Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 69


__ADS_3

"Siapa yang gak peduli?"


Mey dan Tasya pun menoleh saat mendengar suara bariton itu. Mey sedikit mundur ke belakang saat melihat keberadaan suaminya di sana. Penampilan lelaki itu jauh dari kata rapi. David terlihat awut-awutan, bahkan bulu-bulu halus sudah memenuhi wajahnya. Lelaki itu mendekat dengan langkah santai.


Mey langsung memberikan tatapan tajam pada anak tirinya.


"Bukan gw yang kasih tahu keberadaan lo, justru Daddy yang ngasih tahu keberadaan lo ke gw." Ujar Tasya paham dengan tatapan sahabat sekaligus Mamudnya itu.


Mey pun melayangkan tatapan membunuh pada suaminya. "Ngapain kamu ke sini? Apa karena wanita itu udah mati? Karena itu kamu nemuin aku huh?"


Tasya memutuskan untuk meninggalkan mereka dan menyusul suaminya di depan. Dan kini hanya ada Mey dan David di sana.


David tersenyum dan langsung berhambur memeluk sang istri. "Aku kangen banget, Mey."


Mey sama sekali tak menolak atau memberikan balasan. Ia memilih diam dengan air mata yang terus menitik.


David mengecupi pucuk kepala istrinya dan semakin mengeratkan dekapan. "Rasanya kesiksa hampir sebulan biarian kamu di rumah jelek ini, Mey. Tapi aku tahu kamu keliatan bahagia, kamu ketawa lepas sama semua orang yang ada di sini. Karena itu aku biarin kamu beberapa waktu di sini. Aku tahu kamu butuh tempat baru."


Mey terkejut mendengar pengakuan suaminya. Jadi selama ini David tahu keberadaannya? Ck, bodoh banget sih kamu, Mey. Jelas David tahu lah, dia orang berpengaruh dan bisa dengan mudah mencari keberadaannya. Apa lagi Mey masih menggunakan fasilitas milik David.


"Lepasin aku, Mas." Pinta Mey mendorong dada suaminya. Namun David seolah tak mau bergerak dan jauh-jauh lagi dari istrinya.


"Udah aku bilang kan? Aku gak akan pernah lepasin kamu, Mey. Kamu itu separuh nyawaku. Aku bakal singkirin apa pun yang buat kami sakit hati. Termasuk Laura."


Mey terkejut mendengar ucapan suaminya. Dengan kasar Mey mendorong suaminya. Memberikan tatapan permusuhan yang kental.


"Jadi kamu mau lari dari tanggung jawab?"


"Ya, cuma itu cara biar kamu balik sama aku. Dari awal aku gak pernah pengen Laura hadir. Aku udah bahagia sama kamu, anak itu hancurin kebahagiaan kita, Mey. Aku juga gak pernah niat buat tidur sama Ingrid. Waktu itu aku udah nyewa perempuan, tapi aku gak tahu kenapa bisa Ingrid yang tidur sama aku. Dia jebak aku, Mey."


Lagi-lagi Mey terkejut mendengar itu.


"Aku tahu, aku ini brengsek. Tapi aku selalu sadar kalau nidurin perempuan, aku gak bakal sembarangan nabur benih. Aku udah selidikin tempat kejadian. Ingrid sengaja masuk ke kamarku saat itu. Dia juga nambahin obat perangsang makanya aku gak sadar. Semabuk apa pun kondisiku, aku pasti ingat siapa yang aku tidurin. Aku gak tahu tujuan dia apa? Dia keburu mati sebelum jelasin semuanya sama aku." Agak kejam memang perkataan David. Sepertinya lelaki itu benar-benar frustasi.


"Tapi kamu gak bisa lari dari tanggung jawab, Luara anak kamu."


"Dan kamu istri aku, Mey. Aku lebih milih kamu ketimbang anak itu. Aku rela kehilangan seribu anak dari pada kehilangan kamu. Aku bakal lakuin apa pun caranya supaya kamu balik." David sedikit meninggikan suaranya.


"Aku gak mau balik." Tegas Mey.

__ADS_1


"Aku gak minta kamu balik."


"Apa?" Kaget Mey tidak habis pikir dengan jawaban suaminya.


"Aku gak minta kamu balik, aku tahu kamu butuh waktu buat nenangin diri. Aku gak akan maksa kamu buat pulang. Tapi jangan larang aku buat tinggal di sini sama kamu."


"Mas!" Seru Mey merasa dipermainkan oleh suaminya itu.


"Aku hampir mati karena nahan rindu, Mey." Liriih David.


Aku juga, Mas. Balas Mey dalam hati. Namun ia terlalu gengsi mengatakan itu. Entah sejak kapan wanita itu menanamkan rasa gengsi dalam dirinya?


"Sebaiknya kamu pulang, aku bahagia di sini sama Noah."


"Dan kamu senang aku mati, Mey?"


Mey terdiam dengan memalingkan wajah dari sang suami.


"Tolong, jangan buat aku kayak orang bodoh, Mey. Aku beneran gak bisa hidup tanpa kamu. Aku minta maaf atas semua kesalahku di masa lalu yang berdampak buat masa depan kita. Aku nyesel karena pernah nakal." David meraih tangan sang istri. Mengecup punggung tangan itu dengan lembut dan penuh ketulusan.


"Kamu boleh mukul aku, hajar aku habis-habisan. Kamu bebas lakuin apa aja, yang penting kamu maafin aku dan jangan tinggalin aku lagi. Dua kali kamu ninggalin aku, Mey." David menempelkan tangan istrinya di pipi. Mey menarik tangannya dengan gerak cepat.


"Mey, aku beneran gak tahu apa-apa soal Laura. Sumpah."


"Jangan bawa-bawa sumpah, Mas. Aku gak suka." Kesal Mey yang kemudian membawa nampan berisi dua gelas sirup ke depan. David cuma bisa mengekorinya di belakang.


Tasya dan Alex terkejut saat kedatangan Mey dan David. Keduanya saling memadang bingung. Sedangkan Mey meletakkan nampan itu di atas meja. Kemudian mengambil Noah yang tertidur dalam gendongan Tasya.


"Aku nidurin dia dulu di kamar." Pamit Mey yang langsung beranjak menuju kamar. Dan lagi-lagi David mengekorinya.


"Sayang, di sini banyak nyamuk." Ujar David sambil menepuk lenganya yang dihinggapi nyamuk.


"Aku gak minta kamu buat tinggal di sini." Sahut Mey memasang kelambu agar putranya tidak digigit nyamuk. Ia sudah terbiasa dengan hal itu.


"Kita pulang, kamu gak kasian sama Noah?"


"Aku lebih kasian liat Noah kalau kasih sayang Daddynya harus di bagi."


"Aku udah bilang, Laura bakal aku titip di panti."

__ADS_1


"Jahat kamu, Mas. Dia darah daging kamu." Protes Mey.


"Aku gak butuh dia, apa lagi bikin kamu pergi kayak gini."


"Bukan dia yang buat aku pergi, tapi kejutan masa lalu kamu, Mas. Entah kejutan apa lagi yang bakal kamu kasih sama aku? Yang belum aku mati karena jantungan."


"Mey." David memperingati.


"Apa aku salah? Lama-lama jantung aku gak sehat kalau sama kamu terus. Banyak kejutannya." Mey menyelimuti putranya sebelum keluar dari kamar.


Mey pun duduk bersebelahan dengan Tasya. Sedangkan David duduk di sebelah Alex.


"Kamu ikut balik kan, Mey?" Tanya Tasya.


"Enggak." Jawab Mey sekenanya.


"Mau sampe kapan sih gini terus?" Tanya Tasya meraih tangan Mey. "Balik dong Mey, kita semua butuh elo."


"Suami gw gak butuh gw lagi, Sya."


"Mey." Lagi-lagi David mencoba memperingati istrinya. "Kalau aku gak butuh kamu, aku gak akan ada di sini."


"Kamu ke sini karena butuh penghangat di ranjang doang." Cetus Mey.


"Kalau cuma itu, aku gak perlu cari kamu.


Aku bisa sewa perempuan di luar sana. Aku cinta sama kamu dengan tulus, Mey."


Tasya dan Alex berdeham kecil karena merasa canggung berada di tengah pertengkaran sepasang suami istri itu.


"Sayang, aku harus balik ke kantor. Sebaiknya kita pulang, King juga pasti nyariin kamu."


"Ah iya. Kalau gitu aku sama suami pamit ya, Mey." Tasya bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan Alex. Mey pun mengangguk kecil.


"Jangan cepet nyerah, Dad." Ucap Tasya sebelum meninggalkan tempat itu.


Kini suasana mendadak sunyi. Mey terlihat enggan menatap sang suami. Sedangkan David masih setia menatap wanita terkasihnya.


"Aku bakal tinggal di sini sampai kamu mau pulang." Putus David.

__ADS_1


"Terserah." Sahut Mey bangkit dari duduknya. Lalu meraih gelas dan meletakkannya di atas nampan. Setelah itu ia beranjak menuju dapur. Sekalian ingin membuat sesuatu untuk makan siang. Beruntung Mey menyewa rumah yang sudah lengkap dengan perabotannya. Jadi ia tak perlu repot membeli barang baru. Hitung-hitung menghemat.


__ADS_2