
"Om, Mey pergi dulu ya?" Pamit Mey menarik tangan suaminya yang sedang sibuk menggulir gawai. Lalu mencium punggung tangan David dengan lembut. Perhatian David pun teralihkan dari ponsel untuk sang istri. Beberapa hari ini hubungan keduanya memang jauh lebih baik dari sebelumnya. David juga lebih sering menghabiskan waktu di rumah bersama sang istri dan anaknya.
"Mau ke mana?" Tanya David meneliti penampilan sang istri yang sudah terlihat rapi.
"Mey mau pergi ke mall sama Tasya, udah janji soalnya."
"Lama tidak?" Tanya David bangun dari posisinya.
"Ya ampun, Om. Yang namanya ke mall itu mana bisa sebentar. Pasti keliling-keliling dan mampir ke sana ke mari. Oh iya, Mey pake uang Om ya?"
"Gak perlu minta izin, Mey. Saya suami kamu, sudah seharusnya kamu pakai uang saya. Sudah hampir satu bulan kita nikah. Sekali pun kamu gak pernah pakai kartu yang saya kasih." Protes David.
"Habis Mey bingung mau beli apa, Om. Semua keperluan Mey sudah Om sediakan. Baju, sepatu sama tas baru aja masih banyak di lemari."
"Kamu bisa beli yang lain, emas kek apa kek. Rugi saya isi kartu kamu terus kalau gak di pake."
Mey tersenyum lebar mendengar itu. "Iya deh, tar Mey beli sepuluh mobil. Om senang kan?"
David tersenyum simpul sambil mengelus pipi istrinya. "Terserah kamu, Mey. Beli rumah juga boleh."
"Beneran, Om?"
David pun mengangguk sebagai jawaban.
"Ck, udah ah. Kasian Tasya udah nunggu, Mey pergi ya, Om. Assalamualaikum." Ucap Mey mengecup pipi David sebelum benar-benar pergi.
"Wa'alaikumsalam." David tersenyum tipis saat melihat punggung istrinya hilang dibalik pintu. Lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya.
****
"Mamud, ke toko daleman yuk. Gw perlu stok baru." Ajak Tasya menarik tangan Mey masuk ke sebuah toko khusus dalaman wanita.
"Banyak banget lo beli, Sya?" Tanya Mey saat melihat Tasya banyak memborong.
"Stok di rumah tinggal dikit, males gw kalau bolak balik. Lo gak beli?" Sahut Tasya sambil melihat-lihat. Hingga pandangannya pun tertuju pada sebuah lingerie yang terpajang di manekin.
"Gak usah ah, masih banyak di rumah yang baru." Jawab Mey ikut melihat-lihat.
"Mey, liat deh yang ini." Pekik Tasya yang berhasil menarik perhatian Mey. Gadis itu pun menghampiri Tasya. "Apaan?" Balas Mey.
"Liat ini, kayaknya cocok buat lo." Ujar Tasya memyentuh lingerie berwarna merah. Mey mengerutkan dahi saat melihat baju tipis itu.
"Baju model apaan ini, tipis banget? Mana bh sama cdnya kecil lagi." Protes Mey sama sekali tak tertarik dengan model pakaian yang baru dilihatnya itu.
"Ck, ini namanya lingerie, Mey. Buat para istri yang mau tampil seksi di depan suaminya. Kayaknya lo bisa beli ini satu atau dua. Gw rasa Daddy gak bakal bisa tidur pas liat lo pake ini."
Mey yang mendengar itu langsung menyentil kening Tasya. Sontak gadis itu meringis kesakitan. "Gw ngomong apa adanya, Mey. Lagian badan lo bagus kalau pake ini, apa lagi dada lo yang lumayan montok. Meleh pasti Daddy gw."
"Ish, gak mau gw. Malu gw pake yang ginian." Tolak Mey beranjak dari sana.
"Ya elah, Mey. Tar juga lo bakal buka-bukuaan, masih mau bilang malu lo?"
Mey menoleh dan melayangkan tatapan tajam pada anak tirinya yang sama sekali gak ada polos-polosnya itu. "Sya, otak lo itu kayaknya udah penuh sama pasir. Ngeres mulu pikiran lo."
__ADS_1
"Ck, gw ngomong gini kan depan orang yang udah nikah. Wajar aja, makanya sekali-kali lo baca novel di novel toon atau ******* deh. Gw rasa kepolosan lo bakal ilang seketika."
"Idih, gak ada kerjaan banget gw baca yang gituan segala."
"Habis lo udah nikah hampir sebulan masih perawan aja, heran gw sama Daddy. Sanggup banget nahan."
Mey yeng mendengar itu langsung menatap Tasya dengan kedua tangan terlipat di dada. "Gw rasa lo udah bisa nikah deh Sya, biar cepet-cepet kawin. Jangan sampe lo buka-bukaan dulu sebelum nikah. Gak rela gw sebagai emak tiri lo."
"Nikah sama siapa gw, Mey? Jodonya aja belum keliatan. Lagian gw masih mau nikmatin masa muda gw."
"Sialan lo ya? Lo nyuruh gw cepet nikah dan punya anak, tapi lo malah enak-enakan nyantai. Gw gak mau tahu, pas gw punya anak nanti. Lo yang harus jaga adek lo."
Tasya terkekeh mendengar repetan Emak tirinya. "Itu namanya kerja cerdas, Mey. Lagian mana bisa gw jaga anak lo, gw kan kuliah. Lo sama Daddy yang buat, ngapain gw yang capek jagain. Harus tanggung jawab dong."
Mey berdecih kesal. "Mau enaknya aja lo mah."
"So pasti."
Mey yang merasa kesal pun segera meninggalkan tempat itu. Tasya pun tertawa saat melihat kepergian Mey. "Dasar Mamud."
Setelah puas berkeliling, Mey dan Tasya pun memutuskan untuk duduk di kafe untuk mengisi tenaga.
"Lama juga kita jalan-jalan, hampir tiga jam. Pantes kaki gw pegel." Keluh Mey sambil menyentuh betisnya yang kaku.
"Bentar itu mah, biasanya gw abisin lima jam buat belanja." Sahut Tasya dengan santai. Mey yang mendengar itu tekejut.
"Lima jam? Gila lo!"
"Apaan nih?" Tanya Mey mengambil paper bag itu dan melihat isinya karena penasaran. Namun seketika matanya terbelalak saat melihat isi yang ada di dalamnya yang ternyata dua buah lingerie. "Sya, lo beneran beli baju tipis itu? Buat apa?"
"Buat malam pertama lo lah. Lo kira buat renang?" Jawab Tasya tanpa malu sedikit pun.
Mey melihat kiri dan kanan karena takut ada yang mendengar perkataan Tasya. "Ck, pelan dikit nada lo ngomong. Malu tahu kalau di denger orang."
"Ck, ngapain malu. Kayak gak pernah belah duren aja. Gw rasa mereka yang ada di sini itu udah pernah nyoba semua. Kecuali kita berdua." Ujar Tasya sambil memainkan sedotannya.
"Gw rasa lo udah gila, Sya. Mulut lo lebih lemes dari gw. Semenjak libur, otak lo makin ngeres. Berapa novel dewasa yang udah lo baca? Jangan bilang lo baca yang novel 21+ kan? Ingat umur kali, Sya."
Tasya cengesesan sendiri. "Banyak banget, lo mau liat history gw gak?"
"Gak perlu, udah tahu gw. Awas aja kalau lo praktekin pas di London nanti. Gw gak akan akui lo sebagai anak lagi."
"Emangnya siapa yang mau jadi anak lo, gw kan bestie lo."
"Serah ah." Pasrah Mey. Sepertinya kali ini dirinya kalah telak oleh Tasya. Gadis itu maju beberapa langkah darinya. Padahal Tasya yang Mey kenal dulu itu sangat polos dan pemdiam. Sekarang semuanya berubah seratus persen. Tak ada yang bisa menebak kepribadian orang pendiam.
"Hay, boleh gabung." Sapa seorang wanita yang berhasil menarik perhatian keduanya. Mey dan Tasya menatap wanita itu seolah tak percaya. Wanita itu adalah Nindy. Tanpa persetujuan, Nindy langsung duduk di sana dan meletakkan sebuah paper bag berlogo brand terkenal di atas meja.
"Ngapain lo di sini?" Ketus Tasya menatap Nindy tak suka.
"Habis beli dress buat acara malam nanti, kamu lupa ya malam ini acara ulang tahun perusahaan Daddy kamu? Dev memintaku untuk menjadi pasangannya seperti tahun-tahun sebelumnya." Jawab Nindy dengan senyuman penuh arti.
Jawaban wanita itu juga berhasil membuat Mey dan Tasya kaget. Mey yang tidak tahu apa-apa pun menatap Tasya. Namun gadis itu malah menatap Nindy tajam.
__ADS_1
"Jangan harap Daddy akan mengundang lo, lagian sekarang Daddy udah punya istri. Lo lupa ya?" Ketus Tasya.
Mey sama sekali tak berani bersuara. Karena ia tak tahu apa-apa masalah pesta malam ini. David sama sekali tak pernah menyingungnya.
"Kamu gak percaya, aku punya buktinya kok. Daddy kamu yang minta supaya aku jadi pasangannya." Nindy pun mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan riwayat pesan David dengan dirinya. Dan wanita itu sama sekali tidak bohong. David benar-benar meminta Nindy untuk menjadi pasangannya.
Hati Mey seketika terasa seperti di remas. Jadi selama ini perkataan David itu dusta?
Dasar pembohong! Mulut sama hati bertolak belakang. Mulai sekarang gw gak akan percaya lagi.
Mata Mey memanas dan perlahan mengabur. Genangan air matanya siap untuk tumpah kapan saja. Mey pun bangkit dari posisinya dan bergegas pergi dari sana.
"Mey," panggil Tasya kaget. Lalu gadis itu pun kembali melayangkan tatapan pedis pada Nindy.
"Apa pun alasan Daddy mengajak lo, Daddy akan tetap milik Mey seorang." Pungkas Tasya menyambar paper bag miliknya dan Mey dengan kasar. Lalu bergegas pergi dari sana.
Nindy pun tersenyum senang. "Mey... Mey. Sudah aku katakan, David itu milikku. Mana mungkin dia ingin membawa gadis jelek seperti mu ke acara besarnya. Yang ada dia akan malu seumur hidup. Lagi pula David itu mencintaiku, bukan dirimu."
Nindy tersenyum miring. Sampai seorang waiter menghampiri mejanya. "Maaf, Mbak. Dua orang tadi belum membayar pesanan mereka. Mbak yang bayar kan?"
Sial! Kenapa aku selalu sial saat bertemu dua gadis itu.
Nindy berusaha untuk tersenyum. "Iya, Mbak. Berapaan?"
"Seratus lima puluh ribu, Mbak."
Apa? Jadi aku harus mengeluarkan uang sebanyak itu gara-gara mereka? Padahal aku bisa menggunakan uang itu untuk makan dua hari.
"Oh ya? Tunggu sebentar." Dengan terpaksa Nindy mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan."Ambil aja kembaliannya."
"Terima kasih, Mbak." Waiter itu pun bergegas pergi dari sana.
"Sialan!" Umpat Nindy yang bergegas pergi dari sana. Hatinya saat ini benar-benar kesal.
****
"Mey, gw yakin Daddy punya alasan sendiri kenapa dia ajak wanita gila itu." Ujar Tasya saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sejak tadi Mey terus diam.
"Mey, jangan diam gini dong." Bujuk Tasya merasa tak tenang melihat keterdiaman seorang Mey.
"Daddy lo itu pembohong, Sya. Dia cuma mau mainin perasaan gw. Dia bilang bakal jauhin Tante Nindy dan memulai hidup baru bareng gw. Tapi apa yang dia lalukan sekarang? Dia nipu gw mentah-mentah. Apa pun alasannya, seharusnya dia terus terang sama gw. Sejak awal gw ragu atas perubahan sikap Daddy lo." Tangisan Mey pun pecah. Tasya yang melihat itu langsung memeluk sahabatnya.
"Maafin Daddy gw, Mey. Ini semua juga salah gw, gak seharusnya gw maksa lo buat jadi Nyokap gw. Kalau gw tahu kayak gini kejadiannya, gw gak akan biarin lo nikah sama Daddy. Jangan nangis, gw ikutan sedih. Pulang ini lo harus tanya sama Daddy. Mungkin aja Daddy bakal cerita." Tasya mencoba untuk membujuk Mey.
"Gimana kalau Bokap lo gak ngomong apa-apa?"
Tasya terdiam sejenak. "Gw akan nerima apa pun keputusan lo."
"Termasuk gw pergi dari kehidupan Bokap lo?"
Tasya mengangguk pelan. Meski sebenarnya ia tak rela itu terjadi. Mamun ia juga tak ingin terus-terusan melihat Mey sedih karena sang Daddy. "Gw gak akan nahan lo, gw terima semua keputusan lo. Gw gak suka lo sakit karena ulah Daddy." Kini Tasya pun ikut menangis. Seketika tangisan keduanya pecah. Pak Darman cuma bisa menonton mereka dari balik cermin.
Aduh, baru kali ini saya lihat Ibu dan anak tiri kompak. Semoga aja gak terjadi apa-apa antara Sir. Lander sama Nyonya. Kasian Non Tasya, dari kecil sendiri terus. Sejak ada Nyonya, hidupnya terlihat lebih ceria. Semoga mereka jodoh sampe tua. Aamiin.
__ADS_1