan Daddy. Lepasin dulu, mau sampe kapan kamu peluk aku terus?"
"Sampe aku puas, sebentar aja. Kapan lagi bisa meluk kamu kayak gini."
"Idih, dasar cowok sukanya yang gratisan aja. Sabar sampe halal, kalo udah halal kamu bebas mau nagpain aja." Protes Tasya seraya menarik diri dari dekapan Alex. Kemudian bangkit dari sana.
"Bajunya udah kering. Mau tetap di sini atau ikut keluar."
"Ikut keluar aja."
"Takut sama Daddy ya?" Ledek Tasya yang diiringi tawa mengejek.
"Bukan takut, cuma segan aja." Jawab Alex ikut bangkit dari ranjang. Dan kembali mengenakan pakaiannya.
"Sama aja itu mah, ayok jangan lama. Entar dikira mereka kita lagi mesum." Ajak Tasya menggandeng tangan Alex.
Alex memiringkan wajahnya ke arah Tasya. "Apa perlu kita buat?"
"Jangan ngaco."
__ADS_1
Alex tertawa renyah. Kemudian sepasang kekasih itu pun kembali bergabung ke ruang keluarga.