
"Assalamualaikum, Mah." Ucap Gibran membawa masuk Tasya ke dalam rumah bersama King yang sudah tertidur di dalam stroller.
"Wa'alaikumsalam," sahut seseorang dari arah ruang tamu. Lalu tidak lama seorang wanita paruh baya yang mirip dengan Gibran pun muncul.
"Wah, bawa tamu ya?" Sapa wanita itu menatap Tasya.
"Halo, Tante. Saya Tasya." Sapa Tasya meraih tangan Mamah Gibran dan menciumnya dengan lembut.
"Wah, jadi ini Tasya yang kamu bilang, Ran? Cantik banget, beneran bule." Seru Mamah Gibran menatap Tasya dengan mata berbinar. "Panggil aja Mamah Gigi ya, jangan Tante."
"Eh, tapi Tan...."
"Udah, nurut aja sama Mamah. Tar Mamah ngambek lagi." Potong Gibran seraya merengkuh pinggang ramping Tasya.
"Iya deh, Mah." Pasrah Tasya yang berhasil mengembangkan senyuman di wajah Mamah Gigi. Lalu pandangan wanita paruh baya itu pun terarah pada King.
"Ini anak kamu kan? Ya ampun, gemesnya. Mamah mau gendong boleh ya? Gak papa deh kita ganggu dia bobok. Gak sabar mau gendong soalnya." Seru Mamah Gigi merasa gemas dengan si gembul.
"Boleh kok, Mah."
Dengan semangat Mamah Gigi pun mengangkat King dalam gendongannya. King yang merasa tidurnya diganggu pun mulai merengek. "Cup cup cup... maafin Oma udah bangunin kamu ya? Yuk bawa Tasya masuk, Ran." Mamah Gigi pun langsung membawa King ke dalam. Mengecupi pipi gembul King dengan gemas.
"Ayok, Sayang. Mamah emang rame orangnya, paling seneng sama anak kecil. Makanya desak gw buat nikah. Yah, walaupun gw juga udah pengen sih." Ujar Gibran menatap Tasya. Menyusul jejak sang Mamah.
"Pantes lo orangnya asik, Mamah lo juga asik banget." Puji Tasya tersenyum lebar. Gibran yang mendengar itu tertawa renyah.
"Eh, anak siapa ini, Gi? Ganteng banget." Seru seorang wanita paruh baya yang lumayan mirip dengan Mamah Gigi.
"Calon cucu, Mbak. Nah kalau yang sama Gibran itu calon mantu. Kenalin namanya Tasya. Dan Tasya, ini Bundanya Gibran. Panggil aja Bunda Aira." Jawab Mamah Gigi begitu semangat.
"Halo Bun, saya Tasya." Tasya meraih tangan Bunda Aira dan mengecupnya. Bunda Aira pun tersenyum ramah.
"Aduh, enak banget kamu Gi udah dibawain calon mantu aja. Beda sama Alex, boro-boro calon mantu, batang hidung cewek aja gak pernah dia bawa." Ujar Bunda Aira yang berhasil membuat Tasya kaget.
"Ini Mamanya Kak Alex ya?" Bisik Tasya pada Gibran.
"Iya, mirip Mamah aku kan?"
Tasya mengangguk pelan sambil menatap Bunda Aira yang sejak tadi terus memperhatikan King.
Ya ampun, akhirnya King ketemu juga sama Neneknya. Gimana reaksinya ya kalau tahu King itu cucunya? Pikir Tasya.
"Kok kayak mirip Alex ya, Gi? Mirip banget malah sama Alex pas kecil." Ujar Bunda Aira mengusap pipi cubby King. Sontak Tasya yang mendengar itu kaget dan langsung melirik Gibran.
Apa Gibran tahu siapa Ayah King? Kenapa dia sama sekali gak nanggapin. Aneh.
"Bububu...." King mengangkat kedua tangannya ke arah Bunda Aira. Dan itu menarik perhatian Tasya.
"Eh, minta di gendong sama Nenek ya? Sini-sini, gemes banget sih." Ujar Bunda Aira mengambil King dari gendongan Mamah Gigi. "Jadi inget pas gendong Alex dulu. Huh, entah kapan dia bakal bawa mantu ke rumah. Pengen juga punya cucu kayak gini."
"Ran, bawa duduk dong Tasyanya. Kok di biarin berdiri sih? Tar Mamah suruh Bibik buat minum dulu ya?" Ujar Mamah Gigi yang langsung beranjak menuju dapur.
"Duduk, Sya."
"Ok." Tasya pun memilih duduk di depan Bunda Aira. Menatap King yang terlihat senang dan terus berteriak riang. Sedangkan Gibran duduk di sebelah Bundanya sambil bersandar santai. Mencubit gemas pipi King.
__ADS_1
"Berapa umurnya?" Tanya Bunda Aira menatap Tasya.
"Jalan enam bulan, Bun."
"Wah, pantes aja udah pinter. Namanya siapa?"
"Kingsley."
"Dipanggilnya King ya? Cocok benget namanya."
"Gimana Bun, cocok kan aku jadi Papa King?" Tanya Gibran memainkan kedua alisnya.
"Cocok, tapi kamu mah ketengilan. Awas aja kalau King di ajarin macem-macem, Bunda jitak kamu." Jawab Bunda Aira. Tasya yang mendengar itu tersenyum simpul.
"Tenang aja, King bakal jadi anak yang baik kalau sama aku, Bun. Iya kan Boy?"
"Assalamualaikum." Ucap seseorang yang berhasil menarik perhatian semua orang.
"Waalaikumsalam."
Dan seketika mata Tasya terbelalak saat melihat kedatangan Alex. Begitu pun dengan Alex, ia juga kaget karena melihat keberadaan Tasya di sana. Kemudian pandangan lelaki itu tertuju pada King yang masih digendongan Mamanya.
"Lama banget sih, Lex." Protes Bunda Aira menatap putranya.
"Maaf, tadi ada urusan sebentar. Antar Wilona pulang juga." Jelas Alex ikut duduk di sofa. Mata lelaki itu masih tertuju pada King.
"Lihat deh, Lex. Gemes banget kan? Mama juga pengen yang kayak gini. Kamu ngerasa gak sih dia mirip kamu pas bayi?" Ujar Bunda Aira tanpa ragu atau takut menyinggung Tasya.
Alex yang mendengar itu langsung menatap Taysa. Yang di tatap pun terlihat gugup.
"Eh, kamu udah datang Lex?" Mama Gigi yang baru muncul pun duduk di sebelah Tasya. Menatap Alex dengan senyuman lebar.
Kemudian tidak lama Bibik pun muncul dengan sebuah nampan di tangannya. Dan meletakkan itu di atas meja. "Makasih, Bik." Ucap Mama Gigi dengan tulus.
"Sama-sama, Nya." Balas Bibik yang langsung beranjak dari sana.
King mulai gelisah dan rewel, mata bayi itu terus tertuju pada Tasya. King juga terus mengucek matanya. Tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kayaknya dia ngantuk. Belum tidur ya?" Tanya Bunda Aira pada Tasya.
"Tadi lagi tidur, aku ganggu. Kayaknya belum kenyang dia tidurnya." Sahut Mama Gigi menatap King iba.
"Kamu nenenin dia aja dulu, Sya. Di kamar tamu aja, biarin dia tidur di kasur. Kasian." Imbuh Mamah Gigi.
"Boleh juga, Ma. King emang lebih suka rebahan." Sahut Tasya menghampiri putra kecilnya. Lalu menggendong King yang terus merengek. "Iya, Sayang. Kita bobok ya?" Tasya mengecup kening King. Dan itu tak lepas dari pengawasan Alex.
"Yuk, Mamah antar kamu." Ajak Mamah Gigi. Tasya pun mengangguk dan mengikuti langkah wanita paruh baya itu.
"Mama tutup pintunya ya?" Tawar Mamah Gigi saat Tasya sudah berada di kamar tamu.
"Iya, Mah. Makasih, Ma." Balas Tasya.
"Sama-sama." Ucap Mamah Gigi yang langsung menutup pintu kamar.
King mulai menangis dan terus menarik baju Tasya seakan meminta Tasya untuk segera menyusuinya. "Sabar, Sayang." Tasya membuka kancing kemejanya dan mulai menyusui bayi gembul itu. King terlihat begitu lahap, membuat Tasya tersenyum geli.
__ADS_1
"Haus banget ya anak Mommy?" Tasya mengusap jejak air mata King. Bayi menggemaskan itu mulai memejamkan mata karena sudah sangat mengantuk. Namun tangan kecil itu terus bergerak menyentuh wajah sang Mommy. Tasya menggenggam tangan mungil itu, menciumnya dengan gemas. "Mommy sayang King."
Tidak lama dari itu, Alex terlihat masuk ke kamar. Lelaki itu langsung menutup dan mengunci pintu. Tasya yang melihat itu langsung panik dan refleks menutup aset berharganya. "Ngapain lo ke sini?" Dengan cepat Tasya mengancing bajunya kembali. Beruntung King sudah tertidur pulas.
"Gw cuma mau liat King, Sya." Alex mendekati ranjang.
Dengan hati-hati Tasya turun dari ranjang.
"Gak gini juga caranya, lo kan tahu gw lagi kasih dia asi." Kesal Tasya menahan suaranya agar tak mengganggu tidur putra kecilnya.
Alex menatap Tasya lamat-lamat. "Jadi lo bakal kasih izin gw buat deket sama King?"
Tasya terdiam mendengar pertanyaan Alex. Ada perasaan tak rela jika King dekat dengan Alex. Mungkin Tasya merasa takut Alex akan merebut King darinya.
"Gw yakin lo gak bakal kasih izin kan? Jadi cuma ini cara gw biar bisa liat dia dari deket." Ujar Alex duduk di bibir ranjang. Menatap King yang tertidur dengan mulut yang terus bergerak lucu.
"Please, gw gak mau orang lain salah paham kalo mereka liat kita di sini." Tasya menatap Alex penuh harap.
"Sebentar aja, Sya." Alex tersenyum saat melihat King tersenyum dalam tidurnya. Tasya yang melihat itu tidak bisa berkata-kata lagi.
Alex bergerak pelan dan setengah berbaring. Memiringkan tubuhnya menghadap King, menatap wajah anaknya itu dari dekat. "Daddy minta maaf." Ucap Alex mengecup kening King cukup lama.
Tasya yang melihat itu merasa tersentuh. Tanpa sadar air matanya menetes. "Sekarang lo baru sadar huh? Kalo lo punya tanggung jawab."
Alex menoleh ke arah Tasya. Menatap wanita itu sendu. "Gw minta maaf, Sya."
Tasya berdecih sebal. "Semua orang juga bisa minta maaf, gampang kalau cuma bilang maaf."
"Terus lo mau gw ngapain supaya lo maafin gw, Sya?"
"Lo keluar sekarang, gw gak mau Gibran salah paham."
"Mereka gak tahu gw ke sini."
"Lo kira gw bodoh? Keluar sekarang." Tasya menarik Alex bangun dari posisinya. Membawa lelaki itu menuju pintu. Tasya hendak membuka kunci pintu, tetapi dengan sigap Alex menarik Tasya dengan kasar hingga tubuh wanita itu membentur dada bidangnya. Mengikis jarak di antara mereka. Tasya yang kaget pun langsung menatap wajah tampan Alex. Sampai pandangan keduanya pun bertemu.
Alex menatap Tasya lamat-lamat. Mengunci manik biru wanita itu dengan rapat. "Gw gak bohong, Sya. Gw beneran nyesel."
"Apa gunanya nyesel sekarang huh? Lo mau apa sebenernya?" Tanya Tasya dengan kilapan amarah dimatanya.
"Gw mau elo." Mata Tasya melebar saat mendengar itu.
"Apa maksud lo?"
"Nikah sama gw, Sya."
Tasya tertawa hambar mendengar itu. "Nikah sama elo? Terus lo bakal buang gw gitu setelah dapat hak asuh King? Gw gak sebodoh itu, Kak. Gw tahu lo cuma pengen anak lo doang."
Alex mengeratkan rahangnya. Mendorong Tasya sampai punggungnya meyentuh dinding. "Gimana kalau gw pengen elo dan King huh?"
"Cih, lo pikir gw bakal percaya? Setelah kata-kata nyakitin lo ke gw. Lo kira gw percaya gitu aja huh? Lo yang bilang sendiri kan kalau gw murahan? Terus kenapa lo bisa berubah pikiran pengen sama gw yang murahan ini huh?"
"Sya, gw minta maaf." Alex memberikan tatapan penuh penyesalan yang mendalam. Namun saat ini Tasya tengah dirasuki amarah. Seakan tak melihat ketulusan di mata lelaki itu.
"Gak ada guna lo minta maaf sekarang, hati gw terlanjur sakit. Lo harus tahu itu."
__ADS_1
Alex mundur beberapa langkah dengan wajah tertunduk ke lantai. "Sorry, gw kebawa suasana. Gak seharusnya gw maksa lo kayak gini, Sya. Gw minta maaf. Gw gak bakal maksa diri buat ketemu King. Gw sadar diri, gw gak bakal ganggu elo atau pun King lagi. Makasih udah ngizinin gw ketemu dia kali ini. Itu udah cukup buat gw. Maaf atas perkataan gw dulu yang bikin lo sakit hati. Semoga lo bahagia bareng Gibran. Sekali lagi gw minta maaf." Alex berbalik, menatap King yang masih tertidur. Setelah itu ia pun bergegas pergi dari sana.
Tubuh Tasya merosot, kakinya begitu lemas hanya untuk menahan beban badannya sendiri. Tasya menangis dalam diam. Hatinya seakan tak rela melepaskan lelaki itu, tetapi ia terlanjur sakit. Dilema. Mungkin kata itu yang cocok untuknya saat ini.