
Dimas dan Aiden di buat melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Bagaimana bisa Chaca makan dengan begitu lahapnya setelah tadi di pesta ia sudah memakan begitu banyak jenis makanan.
"Aiden, Mas, kalian gak makan?" Tanya Chaca sambil mengunyah makanan nya.
"Enggak Mi, Mami aja yang makan. Aiden sudah kenyang." Aiden menjawab sambil menelan saliva nya.
"Mas?" Tanya Chaca.
"Enggak sayang, kamu saja." Tolak Dimas dengan halus.
"Ya sudah kalau gak mau," kata Chaca sambil meneruskan makan nya.
"Bang, ayam nya tambah satu lagi ya yang paha sama ati nya dua!" Seru Chaca kepada penjual, yah kini mereka sedang berada di sebuah warung tenda pecel lele yang dulu pernah Chaca dan Dimas singgahi.
"Sayang, kamu gak kenyang?" Tanya Dimas tak percaya, pasalnya Chaca sudah menghabiskan 4 potong ayam yang setara dengan satu ekor ayam kan juga beberapa tusuk ati ampela.
"Sebenarnya Chaca udah kenyang tapi anak kamu rakus dia masih mau," jawab Chaca ketus.
__ADS_1
"Kamu jangan pelit-pelit kenapa sih Mas, Chaca makan disini juga gak setara harganya sama makanan Mas kalau di restauran," Ucap Chaca kesal karena mengira Dimas pelit.
"Hah!" Dimas semakin di buat melongo saat mendengar ucapan yang Chaca lontarkan.
"Sayang, bukan Mas pelit atau apa. Mas hanya khawatir kamu kekenyangan dan—" ucap Dimas langsung terhenti kala di potong Chaca dengan cepat.
"Dan apa? Dan Chaca gendut, jelek terus bikin Mas malu begitu?" Tanya Chaca menggebu hingga tanpa sadar air matanya meleleh begitu saja.
"Bukan sayang bukan begitu," Dimas merasa bingung bagaimana menjelaskan nya kepada Chaca karena setiap kali ia berbicara Chaca selalu memotong nya.
"Jangan!" Teriak Dimas saat melihat Chaca hendak mengusap wajahnya sedangkan tangannya kotor karena sedang makan menggunakan tangan.
"Kamu jahat banget Mas jahat hiks hiks." Dimas semakin frustasi karena Chaca terisak dan menjadi pusat perhatian sekeliling pengunjung warung tenda itu.
"Hey lihat mas, silahkan kamu makan sebanyak apapun mas gak ngelarang. Mau kamu se gendut apapun atau sejelek apapun nanti, Chaca tetap di hati Mas, dan tidak akan pernah tergantikan." Ujar Dimas sambil mengusap air mata Chaca.
"Mas hanya khawatir sama perut kamu Sayang, kamu tadi sudah makan banyak di pesta, dan sekarang?" Ucap Dimas sambil melirik ke arah meja di depan nya.
__ADS_1
"Bohong!" Seru Chaca.
"Enggak sayang," kata Dimas.
"Maaf permisi Mas, Mbak ini pesanan nya dan apa masih ada yang mau di tambah?" Tanya Pelayan yang mengantarkan pesanan Chaca.
"Es jeruk satu," Kata Chaca seketika berhenti menangis.
"Baik, silahkan di tunggu." Ucap Pelayan itu lalu pergi.
"Nangis nya lanjut nanti lagi, Chaca mau makan dulu. Mas jangan seneng dulu, sesi marah Chaca masih berlanjut!" Seru Chaca lalu ia kembali melahap makanan nya dengan cepat.
'Baby Queen ku yang rakus atau Mami yang rakus?' Gumam Aiden dalam hati saat melihat Chaca kembali makan seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya.
"Papi yang sabar yah," bisik Aiden terkekeh melihat wajah sang Papi frustasi yang selalu salah di mata sang Mami.
Tidak jarang Aiden mendengar perdebatan Mami dan Papi nya seperti ini, namun Aiden tak ingin ikut campur, bila Chaca mulai mengeluarkan jurusnya maka Aiden akan langsung menutup telinga nya menggunakan handset agar tidak mendengar dan matanya ia fokuskan kepada Hape agar tak melihat drama Papi dan Mami nya.
__ADS_1