Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 54


__ADS_3

Bunda Aira terlihat gelisah dalam duduknya. Bayangan wajah King yang mirip dengan wajah kecil Alex membuatnya tak tenang. Sesekali ia melirik Alex yang tengah menyetir.


"Ada apa, Ma? Kenapa dari tadi lirik-lirik terus?" Tanya Alex yang menyadari kegelisahan sang Mama.


"Kamu harus jujur sama Mama, Alex."


"Jujur apa sih, Ma?" Tanya Alex penasaran.


"Kamu kenal sama Tasya?"


Alex terkejut mendengar itu. "Emangnya kenapa kalau kenal?"


"King itu... anak kamu kan? Jawab jujur, Alex." Bunda Aira menatap Alex lekat. Dan yang ditatapa terlihat tegang.


"Kenapa Mama tanya gitu?" Alex melirik Mamanya sekilas.


"King tidak mungkin mirip kamu kalau dia bukan anak kamu, Alex. Mama juga lihat kamu keluar dari kamar tamu di mana Taysa dan King ada. Jadi benar kan King itu anak kamu?"


Lagi-lagi Alex terhenyak mendengar itu. "Ma...."


"Jawab jujur, Alex." Tegas Bunda Aira penuh penekanan. Alex menepikan mobilnya. Lalu menatap sang Mama lamat-lamat.


"Kalau pun King benar anak Alex, apa Mama dan Papa bakal nerima dia? Mama tahu Papa seperti apa kan?"


"Owh, jadi benarlah King anak kamu sama Tasya?"


"Iya Ma." Jawab Alex jujur.


"Ya Allah, Alex. Kenapa kamu sembunyiin masalah besar ini? Terus kenapa kalian seolah gak kenal satu sama lain? Kenapa Tasya tidak meminta pertanggung jawaban kamu dan malah ingin menikah dengan Gibran?"


"Aku menolak untuk bertanggung jawab, Ma." Jawab Alex dengan cepat. Bunda Aira tercengang mendengar itu.


"Tapi kenapa Lex? Tasya pacar kamu kan?"


"Bukan, Ma. King hadir karena kecelakaan, saat itu aku mabuk dan kami melakukan hal terlarang itu." Jelas Alex yang berhasil membuat jantung Bunda Aira hampir copot. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya karena masih tak percaya dengan pengakuan putra semata wayangnya.


"Saat itu aku masih mencintai seseorang. Aku kaget mendengar Tasya hamil. Dan memintanya untuk menggugurkan anak dalam kandungan."


"Ya Allah, Alex. Mama tidak pernah mengajarkan kamu menjadi lelaki tak bertanggung jawab seperti ini. King darah daging kamu dan kamu mencampakkannya gitu aja? Jangan lupa kalau Mama seorang Ibu, Alex. Mama tahu perasaan Tasya. Ya Allah, ampuni dosa anak hamba."


"Aku punya alasan menolak anak itu, Ma. Yang pertama, saat itu aku masih mencintai seseorang. Kedua, Papa tidak akan menerima anak itu. Mama tahu seperti apa Papa kan? Posisiku saat itu baru menjabat sebagai penrus perusahaan. Bagaimana jika direksi mempermasalahkan kehadiran King?"


"Dalam kondisi seperti itu kamu masih mikirin perusahaan, Alex? Perusahaan masih bisa kamu tinggalkan, tapi anak itu makhluk hidup yang tidak bisa kamu tinggalkan gitu aja. Mama kecewa sama kamu, Alex."


"Aku nyesel, Ma. Aku ingin meminta maaf saat itu juga, tapi aku malu buat nemuin dia. Aku juga tidak bisa tidur nyenyak setelah mengucapkan penolakan pada anak itu. Aku memang pengecut, Ma." Alex mengacak rambutnya dengan kesal.


Bunda Aira menatap putranya begitu dalam. Ia bisa melihat penyesalan yang mendalam dimata putranya.


"Jadi bagaimana sekarang? Kamu akan tetap membiarkan Tasya menikah dengan Gibran? Membiarkan King memanggil orang lain Papa?"


Alex menunduk lesu. "Aku tidak punya hak untuk melarang Tasya memilih pasangan hidupnya, Ma. Sejak awal aku yang salah, aku sudah melukai hatinya. Menuduhnya yang bukan-bukan."


Bunda Aira menghela napas berat. "Mama tanya sama kamu, gimana perasaan kamu sama Tasya? Apa tidak ada sedikit pun perasaan untuknya?"

__ADS_1


Alex terdiam cukup lama. "Aku gak tahu, Ma."


"Gimana ceritanya kamu gak tahu? Kamu yang punya perasaan, Lex."


Alex masih diam, karena ia benar-benar tak memahami perasaanya sendiri. Selama satu tahun ini hatinya hanya dipenuhi rasa gundah dan rasa bersalah. Sampai lupa seperti apa perasaan cinta dan apa pun itu.


"Kamu gak mau perjuangin Tasya? Mama tahu ini terdengar jahat. Mama tidak ada maksud buat suruh kamu berebut perempuan sama Gibran. Tapi King anak kamu dan kamu berhak atas dia. Mama juga gak rela orang lain yang jadi Nenek King. Walaupun itu adek Mama sendiri." Ujar Bunda Aira.


"Ma, gimana sama Papa? Dia gak akan bisa nerima status King. Papa gak pernah mentolelir anak di luar nikah."


"Semua sudah terlanjur, Alex. King darah daging kamu. Darah Effendi ngalir dalam dirinya. Papa kamu gak bisa nyangkal itu. Mama yakin Papa bakal luluh setelah lihat King. Dia itu gemesin tahu gak, Lex? Mama pengen bawa dia pulang secepatnya. Biarlah orang lain mikir Mama ini egois. Tapi apa salahnya kamu cobak raih hati Tasya, Lex. Mama juga senang liat Tasya, dia cantik dan baik. Penyanyang juga." Jelas Bunda Aira meraih tangan Alex. Menggenggamnya erat seolah penuh harap.


"Apa aku pantas ngejar cinta dia, Ma? Sedangkan dulu aku udah ngatain dan nyakitin hati dia?" Tanya Alex terlihat begitu lemah.


"Pantas gak pantas takdir yang akan menjawab, Alex. Sekarang kamu cuma harus berusaha buat dapetin Tasya, lupakan King sejenak dalam masalah hati kalian. Sekarang pikirin masa depan kamu, Alex. Kamu harus belajar dari apa yang terjadi selama ini. Jangan sampai kamu kalah langkah. Setelah mendapatkan hati Ibunya, kamu bisa dapat kedua-duanya, Alex." Ujar Bunda Aira meyakinkan putranya.


"Jadi Mama kasih izin buat ngejar Tasya?"


Bunda Aira tersenyum dan mengangguk antusias. "Perjuangkan apa yang harus kamu perjuangkan. Ikuti kata hati."


Alex tersenyum lebar, seolah mendapat energinya kembali. "Aku akan berusaha sebisa mungkin buat dapetin Tasya, Ma. Meski harus bersaing sama sepupu sendiri sekali pun."


"Gitu dong, selamat berjuang. Dan ingat, jangan sangkut pautkan perasaan hati dengan King. Tasya ya Tasya, dan King punya posisinya sendiri."


Alex mengangguk, lalu mengecup punggung tangan sang Mama.


"Mama akan selalu dukung keputusan kamu, Lex. Berjuanglah semestinya, jangan terlalu memaksa."


"Iya, Ma." Jawab Alex memeluk sang Mama. Bunda Aira megusap punggung putranya.


...****...


Tasya terus termenung sepanjang perjalanan pulang. Dan itu membuat Gibran merasa canggung.


"Sya, lo kenapa huh?" Tanya Gibran mencoba memecah keheningan. Tasya sedikit tersentak. Kemudian menatap Gibran sekilas.


"Gw gak papa, mungkin kecapekan seharian ini gw main terus." Alibinya.


Gibran tersenyum simpul. "Besok lo kuliah kan?"


"Kuliah, tapi agak siangan."


"Gw jemput ya? Mulai sekarang lo bakal pulang pergi sama gw. Itung-itung gw latihan jadi suami yang baik."


Tasya tertawa lucu. "Gak jadi masalah sih, hemat duit juga gw."


Gibran ikut tertawa mendengar itu. "Btw lo udah lama ya kenal sama Alex?"


Deg! Jantung Tasya seakan melompat keluar. Tasya menatap Gibran penuh arti.


"Gak lama juga, gw kenal dia dari Mey. Dulu dia naksir berat sama Mamud gw. So kita ketemu beberapa kali." Jawab Tasya sekenanya.


"Lo gak pernah ada perasaan sama dia gitu? Secara dia ganteng, banyak banget cewek yang ngantri dibelakangnya." Ujar Gibran melirik Tasya sekilas.

__ADS_1


Tasya terdiam sejenak. "Ada, tapi itu dulu." Sekarang gw ragu buat yakinin hati kalau gw masih cinta sama dia, Gib, gw takut bakal sakit lagi. Sambung Tasya dalam hati.


"Itu artinya sekarang ada kemungkinan gw masuk dong. Lo tenang aja, dalam hitungan hari, minggu, bulan ataupun tahun. Gw bakal tetap berusaha buat lo jatuh cinta sama gw." Ujar Gibran penuh semangat. Dan itu membuat Tasya tercengang.


"Gib."


"Ya?"


"Kenapa lo gak pernah nyinggung atau nanya siapa Ayah kandung King?" Tanya Tasya merasa aneh akan hal itu.


Gibran melirik Tasya dengan senyuman manisnya. "Gw gak bakal nanya itu kecuali lo yang bilang sendiri sama gw. Gw yakin lo juga belum siap buat ceritain masa lalu lo sama gw kan? Karena itu gw kasih waktu buat elo. Gw yakin dia cowok bodoh dan brengsek karena udah ninggalin lo sama King gitu aja." Jelas Gibran terdengar tulus.


Cowok brengsek dan bodoh itu sepupu lo, Gib. Kenapa lo baik banget sih? Tapi hati gw begitu sulit buat nerima elo. Pikir Tasya dalam hati.


"Dengerin ya Sya. Sesilam apa pun masa lalu elo, gw bakal tetap terima elo apa adanya. Gw gak akan pernah nyinggung sesuatu yang bakal buat lo sakit, lo itu masa depan gw, Sya. Jadi buat apa lagi gw nengok ke belakang ya kan? Gw juga bukan manusia sempurna, punya banyak kekurangan dan tentunya punya masa lalu juga."


"Gib, kenapa lo baik banget? Gw kayak gak percaya aja ini elo. Soalnya dulu kan elo jahat banget sama gw, lo tarik rambut gw, lo sembunyiin buku ge sampe gw kena hukuman." Ujar Tasya memutar sepenggal masa lalunya kembali. Dan itu berhasil mengundang tawa Gibran.


"Gw kan sengaja biar lo kena hukum, jadi gw bisa deket sama elo. Tapi bener kan gw nemenin elo sampe masa skor lo habis."


Tasya masih ingat betul saat itu. "Tapi lo kan bukan nemenin gw, lo kena skor juga waktu itu."


"Itu mah akal-akalan gw. Lo aja yang gak perhatiin gw saat itu. Gw sengaja buat ulah biar bisa kena hukuman bareng elo. Dan gw bisa liat wajah datar lo yang gemesin. Dulu lo kan diem dan dingin banget sama semua orang. Gak kayak sekarang." Jelas Gibran.


"Lo suka sama gw tapi lo bikin gw ilfiel tahu gak? Kesel banget gw sama elo yang dulu." Ketus Tasya saat mengingat kejahilan Gibran sejak masa sekolah pertama dulu.


"Abis lonya diem banget, gw bingung mau deketin pake cara apa. Jadi gw ganggu elo aja deh, jadi gw bisa deket lo terus. Habis lo gak peka, gw kan cuma ganggu elo doang."


"Ye... mana gw tahu, Gib. Lo kan bandelnya gak ketulungan. Gw mana peduli sama elo."


Gibran tertawa renyah mendengar itu. "Udah ah, kenapa jadi bahas masa lalu sih. Itu si gembul anteng banget, ngapain sih?" Gibran melirik King yang sedang asik memainkan kancing baju Tasya sambil mengoceh tak jelas.


"Punya dunia sendiri dia mah, biarin aja." Tasya mengecup pucuk kepala King sekilas. Gibran mengangguk pelan dan kembali fokus menyetir.


Beberapa menit kemudian mobil Gibran sudah terparkir cantik di depan gerbang rumah Lander. "Beneran gak mau masuk?" Tanya Tasya yang sudah berdiri di depan gerbang.


"Lain kali aja, gw harus ke kantor sebentar. Gw pamit ya, see you, Sya."


"See you to." Balas Tasya. Kemudian mobil Gibran pun melaju perlahan meninggalkan tempat itu.


Tasya tersenyum, kemudian berbalik. Namun ia terperanjat kaget karena Mey sudah berdiri di gerbang yang entah kapan sudah terbuka setengah.


"Seharian lo gak pulang heh? Kemana aja lu?" Semprot Mey melipat kedua tangannya di dada. Ia terlihat seperti emak-emak yang tengah mengintrogasi anaknya.


Tasya memutar bola matanya malas. "Ngedate lah, ngapain lagi? Si endut mana? Tumben lo jadi gadis lagi kayak gini. Biasanya anak lo nempel terus." Tasya mendorong stroller King masuk ke dalam.


"Main sama Omanya, mereka mau nginep di sini." Jawab Mey sambil menutup pintu gerbang.


"Beneran?" Tanya Tasya antusias.


"Iya, Daddy kangen lo katanya tuh. Elo malah gak pulang-pulang. Sini si gembul sama gw aja, kangen gw sama dia. Tega banget lo misahin kita berdua." Mey mengangkat King dari dalam stroller.


"Drama lo." Ketus Tasya bergegas masuk ke dalam. Meninggalkan Mey yang masih di posisinya sambil menggendong King. "King kangen Grandma gak? Kangen ya?"

__ADS_1


King berteriak kegirangan dan itu berhasil membuat Mey tertawa. Mencium bayi gembul itu dengan gemas. Lalu menyusul Tasya masuk ke dalam.


__ADS_2