Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Mengunjungi kantor Dimas


__ADS_3

"Chaca kamu mau kemana?" Tanya Jenar saat melihat Chaca seperti terburu buru menuruni tangga.


"Mau ke kantor Je, mau ikut yuk?" Ajak Chaca kepada Jenar.


"Hemm enggak Cha, Vier badan nya lagi anget." Jawab Jenar.


"Hah Vier sakit? Udah di kasih obat? atau mau ke rumah sakit yuk gue anter?" Tanya Chaca mendadak panik.


"Gapapa Chaca, Vier cuma anget doang karena kemarin main hujan," kata Jenar.


"Cuma hujan begitu udah anget?" Tanya Chaca bingung, padahal Chaca tau Javie dan Vier hanya sebentar bermain hujan, malah lebih lamaan Javie.


"Hemm entahlah Vier sensitif sama air hujan." Ucap Jenar lemah.


"Haiss padahal dia dingin banget yah cool gitu tapi ada sisi lemah nya juga sama air ujan lagi," ucap Chaca menepuk jidat nya.


"Ya udah ah sana buruan pergi, hati hati Inget di dalam perut kamu ada bayinya Chaca perhatikan langkah kamu," Ucap Jenar menatap tajam ke arah Chaca.


"Hehehe iya iya tadi lupa Je," Kata Chaca menyengir kuda membuat Jenar mendesah kasar.

__ADS_1


Chaca menaiki taxi menuju perusahaan keluaega Pranata, ia ingin memberikan kejutan kepada sang suami dengan membawakan nya bekal makan siang.


Sekitar 35 menit kini dirinya sudah sampai di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi, Chaca pun segera turun dari taxi setelah membayar ongkos nya.


Chaca berjalan dengan santai menuju lift khusus untuk menuju lantai dimana ruangan suami nya berada, setelah itu ia segera berjalan menuju ruangan Dimas.


Ceklek!


Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Chaca langsung membuka pintu ruangan Dimas dan kosong, tidak ada siapapun di sana.


"Huufft, kemana lagi sih? Padahal kan ini udah jam makan siang," ucap Chaca sedikit kesal lalu ia meletakkan makanan nya du meja dan dirinya langsung rebahan di sofa.


Hampir satu jam Chaca tertidur di sofa hingga tiba tiba ia mendengar suara gemuruh dari luar dan masuk ke ruangan Dimas membuat mata Chaca terbuka.


"Hahaha," Tawa Arya dan Bian langsung berhenti tatkala melihat Chaca yang tengah menatap mereka dengan tajam, sedangkan Dimas belum menyadari keberadaan sang istri, dirinya langsung duduk di kursi kebesaran nya dan mencari hape nya.


"Bang, kayaknya kita balik aja deh," ucap Bian.


"Kenapa?" Tanya Dimas sambil natanya terus mencari keberadaan hape nya.

__ADS_1


"Gue gak mau ganggu perang," jawab Bian membuat Dimas bingung.


"Maksud lo?" Tanya Dimas lalu matanya mengikuti arah mata Bian dan Dimas langsung terkejut melihat keberadaan sang istri yang Tenga menatap tajam ke arah dua adiknya sambil bersedekap tangan di dada.


"Ayo cabut bang, sebelum terjadi perang dunia." Bisik Bian lalu segera keluar dengan Arya.


"Sa—sayang," panggil Dimas yang langsung berdiri dan berjalan cepat menuju sofa.


"Gak usah pake sayang sayangan!" Bentak Chaca kesal, ia menunggu Dimas sampai ketiduran dan Dimas malah tidak menyadari keberadaan nya.


"Sayang, kamu sejak kapan kesini hem? Kenapa tidak mengabari Mas?" Tanya Dimas lembut tidak mengidahkan bentakan Chaca.


"Kenapa gak ngabarin? Mas cek sendiri hape mas!" Ketus Chaca.


"Maaf yank, hape Mas gak tau dimana makanya ini lagi Mas cari tadi." Jawab Dimas.


"Darimana tadi? Satu jam lebih Chaca nunggu disini!" Kata Chaca masih ketus.


"Maaf sayang, tadi Mas ada meeting terus lanjut makan siang sama Arya dan Bian." Jawab Dimas tak enak hati.

__ADS_1


"Kamu udah makan tapi Chaca belom makan sama sekali karena mau makan siang sama Mas Dimas, kamu jahat banget sumpah Mas hiks hiks," Chaca terisak karena acara makan siang nya gagal.


"Maafin mas sayang, mas gak tau kamu kesini Ingin makan siang dengan Mas," kata Dimas menyesal.


__ADS_2