
Bruk!
Mey menubruk dada bidang seseorang karena tak terlalu memperhatikan jalannya. Matanya mengabur karena dibanjiri air mata. "Maaf." Ucapnya dengan suara bergetar. Bahkan tak berniat melihat siapa yang ia tabrak dan memilih pergi. Namun tiba-tiba orang itu mencekal lengannya. Sontak Mey pun menoleh dan sedikit mendongak.
Kak Alex? Mey terkejut saat tahu orang yang ia tabrak itu Alex. Lelaki yang sudah lama tak ia temui. Seketika tangisan Mey pun pecah.
"Mey, lo kenapa?" Tanya Alex kaget saat melihat Mey menangis.
"Bawa gw pergi dari sini, please."
"Okay, kita pergi." Tanpa banyak bertanya Alex langsung membawa Mey keluar dari rumah sakit. Namun tiba-tiba segerombolan wartawan menghampiri keduanya. Lebih tepatnya menghampiri Mey.
"Nona, apa benar Anda merebut Tuan Lander dari kekasihnya dan Anda rela menikah dengan seorang duda kaya raya di usia dini hanya untuk kesenangan semata?"
"Apa benar Anda menikahi Mr. Lander karena ingin menjadi orang kaya dadakan?"
Alex dan Mey terhenyak mendengar pertanyaan-pertanyaan pedis yang mereka lontarkan. Mata Alex pun menajam. Para wartawan itu terlalu fokus pada Mey sehingga tak menyadari siapa lelaki yang berdiri di samping Mey. Alex mengeratkan rahangnya.
"Berasal dari media mana kalian? Berani sekali mengusik kehidupan pribadi seseorang?" Suara nyaring Alex pun berhasil menarik perhatian semua wartawan. Sontak mereka pun terkejut saat melihat wajah Alex. Yang notabennya pemilik entertaiment terbesar di Kota ini.
"Bubar!" Bentak Alex yang berhasil membuat para wartawan mundur. "Siapa yang berani menyebarkan video ini. Saya akan pastikan tempat kalian bekerja bangkrut sampai akar-akarnya."
Wartawan itu pun tertunduk patuh dan perlahan mundur. Memberikan keduanya jalan.
"Ayok." Ajak Alex. Belum sempat Mey melangkah, tubuh gadis itu ambruk lebih dulu. Beruntung Alex sigap dan menangkap tubuh Mey. Gadis itu jatuh pingsan. "Mey."
Alex menggendong Mey dan membawanya masuk lagi menuju IGD. Lelaki itu terlihat panik bukan main. Apa lagi wajah Mey sangat pucat.
Sedangkan David, lelaki itu terus meyusuri lantai dasar rumah sakit dengan napas tersengal. Mencari keberadaan sang istri. Ia yakin Mey masih ada si sekitaran rumah sakit. David menyapu pandangan ke setiap pengunjung. Berharap menemukan siluet tubuh istrinya ada di antara mereka. Namun ia tak menemukan keberadaan Mey. Dengan wajah frutasi ia berlari ke arah pintu keluar, mencari Mey yang mungkin saja sedang mencari taksi. Dan lagi-lagi ia tak menemukan keberadaan sang istri. David berteriak frustasi sampai membuat orang-orang terkejut dan menganggapnya gila.
"Maafkan aku, Sayang." David menggenggam cincin nikah sang istri dengan erat. Kemudian memutuskan untuk pulang, mungkin saja Mey memang pulang. Ia percaya gadis itu tak akan meninggalkannya.
****
Alex menopang dahi di atas kepalan kedua tangannya. Saat ini ia terduduk lesu di depan IGD. Mey masih diperiksa oleh sang dokter.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan pun terbuka dan menampakkan seorang dokter muda. Alex yang pada dasarnya cemas pun langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana kondisinya?" Tanyanya panik. Namun dokter itu malah tersenyum lebar.
"Jangan khawatir, Pak. Istri Anda baik-baik saja. Beliau hanya kecapekan dan terlalu banyak menyimpan beban. Tolong diperhatikan lagi kondisinya, karena kondisi hamil muda memang sangat rawan terjadi hal seperti ini." Jelas sang dokter dengan senyuman manisnya. Sedangkan Alex yang mendengar itu benar-benar kaget.
"Hamil?" Tanyanya masih tak percaya.
"Owh, jadi Bapak belum tahu ya? Kalau begitu selamat ya, Pak. Istri Bapak sedang hamil. Bisa diperkirakan usianya baru dua minggu. Tadi kami sempat melakukan USG untuk melihat kondisi janinya. Alhamdulillah janinnya sehat kok." Tambah dokter itu lagi.
Mulut Alex terkatup rapat, ia tak bisa berbicara apa pun lagi. Hatinya teriris saat mengetahui kenyataan ini. Gadis pujaan hatinya kini tengah mengandung janin dari benih orang lain.
"Saya pamit dulu, silakan temui istri Anda. Tunggu sampai ia siuman, setelah kondisinya membaik. Anda bisa langsung membawanya pulang."
"Ah, iya terima kasih, dok."
"Sama-sama, mari Pak."
Alex mengangguk pelan. Lalu pandangannya tertuju pada daun pintu. Dengan langkah gontai Alex masuk ke dalam sana untuk melihat keadaan Mey yang masih belum sadarkan diri.
Alex duduk di kursi yang ada di sisi brankar. Menatap wajah pucat Mey dengan seksama. Kemudian beralih pada perut Mey yang masih rata.
"Congratulation, Mey. Lagi-lagi gw dapat kabar baik dari lo." Alex memberanikan diri untuk meraih tangan Mey yang terinfus. Lalu mengecupnya dengan lembut.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Alex mengingat kembali kejadian sebelumnya di mana ia bertemu dengan Mey dalam keadaan menangis. "Lo kenapa sih Mey? Kenapa lo nangis dan minta gw buat bawa elo pergi. Di mana suami lo huh?" Tentu saja Alex tak mendapat jawaban karena gadis itu masih tertidur.
Di rumah besar Lander. David berlari memasuki rumahnya dan lansung menuju kamar. Nyonya Grace yang melihat itu merasa heran.
"Dev, kenapa lari?" Tanya Nyonya Grace yang tak digubris oleh David karena lelaki itu lebih dulu masuk ke dalam lift.
"Mey." David membuka pintu kamar sambil memanggil nama istrinya. Namun kamar itu kosong. "Mey," panggilanya lagi menyusuri seisi kamar. Dan Mey benar-benar tidak ada di sana. David semakin frustasi dan beranjak keluar dari kamarnya.
"Daddy."
David terkejut saat melihat Tasya sudah berdiri di depan kamarnya. "Sasa? Kamu pulang?"
"Ya, Dad. Sasa khawatir dengan Mey. Jadi Sasa memutuskan untuk pulang, Sasa yakin Mey butuh seseorang buat curhat. Terus di mana Mey sekarang, Dad? Kenapa penampilan Daddy kusut gini sih?" Tasya meneliti penampilan sang Daddy yang terlihat berantakan.
"Jadi Mey tidak pulang?" Tanya David dengan suara lemah.
"Tunggu, ada apa sebenarnya, Dad? Di mana Mey?" Tasya mulai panik saat melihat keanehan David.
"Ikut Daddy turun, Daddy akan menjelaskan semuanya." Tasya pun mengangguk. Kemudian mereka pun beranjak turun.
Kini David sudah duduk di ruang keluarga bersama orang tua dan putrinya yang tengah menunggu penjelasan.
"Mey salah paham. Tadi...." Lalu mengalirlah cerita yang terjadi hari ini dari mulut David. Semua orang terkejut mendengarnya. Termasuk Tasya yang langsung berdiri dari posisinya.
"Sasa sudah sering ingatkan Daddy. Jauhi wanita itu! Sekarang lihat kan? Semuanya jadi kacau. Sasa kecewa sama Daddy." Kesal Tasya mulai berderai air mata. Lalu gadis itu pun beranjak pergi.
"Sasa." Panggil David dengan nada lirih. Ia tahu ini memang kesalahannya. Dirinya pantas mendapat cacian orang-orang terdekatnya.
"Mommy kecewa, Dev. Mommy pikir kamu sudah berubah, ternyata sifat brengsek kamu memang tak akan pernah bisa hilang. Sekarang di mana menantu Mommy huh? Dia baru saja meneriman pukulan berat karena kehilangan Ayahnya. Dan sekarang kamu membuatnya terluka, Dev. Ya Tuhan, ampuni dosa putraku."
Tuan Adam membawa istrinya dalam dekapan. "Cari istrimu sampai ketemu, bawa dia pulang. Jika dia benar-benar pergi, sesali semuanya sendiri." Pungkas Tuan Adam membawa istrinya ke kamar. Sepertinya Nyonya Grace terlalu syok dengan apa yang didengarnya.
Sedangkan di rumah sakit. Mey sudah sadarkan diri beberapa menit yang lalu. Namun ia sama sekali tak bicara. Dan itu berhasil membuat Alex serba salah.
"Mey, kalau lo diam aja kayak gini. Gw bingung mau ngapain?" Keluh Alex melipat kedua tangannya di dada. Menatap Mey yang masih terdiam.
Kali ini Mey mulai merespons, ia menoleh dan menatap Alex penuh makna.
"Kak."
"Hm."
"Apa tawaran lo itu masih berlaku?" Tanya Mey dengan nada bergetar. Alex yang mendenar itu menjatuhkan kedua tangannya dan menatap Mey lamat-lamat. Alex tahu betul ke mana arah pembicaraan Mey saat ini.
"Ada apa Mey? Apa dia nyakitin lo?"
Mey terdiam sejenak, lalu mengguk pelan. "Dia cuma mainin gw doang, Kak. Cintanya palsu. Sekarang gw udah hancur dan gak punya siapa-siapa lagi."
Alex meraih tangan Mey, menatap gadis itu begitu dalam. "Lo masih punya gw, gw akan selalu ada buat lo. Lo juga masih punya Bokap kan? Terus kenapa lo ngomongnya aneh sih?"
Alex sama sekali tidak tahu jika Bapak Mey sudah meninggal. Karena Mey tak memberinya kabar. Sudah seminggu Alex tidak bekerja di kafe dan sibuk dengan posisi barunya sebagai CEO. Karena itu ia tak mendapat informasi. Alex juga sudah memutuskan untuk tidak mencari tahu lagi tentang kehidupan Mey. Dan berniat melupakannya.
Air mata Mey mengalir begitu deras. "Sorry gw gak sempet kasih kabar ke elo, Kak. Tiga hari yang lalu Bokap gw meninggal."
"What?" Kaget Alex nayris tak percaya. "Gw beneran gak tahu, Mey. Gw minta maaf dan turut berduka cita."
"Gak papa, salah gw gak kasih tahu elo."
Alex mengubah posisinya menjadi duduk di bibir brankar. "Terus kenapa lo nangis dan ada di rumah sakit huh?"
__ADS_1
Pertanyaan yang Alex lontarkan berhasil membuat Mey mengingat kejadian itu lagi. Hatinya terasa perih, dadanya juga sesak karena kata-kata menyakitkan suaminya. Refleks Mey memeluk lengan Alex dan kembali menangis. Mey yang biasanya tak pernah cengeng, kini gadis itu benar-benar terlihat seperti anak kecil. Mungkin itu terjadi karena hormon kehamilannya. Emosinya menjadi tak stabil. Untuk kehamilan, Mey sama sekali belum tahu karena Alex belum mengatakan apa pun.
"Ceritain sama gw apa yang terjadi? Sampe ada wartawan segala tadi. Masalah apa sih yang lagi lo hadepin?" Tanya Alex sembari mengusap rambut Mey.
"Dia jahat, Kak. Gw pikir dia beneran cinta sama gw. Ternyata dia itu bohong, dia mau cerein gw demi pacar lamanya. Selama ini dia cuma mau tidurin gw doang. Hati gw sakit...." Mey pun mulai menceritakan kejadian sebenarnya pada Alex.
Alex mengeratkan rahangnya saat mendengar ungkapan Mey tentang kebrengsekan David. "Lo tenang aja, gw akan selalu ada buat lo. Gw udah pernah bilang, tawaran gw gak pernah kadaluarsa." Alex menarik Mey dalam pelukannya.
Mungkin aja lo emang takdir gw, Mey. Gw akan terima lo apa pun keadaanya. Pikir Alex. Ia memberikan kecupan di pucuk kepala Mey.
"Bantu gw buat urus perceraian, gw gak punya apa-apa sekarang. Mungkin lo berpikir gw ini gak tahu malu banget kan? Udah nolak cinta lo, sekarang gw malah minta bantuan elo."
Alex tersenyum geli mendengarnya. "Gw gak pernah mikir gitu. Sampe kapan pun lo tetap spesial di hati gw."
"Makasih," ucap Mey membalas pelukan Alex. Namun tiba-tiba Alex mengingat tentang kehamilan Mey.
"Lo bilang mau cerai kan? Terus gimana sama anak dalam perut lo? Gw mau aja sih neriman anak itu. Cuma gak yakin aja lo bisa cerai dalam keadaan mengandung."
Mey yang mendengar itu langsung menarik diri dari pelukan Alex. Lalu memandang Alex dengan tatapan bingung.
"Gw... gw hamil?" Tanya Mey dengan nada bergetar. Alex terkejut mendengar itu. Ia pikir Mey sudah tahu tentang kehamilannya.
"Jadi lo juga gak tahu kalau lo lagi hamil, Mey?"
Mey menggeleng pelan. Ia masih syok mendengar kenyataan bahwa dirinya sedang hamil. Refleks Mey menyentuh perutnya. Buliran air bening kembali menetes dipelupuk matanya.
Jadi Tasya bener dong, kalau gw udah hamil? Ya Allah, terima kasih banyak. Tapi... kenapa dia hadir dalam keadaan gini sih? Dimana gw udah nyerah dan memilih pergi. Apa yang harus gw lakuin sekarang? Om David pasti gak bakal mau nerima anak ini kan? Karena dia gak pernah cinta sama gw. Enggak Mey, lo gak boleh lemah gini. Meskipun suami lo gak mau nerima anak ini. Lo pasti bisa besarin dia sendirian. Ya, lo harus bisa.
Mey menatap Alex penuh harap. "Kak, jangan kasih tahu siapa pun soal kehamilan gw ya? Cukup kita aja yang tahu."
"Kenapa Mey? Lo beneran gak akan pertimbangin lagi suami lo huh? Dia harus tahu kondisi lo sekarang. Lo hamil anak dia juga."
"Buat apa? Dia juga bakal nikah sama pacarnya yang juga lagi hamil anak dia. Dia gak akan nerima anak ini, gw yakin itu. Gw bakal besarin dia sendirian. Gw udah terbiasa hidup keras."
"Mey...."
"Jangan bujuk gw buat balik ke sana, Kak. Udah cukup masa di mana gw harus ngejar cinta dia. Gw udah nyerah, sampe kapan pun gw gak akan sampe garis finis. Karena dia gak pernah ngibarin bendera start buat gw."
Alex menatap Mey lamat-lamat, lalu menggenggam tangan mungil itu dengan lembut. "Kalau itu keputusan elo, gw cuma bisa dukung. Tapi... gw bakal ikut andil dalam kehidupan elo dan anak itu. Gw gak nerima penolakan. Udah cukup lo nolak gw terus. Sekarang lo harus nerima keputusan gw okay?"
Mey terdiam cukup lama. Setelah itu ia pun mengangguk antusias. Alex tersenyum dan langsung memeluk Mey. "Gw bakal bawa lo ke sebuah tempat, di mana cuma kita yang tahu tempat itu."
Mey mendongak. "Ke mana?" Tanya Mey pensaran.
"Nanti juga lo bakal tahu."
"Ck, kebiasaan deh buat gw penasaran."
"Karena itu ciri khas gw, Mey."
"Makasih, lo masih mau berteman sama gw."
"Sampe tahap ini lo masih nganggep gw teman? Jahat lo, Mey." Kesal Alex tak terima di sebut teman oleh Mey. Karena sejujurnya ia masih mengharapkan Mey menjadi bagian hidupnya.
"Terus mau lo apa dong? Gw kan masih istri orang."
"Pacar gelap gw."
"Sialan lo." Umpat Mey yang disambut tawa oleh Alex. Mey pun ikut tertawa dan mengeratkan pelukannya pada Alex. Mencoba untuk melupakan sejenak masalahnya.
__ADS_1