Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 58


__ADS_3

Tasya menatap Alex malas. Ia tak menyangka jika lelaki itu benar-benar menunggunya.


"Gak bosan lo nunggu gw?" Tanya Tasya menatap Alex lekat.


"Gw gak bakal bosen nunggu lo, sampe lo setuju jadi istri gw." Jawab Alex dengan kedua tangan terlipat di dada. Namun tatapannya masih setia pada wajah cantik Tasya.


Tasya memutar bola matanya jengah. "Buruan kalau mau anter gw pulang, takutnya King keburu bangun." Tanpa rasa ragu Tasya pun masuk ke mobil BMW i8 Alex. Si pemilik pun tersenyum senang dan ikut masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Lo gak lapar? Gw lapar banget dari pagi belum sarapan." Alex melirik Tasya sekilas.


"Dikit." Jawab Tasya singkat.


"Makan dulu deh baru pulang, bentar cuma."


"Terserah, kalau lo gak malu dengan muka babak belur lo itu."


"Kenapa gw harus malu selagi ada lo."


"Gak usah gombal, gak mempan buat gw. Mending makan di rumah gw aja deh. Kebetulan gw lagi belajar masak. Cuma lo harus sabar buat nunggu gw masak. Kalo rasanya gak enak ya sorry aja, namanya juga lagi belajar." Tawar Tasya dengan padangan lurus ke depan.


"Gw rasa itu lebih baik. Gw bakal sabar kok." Alex tersenyum senang.


"Hm."


"Sya."


"Apaan?"


"Weekend, lo sibuk gak?" Tanya Alex melirik Tasya sekilas.


"Minggu gw udah janji sama Gibran. Dia bakal datang ke rumah. Jangan berpikir buat datang, yang ada lo bakal memperkeruh suasana. Bokap gw belum maafin elo." Jelas Tasya. Alex merasa kecewa dengan jawaban itu.


"Padahal gw pengen bawa lo ketemu Mama dan Papa." Tasya yang mendengar itu langsung menatap Alex.


"Hah? Gila lo? Lo yang bilang sendiri kan kalau Papa lo gak bakal nerima King?"


"Kita belum coba ngomong, Sya. King udah gede, sampe kapan dia disembunyiin terus? Bahkan kalau bisa semua media tahu, kalo King anak gw."


"Gw gak setuju, masa depan King bakal terancam kalau gini caranya. Gimana kalau Bokap lo gak terima King? Lo gak mikirin pandangan orang-orang buat anak kita?" Protes Tasya tak setuju dengan pemikiran Alex.


"Mau sampe kapan kita sembunyiin King huh? Pada akhirnya mereka bakal tahu siapa dia. Mending dari sekarang kita tunjukin anak kita. Gw yang bakal jadi garda depan buat King. Percaya deh."


"Enggak, gw belum siap. Gw gak tahu gimana kehidupan lo di luar sana."


"Sya, gw cuma mau mengakui pada dunia kalau King itu anak gw."


"Gw ngerasa tabu tahu gak pas lo bilang gitu. Dulu aja lo maksa gw buat gugurin King, hina dia tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sekarang lo bilang mau ngakuin King pada dunia? Lucu gak sih?" Kesal Tasya.


"Sya, dulu gw emang salah. Gw udah minta maaf sama lo, beribu maaf gw kasih buat lo. Please, jangan ungkit masa lalu lagi. Gw merasa berdosa banget, Sya." Lirih Alex.


Tasya terdiam beberapa saat. "Luka yang lo kasih masih belum sepenuhnya kering, Kak. Masih tersimpan di otak gw semua memori itu."


"Sya, gw minta maaf. Gw bakal lakuin apa pun supaya lo maafin gw."


"Sejak lama gw udah maafin elo. Cuma rasa sakit itu susah buat hilang." Ujar Tasya seraya menekan dadanya.


Alex menepikan mobilnya, kemudian memiringkan tubuhnya. Tangannya mulai terulur untuk meraih kedua tangan Tasya. Menggenggamnya dengan erat.


"Bilang, apa yang harus gw lakuin supaya elo beneran percaya sama gw, Sya. Gw beneran serius sama lo." Alex memberikan tatapan memohon.

__ADS_1


"Gimana kalau gw minta elo buat pergi jauh-jauh dari hidup gw huh? Lo sanggup?" Tasya menatap netra kelam Alex. Namun lelaki itu terdiam cukup lama.


"Kalau itu buat lo bahagia, gw akan pergi." Sahut Alex menjauhkan tangannya dari Tasya.


"Gw bakal nikah sama Gibran." Tasya masih setia memandang wajah Alex. Mencari sebuah keyakinan di sana.


"Hm." Alex mengangguk pasrah. "Gw gak bakal maksa lo, Sya. Gw tahu, gak pantes rasanya gw maksa elo setelah apa yang terjadi. Di mana gw udah hancurin masa depan dan kebahagiaan elo."


Tasya tersenyum saat melihat wajah frustasi Alex. Itu artinya lelaki itu benar-benar sudah membuka hati untuknya.


"Lo beneran ikhlas gw nikah sama Gibran?"


Alex menatap Tasya begitu dalam. "Berat, tapi mau gimana lagi? Keputusan udah lo ambil kan?"


Tasya terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. Alex pun ikut mengangguk, setelah itu kembali melajukan mobilnya. Wajah lelaki itu tampak sendu. Seakan tak ada lagi semangat dalam dirinya.


"Lo gak mau nahan gw, Kak? Lo bisa pake King buat alasan narik gw dalam hidup lo." Ujar Tasya kembali memancing keseriusan lelaki itu.


Alex tersenyum masam. "Gw bukan sekadar pengen King. Kalau bisa gw dapat hati keduanya, Sya. Hati elo yang lebih penting. Bisa aja gw manfaatin keadaan buat dapetin lo. Tapi bukan itu yang gw mau, gw pengan elo benaran ikhlas jadi istri gw. Ratu di hati gw. Bukan karena paksaan."


Lagi-lagi Tasya tersenyum mendengar ketulusan lelaki itu. "Kalo gitu lo harus berjuang buat dapetin hati Bokap gw, sama kayak Bokap lo. Daddy juga sulit di ajak kompromi."


Alex yang mendengar itu langsung menoleh ke samping. "Maksud lo?"


"Gw udah mutusin buat terima elo, tadi gw udah ngomong sama Gibran. Dan dia nerima keputusan gw."


"Lo ketemu Gibran?" Kaget Alex.


"Hm. Ternyata dia bohong soal alasan pagi tadi. Sebenarnya dia udah sampe rumah, cuma dia liat mobil lo."


Flash back on


"Gib," panggil Tasya yang berhasil menarik perhatian Gibran. Lelaki itu tampak kaget saat melihat Tasya.


"Sya? Baru keluar juga?"


"Ikut gw bentar." Ajak Tasya langsung menarik tangan Gibran menuju taman belakang. Kemudian mengajak Gibran duduk kursi panjang.


"Ada apa?" Tanya Gibran menatap Tasya penuh tanya.


"Kenapa lo bohong sama gw kalau lo ada urusan?" Tasya malah balik bertanya.


"Gw gak bohong? Gw emang ada urusan kampus." Jawab Gibran dengan santainya.


"Gib, gw serius." Kesal Tasya.


"Gw juga serius." Gibran pun memasang wajah seriusnya kali ini. "Sya, sebenarnya dari awal gw tahu siapa Ayah kandung King. Gw juga tahu siapa cowok yang lo cintai. Gw tahu semuanya tentang lo."


Tasya sama sekali tidak terkejut mendengar itu. Karena sejak awal ia sudah menduga itu. "Kenapa lo sembunyiin itu dari gw?"


"Karena gw gak bakal ngorek luka lama lo, Sya. Gw rasa masalah ini udah pernah dibahas kan?" Gibran memberikan tatapan serius.


Tasya mengangguk pelan.


"Terus sekarang gimana? Lo mau lanjut sama gw atau balik sama Bokap King?" Tanya Gibran yang berhasil membuat Tasya bingung setengah mati. "Gw liat mobil Kak Alex di rumah lo tadi."


Tasya menatap Gibran kaget. "Jadi lo sempet datang ke rumah gw?"


"Hm."

__ADS_1


"Terus kenapa lo pergi dan pake alasan ada urusan penting?"


"Karena gw tahu lo masih ngarepin dia, Sya. Lo belum jawab pertanyaan gw, lanjut sama gw atau Kak Alex? Gw butuh keputusan lo sekarang juga."


Tubuh Tasya tersentak kebelakang. Wajahnya tertunduk ke tanah. "Gw... gw...."


"Gw rasa lo gak perlu jawab, gw udah tahu jawabannya. Gw bakal mundur dari sekarang. Pada dasarnya gw sadar gak mungkin daptin hati elo. Karena sejak awal lo gak pernah niat buat buka hati ke gw. Gw tahu itu. Lo gak perlu merasa bersalah, gw paham perasaan lo. Gw juga senang kalau liat lo senang." Gibran menarik dagu Tasya. Kemudian menatap netra biru itu dengan lembut.


"Mungkin kita emang gak berjodoh, Sya. Tapi gw harap kita masih bisa berteman." Imbuh Gibran.


Tasya mengangguk antusias. "Lo teman terbaik gw, Gib. Jangan pernah benci gw."


"Gak ada alasan gw buat benci elo."


"Makasih udah mengerti gw, Gib. Maaf kalau gw udah buat lo ngarep banyak. Lo cowok baik, gw yakin lo bakal dapat jodoh yang jauh lebih baik dari gw." Ujar Tasya tersenyum penuh haru.


"Tentu, yang jelas gak sejahat elo."


"Gib."


Gibran tertawa renyah. "Becanda gw, udah ah sana pergi. Dia nunggu lo kan? Jangan biarin dia kabur lagi."


Tasya tertawa haru dan langsung memeluk Gibran. "Makasih banyak, Gib. Beruntung banget gw bisa kenal lo."


"Ck, sana pergi sebelum gw berubah pikiran." Gibran mendorong pundak Tasya dengan lembut. "Hari minggu gw bakal tetep datang ke rumah lo. Kangen King soalnya, gak papa kan?"


"Enggak kok, lo bebas kapan aja datang. Asal pas ada gw di rumah."


"Okay, kalau gitu lo pergi sana. Gw masih ada urusan di BEM." Kata Gibran seraya mengusap pipi Tasya.


"Gw pergi dulu. Thank you sekali lagi."


"Sama-sama."


Flash back off


"Jadi?" Tanya Alex.


"Jadi apa?"


"Hubungan kita, Sya." Geram Alex.


"Sejak awal kita gak pernah menjalin hubungan kan? Selain status lo sebagai Bapak biologis King. Itu pun karena lo mabok aja makanya King hadir ke dunia ini." Sahut Tasya tersenyum getir.


Alex menghela napas panjang. "Gw minta maaf masalah itu. Gw udah mutusin, mulai hari ini dan detik ini juga. Lo resmi jadi pacar gw, Sya."


"Cih, siapa lo yang bisa mengambil keputusan atas diri gw?" Ketus Tasya.


"Pacar lo." Jawab Alex tersenyum lebar.


Tasya yang mendengar itu mendadak kesal. "Idih, siapa juga yang mau jadi pacar lo?"


"Mau gak mau sekarang lo udah jadi milik gw. Jangan berpikir buat deketin cowok lain selama lo jadi pacar gw. Lo itu punya gw seorang, Tasya." Tegas Alex menggenggam tangan Tasya. Sedangkan si empu malah memalingkan wajahnya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum senang. Bahkan hatinya menjerit kesenangan.


Akh... apa gw mimpi? Sekarang gw jadian sama cowok yang gw impikan selama ini? Gila, kayaknya gw bakal gila dalam waktu dekat. Please, kalau ini mimpi jangan bangunin gw.


Bukan hanya Tasya, Alex juga tersenyum senang.


Gw gak akan lepasin lo lagi, Sya. Lo maupun King cuma milik gw seorang.

__ADS_1


__ADS_2