Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 75


__ADS_3

Mey masuk ke kamarnya dengan wajah sembab. David yang melihat itu merasa heran.


"Ada apa, sayang?" Tanyanya bingung.


Mey menghampiri suaminya, lalu memeluknya erat. "Mas, Laura nanyain Mbak Ingrid lagi. Aku gak kuat ngomongnya, Mas. Aku terpaksa bohong."


David mengusap rambut istrinya dengan lembut. "Gak papa, emang sebaiknya kita gak ngomong dulu, Laura masih kecil. Dia pasti belum paham."


"Udah, jangan nangis. Tuh lihat Noah liatin terus." Imbuh David menatap putranya yang terus menatap Mey sambil memegangi mainan.


Mey pun melepaskan diri dari pelukan David. Kemudian tertawa kecil saat melihat Noah tersenyum.


"Ih, Mommy sedih kamu malah senyum." Mey mencubit pelan hidung putra kecilnya. Lalu Noah pun berteriak kesenangan sambil menendang-nendangkan kaki.


"Mamamama..." oceh Noah yang berhasil membuat Mey kaget. Karena untuk yang pertama kalinya Noah menyebut kata Mama.


"Mama? Kamu bilang Mama? Cobak sekali lagi, sayang. Mama... Mama." Sangking senangnya Mey terus mengajari anaknya.


"Mamamama...." seolah mengerti, Noah kembali mengoceh. Sontak Mey pun menatap suaminya.


David yang ikut penasaran pun mulai ikut-ikutan. "Cobak bilang Daddy, sayang."


"Mamamama...."


"Daddy."


"Mamamatatata... bubuuzzzz."


Mey dan David pun tertawa bersamaan.


"Pinter banget sih anak Mommy." Mey yang merasa gemas pun mencium lembut pipi Noah.


"Siapa dulu Daddynya?"


"Ya kamu lah, emang siapa lagi."


David pun tertawa renyah.


Saat sedang asik bercanda ria. Mereka dikejutkan dengan gedoran pintu. Sontak Mey dan David pun menatap pintu.


"Mommy, Daddy... yuhu...."


Mey yang sudah mengenal suara itu pun langsung beranjak menuju pintu meski dengan langkah malas. Lalu membukanya perlahan.


"Ada apa ya? Gak sopan banget sih?" Ketus Mey. Namun, tanpa di sangka dan diduga si pelaku malah memeluknya dengan erat.


"Mey Mey... cobak tebak gw bawa kabar apa?" Seru Tasya semakin mengeratkan pelukannya.


"Ih... sesak napas gw, Sya. Lepas ah. Emang kabar apa sih? Bahagia banget kayaknya."

__ADS_1


Tasya pun melepaskan pelukannya. "Cobak tebak?"


"Lah, ngapain juga gw harus capek-capek mikir. Gak ada untungnya kali." Kesal Mey.


"Ih... gak asik lo mah." Tasya mengintip ke arah David yang sedang bermain dengan Noah.


"Mey... gw...."


"Ih... gak usah bikin gw penasaran. Ngomong yang jelas, Sya." Protes Mey.


"Oke-oke." Tasya terlihat menarik dan menghembuskan napas. "Gw hamil."


"Oh." Sahut Mey terlihat santai. Namun detik berikutnya ia memekik kaget. "Apa?"


David yang mendengar teriakan istrinya itu pun menoleh. Namun, ia terlihat biasa saja meski mendengar kabar Tasya tadi karena sedang asik bermain dengan putranya.


Tasya terkekeh lucu. "Makanya denger dulu yang jelas baru nyahut."


"Lo seriusan hamil, Sya? Demi apa?" Kaget Mey.


"Demi elo. Gw beneran hamil, Mamud. King bakal punya adek."


Mulut Mey pun terbuka lebar.


"Biasa aja kali, gak usah kaget gitu." Tasya mendorong dagu Mey ke atas.


Pletak!


"Lo gila ya?" Maki Mey.


"Kok gila sih? Sakit, Mey. Tangan lo gak berubah."


"Ya gila lah, King itu masih kecil, Tasya."


"Lah, emangnya kenapa? King bisa minum susu formula. Emangnya ono noh, harus murni susu gentong." Tasya menyebikkan bibirnya ke arah Noah.


"Dih... kok malah bawa-bawa adek lo sih? Sekarang gw tanya, emang gak bisa lo tahan dikit apa? Kb kek apa kek."


"Enggak, hehe. Soalnya aku sama Kak Alex udah sepakat buat gak nunda momongan."


Mey memijat keningnya. "Gila lo, gw mikirinnya King. Kasian banget belum setahun udah di sapih. Bapaknya aja gak lo sapih." Ledek Mey.


Bukannya merasa bersalah, Tasya malah cengengesan. "Kan biar jadi keluarga besar, Mey. Kalau bisa gw beranak setahun satu. Biar rame kayak keluarga Halilintar. Tar gw buat nama anak-anak gw geledek biar estetik."


"Eleh, udah lupa lo hampir mati pas lahirin King?"


"Ingat sih, tapi gak salah di cobak lagi. Ck, jangan doain yang jelek-jelek dong, Mey. Doain gw sama Baby sehat-sehat terus." Tasya memasang wajah memelas.


Mey menghela napas panjang. "Iya iya, gw selalu doain yang terbaik kok buat lo. Selamat ya atas kehamilan lo, Sya. Gw seneng bakal nambah cucu. Duh... umur gw padahal baru sembilan belas tapi cucu udah mau dua."

__ADS_1


Tasya tertawa geli. "Aamiin... makasih Mamud. Cepet nyusul ya?"


"Ih enggak-enggak, gw mau nunggu sampe Noah tiga tahun atau empat tahun dulu. Ribet kalau deket-deket mah. Kuwalahan gw."


"Gw sih oke oke aja. Kan ada Mama yang bantu jaga King."


"Elo mah enak, lah gw? Masak iya nyusahin Bibik terus, walaupun gaji Bibik aku tambah. Tapi kan tetap aja kasian. Sekurang-kurangnya gw tamatin kuliah dulu deh. Terus kuliah lo gimana, Sya?"


"Kuliah ya tetap kuliah, ibarat sekali nyelam dua tiga pulau terlampaui."


"Gak yakin gw, lo kan kalau hamil maboknya parah."


"Hehe... iya sih. Liat nanti aja deh gimana jadinya. Lagian suami gw juga orang kaya, gak kuliah juga uang gw masih tetap banyak."


"Sombong lo. Terus King sama suami lo mana?"


"Ada di bawah, turun yuk. Udah lama gak ngobrol sama lo. Kangen tahu." Ajak Tasya.


Mey melihat ke dalam di mana suaminya masih bermain dengan Noah. "Mas, aku ke bawah ya? Nanti kalau Noah nangis bawa aja turun."


David menoleh dan mengangguk paham. Mey pun langsung menutup pintu kamar. Kemudian dia mama muda itu pun beranjak menuju lantai bawah.


"Hei gembul?" Sapa Mey pada King yang masih dalam gendongan Alex.


"Sehat, Mey?" Tanya Alex basa basi.


"Sehat pake banget, seperti yang lo lihat lah." Jawab Mey apa adanya. Ia pun duduk di single sofa sambil memeluk bantal.


Mey terus menatap Tasya dan Alex bergantian, lumayan lama. Membuat pasangan itu merasa heran sendiri.


"Gak nyangka gw, kalian bakal jadi pasangan absurd gini." Celetuk Mey.


"Habis dulu lo gak mau sama gw, jadinya gw milih sama anak lo. Kan lumayan kita masih bisa sering ketemuan. Meskipun sekarang lo jadi Mamud gw." Gurau Alex yang berhasil mendapat pelototan dari istrinya.


"Becanda, sayang." Alex mengecup pipi Tasya gemas.


"Heleh, dulu aja ogah-ogahan. Sekarang kalian main kuda-kudaan. Mana mau nambah anak lagi. Drama banget."


"Jangan julid, Mey. Kalau mau lo juga bisa nambah anak. Biar anak kita semumuran lagi." Sambar Tasya sambil cengengesan.


"Dih...ogah gw. Kan udah gw bilang tadi, tunggu sampe Noah umur tiga atau empat tahun. Baru deh gw rencana nambah. Sekarang gw masih repot sama Noah." Kekeh Mey.


Tasya dan Alex cuma bisa tersenyum.


"Btw, udah lama gw gak denger kabar Gibran. Di mana dia sekarang?"


"Dia...."


"Gw di sini."

__ADS_1


Mey, Alex dan Tasya pun langsung menoleh ke sumber suara.


__ADS_2